
"Apa! kamu menyalahkan ku…!" Pekik Sinta tidak terima di salahkan.
"Iya, jika kamu tidak memanas-manasi ku ini semua tidak akan terjadi…!" Jawab Feby masih menyalahkan Sinta.
"Oo tuhan aku sekarang dalam masalah besar… karirku akan hancur belum lagi kasus hukum yang akan aku hadapi nanti, aku yakin tuan Rangga pasti akan melaporkan masalah ini ke pihak yang berwajib." Sambung Feby meratapi nasibnya.
"Apa yang Aku lakukan tuhan…? Kenapa aku bodoh sekali…?" Feby juga menyesali perbuatannya.
Sedangkan Sinta hanya diam karena menyadari semua kesalahannya.
…
Rangga dan Kimora berjalan melewati seluruh karyawan, dan mereka menjadi pusat perhatian.
Ketika itu Alden bersama pegawai lain hendak masuk ke ruangannya, di saat yang bersamaan.
Tentu saja Alden pun melihat Rangga dan Kimora. Aldel yang sudah mendorong pintu ruangannya langsung terhenti.
Lalu menghampiri Rangga dan Kimora kemudian menegur Kimora dengan penuh emosi.
"Kimora! Kamu dari mana saja saya mencari mu dari tadi?" Tapi Kimora tidak menjawab dia hanya terisak.
Alden pun segera menyadari keadaan kimora, dengan rambut berantakan dan basah, pakaian yang acak-acakan, tidak mengenakan sepatu (nyeker), lalu Rangga di sebelah nya merangkul dan menggiring Kimora untuk berjalan.
Menyadari itu Alden langsung mengernyitkan keningnya timbul banyak pertanyaan yang membuatnya curiga.
"Ada apa ini, kenapa denganmu Kimora, mengapa keadaanmu seperti ini.?" Alden mencecar Kimora dengan pertanyaan-pertanyaannya, tapi tidak satu pun pertanyaan Alden di jawab oleh Kimora.
Alden kesal dengan keadaan seperti itu, karena di benak Alden Rangga telah berubah tidak senonoh kepada Kimora.
Alden menatap Rangga dengan tatapan penuh kebencian karena sudah salah sangka.
"Jawab aku! ada apa ini?" Alden bertanya kembali dengan penuh penekanan, namun kali ini pertanyaan di tujukan kepada Rangga.
Baru saja Rangga hendak membuka mulut akan menjawab pertanyaan Alden.
Tapi Alden malah mencengkeram kerah baju Rangga, lalu mendorong tubuh Rangga menyudutkannya sampai terpentok ke tembok.
"Apa yang sudah kamu lakukan biadab..!" Alden mengumpat Rangga.
Tentu saja Rangga tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Alden, Rangga berusaha melepaskan cengkeraman Alden, namun cengkeraman itu begitu kuat karena Alden di kuasai amarah yang memuncak.
"Beraninya Rangga melakukan tindakan tidak senonoh kepada Kimora, yang jelas-jelas Rangga tau Alden sangat menyukai Kimora dan ingin menikahinya." Pikir Alden, itulah mengapa Alden sangat marah kepada Rangga.
Terjadilah pergulatan antara Alden dan Rangga, karena Alden terus saja menyerang Rangga, lalu Rangga melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya.
Sedangkan para karyawan hanya diam menyaksikan mereka bergulat, para karyawan takut terseret dalam masalah keduanya.
"Hentikan… aku mohon hentikan…!" teriak Kimora, tapi tidak mereka dengar.
Dan datanglah dua orang security melerai Alden dan Rangga.
Alden masih di kuasai Amarah ia masih ingin menyerang Rangga meskipun sudah di pisahkan oleh security.
Nampak wajah Rangga babak belur akibat serangan dari Alden, di sudut bibirnya pun terlihat ada bercak darah.
"Sialan lu..!" gumam Rangga sambil menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih dan mengeluarkan darah.
"Kalau bukan keponakan ku sudah habis kamu aku hajar…!" Ucap Rangga kesal.
Ya, Rangga memang mengalah sengaja tidak melukai Alden, karena Rangga tau Alden salah paham kenapa nya.
"Kamu yang kurang ajar berani-beraninya kamu melakukan ini semua kepada Kimora…!" Pekik Alden masih penuh emosi.
"Stop…!" Seru Alden
"Kamu jangan mengambil kesimpulan dan mengumbar emosi mu sebelum tau yang sebenarnya!" Ucap Rangga menasehati Alden.
"Kamu tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Kimora? Ini semua ulah dua karyawanmu Sinta dan Feby, untungnya aku segera datang dan menolong Kimora." Rangga kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Rangga pun segera menyuruh dua security yang melerai mereka, untuk segera mengamankan Sinta dan Feby.
Rangga segera membuat laporan atas kasus tersebut, Kimora di bawa untuk di mintai keterangan.
Kini Sinta dan Feby di tahan di kantor polisi.
Kemeja Kimora pun sudah di ganti karena kemeja itu akan di jadikan barang bukti atas tindakan kekerasan yang di lakukan oleh Sinta dan Feby.
Sinta dan Feby menangis menyesali perbuatannya.
"Kimora aku mohon maaf semua kesalahanku, aku mengaku salah, Kimora mohon maafkan aku." ucap Sinta dan Feby.
Tapi Kimora seperti sudah mati rasa ia tidak menggubris apa yang terjadi, ia lebih sering tecenung dengan tatapan kosong, dan ekspresi wajah sendu, bicara pun seperlunya ketika ia dimintai keterangan.
…
Rangga menggenggam tangan Kimora memberinya kekuatan.
Kimora lalu menatapnya dengan tatapan penuh lelah, sepertinya Kimora sudah tidak punya semangat dan ingin menyerah, nasibnya sebagai orang miskin dari desa, di pandang rendah dan remehkan, oleh mereka yang telah lebih dulu menjalani kehidupan di kota, seperti Sinta dan Feby.
…
Setelah semua selesai Alden dan Rangga membawa Kimora pulang ke rumah Bibinya.
Di perjalanan, Alden duduk di bangku belakang bersama Kimora.
Sesekali Alden melihat ke arah Kimora yang sedari tadi hanya diam membisu, meskipun Rangga beberapa kali berbicara untuk menghiburnya tapi tetap tidak mendapat respon dari Kimora.
"Kimora…!" Alden menyebut nama itu dengan lemah lembut.
"HM..!" Tapi hanya itu respon singkat dari Kimora.
"Saya tidak habis pikir kepadamu, kenapa harus begini Kimora? Bukan kah saya sudah beberapa kali menawarkan bantuan kepadamu, kalau saja kamu bicara ingin membayarnya dengan cara mencicil tidak masalah bagiku Kimora, kamu juga tidak perlu mengalami hal seperti ini.!" Alden menyesalkan apa yang telah terjadi kepada Kimora.
"Iya memang semua salahku,,," jawab Kimora menyalahkan diri sendiri.
"Rangga!" Seru Alden.
"Maafkan atas sikapku yang telah menyerangmu…!"
"Ya harusnya aku melaporkan mu tadi sekalian di kantor polisi." Rangga menanggapi permohonan maaf Alden dengan guyonan.
"Sial…!" gumam Alden mendengarnya.
"Gila pukulanmu lumayan sakit juga ya! Bibir ku sampai sobek." Keluh Rangga.
Dan ucapan Rangga mendapat respon dari Kimora, "Anda tidak apa-apa tuan Rangga?" Tanya Kimora mengkhawatirkan Kondisi Rangga.
" Oo tidak apa-apa kok, saya sudah biasa jadi sasaran Amarah bos besar.!" Ucap Rangga penuh sindiran.
Alden langsung salah tingkah mendengarnya, karena memang begitu adanya, Alden sering salah paham kepada Rangga. dan kadang hanya sekedar berguyon pun mereka akan saling menyerang seperti tadi, tapi tidak dengan tonjokan sungguhan.
"Ternyata Anda lebih menyeramkan tuan Alden!" Ucap Kimora tanpa melihat ke arahnya.
'Sial Rangga menjatuhkan harga diriku.' batin Alden kesal.
Rangga tersenyum penuh kemenangan, 'Tidak sia-sia rupanya aku mengalah.' Rangga pun membatin.
…
Setelah beberapa waktu mereka sampai di rumah Bi Nuri, mereka bertiga turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah,
"Assalamu'alaikum…!" Seru mereka sebelum masuk sambil mengetuk pintunya..
Tidak lama Bi Nuri langsung keluar dan membuka pintu, "Waalaikumsalam…!" Sahut Bi Nuri.
Tapi alangkah terkejutnya Bi Nuri melihat ternyata Kimora, dan dua orang pria tampan yang datang.
"Kimora… kamu sudah pulang!"
__ADS_1
"Mas…!" Bi Nuri menyapa Alden dan Rangga.
"Iya Bu selamat sore..!" Sahut Alden kembali menyapa.
"Kimora kok tumben sudah pulang biasanya habis magrib baru pulang?" Bi Nuri merasa heran .
"Mukamu kenapa kok sembab begitu, kamu kok berantakan begini Kim! Ada apa dengan mu?" Bi Nuri khawatir menyadari penampilan Kimora tidak seperti biasanya.
Kemudian Alden menjelaskan kepada BI Nuri bahwa telah terjadi sesuatu kepada Kimora, tapi mereka telah menanganinya.
"Sekarang Bu Nuri tidak usah khawatir, tidak akan ada lagi yang berani kepada Kimora," ucap Alden meyakinkan Bibirnya kimora.
"Sekarang biarkan Kimora istirahat dulu ya Bi!" Kali ini Rangga yang berbicara.
"Iya terimakasih, tuan-tuan…!" Ucap Bi Nuri.
"Mari masuk dulu…!" Lanjut Bi Nuri mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Tidak usah Bu, kami harus segera kembali ke kantor karena masih banyak yang harus kami kerjakan…!" Terang Alden dan menolak untuk singgah terlebih dahulu.
"Kim… kami pergi dulu ya!" Alden pamit, Kimora hanya menganggukkan kepalanya.
"Kim,,, istirahat yang cukup, jaga kesehatanmu…!" Kali ini Rangga yang berucap sambil pamit, Kimora kembali mengangguk.
…
Tapi baru beberapa menit berlalu, belum juga Kimora dan Bi Nuri masuk ke dalam rumah.
Beberapa orang berwajah sangar, bertubuh tinggi besar, menghampiri Kimora dan Bi Nuri, dan tanpa aba-aba lagi. Mereka menyeret Kimora.
"Hey… kalian mau apa? Lepaskan Kimora,,,!" Teriak Bi Nuri, dan terjadilah tarik menarik, antara Bi Nuri dan orang yang ingin menyeret Kimora, memperebutkan Kimora, karena Bi Nuri hanya seorang perempuan dan seorang diri dengan mudah orang-orang itu menghempaskan tubuh Bi Nuri begitu saja.
"Bi.. " pekik Kimora ketika melihat Bibinya terhempas dan terjatuh.
Sedangkan Kimora sendiri hanya pasrah tidak melawan sama sekali saat di tarik paksa untuk masuk ke dalam mobil mereka.
'mungkin lebih baik aku jadi istri ketiga Pak Hasan, dari pada di sini hidupku pun sangat menderita.' batin Kimora pasrah.
'Ibu maafkan aku tidak bisa menjadi kebanggaan ibu… aku menyerah Bu!!' masih batin Kimora, Kimora hanya bisa menangis meratapi hidupnya.
Ya, orang-orang itu adalah orang-orang suruhan Pak Hasan, yang di perintahkan untuk membawa Kimora pulang ke desa untuk Pak Hasan nikahi.
Ketika Kimora berhasil di bawa oleh anak buahnya pak Hasan, mobil mereka berpapasan dengan mobil Alden yang kembali ke rumah Bi Nuri, untuk memberikan obat Kimora yang ketinggalan di mobil Alden.
Saat melihat mobil Alden kembali, Bi Nuri langsung berlari ke arah mobil Alden untuk meminta tolong.
Alden begitu panik melihat Bi Nuri berlari sambil menangis.
"Tolong tuan…!"
"Kenapa Bu…?" Tanya Alden
"Kimora… tuan!"
"Kenapa Kimora Bu…!"
"Kimora di bawa anak buah Pak Hasan di mobil tadi…!"
"Apa..!"
"Iya tuan !"
"Oke Bu,,, saya akan segera mengejar mereka." Alden pun segera masuk kembali ke dalam mobil, dan meminta sopir untuk segera mengejar mobil yang tadi berpapasan dengan mobil mereka untuk mengejar Kimora.
Dan akhirnya mobil mereka saling kejar mengejar.
Di dalam mobil anak buah Pak Hasan, Kimora menyadari bahwa mobil Alden yang mengejar mereka.
'Tuan Alden…' gumam Kimora
__ADS_1
Kimora merasa heran mengapa Alden bisa mengejar mereka.