
"Kim... jangan dengarkan pak Hasan, tetap lah di sana, percaya lah Ibu dan teman-teman mu akan baik-baik saja." teriak Bu Inah.
" Oo kamu meragukan saya...!" Seru Pak Hasan lalu "PLAK!" Pak Hasan menampar wajah Bu Inah.
Melihat itu Kimora berteriak histeris, "Ibu...! "teriak Kimora spontan.
Mendengar teriakan Kimora Bi Nuri dan mang Ali segera menghampiri Kimora yang sedang berada di dalam kamar putra-putrinya, mereka terkejut mendengar teriakan itu dan merasa penasaran apa yang terjadi dengan Kimora.
"Ada apa Kim, kenapa kamu berteriak?"tanya Bi Nuri dan mang Ali secara bersamaan.
Tapi Kimora tidak menjawabnya Ia hanya menangis dan memperlihatkan layar handphonenya yang sedang menampilkan pergerakan Pak Hasan sedang menyandera Ibu Inah dan para sahabatnya.
Bi nuri dan mang Ali begitu geram ketika melihat itu.
"Apa maksudnya ini? " Bi Nuri belum paham betul.
Di layar handphone Darman yang dikuasai oleh Pak Hasan nampak Bi Nuri, dan Mang Ali menangkap suara mereka juga. Mendengar Bi Nuri yang bertanya bingung Pak Hasan menjelaskan secara gamblang kepada Bi Nuri.
Pak Hasan menyampaikan bahwa dirinya ingin menikahi Kimora sebagai pelunas hutang, karena Bu Inah tidak bisa melunasi semua hutang-hutangnya sebagai gantinya Pak Hasan ingin Kimora menjadi miliknya.
Pak Hasan memberi waktu dua puluh empat jam untuk Kimora segera pulang ke desa dan menikah dengannya.
jika tidak Pak Hasan akan bertindak melakukan tindakan kekerasan kepada Bu Inah, ancam Pak Hasan.
dan ternyata Kimora telah memasang rekaman di layar handphonenya sehingga semua perkataan dan pergerakan Pak Hasan bisa terekam.
Dan ketika Pak Hasan menampar ibu Inah pun Kimora telah rekamannya di layar hp-nya sehingga bisa menangkap gambar ketika Pak Hasan menampar Ibunya.
"Lihat apa yang saya lakukan kepada lbu mu, Saya bisa melakukan hal yang lebih kejam daripada ini, jadi jangan main-main dengan saya. " ancam Pak Hasan kepada Kimora.
Kimora malah tertawa, "Ha... ha... ha... lakukan saja Pak Hasan! apa yang ingin anda lakukan kepada ibu saya, karena anda akan mendapat ganjaran yang setimpal dengan perbuatan anda jika anda berani berbuat macam-macam kepada ibu saya, karena saya telah merekam semuanya dan akan saya laporkan kepada pihak yang berwajib atas perbuatan Anda kepada ibu saya." Kimora balik mengancam pak Hasan.
"Kamu mengancam saya! " Seru Pak Hasan.
"Ya jika menurut Anda begitu!" Kimora seakan sedang menantang Pak Hasan.
Pak Hasan begitu geram melihat dan mendengar Kimora beraninya melawan dirinya.
__ADS_1
"Kurang ajar berani-beraninya kamu melawan saya." ucapan Hasan penuh penekanan.
"Baik saya akan memberi mu waktu, jika dalam tujuan hari kamu dan ibumu tidak bisa melunasi semua hutang-hutang kalian, maka kamu akan saya seret pulang! kalau tidak saya akan buat hidup kalian menderita." Pak Hasan kembali mengancam.
"Baiklah." sahut Kimora.
"Dalam jangka waktu satu minggu saya akan segera melunasi semua hutang-hutang Ibu saya beserta bunganya!" Kimora menyanggupinya seakan benar-benar menantang Pak Hasan.
"Baiklah jika begitu aku tunggu sampai tujuan hari kedepan." kemudian Pak Hasan mematikan sambungan teleponnya.
Sementara itu Kimora menangis histeris, tubuhnya melemas dan kakinya gemetar dan akhirnya tidak bisa menopang beban tubuhnya sendiri, seketika itu Kimora terjatuh ke lantai.
"Buruk" tubuh Amara lunglai.
Bi Nuri dan mang Ali segera meraih tubuh Kimora, "Kim kamu gak papa kim...!" Bi Nuri dan mang Ali panik.
Tapi Kimora malah menangis sejadi-jadinya.
Mang Ali keluar membawa putra putrinya, sedangkan Bi Nuri mencoba menenangkan Kimora.
"Bibi tahu kamu sedih dan bingung tapi kita cari cara bagaimana bisa keluar dari masalah ini!" Bi Nuri menguatkan Kimora.
"Tapi mau pakai cara apa Bi? Bibi tahu sendiri aku kerja juga belum! cara satu-satunya hanya dengan aku pulang ke desa dan menikah dengan Pak Hasan, mungkin ini sudah jadi garis takdirku menjadi istri ketiga dari Pak Hasan.. " Kimora putus asa.
"Kim jangan bicara seperti itu! masih ada waktu untuk keluar dari masalah ini tidak harus jadi istrinya." Ucap Bi Nuri.
"Tapi cara apa Bi, mau pakai cara apa?" sepertinya Kimora benar-benar sudah tidak punya pilihan lagi.
Bi Nuri termenung mencari cara, tapi ya! memang tidak ada cara lain. sesungguhnya Bi nuri ingin sekali membantu, Tapi apa lah dayanya, sedangkan Kimora pun tahu sendiri keadaan Bi nuri seperti apa, sudah bisa makan saja setiap hari sudah beruntung bagi Bi Nuri dan keluarganya.
Boro-boro bisa membantu membayarkan semua hutang-hutang keluarga Kimora.
"Ya sudahlah kamu tenangkan dirimu dulu." kemudian ucap Bi Nuri sambil melangkah keluar kamar meninggalkan Kimora yang masih terduduk lesu sambil terisak.
Tak lama kemudian, Kamila masuk membawakan segelas air minum untuk Kimora, Kamila menyodorkan segelas air minum itu kepada Kimora, lalu Kimora langsung mengambilnya dan meneguknya tapi keduanya hanya diam tak ada satu kata pun yang berucap.
Lalu Kimora segera mengecek barang-barangnya di tas yang sempat dia kemasi sebelumnya.
__ADS_1
Ketika itu tiba-tiba handphone Kimora berdering kembali.
Awalnya Kimora menyangka yang menghubunginya orang dari desa entah itu Darman dan Ibrahim atau juga Pak Hasan, tapi ketika Kimora melihat layar handphonenya ternyata nomor tidak dikenal, Kimora sempat ragu untuk menerima panggilan tersebut.
Meskipun sudah tidak dijawab oleh Kimora, handphone tersebut kembali berbunyi berulang kali dan akhirnya Kimora menerima panggilan itu.
"Halo, assalamualaikum....." dengan suara bergetar Kimora memberanikan diri untuk menyapa orang yang menghubunginya.
"Ya Halo... waalaikumsalam!" jawab orang di ujung telepon, Dan suara itu suara seseorang wanita.
"Maaf ini siapa ya?" tanya Kimora penasaran.
"Maaf Nona apa benar saya bicara dengan Nona Kimora!"Orang di ujung telepon balik bertanya.
"Ya saya sendiri" jawab Kimora menegaskan.
"Ya kebetulan sekali nona, kami Dari perusahaan Diwangkara group, telah melihat CV anda, apa bisa nona kimora besok datang ke perusahaan kami untuk melakukan interview!" Jelas wanita di ujung telepon memberi tau.
{CV adalah riwayat pendidikan, nama lengkap, informasi tentang keahlian, keterangan dari tempat dan juga tanggal lahir, riwayat dari pengalaman, data prestasi, dan juga kontak pribadi.}
Tentu saja Kimora menyanggupinya Dengan senang hati.
"Baik bu! besok saya akan datang ke kantor ibu untuk interview." Jawab kimora dengan mata berbinar.
Kimora begitu bahagia, seakan mendapatkan secercah sinar harapan dalam kegelapan.
"Baiklah jika begitu kami tunggu kehadiran anda di kantor kami." Wanita itu begitu sopan seakan sangat menghargai Kimora.
"Baik Bu Terimakasih...!" Ucap Kimora.
Lalu keduanya menutup sambungan telepon.
"Alhamdulillah...!" gumam Kimora bahagia.
Kamila masih menatap Kimora dengan seksama sebab Kamila belum paham betul apa yang sedang Kimora alami.
Kimora meraih tubuh Kamila dan memeluknya....
__ADS_1