
Suara riuh sudah terdengar di kediaman Dirgantara, esok hari akan diadakan acara pernikahan antara Athaya dan juga Aini. Dirga sudah disibukkan dengan berbagai macam persiapan, sebab dia inginkan pernikahan terbaik untuk adiknya yang kini tak bisa lepas dari kursi roda.
"Mas! Ini bunga mau ditaro dimana?" tanya Indira membuat Dirga membulatkan matanya. Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Dirga malah berlari dan memeluk erat tubuh istrinya itu.
"Kamu nih ngapain sih yang? Bawa-bawa bucket bunga segede gaban! Gak liat itu perut kamu kegencet begitu! Kalo anak kita kesakitan gimana? Lagian siapa sih yang nyuruh kamu buat kerjain ini!" omel Dirga. Rasa haru tiba-tiba saja menyeruak kedalam relung hati Indira, lama tak mendapatkan perhatian suami membuat hati Indira menghangat. Airmata tiba-tiba menetes begitu saja, sontak hal itu membuat Dirga panik bukan kepalang.
"Sayang, are you okay? Ada yang sakit? Perut kamu sakit?"tanya Dirga dengan penuh kekhawatiran. Indira menggelengkan kepalanya dan hal itu membuat Dirga semakin panik. "Sayang jawab! Aku panik ini!"
Tak hanya Dirga, tapi seluruh keluarga menjadi panik ketika melihat Indira menangis seperti itu. Mereka segera menghampiri Dirga dan juga Indira.
"Ada apa ini, Kak? Kenapa Kak Syafa nangis?" tanya Aini yang turut khawatir.
"Ini nih tadi dia bawa-bawa bucket bunga segede gini, pasti perutnya sakit ya sayang?" Dirga bertanya sekali lagi, tapi tetap saja istrinya itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Nak? Bilang sama Mama apa yang sakit?" kali ini sang mertua yang bertanya, sebab dirinya sangat mengkhawatirkan menantunya itu. Mama Dirga mengusap lembut kepala dan perut Indira bergantian.
"Aku gak apa-apa, Ma. Cuman terharu aja rasanya, baru kali ini selama hamil aku di perhatiin Mas Yoga! Biasanya cuman Om Panca sama Om Waluyo aja yang merhatiin dedek bayi," ucap Indira membuat mereka menahan tawanya. Sedangkan Dirga menunjukkan raut wajah bersalah terhadap istrinya itu.
"Yaa Allah sayang, kamu bikin Mama panik aja! Syukurlah kalo cucu Enin baik-baik aja. Udah sekarang kamu istirahat aja, jangan kecapekan! Ajak istri kamu ke kamar," titah Mama Dirga. Keduanya menurut, Dirga dengan telaten menuntun sang istri sambil sesekali mengelus perutnya yang sudah membuncit.
Tiba di kamar, Dirga langsung memeluk erat tubuh istrinya itu. "Maafin Mas sayang, maafin Ayah ya Dek! Selama hamil kamu pasti sendirian, Mas janji akan selalu disisi kamu sampe dedek lahir dan kita akan membesarkan anak-anak kita sama-sama ya sayang!"
Indira membalas pelukan suaminya dengan airmata yang menetes begitu saja, "Makasih ya Ayah, sudah kembali dengan selamat buat dedek dan Bunda! Kami akan selalu mendampingi Ayah dalam keadaan apapun!"
Sejatinya seorang istri prajurit memanglah harus siap dengan keadaan apapun, siap untuk ditinggalkan bertugas dan siap ikut kemana pun suami ditempatkan. Itulah yang selalu Indira dengar dari sang Bunda.
* * *
Jika di kediaman Dirga tengah ramai dengan persiapan pernikahan esok hari, sang pengantin laki-laki kini tengah sibuk mencari sepasang merpati putih. Sudah beberapa pasar burung dia singgahi, namun belum juga menemukan sepasang merpati putih itu.
__ADS_1
"Gus, kita pulang saja! Pamali pengantin masih keluyuran jam segini!" ucap Mang Darman.
Athaya menggelengkan kepalanya, "Aku dah janji mau lepas sepasang merpati putih selepas ijab, Mang! Saking semangatnya aku sampe lupa!" keluh Athaya.
"Biar Mang Darman saja yang cari, sekarang Gus harus pulang. Semua orang pasti mencari Gus sekarang!"
Ucapan Mang Darman memang ada benarnya, pasti keluarganya sangat khawatir sekarang. Pada akhirnya Athaya memutuskan untuk pulang dan menyerahkan urusan merpati pada Mang Darman.
Dengan kecepatan sedang Mang Darman mengemudikan mobilnya, sebab dia tak ingin sesuatu terjadi pada sang calon pengantin. Benar saja, kedua orangtua Athaya kini sudah berdiri di depan teras. Terlihat raut wajah khawatir dimata keduanya.
"Yaa Allah, Nak! Kamu darimana aja sih?" panik Ummi seraya memeluk tubuh putra bungsunya itu.
"Maaf ya Ummi, aku cari merpati putih. Tapi ternyata susah, dari pagi sampe sekarang belum ketemu!" keluh Athaya.
Ummi dan Abi Athaya tertawa lepas ketika mendengar keluh kesah sang anak. Athaya mengerenyitkan dahinya, "Kok Ummi sama Abi malah ketawa sih?"
"Maaf Nak, habis Ummi gak habis pikir! Kamu keliling Bandung buat nyari merpati putih? Emang calon Kakak Ipar kamu itu gak ngabarin? Kan merpati putihnya udah di siapkan sama keluarga Aini," jelas Ummi.
✉️ Kak Dirga
Gimana? Sudah ketemu merpati putihnya? Sengaja gue borong semua! Selamat menikmati hari lelahmu wahai Calon Adik Ipar! HAHAHAHA
"Dasar Kakak Ipar laknat! Awas aja, nanti ku balas!" kesal Athaya ketika membaca pesan itu.
Malam semakin larut, baik Athaya maupun Aini enggan memejamkan mata. Keduanya sudah tak sabar menghadapi hari esok, tapi Aini lebih banyak menyimpan kegundahan. Kebetulan, malam ini Aini tidur ditemani oleh Indira. Tak ingin membangunkan sang Kakak Ipar, Aini bergerak sendiri untuk bisa duduk. Dia menangis dalam diam, tapi Indira bisa merasakan itu.
Indira membuka matanya, dia melihat jika Aini tengah berusaha untuk duduk. "Dek? Kamu mau duduk? Kenapa gak bangunin Kakak?"
Aini menggelengkan kepalanya, "Biarkan aku belajar untuk duduk sendiri, Kak. Aku harus bisa, bagaimanapun besok aku akan resmi menjadi seorang istri. Aku yang harusnya mengurus dan melayani suamiku nanti, bukan Kak Athaya yang harus mengurusku!" ucap Aini sambil terisak.
__ADS_1
Indira membiarkan Aini hingga dia mampu duduk dan bersandar. Setelah itu, dia menggenggam erat kedua tangan Adik Iparnya itu. "Aini, apa kamu masih ragu sama Athaya?"
Aini menganggukan kepalanya, "Aku takut, setelah menikah nanti Kak Athaya akan meninggalkanku karena semua kekuranganku. Aku takut niat baiknya menikahiku hanya karena perasaan bersalahnya terhadapku, Kak! Aku takut!" lirih Aini.
Kini Indira memeluk erat tubuh sang adik, "Aini dengarkan kata hatimu, Athaya adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Kakak yakin, dia tidak akan melakukan hal itu. Cintanya untuk kamu itu tulus, Dek. Andai dia menyakitimu nanti, maka Kakak adalah orang pertama yang akan menghukumnya! Bakalan Kakak bejek-bejek kaya tahu kalo sampe Athaya nyakitin kamu!"
Sontak ucapan Indira membuat Aini menahan tawanya, "Ah.. Kak Syafaaaa!" rengek Aini.
"Godaan dan cobaan sebelum pernikahan itu selalu ada, maka dari itu jangan pernah memikirkan hal yang tidak penting. Sekarang tidur! Kita harus fokus sama acara besok pagi. Yuk bobok, ponakan kamu mau bobok sama Anty nya!" ajak Indira.
Akhirnya keduanya tidur saling berpelukan, Indira terus membicarakan hal-hal baik setelah menikah hingga keduanya tertidur lelap.
Kita jatuh cinta bukan karena menemukan orang yang sempurna, melainkan karena melihat kesempurnaan pada orang yang tidak sempurna. Cinta adalah pemberian terbaik, cinta juga adalah penghargaan terbesar untuk yang menerima. Menikah bukanlah bisa hidup dengannya, tapi menikah berarti tidak bisa hidup tanpanya. Bukalah matamu lebar-lebar sebelum pernikahan, dan setengah tertutup sesudahnya.
* * * * *
Hai.. Hai.. Reader tersayang! ❤
Maaf rindu jarang UP, sedang sibuk di dunia nyata nih..
Semoga kalian sehat-sehat selalu yaa..
Rindu sayang kalian, Reader 🥰😘
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤