Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 42. Rumah Tangga


__ADS_3

"Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayangi jika ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi dia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali kasih itu."


Nasihat dari Abi membuat Athaya kini mengerti, jika sebuah hubungan tidak akan bisa dipaksakan tanpa di dasari oleh cinta dan keikhlasan. Maka dia memilih pergi, bukan untuk pergi yang sesungguhnya. Tapi dia memberikan ruang pada Aini agar dapat bisa merasa dan merindu.


Hal itu terbukti, ketika Athaya mendapatkan laporan dari Mbok Darmi yang mengatakan jika Aini selalu menanyakan dirinya.


"Mari kita saling mendo'akan, Aini. Kita luapkan kerinduan ini, saling memeluk dalam do'a, saling memantaskan diri. Aku berjanji, aku akan kembali setelah menjadi pribadi yang jauh lebih baik," gumam Athaya memandangi foto Aini yang diam-diam dikirimkan oleh Mbok Darmi.


Jika Athaya memiliki Mbok Darmi sebagai intel, maka Bian dan Dirga memiliki Faisal yang dapat mereka andalkan.


"Aman cyin! Ibu negara lagi sama Ibu mentri!" bisik Faisal pada ponsel yang terhubung dengan Bian.


Bian mencebik kesal, "Yang benar kamu makhluk ancol! Awas aja kalo kamu gak ngawasin Ibu mentri dan Ibu negara! Coba deketin ponselnya, kalo enggak kamu tak aku kirim ke habitatmu!" ancam Bian.


"Hey anak muda bucin! Iyey pikir eikeu bakalan diizinin masuk, nehi nehi aca aca! Mereka itu kalo udah ambekan, keluar singa betinanya! Iyey belum tau aja, eikeu gak mau mati muda diterkam singa betina yaa cyiinnn!" kesal Faisal.


Bian berpikir, ada benarnya juga ucapan Faisal. Indira dan Kania akan berubah menjadi singa betina jika dalam mode marah. Tadi siang, Bian mengutarakan niat baiknya pada Kania. Walaupun mereka baru menjalin hubungan, tapi Bian sudah memiliki niat serius dengan Kania.


"Hallo! Iyey masih idup atau metong? Kalo iyey udah kaga ada urusan sama eikeu, mau eikeu tutyup dulyu telponnya, cyiin!" ucap Faisal membuat Bian tersadar dari lamunannya.


Bian berdehem, "Ehmz, Cal! Boleh gue nanya?" tanya Bian.


"Boleh! Tapi satu pertanyaan sepuluh rebu rupiah, cyin!" jawab Faisal dengan senyuman penuh kemenangan.


"Oke!" Bian termenung sejenak, "Apa gue salah? Tadi gue bilang sama Kania kalo gue mau nikah sama dia!"


Hening


"What?!!" pekik Faisal yang kaget. Dia langsung menjauhkan dirinya dari kamar Kania. "Hei iyey bapack kacang ijo tapi otaknya agak begooo! Iyey pikir si ceu Kankan bakalan nerima iyey?! Noooooo! Yuu salah besar, anak muda!"


Terdengar suara Bian menghela nafas, "Hubungan iyey sama si ceu Kankan itu masih anget-anget tahiii ayam, iyey tau itu! Maen lamar-lamar anak orang aje iyey suketi!" umpat Faisal.


"Heh! Gue cuma butuh jawaban, bukan omelan!" kesal Bian.

__ADS_1


Kali ini Faisal yang menghela nafasnya kasar, "Laki-laki emang makhluk yang egois!" pekik Faisal.


Bian terdengar menahan tawanya dengan kesal, "Heh makhluk ancol! Situ juga laki!"


Faisal mencebik kesal, "Itu sebabnya eikeu lebih senang dengan hidup eikeu sekarang!"


"Dengerin eikeu ya, Mas bucin! Eikeu sama ceu Kankan udah berteman baik sejak SMA, eikeu tau betul bagaimana dia. Eikeu akui ya cyin, iyey sudah membuat ceu Kankan jatuh hati. Tapi untuk kewong, tidak semudah itu Bensol! Iyey harusnya cari tau dulu dong cyin gimenong keluarga si ceu Kankan. She's traumatized about marriage! Bonyok dia tu cerai cyin!" ucap Faisal membuat Bian kini mengangguk.


"Hufft! Baiklah, gue ngerti! Lo emang makhluk aneh, tapi setidaknya otak lo cemerlang! Jangan lupa kabarin perkembangan Kania ya, Faisal!" titah Bian.


"Iicaaalll!! Awas kalo iyey manggil eikeu dengan nama itu, ini malam hari cyiinn!" kesal Faisal.


Terdengar suara tertawa Bian disebrang sana, Faisal segera mematikan teleponnya dan kembali berniat menguping percakapan Indira dan juga Kania. Sebab dia harus melapor pada dua Raja dan Pangeran. Walaupun dia makhluk setengah jadi, tapi kesetiaan Faisal untuk mengikuti kata hatinya tak pernah diragukan.


Sebuah kehidupan pernikahan sering diistilahkan dengan sebutan rumah tangga. Kehidupan dua insan manusia yang disatukan oleh sebuah ikatan suci pernikahan. Rupanya hal itu yang mengusik perasaan Kania.


Indira terus membujuk Kania agar mau menceritakan kegelisahannya, "Aku itu kalo ada apa-apa selalu cerita sama kamu. Masa iya kamu mau menutupi masalah kamu dari aku?"


Gadis itu menunduk lesu, "Apa setelah menikah kamu bahagia, Ra?"


"Aku bahagia! Terlebih saat aku menikah dengan orang yang sangat aku cintai. Kania, jauh sebelum aku mengenal Athaya, cintaku sudah berlabuh pada Mas Yoga. Ibaratkan seperti kamu, pasti kamu juga akan bahagia kan kalo menikah sama Mas Bian," ucap Indira membuat Kania dengan segera menggelengkan kepalanya.


Indira sedikit terhenyak, "Memang menurutmu apa arti sebuah pernikahan, Ra? Apa arti sebuah hubungan rumah tangga?" lirih Kania.


"Kania, bayangkanlah sebuah rumah dengan tangga didalamnya. Jika tangga yang ada dirumah kita rusak karena suatu alasan, kita gak begitu aja memutuskan buat pindah rumah atau menghancurkan rumah dengan membuat bangunan baru bukan?" terlihat Kania menganggukkan kepalanya.


"Maka, jika tangga dirumah kita rusak, kita hanya perlu untuk memperbaiki tangganya. Rumah diibaratkan bangunan cinta yang kita dirikan bersama-sama dengan orang yang kita cintai. Disana ada tangga, tempat kita belajar setahap demi setahap. Supaya kita dan pasangan menjadi sepasang manusia yang lebih dewasa dan bijaksana. Itulah sudut pandanganku terhadap rumah tangga," ucap Indira.


Terlihat Kania sedikit mendongakkan kepalanya, matanya sudah tak bisa lagi menahan airmata. Dia menangis dipelukan Indira. Ponsel Indira bergetar, dia mengangkat telepon dan meletakkan ponselnya di nakas samping tempat tidur.


Sebelumnya Indira sudah mengirim pesan pada suaminya, agar Bian mendengarkan curahan hati Kania. Cukup lama gadis itu terdiam, hingga akhirnya dia mengungkapkan isi hatinya.


"Mas Bian mau menjalin hubungan serius sama aku, Ra!" lirih Kania. Dia menghela nafasnya, "Aku takut, Indira. Kedua orang tua aku bercerai, Papa selalu menyiksa Mama. Sampe Mama selingkuh dan Papa juga mencari kesenangan diluar sana. Aku takut, apakah Mas Bian akan seperti Papa? Apalagi aku sama Mas Bian belum terlalu lama saling mengenal, Ra!"

__ADS_1


Kini Indira mengerti biduk utama kegelisahan hati Kania, "Nia..... Tidak semua laki-laki memiliki sikap kasar, tidak semua rumah tangga itu menakutkan. Jangan melihat itu semua, Kania. Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, sebagai seorang tentara Mas Bian setia mengabdi pada negaranya, apalagi suatu saat dia memiliki istri," ucap Indira membuat Kania mendongakkan kepalanya.


"Ra! Aku tau itu, jujur aku jatuh cinta sama Mas Bian sejak pertama kali kita ketemu. Aku bahagia, Ra! Bahagia menjalin komitmen dengannya, apalagi saat Mas Bian mengutarakan niat baiknya. Semua perempuan di dunia ini akan bahagia! Tapi................"


"Mama selalu bilang, sebelum menikah aku harus pastikan dan harus mengenal calon suamiku dengan baik. Bayang-bayang ingatan saat Mama disiksa, saat Mama selingkuh didepan mataku, semua itu terus berputar dikepalaku, Ra!" kini Kania kembali menangis tersedu-sedu.


Diujung sana, Bian menahan sakit didadanya. Tak menyangka jika gadis yang dia cintai memiliki sebuah trauma akan sebuah hubungan. Faisal benar, Bian terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Dia menutup teleponnya, tak ingin semakin sakit mendengarkan curahan hati Kania.


"Berani sekali kamu pot matiin telepon istriku!" kesal Dirga membuat Bian mencebik kesal. "Ckck! Prihatin sedikit lah pada juniormu ini!"


Athaya dan Bian, sama-sama mendapat penolakan secara tidak langsung. Tentu saja hal itu sedikit melukai harga diri mereka sebagai seorang laki-laki. Watak laki-laki itu keras dan memiliki ego yang tinggi, bahkan ketika melakukan kesalahan mereka tak pernah mau mengakuinya. Dan perempuan itu memiliki hati yang lembut, terlampau lembut. Hingga bisa membuat hati mereka mudah robek.


Manusia harus lebih cerdas dalam menghadapi masalah, dan jangan lupa harus diiringi dengan kesabaran hati. Itulah jalan keluar yang terbaik untuk menghadapi masalah itu. Jadikanlah dirimu sebagai lautan luas, apapun yang terjadi semua itu harus diterima dengan tawakal dan iman yang kuat.


Dirga menghampiri Bian yang terlihat frustasi malam itu, "Pot, kamu mengajak anak gadis menikah itu tidak seperti kamu mengajak dia jalan-jalan ke Pantai! Heran aku, pot! Kok bego mu itu di piara," ucap Dirga membuat Bian mengerucutkan bibirnya.


"Tapi aku bangga! Tandanya kamu memiliki keberanian untuk berjuang, 6 bulan pot!" Bian menoleh pada Danki nya itu, dahi nya mengerenyit tak mengerti maksud ucapan Dirga.


"Opo toh, kapten! Orang lagi ruwet kok bikin makin ruwet!" kesal Bian.


"Haduh, pot! Bego mu makin gede! Maksudku, fokuslah pada tugas kita 6 bulan ini! Beri ruang pada Kania untuk memikirkan hubungan kalian kedepannya, jangan kayak anjing lapar toh pot! Semakin dikejar, singa itu akan semakin menjauh!" kali ini Bian menganggukkan kepalanya.


"Gak usah diibaratkan kaya anjing karo singa dong! Koyo kucing sama tikus gitu, Dan!" kesal Bian.


"Hahahaha! Kalo aku sih emoh, maunya disebut manusia aja!" Dirga meninggalkan Bian yang kini sedang komat kamit mengeluarkan sumpah serapah untuknya.


Pernikahan bukanlah sebuah akhir, melainkan titik awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan cara Allah mempersatukan dua insan dalam ikatan pernikahan tak pernah bisa diduga oleh manusia. Pernikahan tidak hanya berisi pelukan, tapi juga perkelahian. Akan banyak kerikil, batu, bahkan tebing yang terjal yang harus dilewati.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2