Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
34. Pernikahan


__ADS_3

Melihat Kimora sudah siap dan begitu cantik, Pak Hasan tertawa puas dengan bangganya.


Kemudian Kimora didudukkan di sebelah pak Hasan yang sudah siap di depan penghulu.


Suasana di acara pernikahan itu begitu mencekam, tidak ada yang merasa bahagia kecil pak Hasan, bahkan para tamu undangan pun menyayangkan gadis secantik Kimora, akan dinikahi oleh bandot tua model pak Hasan.


Kimora hanya terisak dan pasrah, 'Inilah takdir ku tuhan, pada akhirnya aku tetap menjadi istri ketiga Pak Hasan, meskipun sudah berusaha untuk melawan takdir mu ini, tapi aku tetap jatuh di lubang ini, sudah banyak kesakitan yang aku rasakan untuk melewati semuanya, tapi tetap saja aku kembali ke jalan ini.' suara hati Kimora 


"Hiks… hiks… hiks!" Kimora makin menangis pilu.


Bu Inah pun ikut menangis karena merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya, Bu merasa tidak tega, dan tidak rela dengan semua ini.


Darman dan Ibrahim pun hanya tertunduk lesu, semua warga yang hadir menggunjingkan kimora dan pak Hasan,


Tentu ada yang berpihak kepada Kimora dan ada juga yang berpihak kepada Pak Hasan.


Tapi karena Kimora orang miskin tentu banyak para warga yang berpihak kepada Pak Hasan.


Tapi Kimora mau pun Bu Inah tidak mempedulikan ocehan mereka meskipun Kimora dan Bu Inah mendengarnya dengan jelas apa cemooh mereka tentang Bu Inah dan Kimora yang hanyalah orang miskin.


Karena calon mempelai pria dan wanita sudah siap pak penghulu ingin segera memulai acara pernikahannya.


"Baik bisa kita mulai sekarang?" Tanya pak penghulu.


"Iya silahkan dimulai." ucap pak Hasan penuh semangat.


Dimulai dengan membaca "Bismillahirrahmanirrahim…!" Acara ijab qobul pun dimulai.


Tapi dalam hati Kimora, Bu Inah, Darman, Ibrahim dan para istri -istri Pak Hasan, masih berharap ada satu keajaiban yang bisa menggagalkan acara pernikahan itu.


Kini saatnya pak Hasan mengucapkan kalimat ijab qobul nya, "Saya terimakasih nikah dan kawinnya Kimora…" terhenti.


"Tunggu…!" Tiba - tiba terdengar suara memotong kalimat Pak Hasan.


Semua orang menoleh ke arah sumber suara.


Apa semua sudah bisa menebak siapa yang memotong kalimat pak Hasan?.


Ya, Alden lah orangnya, Alden dengan tepat waktu dengan membawa sejumlah uang untuk melunasi semua hutang-hutangnya Bu Inah dan Kimora.


Ada rasa sedikit lega di hati Kimora, Karena ada kemungkinan pernikahannya bersama pak Hasan akan gagal.


"Tuan Alden…!" gumam Kimora.


"Siapa kamu…?" Tanya pak Hasan.


Kemudian anak buahnya berbisik di telinga pak Hasan dan memberi tau Pak Hasan bahwa pria itu yang sempat menghadang mereka di perjalanan saat mereka membawa Kimora pulang.


"Beliau adalah bos Kimora, dan beliau yang akan melunasi hutang - hutang kimora dan Ibunya." Rangga menjelaskan.


Kemudian Alden meletakkan koper berisikan uang cash secara kasar di meja ijab qobul, "Ini untuk melunasi semua hutang -hutang kimora dan Ibunya, jadi tidak ada pernikahan antara anda dan Kimora." Tegas Alden kepada Pak Hasan.


Tentu pak Hasan menolaknya, karena niat awalnya ia memang hanya ingin menikah Kimora.


"Tidak bisa, Kimora sudah menjadi milik saya, kamu tidak usah repot-repot membayarkan hutang-hutangnya karena saya memang sudah menganggapnya lunas." Penolakan Pak Hasan.


"Itu kalau Kimora jadi milik anda, tapi Kimora tidak akan pernah jadi milik anda, maka dari itu terima uang ini dan hutang Kimora lunas." Alden kembali menegaskan.


"Tidak bisa, sesuai perjanjian saya dengan kimora jika dalam tujuan hari dia tidak bisa membayar maka Kimora harus menikah dengan saya." Pak Hasan Masih kukuh dengan pendiriannya.


"Ingat tujuan hari, dan hari ini hari terakhir belum dua puluh empat jam, jadi masih ada waktu untuk menggagalkan rencana mu." Ucap Alden lagi.

__ADS_1


Pak Hasan merasa tercengang mendengar penuturan Alden, karena yang diucapkan Alden memang benar.


Meskipun demikian Pak Hasan tetap ingin pernikahannya tetap diteruskan.


"Jika anda tetap memaksa, saya akan melaporkan anda kepada pihak yang berwajib, dengan tuntutan pasal berlapis, karena saya punya beberapa bukti atas tindakan melanggar hukum yang anda lakukan." Ancam Alden.


Karena takut dengan ancaman yang diberikan oleh Alden akhirnya pak Hasan mengalah.


Dan menggagalkan sendiri pernikahannya.


Semua merasa sangat senang, termasuk Darman, Ibrahim dan istri -istri Pak Hasan, mereka semua tersenyum lega.


Pak Hasan mengajak seluruh anak buahnya dan istri-istrinya untuk pergi dari sana dengan penuh kekecewaan.


Rencananya gagal begitu saja padahal ia tinggal selangkah lagi menuju impiannya yaitu menikah Kimora wanita muda dan sangat cantik.


"Sialan,,, brengsek…!" Umpatan pak Hasan kesal sambil berlalu dari sana.


Sedangkan Pak penghulu dan para saksi beserta para undangan, masih berada di sana.


"Lalu bagaimana ini? Tanya pak penghulu.


"Sebentar pak penghulu." Bu Inah menahan pak penghulu agar jangan dulu pergi dari sana.


Alden menatap Kimora yang terlihat begitu cantik dengan balutan dan riasan pengantin, meskipun wajahnya terlihat sembab dan penuh kedukaan.


"Kimora kamu tidak apa-apa…?" Tanya Alden.


Kimora tersenyum tipis, " Harusnya saya yang bertanya apa anda tidak apa-apa tuan?" Kimora malah balik bertanya, karena mengingat kondisi Alden sebelumnya.


"Ya, seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja." Jawab Alden.


"Ini tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan dengan menyelamatkan nyawa saya." Alden membandingkan pertolongan Kimora yang sungguh luar biasa bagi Alden.


Kimora hanya tertunduk malu.


"Kamu cantik sekali Kimora dengan penampilanmu yang seperti itu." Kemudian Alden malah memuji Kimora.


Dan ini semakin membuat Kimora bertambah malu.


"Terimakasih tuan." Sahut Kimora.


Mendengar Alden memuji putrinya, Bu Inah segera berbasa-basi, "Terimakasih tuan atas kebaikan anda telah menolong kami…!" Ucap Bu Inah kepada Alden.


"Sama -sama Bu ." Ucap Alden.


"Tuan apa anda menyukai putri saya?" Sambung Bu Inah, lalu bertanya.


"Kenapa Bu?" Alden balik bertanya.


"Tidak saya hanya ingin tau." Sahut Bu Inah.


"Saya sangat menyukai Kimora dari pertama kami bertemu, tapi mungkin Kimora tidak menyukai saya, tapi saya melakukan ini semua tidak berharap imbalan apapun saya tulus hanya ingin membantu." Alden berusaha meyakinkan Bu Inah.


"Apa boleh saya meminta bantuan lagi kepada anda?" 


"Apa itu Bu?" Alden penasaran.


"Apa anda mau menikahi Kimora saat ini juga!" Pinta Bu Inah tanpa basa-basi lagi.


"Apa Bu…!" Seru semua orang termasuk Kimora, tercengang mendengar penuturan Bu Inah.

__ADS_1


"Maaf jika saya lancang…!" Bu Inah menyadari kekonyolannya.


"Karena hanya dengan Kimora menikah besama orang lain, pak Hasan baru akan benar - benar melepaskan Kimora, saya yakin pak Hasan akan terus mengusik Kimora dia tidak akan pernah merasa puas sebelum kemauannya terlaksana, apalagi kejadian ini sangat memalukan baginya pasti ia menuntut balas." Bu Inah panjang lebar menjelaskan.


"Saya mohon menikah lah dengan Kimora sekarang juga…" desak Bu Inah.


 Alden menatap Kimora, dan Kimora pun membalas tatapan Alden .


"Bu bagaimana jika saya saja yang menikahi Kimora," Rangga malah menawarkan dirinya, Karen sejujurnya Rangga merasa tidak rela kalau Alden yang menikahi Kimora, sebab Rangga pun sangat menyukai Kimora.


Seketika itu, Alden menatap Rangga dengan tatapan tajam.


"Apa maksudmu?" protes Alden.


"Ya Bu! saya juga sangat menyukai Kimora saya bersedia menikahinya.!" Rangga bicara dengan serius.


"Hey,,, tidak bisa begitu,,, Aku yang lebih dulu mengenal Kimora dan lebih dulu mencintainya, apa-apaan kamu malah ingin menikung ku!" Alden sungguh kesal dengan apa yang di lakukan oleh Rangga.


"Kamu terlihat ragu-ragu saat Ibu Kimora bertanya, ya saya lebih serius dan lebih siap kenapa tidak saya maju duluan." jawab Rangga.


Darman dan Ibrahim merasa tidak rela Kimora di perebutkan oleh dua pria asing.


Mereka pun protes akan hal itu. "Bu,,, mengapa Ibu malah meminta mereka untuk menikahi Kimora, orang-orang yang tidak kita kenal asal usulnya." protes Darman.


"Kenapa ibu tidak meminta aku, atau Darman saja yang menikahi Kimora, yang jelas-jelas sudah ibu tau ketulusan kami kepada ibu dan Kimora." Ibrahim pun ikut protes karena kecewa dengan tindakan Bu Inah.


"Dengar dulu Darman Ibrahim, ibu tidak meminta kalian untuk menikah Komar, karena ibu tidak ingin kalian dalam masalah." ucap Bu Inah.


Darman dan Ibrahim mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud Bu Inah.


"Apa maksudnya Bu...?" tanya Darman


"Masalah apa...?" tanya Ibrahim.


Bu Inah tersenyum memelas kepada Ibrahim dan Darman.


"Ibu sudah menganggap kalian berdua seperti anak ibu sendiri, Ibu juga sangat berterima kasih kepada kalian berdua, kalian berdua sangat baik dan tulus kepada ibu, dan karena itulah ibu tidak ingin kehilangan satu pun dari kalian, jika salah satu dari kalian yang menikahi Kimora, ibu yakin salah satunya akan merasa kecewa dan akan timbul rasa benci." Bu Inah menjelaskan.


"Belum lagi, jika salah satu di antara kalian yang menikahi Kimora pasti pak Hasan tidak akan tinggal diam, dia akan menindas kalian, tidak akan ada kebahagian di pernikahan kalian dan Kimora nantinya." sambung Bu Inah.


Darman dan Ibrahim tertunduk lesu menyadari kebenaran ucapan Bu Inah.


"Darman,,, Ibrahim,,,!" kemudian seru Bu Inah.


Mereka berdua yang sedang tertunduk langsung mendongakkan kepalanya mendengar nama mereka di sebut oleh Bu Inah.


"Iya Bu...!"' jawab keduanya.


"Jangan benci Ibu,,,, karena ibu tidak sanggup jika kalian membenci ibu, maafkan ibu nak!"


"Iya Bu,,, kami tidak akan bisa membenci ibu,,, kami mengerti kok!" seru Darman.


"Iya Bu...!" Ibrahim pun ikut menimpali.


"Terimakasih ya nak!"


Kemudian Ibrahim dan Darman menghampiri Bu Inah dan mereka berpelukan, sebagai tanda mereka saling menghargai dan saling menyemangati.


Melihat itu Kimora pun menghadiri mereka dan ikut memeluk mereka.


Ketiganya langsung menyambut Kimora dan segera merangkul Kimora masuk dalam pelukan mereka....

__ADS_1


__ADS_2