
Pernikahan yang bahagia adalah menyatunya dua insan yang bersedia saling mengerti, memahami, dan saling memaafkan. Tujuan dalam pernikahan bukan untuk berpikir sama, tapi untuk berpikir bersama. Membangun rumah tangga ibarat sebuah perahu kecil yang harus didayung bersama-sama. Jika perahu hanya didayung oleh salah seorang di antara suami istri, maka perahu itu tidak akan mampu berlabuh ke pulau kebahagiaan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aini Clarissa Puteri Dirgantara binti Agung Dirgantara dengan mas kawin logam mulia 50gram dan seperangkat alat sholat dibayar TUNAI!!"
Dengan satu tarikan nafas, akad nikah sudah diucapkan oleh Athaya. Tangis haru sudah tak dapat terbendung lagi, Athaya sangat bahagia. Setelah semua para tamu mengucap do'a bersama-sama, kini tibalah dirinya akan melihat Aini yang kini telah resmi menjadi istrinya.
Indira dan Dirga mendoronf kursi roda milik Aini, semua mata tertuju pada pengantin wanita yang sangat cantik dengan balutan kebaya putih serta jilbab yang baru saja Aini kenakan. Sungguh mereka tak dapat menahan rasa haru, rasa bahagia yang membuncah didalam dada.
Aini mencium tangan Athaya, sedangkan Athaya melafalkan do'a diatas ubun-ubun sang istri lalu kemudian menunduk untuk mencium kening Aini.
"Alhamdulillah, kini kita sudah halal sayang," ucap Athaya hingga membuat pipi Aini merah merona karena malu.
"Terimakasih, Kak. Sudah mau menerimaku sebagai istrimu. Maaf jika aku belum bisa melayanimu seperti istri-istri lainnya, tapi aku berjanji jika aku akan menjadi istri yang taat dan berbakti pada suami."
Athaya mengelus kepala sang istri dengan lembut, "Aku tidak menginginkan apapun lagi darimu, Aini. Cukup kamu selalu disampingku dan selalu menemaniku, aku mencintaimu sangat mencintaimu."
Cinta yang tulus tak pernah memandang apapun, setelah acara adat pernikahan selesai keduanya kini sudah berada di pelaminan untuk menyambut para tamu undangan yang hadir. Sesekali Aini merasa kecil hati, sebab dirinya tak bisa berdiri disamping Athaya. Tapi ketika melihat raut wajah suaminya yang begitu bahagia, Aini kembali membesarkan hatinya untuk menerima setiap takdir yang telah Allah berikan untuknya.
Indira terus memperhatikan Aini, rona bahagia dan haru tak lepas dari hatinya. Allah memang tidak pernah salah menciptakan takdir, Athaya yang sejak awal menjadi tunangannya kini telah resmi menjadi adik iparnya. Lalu dia menoleh pada sang suami yang kini tengah tersenyum manis padanya.
"Mas Yoga kenapa? Kok senyum-senyum sendiri gitu?" Indira terheran sendiri ketika melihat suaminya itu.
"Kayaknya Mas ngidam deh sayang!"
Sontak ucapan Dirga membuat Indira mengerenyitkan dahinya, sejak tadi sebelum acara dimulai suaminya itu sudah makan banyak sekali rujak. Padahal suaminya itu sama sekali tak kuat makan pedas, lalu kali ini mengidam apa? Itulah kira-kira yang ada dalam pikiran Indira.
Tiba-tiba saja Dirga menggenggam lembut tangan Indira, lalu keduanya berjalan menuju panggung. Indira hanya tersenyum manis, dia kini mengerti apa yang diinginkan oleh sang suami.
"Selamat siang semuanya, saya Dirga Agung Prayoga beserta istri saya ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk kedua adik kami. Semoga perjalanan rumah tangga kalian yang baru akan dimulai, selalu ada dalam lindungan Allah. Mmm.. Sudah lama rasanya saya tak mendengar suara istri saya bernyanyi, maka dari itu pada hari yang berbahagia ini kami akan menyanyikan sebuah lagu untuk kedua adik kami yang tersayang!"
Musik mulai beralun, keduanya tampak serasi dan mesra. Apalagi aura Indira yang kini tengah mengandung semakin terpancar. Semua orang hanyut dalam suasana romantis yang diciptakan oleh kedua pasangan yang kini tengah menanti buah hati mereka.
(Indira)
Ku pilih hatimu tak ada ku ragu..
Mencintamu adalah hal yang terindah..
Dalam hidupku oh sayang..
Kau detak jantung hatiku..
(Dirga)
Setiap nafasku hembuskan namamu..
__ADS_1
Sumpah mati hati ingin memilihmu..
Dalam hidupku oh sayang..
Kau segalanya untukku..
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini..
Sampai nanti di saat ragaku..
Sudah tidak bernyawa lagi..
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir..
Setiap nafasku (setiap nafasku)..
Hembuskan namamu (hembuskan namamu)..
Sumpah mati (sumpah mati)..
Hati ingin memilihmu (ku milikmu)..
Dalam hidupku oh sayang..
Kau segalanya untukku..
Janganlah jangan kau sakiti cinta ini..
Sampai nanti di saat ragaku..
Sudah tidak bernyawa lagi..
Dan menutup mata ini untuk yang terakhir..
Oh tolonglah jangan kau sakiti hati ini..
Sampai nanti di saat nafasku..
Sudah tidak berhembus lagi..
Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati..
Suara riuh tepuk tangan para tamu undangan terdengar meriah, semua orang menatap kagum pada kedua pasangan yang kini tengah turun dan menghampiri kedua pengantin.
Indira memeluk erat tubuh Aini, "Selamat ya, sayang! Kini cinta Athaya telah berlabuh di pelabuhan hatimu. Jagalah bahtera rumah tangga yang baru akan kalian arungi, jangan pernah berkecil hati. Athaya telah memilihmu sebagai pelabuhan terakhirnya, jangan pernah meragukan cintanya. Semoga pernikahan kalian selalu diberkahi Allah."
__ADS_1
Begitupun Dirga, dia memeluk erat tubuh Athaya hingga tak terasa bulir airmata jatuh begitu saja dipipi keduanya. "Terimakasih, Kak! Terimakasih karena sudah mempercayakan Aini padaku, aku tidak akan mengumbar janji padamu. Tapi aku akan membuktikan, aku akan selalu membahagiakan Aini. Dia adalah hidupku sekarang."
"Aku percaya, tolong jaga adik kecilku. Kamu tau sendiri konsekuensi yang akan kamu dapatkan jika melukai hatinya!" Dirga kembali mendekap adik iparnya itu.
"Awww.. Romantic cekalii, eikeu ikutaaaan dong cyiiiinnn...!"
Suara Faisal sontak membuat keduanya bergidik ngeri dan melepaskan pelukannya. Tiba-tiba saja dengan spontan Athaya berdiri dibelakang istrinya, begitupun dengan Dirga yang langsung bersembunyi dibalik tubuh istrinya.
"Idiihhhh..! Sebel.. Sebel.. Sebeeelll...! Emang nya eikeu ini apose, sampe iyey bedua ngumpet begindang! Udin kayak liat setan ajeeee..!" kesal Faisal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Saya gak liat setan kok Mas, eh Mbak, ehhh..." ucap seorang pegawai catering yang bernama Udin yang tengah membawa minuman untuk kedua pengantin.
"Eikeu gak ngomong sama iyey ya!" Faisal mendelik kesal.
"Lah tadi bilang 'Udin kayak liat setan aja', saya Udin dan saya gak liat hantu!" dengan polosnya pegawai catering itu menjawab.
Kini mereka tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Faisal, tak lama kemudian datanglah Kania dan Bian. "Cal, kalo mau lenong jangan disini! Minggir, gue mau ngucapin selamat buat penganten!" usir Kania.
"Hiliiihh.. Eikeu juga mau ngucapin cyin! Tapi noh, malah pada sembunyi kek gitcu! Kan eikeu sebeeelll.....!" rengek Faisal pada Kania.
"Ohh gitu, wajar kok. Mereka tuh heran, kok simanis jembatan pasopati nongol disini," celetuk Bian membuat Faisal kembali mencebik kesal hingga membuat mereka tertawa.
Athaya kemudian menghampiri Faisal dan merangkul pundaknya. "Thanks ya, Cal! Lu udah mau dateng ke acara nikahan gue. Lu juga Nia, thanks udah nyempetin dateng kesini mana sama calonnya lagi. Gue do'ain kalian cepet-cepet nikah, dan lu Cal! Gue do'ain moga lu cepet tobat dan nemuin cewek yang bener-bener cinta dan nerima lu apa adanya!"
"Sialan iyey! Tapi thanks deh, do'anya! Semoga aja eikeu bisa ye kembali ke jalan yang lurussss bin lempeng!"
Semua larut dalam kebahagiaan di hari pernikahan Athaya dan Aini. Termasuk seluruh keluarga Indira yang di undang secara khusus, semuanya hadir disana termasuk Baba Jafran dan keluarganya. Athaya dan Aini sangat bersyukur dapat dikelilimgi orang-orang baik seperti mereka. Keduanya kini saling menggenggam seolah tak ingin terpisahkan. Pada akhirnya cinta keduanya seperti perahu, sejauh apapun dirimu berlayar jika dia adalah pantai yang selama ini kau cari, maka disitulah dirimu terakhir berlabuh.
* * * * *
Hai.. Hai.. Reader tersayang! ❤
Maaf rindu jarang UP, sedang sibuk di dunia nyata nih..
Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1