
Menuju cafe kafe Senayan.
Di depan lobby ternyata sebuah mobil mewah milik Alden sudah Terparkir di sana.
Sang sopir pribadi langsung membukakan mobil untuk Alden tapi Alden tidak segera masuk ia malah mempersiapkan kimora masuk lebih dulu.
Kimora sungguh sangat sungkan di perlakukan seperti.
"Maaf tuan saya bisa sendiri!" Kimora menolak diperlakukan istimewa.
Kemudian Kimora membuka pintu depan dan duduk di sebelah sopir.
Padahal Alden mempersilahkan Kimora untuk duduk di sebelahnya.
Awalnya Alden hendak protes kepada Kimora dan akan tetap meminta kimora untuk duduk di sampingnya.
Tapi Rangga melarangnya dan berbisik di telinga Alden, "Jangan memaksa, biarkan dia melakukan apa yang membuatnya nyaman, jangan sampai ia merasa dalam tekanan, kasihan…!"
Ya, Alden pun mengerti lalu mengulurkan niatnya padahal, Alden ingin sekali duduk bersebelahan dengan Kimora.
Setelah semua masuk mobil dan akhirnya Rangga lah yang duduk bersebelahan dengan Alden.
Di dalam mobil Kimora merasa risih dan situasi seperti itu, karena dia belum terbiasa dengan pekerjaannya, di wanita sendiri di dalam mobil, dengan tiga orang lelaki termasuk sopir.
Dan orang-orang itu belum Kimora kenal sebelumnya.
Kimora terlihat sangat canggung dan hanya berdiam diri, sedangkan Rangga dan Alden bicara banyak hal.
"Tadi aku dengar Anggi bikin onar di kantor mu?" Tanya Rangga kepada Alden, karena Rangga sempat mendengar para karyawan membicarakan hal itu, tapi Rangga tidak tau pasti keributan seperti apa yang dibuat oleh Anggi.
"Ya, perempuan gila itu makin menjadi, dan Kimora yang jadi sasarannya kali ini." Alden menceritakan semua kejadiannya.
Rangga begitu terkejut mendengar cerita dari Alden, Rangga merasa tidak tega kepada Kimora, apalagi ketika mendengar Anggi menyambar kan air minum ke wajah kimora.
Rangga menatap Kimora dari belakang kursi Kimora.
"Kimora…!" Seru rangga.
"Iya tuan,,," sahut kimora tanpa berbalik melihat ke arah Rangga.
"Pantas saja kamu menangis!" gumam Rangga.
Tapi tidak ada yang menjawab gumam Rangga.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa kan Kim…!" Rangga bertanya ingin memastikan Kimora baik-baik saja saat ini.
"Iya, tuan saya baik-baik saja." Jawab kimora.
"Kimora kamu tuh jangan diam saja jika ada orang yang menindas mu, apalagi kamu tidak melakukan kesalahan." Nasehat Rangga.
"Jangan terlalu lugu nanti kamu di-bully orang, jangan terlalu percaya nanti dikhianati, jangan terlalu baik nanti dimanfaatin, jangan terlalu ngalah nanti diinjak injak, jangan terlalu diam nanti di sepelekan!" Lanjut Rangga menasehati Kimora.
Entah mengapa Rangga memiliki perasaan yang sangat berbeda kepada Kimora, Rangga seperti ikut merasakan Apa yang Kimora rasakan.
"Iya tuan." Hanya itu jawaban dari Kimora.
"Kamu harus tegas dong Al! Mau sampai kapan hidup mu diusik terus sama perempuan itu." Kali ini Rangga menasehati Alden.
"Aku bingung sama mami kenapa dia ingin sekali bersama dengan perempuan itu, padahal aku sudah menolaknya dan kabur dari acara tunangan itu, tapi kenapa mami masih saja memaksakan kehendaknya."
"Lagian apa bagusnya perempuan itu, begitu arogan, terlalu terbuka dalam berpenampilan… aku tidak suka perempuan seperti itu." Ucap Alden menilai Anggi.
"Ya seperti yang kita tahu, Diki lah yang ada di balik semua ini." Sahut Rangga.
Mendengar percakapan mereka Kimora teringat pria yang Kimora lihat bersama Anggi di dalam lift waktu itu.
'Mungkin pria itu yang tuan Rangga maksud' batin Kimora menduga.
Tapi Kimora tetap diam kini kimora sedikit tau apa permasalahan Alden dengan perempuan yang benar Anggi itu, ada kaitannya dengan perselingkuhan Diki juga.
Sepanjang perjalanan menuju, cafe kafa Senayan, Alden dan Rangga terus saja mencuri pandang kepada kimora melalui kaca spion.
Membuat kimora semakin salah tingkah di buatnya.
Setelah melakukan perjalanan jauh tempuh sekitar 1 jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Mereka bergegas masuk dan mencari tempat duduk yang menurut mereka nyaman.
Setelah itu, mereka segera memesan makanan…
Tapi Kimora terlihat sangat bingung harus memesan apa.
"Kimora ayo segera pesan!" Perintah Rangga sedangkan Alden hanya menatapnya.
Kemudian Kimora memesan nasi dan ayam goreng dan minumannya orange juice, menu makanan siang sederhana tapi mengenyangkan.
"Hanya itu Kimora?" Tanya Rangga memastikan.
__ADS_1
"Iya, itu saja sudah cukup tuan!" Ucap Kimora.
Setelah beberapa saat menunggu makan pun datang dan langsung disajikan.
Tanpa basa basi mereka segera menyantapnya.
Dalam hati Kimora bergumam 'Mimpi apa aku ini, bisa makan siang sama pimpinan perusahaan Giwangkara group yang tersohor itu.' Kimora merasa sedang bermimpi tapi ini nyata.
Alden beranjak dari sana dan pergi ke toilet.
Itu jadi momen buat Rangga ngobrol lebih leluasa dengan Kimora.
Karena siap Rangga lebih supe, di banding dengan Alden yang dan tegas dan selalu serius.
Banyak hal yang Rangga ceritakan kepada Kimora tentang perusahaan agar Kimora lebih paham dalam pekerjaannya.
Dan jika bertemu klien atau orang baru kimora tidak gugup atau merasa minder, Rangga memberi motivasi dan dukungan agar Kimora lebih percaya diri.
Kimora sungguh suka berkonsentrasi dengan Rangga.
"Terimakasih tuan Rangga atas semuanya."
Rangga pun merasa senang karena Kimora tidak terlihat Sungkan lagi kepadanya.
Dan ketika melihat Kimora dan Rangga sedang berbincang sambil sesekali tertawa, hati Alden terasa begitu sakit dan tidak rela.
'Sial sepertinya Rangga sudah melancarkan aksinya, aku tidak boleh kalah…' Batin Alden, ketika kembali dari toilet.
Karena waktu makan siang akan segera berakhir Tangga pun harus kembali karena ada pertemuan lain.
Rangga pun berlalu dari sana meninggalkan Kimora dan Alden.
Kimora kembali merasa canggung ketika berhadapan dengan Alden.
"Bagaimana kim,,, apa kamu sudah siap untuk pertemuan kita dengan klien?" Tanya Alden.
Setelah mendapat masukan dari Rangga Kimora merasa percaya diri, lalu menjawab dengan yakin, " Iya tuan saya sudah siap." Jawab Kimora sambil tersenyum.
Dan memang klien sudah berada di sana, Alden mengajak Kimora untuk segera menghampiri mereka di ruangan khusus tapi masih di tempat yang sama.
Ya Kimora terlihat sangat percaya diri, sehingga bisa berkomunikasi dengan baik bersama klien.
Alden pun merasa puas dengan kinerja Kimora, karena pertemuan kali ini langsung menentukan kesepakatan yang saling menguntungkan.
__ADS_1
Setelah beberapa jam pembahasan akhirnya pertemuan pun di akhir.