
Sukabumi akan menjadi salah satu tempat istimewa bagi Dirga dan Indira. Disinilah keduanya dipertemukan dengan tidak sengaja. Hingga akhirnya dapat dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.
Surat-surat dari kantor Dirga sudah selesai, kini Indira sudah terdaftar sebagai istri seorang perwira. Sebelum ke kantor, Indira sudah mengganti pakaiannya dengan seragam persit yang sudah disiapkan oleh Dirga.
"Mas, alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya ini kebahagiaan kita, dibalik semua masalah yang terjadi," Indira menggenggam tangan sang suami dan berjalan menuju Rumah Dinas mereka.
Dirga tersenyum, "Iya sayang, tapi perjuangan kita baru akan dimulai! Kamu harus kuat menghadapi mereka," bisik Dirga sambil menunjuk rombongan ibu-ibu Persit dengan ujung matanya.
Huft! Indira kembali teringat cerita Ibu dan Kakaknya yang mendapat nyinyiran selama di lingkungan batalyon. "Aku siap, Mas. Disini aku Bu Danki, kan? Gak salah dong mempergunakan jabatan suami! Yang penting aku tidak merusak nama baik dan reputasi kamu kan, Mas?"
"Istriku ini hebat sekali, Mas yakin kamu lebih paham. Sejak kecil kamu sudah hidup dalam lingkungan militer. Jadi Mas sepenuhnya yakin sama kamu," Dirga mengusap lembut kepala istrinya itu.
Kini mereka sudah sampai di Rumah Dinas, "Masuk yuk sayang! Maaf rumah nya masih berantakan. Mas belum sempet beres-beres."
"Gak apa-apa, Mas! Lagian aku kan tinggal disini hanya sebentar, Mas. Danyon tadi bilang, Ayah sudah minta izin supaya aku menyelesaikan kuliahku dulu baru kita menetal disini. Lagian Mas bakalan pergi kan," ucapan terakhir Indira terdengar sedih.
Dirga membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, "Resiko yang harus kamu terima, yank! InshaAllah kita pasti bisa melewati semua cobaan yang menerpa, ingat kata Bunda! Badai dalam rumah tangga kita menanti didepan sana. Jadi.... Bu Danki, harus kuat!"
Tok.. Tok... Tok....
Suara ketukan pintu membuat keduanya sedikit terkaget, "Mas liat dulu siapa yang dateng, kamu tunggu aja di kamar," ucap Dirga dan Indira mengangguk.
Dirga membukakan pintu, ternyata rombongan ibu-ibu persit yang datang. "Lho, ada apa ibu-ibu?" tanya Dirga yang terheran.
"Mohon izin dan maaf, Danki! Kami hanya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di lingkungan ini. Selama masih pengajuan kenapa membawa masuk perempuan ke dalam rumah? Walau pun akhirnya Danki akan menikah, bukan kah membawa masuk perempuan yang berstatus bukan istri akan membuat citra buruk lingkungan ini?" ucap Bu Danton selaku pembicara.
Dirga memijat kepalanya yang terasa pening, "Sebelum ibu-ibu mendatangi rumah saya, apa ibu-ibu sudah tau yang sebenarnya terjadi?" tanya Dirga.
"Melihat Danki membawa perempuan yang memakai baju Persit, kami tau jika Danki akan pengajuan! Tapi tidak membawanya langsung kerumah dinas dong!" kesal salah seorang ibu Persit yang sejak dulu jelalatan pada Dirga.
Tanpa menjawab ucapan itu, Dirga menelepon kepada sang Komandan tentang keributan di rumahnya. "Silahkan masuk! Dan tunggu di dalam!"
Meskipun diucapkan dengan nada yang rendah, tapi tidak mengurangi rasa kesal yang berkecamuk dalam hati Dirga. Tak lama kemudian, Danyon datang ke rumah Dirga beserta sang istri yang merupakan ketua Persit.
"Ada apa ini? Kenapa membuat keributan disini?" suara bariton sang Komandan Batalyon membuat mereka gugup, terlebih ketika melihat para suami mereka yang juga hadir disana.
"Mohon izin komandan! Danki membawa perempuan ke dalam rumahnya sebelum pernikahan, bukankah itu sebuah pelanggaran peraturan?" ucap Lisa yang sejak tadi ngotot.
"Perempuan macam apa yang mau dibawa oleh lelaki yang belum sah menikah," imbuhnya.
__ADS_1
"Siapa bilang sebelum pernikahan? Saya sendiri yang menjadi saksi dalam pernikahan mereka!"
Booommmmm!
Semua yang disana gelagapan, terlebih ketika melihat amarah suami mereka. "Apa buktinya?!" Dengan terang-terangan perempuan itu berucap.
"Permisi! Saya mohon izin kepada Danyon dan Bu Danyon, mohon maaf karena sudah membuat keributan. Ini surat-surat dan foto-foto, bukti bahwa kami sudah menikah dan terikat dalam ikatan halal," ucap Indira yang baru saja keluar dari kamarnya.
Wajah mereka semakin gugup, "Saya baru saja menyelesaikan surat-surat yang menyatakan bahwa istri saya sudah menjadi anggota resmi Persit! Akad nikah kami lakukan di Bandung, sebab adik saya tengah sakit! Apa semuanya sudah jelas sekarang?!"
"Mohon izin Danki, kami mohon maaf atas keributan ini. Kami hanya mengikuti Lisa kemari, sebab dia mengatakan jika Danki melakukan pelanggaran!" ucap Bu Danton.
Bugh bugh bugh
"Ajari istri-istrimu etika menjadi istri seorang abdi negara! Kalian sudah membuat keributan dan mempermalukan istriku!" geram Dirga menghajar bawahan nya satu persatu.
Danyon hanya diam, sebab wajar jika Dirga marah dengan semua itu. "Saya tunggu kalian di kantor! Bawa serta istri kalian untuk pembinaan!" tegas Danyon.
Indira mengusap tangan sang suami untuk menenangkannya, "Udah Mas, jangan marah-marah. Mereka kan emang belum tau kalo kita udah nikah, udah ya sayang!"
Dirga menghela nafasnya, "Kita jalan-jalan! Mas mumet!"
Mereka memutuskan untuk pergi ke Pantai Pelabuhan Ratu, tak ada percakapan di sepanjang jalan. Sebab Dirga masih dalam mode marah, sedangkan Indira tak ingin memercikan minyak pada api yang sedang menyala. Jika Indira bersuara, maka Dirga akan semakin kesal. Begitulah suaminya itu, Indira hanya terus mengusap lengan sang suami berharap menjadi air yang mampu memadamkan api.
"Disinilah awal pertemuan kita kembali, Mas! Kamu nyulik aku waktu itu," ucap Indira terkekeh.
Dirga berhenti berjalan, dia membawa tubuh istrinya untuk saling berhadapan. "Sayang, Pantai Pelabuhan Ratu ini menjadi saksi. Bahwa malam itu, tekad Mas adalah menjadikan dirimu Ratu di Pelabuhan cintaku. Seperti dulu di Pulau Tidung, Mas pernah bilang kan 'Bertemu denganmu adalah Luka yang paling manis yang pernah ku rasakan'."
"Saat ini, Mas akan mengatakan jika 'Luka itu menjadi Suka'. Jika Pulai Tidung menjadi saksi dua hati yang tak bisa menyatu, maka Pelabuhan Ratu ini menjadi saksi jika Mas sudah menemukan seorang Ratu di Pelabuhan Cinta milik kita."
Mata Indira berkaca-kaca, dia masih tak menyangka jika saat ini dia sudah menjadi istri dari laki-laki yang pertama kali mampu memenuhi relung hatinya.
Tak jauh dari sana, Kania dan Bian kini tengah duduk diatas hamparan pasir pantai. Keduanya masih enggan bersuara, tapi Bian kembali mengalah. "Jangan terlalu di pikirkan ucapanku kemarin, aku tau semuanya terlalu cepat!"
Bian berucap tanpa menoleh sedikit pun pada Kania, "Maaf, Mas! Aku cuma........"
"Gak usah diteruskan, aku mengerti Nia! Minggu depan aku akan pergi bertugas, selama enam bulan! Selama itu juga aku memberikan waktu, apakah hubungan kita akan berlanjut atau berhenti. Aku tidak akan pernah memaksamu, Nia!"
Deg!
__ADS_1
Entah mengapa, ucapan Bian membuat hati Kania terasa sakit. Ingin rasanya dia mengatakan semua ketakutan dalam hatinya, tapi semua itu dia urungkan. Mungkin Bian benar, mereka harus memberikan ruang pada hati mereka masing-masing.
"Aku akan tunggu kamu kembali, Mas! Aku akan kasih jawaban, setelah hatiku benar-benar siap untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Tolong jaga hatimu, dan aku akan menjaga hatiku disini," air mata lolos begitu saja. Kania menangis tersedu-sedu.
Bian membawa Kania kedalam pelukannya, "Jangan menangis! Aku akan selalu meminta mu pada sang pemilik dalam setiap sujudku. Do'akan aku agar kembali kesini dengan jiwa dan raga yang utuh, tapi jika aku kembali hanya dengan raga. Ikhlaskan, lanjutkan hidupmu!"
Sontak ucapan Bian membuat Kania semakin menangis tersedu-sedu, "Kamu harus pulang dengan selamat, Mas! Kalo pun kamu pulang tinggal nama, itu harus aku yang mengambil nyawamu!" Kania memukul-mukul dada Bian.
"Astaga, Mas baru tau! Emang kamu malaikat Izrail?!" ucap Bian terkekeh.
Kania yang kesal mencubit pinggang Bian, "Sakit sayang! Kejar aku kalo masih mau nyubit!" ucap Bian sambil menjulurkan lidahnya.
Akhirnya mereka berlari-lari di Pantai itu, Pantai yang menjadi saksi kedua anak manusia yang dilanda cinta. Untung saja, hari ini pantai itu tak begitu ramai.
"Mas itu bukan nya Mas Bian sama Kania?" tunjuk Indira pada mereka yang tengah berlari-larian.
Dirga mengerenyitkan dahinya, "Tubabil dasar!" cebik Dirga.
"Haaaa? Apaan itu, Mas?" Indira mengerenyitkan dahinya. "Tua-tua ****** Labil! Ngapain kejar-kejaran begitu, kaya bocah!"
Mendengar ucapan suaminya, Indira sedikit kesal. Dia menginjak kaki sang suami lalu berlari, "Kejar aku kalo mau balas dendam! Wleeeeee!"
Dirga menggelengkan kepalanya, namun tak urung dia pun mengejar sang istri. Akhirnya mereka pun berlari-larian saling mengejar dan bercanda tawa bahagia.
Seperti kebanyakan pasangan, Dirga mengukir namanya dan sang istri diatas pasir pantai.
"Mungkin ombak bisa menghapus namamu yang kuukir di pantai ini. Namun, bagaimana dengan hatiku? Saat namamu telah terukir begitu dalam dan menyatu di palungnya. Aku sangat mencintaimu, Syafa!"
Kecupan hangat mendarat di kening Indira, Senja menjadi saksi cinta mereka yang semakin bersemi dan semakin mendalam
"Mas, dalam dekapan sang senja, aku mengharapkan sebuah asa, yang dapat membuat semesta yang fana menjadi semesta yang penuh warna. Ingat, setia itu memang sulit, tapi lihatlah jingga. Selalu menggenapkan warnanya, demi senja di setiap harinya. Aku juga sangat mencintaimu, Mas! Jaga selalu hatimu saat aku tak ada dalam pelukmu!"
Biarkan mereka merasakan semua kebahagiaan itu, sebab mereka tidak pernah tau Badai apa yang menanti mereka di depan sana.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤