Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
31. Hampir Di Lecehkan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, Dan kini tiba pada waktu jatuh tempo perjanjian Kimora dengan Pak Hasan.


Hari ini Pak Hasan mendatangi rumah Bu Inah untuk menagih janji.


"assalamu'alaikum... Bu Inah!" seru Pak Hasan.


Namun Bu Inah tidak menyatui nya. sebab Bu Inah memang sedang tidak ada di rumah.


"Kurang ajar ... dia mungkin sudah kabur dari rumah...!" Pak Hasan mulai geram.


" Ayok geledah rumah ini...! mungkin dia sedang bersembunyi di dalam rumahnya." perintah Pak Hasan kepada anak buahnya.


Kemudian dua anak buah Pak Hasan segera menggeledah rumah Bu Inah, membuka paksa pintu rumah Bu Inah.


Setelah terbuka, mereka berdua segera masuk dan memeriksa seluruh ruangan di rumah Bu Inah, dan memang mereka tidak menemukan. Bu Inah di dalam rumahnya.


"Tidak ada juragan, rumah ini kosong." laporan anak buah Pak Hasan.


"Sialan dia benar-benar telah kabur...!" umpat Pak Hasan merasa kecolongan.


Tapi saat itu juga, Bu Inah datang, karena dia baru pulang berobat di antar Ibrahim.


"Pak Hasan!!! " seru Bu Inah ketika melihat Pak Hasan sudah berada di rumahnya, dan sudah membuka paksa pintu rumahnya.


"Ada apa ini?" tanya Bu Inah tidak menyangka Pak Hasan dan anak buahnya sampai menggeledah rumahnya.


"Heh... Bu Inah! jangan berlaga tidak tau begitu, saya datang kemari mau menagih janji yang anakmu berikan, hari ini sudah waktunya kalian menepati janji." ucap Pak Hasan mengingatkan.


"Oo Iya Pak Hasan, saya tidak lupa saya akan segera menghubungi putri saya, saya juga tidak akan kabur bapak tidak usah khawatir." Bu Inah bersikap setenang mungkin, padahal masalah ini begitu membebaninya sehingga ia harus sering berobat karena memikirkan masal ini.


"Ingat Bu Inah, jangan coba main-main dengan saya, karena saya sudah mengutus anak buah saya untuk mengawasi Kimora di kota, hal mudah bagi saya mencari alamat tempat tinggal Kimora di sana." ujar pak Hasan.


"Jika kamu tidak bayar hutang sekarang juga! maka saya akan menyuruh anak buah saya untuk menyeret Kimora datang ke sini dan akan menikahinya saat itu juga." Ancam pak Hasan.


"Iya Pak Hasan saya mengerti, tolong berikan kami waktu sebentar lagi." Bu Inah meminta waktu untuk menunggu.


"Tidak ada toleransi lagi Bu Inah,,, sudah cukup saya memberikan waktu kepada kalian." tekad Pak Hasan sudah bulat.


Kemudian pak Hasan segera menelpon anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk segera membawa Kimora pulang ke desa.


"Baik juragan kami akan segera melaksanakan perintah, tapi harap juragan sabar, karena kimora sedang bekerja dan berada di dalam sebuah gedung, kami harus menunggu waktu yang tepat untuk menyeretnya pulang." anak buah Pak Hasan melaporkan.


"Baik lakukan sesuai perintah saya...!" Tegas Pak Hasan.


...


Di ruangannya Kimora melihat tanggal kalender, Kimora sadar betul hari ini adalah hari jatuh tempo perjanjiannya dengan Pak Hasan.


Tapi dirinya belum juga mendapatkan uang untuk melunasi semua hutang-hutangnya.


Walaupun Bi Nuri dan suaminya sudah berusaha mencari pinjaman untuk membantu Kimora tapi tidak mendapatkannya.


Kini Kimora sedang kebingungan,


mencari cara agar bisa keluar dari masakan ini dan tidak melibatkan siapa pun.


Akhirnya Kimora memberanikan diri untuk menghadap ke bagian ke uangan untuk mengajukan pinjaman.


"Tok,,, tok,,, tok,,,! permisi." Kimora mengetuk pintu dan meminta izin masuk.


"Ya,,, silahkan masuk!" ucap Feby bagian keuangan.


Kemudian Kimora segera masuk setelah di persilahkan masuk.

__ADS_1


"Kamu...!" ucap Feby ketika melihat Kimora lah orang yang datang.


"Ada perlu apa?" tanya Feby memasang ekspresi wajah curiga.


"Maaf Nona Feby saya butuh bantuan anda!" ucap Kimora ragu.


"Bantuan seperti apa?" Feby bertanya lebih detail.


"Saya ingin mengajukan meminjam uang ke perusahaan, dan Anda bisa memotong gaji saya setiap bulannya untuk membayarnya." Kimora memberanikan diri mengucapkan hal itu.


"Apa...!" pekik Feby.


"Berani sekali kamu anak baru sudah mau mengajukan pinjaman, Tidak tau diri!" Feby malah memakai Kimora.


"Maaf Nona jika memang tidak bisa tidak apa-apa!" Kimora merasa ketakutan mendengar makian dari Feby.


"Eeh anak baru, jangan mentang-mentang kamu kesayangan tuan Alden ya! kamu jadi seenaknya, ini perusahaan ada prosedurnya, tidak sembarang orang mengajukan pinjaman!"


"Maafkan saya Nona jika saya lancang...!" Kimora


Dan pada saat itu, Sinta masuk ke ruangan Feby, kebetulan Sinta dan Feby memang teman dekat.


Sinta merasa heran mengapa Kimora berada di ruangan Feby dan terlihat raut wajah mereka sangat tegang, sepertinya terjadi perselisihan di antara mereka berdua.


"Ada apa ini Feb?" Tanya Sinta kepo.


"Ini anak baru tidak tahu diri, berani sekali dia baru kerja beberapa hari sudah berani mengajukan pinjaman di di perusahaan...!" Feby memberi tau Sinta dengan nada mengejek Kimora.


Hati Kimora terasa sangat sakti di perlakukan seperti itu.


"Eeh Kimora kamu kan deket tuh sama tuan Alden dan tuan Rangga, ngapain repot-repot mempermalukan dirimu mengajukan pinjaman ke perusahaan... kamu tinggal temenin mereka bobo dah gitu kamu bisa jadikan mereka mesin ATM mu!" Sinta merendahkan Kimora.


"Cukup nona Sinta, saya tidak serendah itu...!" Kimora membela diri.


"Jangan munafik kamu kimora...!" seru Sinta memandang rendah Kimora.


"Semua orang di sini tau Bagaimana hubunganmu dengan tuan Alden dan tuan Rangga, kamu sudah merayu mereka tentunya dengan memanfaatkan kemolekan tubuhmu dan kecantikanmu, ya! tentu saja kami para senior kalah saing dengan mu karena kami tidak serendah kamu!" Sinta malah memanfakan situasi untuk merendahkan dan menghina kimora habis-habisan.


Kimora tidak tahan lagi mendengar ucapan-ucapan pedas yang keluar dari mulut Sinta.


"Cukup nona tuduhan Anda tidak benar, saya tidak pernah merayu siapapun." Kimora masih membela diri.


"Buktinya, pendidikanmu hanya lulusan SMA, tapi kamu bisa mendapatkan posisi sebagai asisten pribadi tuan Alden, padahal selama ini dia tidak pernah ingin memiliki asisten pribadi seperti ini, cukup tuan Rangga dan yang lainnya yang mengatur pekerjaannya." asumsi Sinta.


"Soal itu silahkan tanyakan kepada tuan Alden nona, saya hanya di minta bekerja di sini." jawab Kimora.


Sinta dan Feby malah bersekokol menyerang Kimora, karena ingin memberi pelajaran kepada Kimora.


Rasa benci yang di miliki Sinta kepada Kimora sangat besar, sampai ia mampu mempengaruhi Feby untuk ikut membenci Kimora.


Di ruangan Feby Mereka malah sengaja membully Kimora dengan sengaja mengguyurkan air minum di kepala Kimora.


"Aaaa! Apa-apaan ini...!" Pekik Kimora terkejut menerima perlakuan seperti itu dari mereka berdua ( Sinta dan Feby).


"Kenapa kamu tidak suka!" Sinta makin berambisi untuk menjahili Kimora.


Kimora berusaha melarikan diri ingin keluar dari sana, tapi Feby memeganginya dan karena kimora juga mengenakan sepatu hak jadi membuat dia kesulitan untuk leluasa bergerak.


Tindakan Sinta dan Feby memang sudah sangat keterlaluan, mereka berdua bertindak di luar kontrol.


Mereka malah bertindak ingin melecehkan Kimora dengan menarik-narik baju Kimora berusaha membuka kancing bajunya.


Kimora sampai terduduk di lantai untuk lindungi diri.

__ADS_1


Sinta dan Feby makin bersemangat melakukannya, melihat Kimora tertindas ia merasa menang dan ingin makin menang.


Mereka mengacak-acak rambut Kimora yang sudah basah diguyur air oleh merek, kancing baju Kimora sampai terlepas dari jahitannya karena mereka menari paksa.


Kimora menangi, meronta, meraung-raung minta tolong...!


Sampai pada saat Rangga melintasi di ruangan itu, entah mengapa Rangga merasa curiga dengan ruangan itu karena pintunya sedikit terbuka, dan samar-samar terdengar kegaduhan dari dalam sana.


Sehingga Rangga merasa penasaran dan memilih untuk melihatnya.


Alangkah terkejutnya Rangga ketika mendapati seseorang sedang tertindas oleh dua orang wanita yang bisa di katakan tidak punya hati.


"Astaga...!" gumam Rangga tidak percaya dengan penglihatannya.


"Hey... apa yang kalian lakukan!" Pekik Rangga menghentikan aksi Sinta dan Feby.


Mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara. dan alangkah terkejutnya mereka ternyata orang itu adalah Rangga.


"Ya tuhan... tamat sudah riwayat kita." gumam sinta, dengan ekspresi wajah panik, ketakutan.


Semetara Kimora masih terduduk sambil menangis dan terkulai lemas karena kehabisan tenaga sebab sempat berusaha memberontak dan ingin melarikan diri.


Rangga segera menghampiri ketiganya.


Lalu melihat siapa orang yang mereka perlakuan seperti itu, Karen posisi kimora tertunduk dan wajahnya tertutupi rambut yang berantakan dan basah karena ulah Sinta dan Feby.


Rangga kembali di kejutkan, setelah tau siapa orang yang sedang tertindas itu adalah Kimora, gadis yang ia suka.


"Kimora...!" seru Rangga.


Tapi Kimora makin menangis, Rangga segera memeluknya untuk menenangkannya. dan ketika itu Rangga melihat beberapa kancing baju milik kimora di lantai.


Rangga langsung tau kemeja yang kimora kenakan pasti terbuka, tanpa Rangga sempat melihatnya, karena melihat kancing berserakan di lantai.


Rangga langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Kimora untuk menutupi tubuh Kimora.


Rangga pun merapihkan rambut Kimora yang berantakan menutupi wajah Kimora, Rangga menyibakkan rambut itu dan terlihat jelas wajah Kimora yang begitu memelas dan tertindas membuat hati Rangga ikut merasakan apa yang kimora rasakan.


Rangga merasa sangat sakit hati melihatnya.


Kemudian Rangga membantu membangunkan Kimora.


"Kamu tidak apa-apa...?" Tanya Rangga.


Tapi Kimora tidak dapat menjawab, ia malah menunduk dan sambil terus menangis.


Tubuh Kimora gemetar lemas, Iya begitu syok kembali di perlakukan seperti itu bahkan lebih parah dari sebelumnya.


Rangga pun memungut sepatu hak milik Kimora yang sempat terlepas dari kakinya.


Karena keadaan Kimora tidak memungkinkan ia untuk memakai kembali sepatunya, dan Rangga pun menjinjing nya.


Rangga merangkul pundak Kimora dan menggiringnya keluar dari ruangan itu.


Tapi sebelum nya Rangga sempat berbicara dengan Sinta dan Feby.


"Kalian tau tindakan kalian sungguh keterlaluan, tentunya kalian tau apa akibat dari perbuatan kalian ini." Rangga menegaskan.


Kemudian Rangga berlalu bersama kimora.


Rangga memanggil kemanan untuk mengamankan rekan CCTV yang merekam kejadian itu untuk di jadikan bukti, tindakan kekerasan yang di alami oleh Kimora.


Sedangkan Sinta dan Feby sedang ketar ketir ketakutan, mereka tau masalah apa yang akan mereka hadapi.

__ADS_1


"Bagaimana ini Sinta? semua karena kamu... coba kamu tidak memulai perbuatan itu mungkin semua tidak akan seperti ini." keluh Feby menyalakan Sinta.


__ADS_2