Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
33. Babak belur


__ADS_3

Saat mengejar Kimora, mobil Alden berhasil menyusul mobil anak buah Pak Hasan, lalu menghadangnya.


"Sial mereka berhasil memblok jalan kita." Ucap salah satu dari anak buah Pak Hasan.


Alden dan Rangga segera keluar dari dalam mobilnya.


"Keluar kalian…!" Seru Alden kepada para anak buah Pak Hasan.


Kemudian mereka keluar, karena tidak ada pilihan lagi.


"Mau dibawa kemana Kimora?" Tanya Alden lagi.


"Bukan urusanmu!" Jawab anak buah Pak Hasan.


"Serahkan Kimora kepada kami!" perintah Rangga.


"Hmmm…(tersenyum sinis) jangan harap"  ketus anak buah Pak Hasan.


"Kurang ajar…!" Alden langsung menyerang anak buah Pak Hasan.


Dan terjadilah pertarungan di antara kedua belah pihak…


Sedangkan Kimora masih di tahan di dalam mobil.


Karena jumlah anak buah Pak Hasan lebih banyak, sedangkan Alden hanya berdua dengan Rangga, sehingga dengan mudah Alden dan Rangga bisa dikalahkan.


Berkali-kali Alden dan Rangga mendapatkan pukulan sehingga mereka terhuyung dan terkapar…


"BUAK…. BUAK…"


 Hantam demi hantam ditujukan kepada Alden  dan Rangga.


Namun Alden lah yang begitu banyak mendapatkan serangan karena awalnya ialah yang lebih beringas menyerang.


Melihat itu Kimora berteriak histeris dari dalam mobil, Kimora tidak rela anak buah Pak Hasan memukuli Alden dan Rangga.


"Tolong… hentikan jangan sakiti mereka berdua,,, aku mohon…!" Teriak Kimora, sambil memberontak ingin menolong mereka.


Tapi ditahan oleh salah satu anak buah Pak Hasan yang ditugaskan untuk menjaga Kimora agar tidak kabur.


Tapi Kimora tetap berusaha keluar dari mobil untuk menghentikan aksi dari para anak buah Pak Hasan, untuk tidak memukuli Alden dan Rangga.


Kimora menggigit lengan yang mencekalnya, lalu memukul bagian vital dari orang itu, sehingga orang itu sempoyongan kesakitan, mendapat kesempatan untuk lari, Kimora segera berlari ke luar dari dalam mobil dan menghampiri Alden yang sudah terkulai lemas dan masih mendapat pukul dari orang-orang suruhan pak Hasan.


Kimora segera menubruk tubuh Alden untuk melindunginya, Kimora mendekapnya, "Cukup hentikan, jangan sakiti mereka." Ucap Kimora memohon sambil menangis.


Dan berhasil menghentikan aksi orang- orang suruhan Pak Hasan.


"Jika tidak ingin kami menyakiti mereka maka permudahlah urusan kami, untuk membawamu ke hadapan Pak Hasan." Jawab ketua komplotan pak Hasan.


"Baik aku tidak akan memberontak aku akan ikut kalian tapi biarkan mereka, jangan pukul mereka lagi." 


" Kimora…!" Ucap Alden lirih hampir tidak sadarkan diri.


"Maafkan aku tuan karena aku anda jadi seperti ini!"


Rangga yang terduduk di jarak yang agak jauh. Langsung bangkit dan menghampiri Alden karena kondisinya cukup mengkhawatirkan.


"Alden, Kimora !" Seru Rangga, ketika sudah mendekati mereka.


"Tuan aku mohon biarkan aku pergi, ini kehidupanku, biar aku yang menghadapnya apapun yang terjadi kalian tidak usah repot-repot melibatkan diri dan membuat hidup kalian dalam bahaya."


"Tapi Kimora…!" Rangga merasa tidak tega melihat dan mendengar ucapan Kimora.


"Aku mohon tuan biarkan aku pergi…" ucap Kimora lagi sambil menyatukan kedua telapak tangannya. Di depan dadanya, dengan wajah penuh derai air mata tentunya penuh kesedihan.


"Hey,,, sudahlah Kimora…jangan terlalu banyak drama. Ayo kita harus segera pergi, juragan kami sudah menunggu mu."


Kemudian salah satu dari mereka menarik paksa Kimora, untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


Tangan Alden sempat menggenggam tangan Kimora tapi terpisah begitu saja, Alden  hanya bisa menggapaikan tangannya karena tangan Kimora sudah terlepas dari genggamannya, sebab Kimora sudah diseret masuk ke dalam mobil.


"Kimora… aku mencintaimu!" gumam Alden tapi kimora tidak bisa mendengarnya karena Kimora sudah dibawa pergi dari sini.


Di Dalam mobil Kimora hanya bisa menangis pilu.


'Maafkan aku tuan karena aku kalian bisa seperti itu' batin Kimora merasa tidak tega, dan merasa bersalah.



Setelah kepergian Kimora, Rangga membangunkan Alden dan membawanya masuk ke dalam mobil dibantu oleh sopir.


"Pak kita ke rumah sakit!" Perintah Rangga ingin membawa Alden ke rumah sakit karena kondisinya yang lemah tidak berdaya.


"Jangan gak! Kita tetap kejar Kimora ke desanya…!"


"Tapi Al…"ucap Rangga terhenti.


"Aku tidak apa-apa!" Alden memotong ucapan Rangga, karena Alden pikir Rangga mengkhawatirkan kondisinya.


"Bukan itu…" sahut Rangga Menyangkal ucapan Alden.


"Lalu,,, tapi apa?" Alden masih sempat meminta penjelasan yang lebih detail padahal kondisinya sangat mengkhawatirkan.


"Tapi kita tidak tau alamatnya!" Rangga meneruskan ucapannya yang sempat terpotong.


"Oo tuhan… aku lupa hal itu…!" Alden baru menyadarinya.


"Alden kamu beneran tidak apa-apa, aku lihat kamu masih sangat lemah." ucap Alden


"Aku butuh air minum.!" Ucap Alden, karena ia memang tidak bertenaga.


Rangga meminta sopir menepikan mobilnya di warung di pinggir jalan dan menyuruhnya untuk membeli air mineral.


Setelah mendapatkan air mineral, Rangga segera memberikannya kepada Alden lalu Alden segera meneguk air mineral itu.


"Maaf tuan kemana tujuan kita sekarang?" Tanya sopir pribadi Alden karena bingung tidak tau tujuannya.


"Tunggu dulu, kita berhenti di sini dulu." Ucap Rangga karena ia pun belum tau tujuan mereka.


Karena hasrat di hati Rangga ingin juga menyusul Kimora, tapi memang tidak tau alamatnya, di tambah kondisi Alden yang babak belur serta lemah seperti itu, sehingga Rangga ragu untuk bertindak.


Alden malah membuka pintu mobil dan hendak keluar membuat Rangga bingung.


"Hey mau kemana kamu?" tanya Rangga penasaran.


"Aku mau cuci muka dulu!" Jawab Alden.


Ya, Alden mencuci mukanya dengan menggunakan air mineral itu, setelah itu Alden kembali ke dalam mobil, Rangga menyerahkan tisu kepada Alden agar Alden mengelap wajahnya yang basah.


Setelah kering, Alden membuka kotak P3K yang selalu tersimpan di dalam mobil, Rangga mencari salep untuk luka di wajah Alden lalu mengoleskan salep yang ia ambil dari kotak.


"Coba ada Kimora, pasti dia yang akan melakukan ini, bukan kamu" ucap Alden dengan ketus karena Rangga yang mengoleskan salep itu.


"Sial bukannya berterima kasih malah tidak bersyukur seperti itu." Rangga menimpali dan tak kalah kesalnya.


"Lalu bagaimana apa kita balik ke kantor?" Kemudian Tanya Rangga.


"Tidak usah, ini sudah sore, sudah waktunya pekerjaan pulang untuk apa ke kantor, dalam kondisi seperti ini." Terang Alden.


"Lalu, ke apartemenmu?" Tanya Rangga lagi.


"Aku tetap ingin menyusul Kimora aku ingin tahu keadaannya, aku tidak rela dia dimiliki orang lain apalagi sama Bandot tua juragan sayur itu." Alden kukuh dengan keinginannya.


"Lalu bagaimana…?" Masih Rangga yang bertanya.


Dan tiba-tiba Alden teringat suami  Bi Nuri yang bekerja di salah satu proyek miliknya.


" Hubungi pimpinan proyek di daerah xxx, di sana ada pekerjaan yang bernama mang Ali, di suami dari Bibi Kimora, kita bisa cari tau alamat lengkap Kimora darinya." Terang Alden dan memerintahkan Rangga untuk melakukan hal yang tadi dia ucapkan.

__ADS_1


Rangga pun segera melaksanakan perintah Alden dan saat itu juga Rangga langsung mendapatkan nomor ponsel mang Ali, dan segera menghubunginya.


Setelah tersambung Rangga langsung menyerahkan handphonenya kepada Alden.


Seperti biasa Alden menyapa memberi salam, kemudian Alden menerangkan apa tujuannya menghubungi mang Ali, bahwa ia ingin menyusul Kimora yang dibawa paksa oleh orang -orang  pak Hasan untuk pulang ke desa, dan akan dinikahi oleh bandot tua itu. Tapi Alden tidak tau alamat pasti rumah Kimora, maka dari itu Alden menghubungi mang Ali untuk meminta alamat lengkap rumah Kimora.


Kemudian mang Ali menyambungkan telepon itu kepada istrinya yaitu Bi Nuri, dan Bi Nuri lah yang menjelaskan dan memberikan alamat lengkapnya.


Setelah itu Alden langsung memberitahu sopir pribadinya untuk segera menuju alamat yang sudah Alden dapatkan.



Di desa Kabayan.


Kimora sampai di rumahnya, Kimora turun dari mobil, Bu Inah langsung menyambut putrinya.


Kimora langsung bersujud di kaki Bu Inah, ia menangis sesenggukan.


Bu Inah sampai berlutut berusaha membangunkan putrinya.


"Bangun nak, jangan seperti ini nak!" Ucap Bu Inah.


"Maafkan aku Bu… aku tidak berhasil mencari pinjaman…!" 


"Tapi ibu tidak rela nak kalau kamu harus menikah dengan orang yang tidak kamu sukai dia tidak pantas untuk mu." 


" Mungkin ini sudah menjadi takdirku Bu!" Kimora pasrah.


"Sudah jangan berbelit-belit lagi kalian." Ucap pak Hasan, lalu menyuruh isteri-isterinya untuk membawa Kimora ke kamar dan mendandani nya karena acara pernikahan dirinya dengan kimora akan segera di mulai.


Dari sejak sore pak Hasan sudah bersiap - siapa di rumah Bu Inah, membawa seluruh keluarganya, dan penghulu serta para saksi, pak Hasan dengan pedenya juga mengundang para penduduk untuk menghadiri acara pernikahannya dengan Kimora.


Sehingga rumah Bu Inah kini sudah Ramai di kunjungi banyak orang, dan ketika Kimora Tiba Pak Hasan tidak mau menunggu waktu lama dan segera meminta Kimora untuk dipersiapkan.


Di kamarnya kimora diminta berganti pakaian mengenakan kebaya yang sudah dipersiapkan, setelah itu Kimora didandani layaknya seorang mempelai wanita.


Dan yang membantu Kimora bersiap adalah istri -istri dari pak Hasan sendiri.


Mereka melakukan itu semua karena paksaan dari Pak Hasan.


Jika tidak menuruti keinginannya, Pak Hasan mengancam akan menceraikan mereka dan akan menelantarkan mereka.


Sedangkan mereka sangat bergantung kepada pak Hasan sebagai kepala keluarga.


Mereka takut hidup sengsara dengan menanggung beban membesarkan anak-anak pak Hasan.


Jadi lebih baik mereka menuruti semua permintaan Pak Hasan, meskipun sesungguhnya mereka tidak rela Pak Hasan kawin lagi.


Kimora masih menangis meratapi nasibnya, "Bu… hiks… hiks… hiks… Bu!" Suara Kimora lirih memanggil nama ibunya.


"Iya nak,,, tabah kan dirimu nak!" Bu Inah pun hanya bisa pasrah, karena sudah tidak ada pilihan lagi.


Istri -istri Pak Hasan merasa tidak ikhlas gadis remaja secantik Kimora harus menjadi korban hawa nafsu suaminya yang bangkotan.


"Ibu lebih setuju kamu jadi menantuku Kim…!" Ucap ibu Darman.


"Pasti hidupmu akan lebih baik daripada jadi istri bapaknya Kim!" Lanjutnya lagi.


Kimora makin tersedu, tapi semua sudah siap, sepertinya sudah tidak ada lagi cara agar kimora terlepas dari semua itu.


Kini waktunya untuk ijab qobul, anak buah Pak Hasan mengetuk pintu kamar Kimora.


"Tok,,, tok,,, tok..!" Pintu di ketuk.


Salah satu istri pak Hasan membukakan pintu.


"Apa Kimora sudah siap? Segera bawa dia ke luar, penghulu sudah menunggunya…!" Ucap anak buah Pak Hasan.


Kemudian istri Pak Hasan yang satunya, lebih tepatnya ibu Darman menggiring Kimora untuk segera di sandingkan dengan pak Hasan di depan penghulu.

__ADS_1


__ADS_2