Persimpangan Dilema

Persimpangan Dilema
Bab 39. Sebuah tanggung jawab


__ADS_3

Hai.. Maaf hari kemaren othor gak up..


Ada sesuatu hal yang harus rindu pulihkan..


Semoga kalian tidak kecewa dan selalu mendukung Rindu..


* * *


Kepergian seorang sahabat yang sudah seperti ikatan saudara tentu saja membuat luka tersendiri, ketika dua raga kini tak dapat saling menyapa. Kepedihan sangat dirasakan oleh Dirga, baru saja dia menikmati masa indah awal pernikahannya tapi kini hatinya dipebuhi oleh duka.


Masalah yang dihadapi tentu saja buka perkara yang mudah. Eki pergi meninggalkan dua wanita yang kini sedang mengandung buah hatinya. Dia tak menyangka jika Eki bisa melakukan hal sejauh itu, tapi mau bagaimanapun kini nasi sudah menjadi bubur. Tak dapat diulang kembali.


Malam itu, sang istri meminta izin untuk menginap dan menemani sahabatnya, Fika. Tentu saja Dirga mengizinkan, sebab malam ini pun dia harus menyelesaikan kasus Eki bersama Polisi. "Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk kalian, pelakunya harus mendapatkan hukuman," batin Dirga.


Selesai tahlilan, Dirga segera mengunjungi kediaman Mirna, kekasih Eki. Dia datang bersama empat orang Polisi, cukup lama mereka menekan bel. Tapi belum juga dibukakan pintu. Dirga tau, pasti keluarga Mirna ketakutan sebab ini memang ulah mereka. Tak lama kemudian munculah dua orang pria yang menatap tajam kearah Dirga.


"Mapa kalian disini?!" bentak orang bertubuh besar itu.


"Kami disini hanya menjalankan tugas, kami membutuhkan informasi dari Saudari Marni beserta keluarganya mengenai pengeroyokan terhadap korban atas nama Eki dan juga Panji," terang salah satu petugas kepolisian.


Dia menggeram lalu mengeluarkan sebilah pisau dibalik tubuhnya, "Pergi kalian dari sini! Keluargaku tidak memiliki sangkut paut dengan kematian Eki ataupun Panji!" bentaknya.


Kali ini Dirga tersenyum menyeringai, "Dari mana Anda tau jika saudara Eki meninggal? Setau saya, kami belum memberitahukan kondisi korban pengeroyokan itu."


Booommmmm!


Dirga tepat sasaran, kini tubuh lelaki itu bergetar. Wajahnya terlihat gugup dan pucat, "Pergi ku bilang! Keluarga kami tidak ada sangkut pautnya! Kalo kalian tidak pergi..............."


"Mau apa? Mau menusuk kami? Silahkan, tentunya kamu akan dikenakan pasal berlapis. Lihatlah disekelilingmu, teriakanmu itu tentu saja menghadirkan banyak saksi," ucap Dirga penuh kemenangan.


Kini para tetangga sekitar pun sudah berkumpul untuk menyaksikan semua itu, pada akhirnya sang lelaki yang ternyata merupakan Kakak dari Marni itu menyerahkan diri. "Adikku itu diperkosa, aku pikir Eki pelakunya maka kami memburunya. Ternyata bukan Eki pelakunya, bayi yang dikandung adikku itu adalah bayi dari Ayah tiri kami. Maafkan aku, aku tidak menyangka semuanya," lirihnya.


Mendengar pengakuannya, sudah jelas dialah pelakunya. Maka polisi langsung membawanya ke Polsek setempat, "Perbuatanmu membuat seorang janin kehilangan Ayahnya. Bukan dari adikmu, tapi dari sahabat istriku. Aku harap kamu akan diberi hukuman setimpal karena menghilangkan nyawa orang lain. Dan akan aku pastikan, kamu akan mendapatkan hukuman seberat-beratnya!" tegas Dirga.

__ADS_1


Hatinya sangat teriris, sahabatnya kehilangan nyawa karena sebuah kesalahpahaman. "Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku, sekali lagi aku mohon sampaikan permintaan maafku pada keluarga Eki," lirihnya.


Setelah urusannya selesai, dia segera menuju Rumah Sakit. Dia meminta izin pada suster untuk mengunjungi Panji. Tubuh sahabatnya itu masih dipasangi berbagai alat, airmata Dirga kembali mengalir begitu deras.


"Maafin gue, Ji. Eki udah pergi ninggalin kita, gue mohon bertahanlah! Jangan tinggalin gue, rasanya terlalu menyakitkan kalo gue kehilangan lo berdua!" lirih Dirga. Malam itu, Dirga tertidur dirumah sakit, dia mendampingi Panji, meskipun besok pagi dia harus melakukan perjalanan ke Malang untuk acara pernikahan sang adik.


Sedangkan Indira, malam itu dia sama sekali tidak bisa tertidur dengan tenang. Fika berkali-kali berniat mencelakai dirinya sendiri, hingga kini Indira besama Ibunya Fika terpaksa untuk tidak tertidur. "Dira, bisa kamu jelaskan sama Ibu? Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Ibu Fika.


Ini diluar dugaan, Indira pikir Ibunya Fika sudah mengetahui hal itu. Kini semuanya terasa berat bagi Indira, dia tak berhak untuk menjelaskan apapun. Sebab semuanya diluar kuasanya, hanya Fika yang berhak menjelaskan semuanya pada orangtuanya. "Maaf Bu, Dira gak punya hak untuk menjelaskan. Dira takut salah dalam berucap, sebaiknya nanti ibu tanyakan pada Fika jika kondisinya sudah lebih baik," ucap Indira.


Ibu Fika menghela nafasnya, "Akhir-akhir ini, dia selalu menghindari Ibu. Apalagi kini Ibu dan dia sedang jauh, kedatangan Ibu ke Bandung itu untuk menjemput Fika. Kamu tau sendiri, lusa adalah pernikahan Athaya. Tapi sepertinya kondisi Fika tidak memungkinkan untuk diajak pergi," lirihnya.


Tak banyak yang bisa Indira lakukan, dia hanya mencoba untuk menenangkan Ibu sahabatnya itu.


Suara dering ponsel mengusik tidur Dirga, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Tentu saja sang istri yang mengirimnya pesan untuk segera menjemputnya di kediaman Fika. Setelah berpamitan pada keluarga Panji, dia menjalankan mobilnya untuk menjemput sang istri.


Perjalanan memakan waktu 30 menit, dilihatnya sang istri sudah menunggunya di teras rumah. Mereka berpamitan, sepanjang perjalanan menuju rumah tak ada perbincangan diantara keduanya. Dirga larut dalam pikirannya masing-masing, begitupun juga dengan Indira.


"Mas mau mandi sama sholat dulu, yank! Tolong siapkan kopi, ya. Mas ngantuk!" ucap Dirga ketika mereka sudah sampai dirumah.


"Keluarga kita sedang tidak baik-baik saja, Nak. Kita semua sedang perang dingin, tak ada satupun yang mau mengalah pada ego msaing-masing," ucapan Bunda Gisya sebelum pergi masih terngiang-ngiang dikepaanya.


Pernikahannya yang baru berlangsung tiga hari itu terus diterpa badai, Indira kembali berpikir mengapa semuanya terasa sangat berat. Apakah sesulit ini ujian dalam sebuah rumah tangga? Bukan masalah dari internal, tetapi masalah eksternal yang merekapun tidak bisa begitu saja untuk tidak peduli. Pernikahan dan kematian yang terjadi bersamaan membuat keduanya tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun.


Sudah pukul 7.30 pagi, tapi suaminya belum juga turun. Kopi yang dibuatkan pun sudah dingin, sejak tadi Indira sibuk memasak dan sibuk dalam pemikirannya sendiri. "Mas, bangun! Kita sarapan dulu, kopi Mas juga sudah dingin itu," Indira mencoba membangunkan sang suami yang tengah tertidur diatas sajadah.


Dia mengerti, suaminya pasti sangatlah berduka karena kehilangan sahabat baiknya. Tapi dia juga harus terlihat bahagia, dihari pernikahan adiknya. Sebab dia memiliki tanggung jawab untuk menggantikan Papa Dirga untuk menjadi wali di pernikahan Aini. Sebab kondisi tubuhnya yang stroke tidak bisa melakukan apa-apa.


Dirga mengerjapkan matanya, "Maaf yank, Mas ketiduran!"


"Gak apa-apa, Mas! Sekarang bangun ya, kita sarapan dulu sama mampir ke Rumah Sakit. Ibam kondisinya turun lagi, belum lagi Bang Mirda yang sekarang ikut dirawat," lirih Indira.


Melihat kesedihan diwajah sang istri, Dirga membawa Indir kedalam pelukannya. "Ujian diawal rumah tangga kita banyak sekali yank. Tandanya Allah yakin jika kita mampu melewati semua ujian ini. Kita akan selalu berpeganan tangan dan saling menguatkan," ucap Dirga mengecup lembut pucuk kepala istrinya itu.

__ADS_1


Seharusnya kedua pengantin baru ini bersenang-senang dihari ketiga mereka menjadi sepasang kekasih halal. Tapi mereka lebih memilih mengenyampingkan ego, sebab keluarga juga sahabat itu penting dalam hidup mereka.


Selesai sarapan, keduanya langsung bertolak kerumah sakit. Setelah itu, baru mereka akan melakukan perjalanan ke Malang. Ketika Indira membuka pintu ruang rawat sang Kakak, dia bisa melihat bagaimana kacaunya kondisi Elmira.


"Kak sarapan dulu, ya. Dira masak sayur sop iga tadi pagi, Kakak cobain ya!" pinta Indira. Namun Elmira menggelengkan kepalanya, "Kakak gak laper, Dek. Nanti aja Kakak makan, ditaro aja dimeja," ucap Elmira tanpa mengalihkan pandangannya dari sang anak.


Indira menghela nafasnya, "Kak, kalo semuanya sakit siapa yang akan menjaga Ibam? Setidaknya kalo Kakak gak mikirin diri sendiri, pikirin Ibam! Dira tau Kakak cape, Kakak lelah! Begitupun semua orang, kami semua juga merasakan apa yang Kakak rasakan!"


Elmira kembali menangis saat mendengar ucapan adiknya itu. "Kakak egois ya, Dek? Atau kalian yang gak paham sama perasaan Kakak. Apa salah kalo Kakak gak mau menggunakan harta haram itu? Kakak gak mau, Dek!" lirih Elmira.


"Jujur, Kakak itu terlalu egois. Semua orang harus berkorban untuk Kakak, tapi Kakak gak mau berkorban sedikitpun untuk mereka. Jangan pernah merasa kalo Kakak yang paling tersakiti! Bang Mirda lebih sakit, Kak! Kalo emang Kakak gak mau pake harta itu buat ngobatin Ibam, apa Kakak punya cara lain?" tanya Indira dan Elmira menggelengkan kepalanya.


"Kalo Kakak kekeh gak mau pake harta itu, maka bersiaplah menangis bersimpuh diatas pusara Ibam! Aku pamit, takut ketinggalan pesawat. Sekarang terserah Kakak mau apa, Dira gak akan pernah ikut campur! Assalamu'alaikum!" pamit Indira yang memang mulai kesal dengan sikap Elmira.


Mendengar ucapan sang adik, Elmira semakin menangis tersedu-sedu. Dia menatap putranya yang kini belum juga sadarkan diri. Dia merasa sendiri, dia merasa tak ada yang mengerti perasaannya.


Sedangkan di ruang rawat Mirda, kini Dirga mencoba membujuk sang Kakak ipar untuk makan juga. Namun jawaban yang mereka dapatkan itu sama, "Nanti aja, Abang belum laper. Taro aja di meja, kalo udah laper juga Abang pasti makan!" ucapnya dengan tatapan kosong.


"Huft! Kalian ini bener-bener orangtua yang kompak ya, Bang! Sama-sama egois! Kalo kalian berdua sakit, lalu siapa yang akan jagain Ibam? Ah, udahlah terserah kalian aja, Bang! Aku pamit, istriku udah nunggu didepan! Assalamu'alaikum!" pamit Dirga.


Benar yang dikatakan oleh orangtuanya, mereka terlalu mementingkan ego masing-masing dan tidak mau mengalah. "Jangan terlalu dipikirkan yank, ini bisa jadi pelajaran untuk rumah tangga kita. Bagaimanapun, menjadi orangtua merupakan sebuah tanggung jawab yang besar. Sebenarnya baik Bang Mirda atau Kak Elmira itu tidak salah, hanya saja komunikasi mereka yang salah," ucap Dirga ketika melihat Indira termenung.


"Iya Mas, aku paham kok. Aku cuman gak ngerti aja kenapa semuanya jadi begini. Jujur aja, kali ini aku lebih kecewa pada Kak Rara. Padahal Bang Mirda hanya ingin melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah. Dulu kata Ayah, Papa kandung Kak Rara sampe mengkhianati negaranya Mas, itupun hanya demi Kak Rara," lirih Indira.


Dirga mengusap lembut kepala sang istri, "Mas juga kecewa sama Bang Mirda, sebagai suami dia juga bertanggung jawab pada istrinya. Tidak baik jika dalam rumah tangga tidak ada keterbukaan. Seperti yang Mas bilang, ini hanya miss komunikasi. Semoga setelah kita pulang dari Malang, semuanya terasa lebih baik lagi."


Nilai dari sebuah kehebatan adalah tanggung jawab. Bertanggung jawab bukan hanya untuk apa yang kita lakukan, tapi juga untuk apa yang tidak kita lakukan. Karena hidup adalah sebuah pemberian dan hidup memberikan kita keistimewaan, kesampatan dan tanggung jawan untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2