
Setelah lama menunggu dengan perasaan yang tidak menentu.
Akhirnya tim medis keluar untuk memberi kabar tentang kondisi Alden.
Kimora dan yang lainnya langsung bergegas menghampiri Dokter yang sengaja keluar untuk mengabari tentang kondisi Alden.
"Bagaimana Dok! Kondisi keponakan saya saat ini?" Rangga yang lebih dulu bertanya.
"Maaf Tuan,,, dengan sangat menyesal kami terpaksa menyatakan tuan Alden tidak dapat tertolong." Ucap Dokter dengan penuh kekecewaan.
"APA…!" Pekik mereka serentak.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi tuhan berkehendak lain." Dokter pun menyayangkan kepergian Alden .
Seketika itu tangis Kimora pecah, ia menangis sejadi-jadinya, " Tidak mungkin… ini tidak mungkin…!" Teriak Kimora histeris.
Tubuhnya Kimora lunglai ia sampai terjatuh di lantai meratapi kepergian Alden.
Semua mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Kimora.
Ibrahim berusaha untuk menenangkan Kimora, Rangga pun panik melihat keadaan.
Sedangkan Darman masih menjauh dan makin merasa bersalah.
"Maafkan aku Kimora karena bapakku kamu menderita seperti ini" gumaman Darman ikut menangis.
...Kimora sungguh rapuh ketika mendengar apa yang di sampaikan oleh Dokter...
"Kim… kuatkan dirimu, jangan seperti ini!" Ucap Ibrahim.
Rangga segera berlalu untuk menemui Alden yang masih di ruangan IGD dan sudah terbujur kaku.
"Ya tuhan Alden, mengapa seperti ini,,, ku mohon jangan bercanda Alden bangunlah! tugas kita masih banyak,,, masih banyak yang harus kita kerjakan… bagaimana dengan istrimu Al? Kalian baru saja menikah, tugasmu sebagai suami baru saja dimulai, kenapa kamu malah tidak bertanggung jawab seperti ini? Bangun Alden, bangun…!" Ucap Rangga seakan Alden bisa menderanya.
Rangga begitu syok dengan kejadian ini, Rangga menangis sesegukan sambil memeluk tubuh kaku keponakannya.
Dan sesekali mengoyak tubuh kaku itu agar memberikan respon kepadanya.
Tapi hasilnya nihil, Alden tetap diam tidak bernyawa.
Kemudian Kimora pun menghampiri Alden yang sedang bersama Rangga.
Dengan tubuh lemah, ia di jalan tertatih-tatih, dibantu oleh Ibrahim yang masih setia tetap berada di sampingnya.
Kimora begitu syok, dan seakan tak percaya melihat kondisi suaminya yang sudah tidak bernyawa.
Menyadari Kimora datang, Rangga segera bangkit dari posisi sedang memeluk tubuh Alden yang terbaring kaku, sambil mengusap air matanya berusaha untuk bersikap tegar.
Rangga segera menjauh dan memberi ruang dan waktu untuk Kimora meluapkan emosinya.
Ibrahim pun ikut keluar bersama Rangga dan meninggalkan Kimora bersama suaminya.
Kimora mendekat dan langsung membungkukkan badan menindih tubuh Alden yang terbaring kaku.
Kimora membenamkan wajahnya di dada bidang milik suami, sambil menangis tersedu.
"Aku sudah bilang jauhi aku… biarkan aku, jangan mengejar ku… karena aku kamu jadi seperti ini tuan Hiks… hiks… hiks…!" Ucap Kimora di sela tangisannya.
"Kamu belum menyentuhku, belum menunaikan kewajibanmu, kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku,,, bangun tuan… bangunlah… aku mohon." Kimora meracau sendiri.
Kemudian Kimora menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Alden sudah terasa dingin lalu menggenggamnya.
"Tuan andai kamu dengar permintaanku, Aku mohon bahwa aku bersamamu… aku sudah lelah hidup dalam penderitaan… aku ingin bahagia bersamamu tuan…!" Kini dunia terasa gelap bagi Kimora tidak ada secercah harapan kebahagiaan untuknya setelah ini, jadi lebih baik ia ikut mati pikir Kimora.
Kimora sama sekali tidak ingin meninggalkan jasad suaminya, meskipun tim medis sudah memintanya berulang-kali.
"Maaf Nona jenazah akan di bersihkan dulu dan nanti siap untuk dibawa pulang." Pinta perawat kepada Kimora, yang hendak membawa Alden untuk dipersiapkan pulang.
"Pulang kemana suster, sedangkan rumahku juga sudah habis terbakar beserta isi, isinya." Lirih Kimora.
__ADS_1
"Tapi ini memang sudah tugas kami untuk mempersiapkan jenazah agar siap di bawa pulang." Petugas masih berusaha membujuk Kimora agar meninggalkan Alden.
Melihat itu Ibrahim paham betul dengan keadaan Kimora, kemudian Ibrahim menghampiri Rangga yang sedang duduk tertunduk sambil memegangi kepalanya dengan menyanggah kan kedua tangannya.
Rangga pun terlihat sangat kacau, ia begitu frustasi karena kehilangan sosok Alden, keponakan sekaligus sahabat terdekatnya.
Ibrahim meminta kepada Rangga untuk memberikan waktu sebentar lagi kepada Kimora agar bisa bersama tuan Alden karena mungkin ini momen terakhir bagi Kimora, bersama-sama dengan suaminya.
Rangga pun mengerti dengan maksud Ibrahim.
Lalu Rangga memanggil petugas yang sedang membujuk Kimora.
"Iya tuan…!" Jawab petugas ketika sudah di hadapan Rangga.
"Suster biarkan saja dulu, beri waktu sebentar lagi." Ucap Rangga agar suster itu membiarkan Kimora bersama Alden.
.....
Sedangkan Darman sudah tidak nampak batang hidungnya di sana, tanpa izin atau pamit terlebih dahulu, Darman pergi begitu saja.
Darman berniat pulang, membawa amarah yang memuncak kepada bapaknya.
Sesampai nya di rumah, Darman langsung masuk ke dalam rumah, dengan wajah yang memerah menahan emosi, dan berjalan tergesa.
Karen waktu pun sudah menjelang pagi, ibu Darman ketika itu sedang menyapu halaman. Melihat putranya pulang dengan gelagat seperti itu ia segera mengejarnya.
"Darman ada apa nak? Darman ibu dengan rumah Bu Inah kebakaran, terus bagaimana kondisi Bu Inah, dan yang lainnya." Ibu Darman memberondong Darman dengan pertanyaan, ia begitu mengkhawatirkan kondisi mereka.
Tapi Darman tetap berlalu tergesa menuju ke dalam rumah mencari bapaknya.
"BAPAK…!" teriak Darman.
"Dimana bapak Bu?" Darman bertanya kepada ibunya.
"Ada di kamarnya." Jawab ibu Darman.
Kemudian Darman langsung menuju kamar khusus bapaknya.
"Darman ada apa nak, kenapa kamu mencari bapakmu." Ibu Darman mulai curiga.
Tapi Darman tetap tidak menggubrisnya, sampai di depan pintu kamar Bapaknya tanpa salam seperti yang selalu Darman lakukan, Darman membuka pintu kamar itu dengan kasar.
"BRAK!" pintu terbuka.
Dan tampaklah pak Hasan sedang duduk bersandar di kursi goyangnya (kursi kebesarannya).
Pak Hasan langsung terperangah melihat Darman bersikap tidak sopan kepadanya.
"BAPAK…!" pekik Darmawan ketika melihat Bapaknya.
"Hey,,, anak kurang ajar tidak punya sopan santun kamu…!" Sahut pak Hasan tidak kalah emosi.
Darman segera menghampiri Bapaknya dan mencengkeram kuat kerah baju Bapaknya, dan mengangkatnya bangkit dari tempat duduknya.
"Bapak harus bertanggung jawab atas segala kelakuan Bapak…!" Ucap Darman penuh amarah dengan mata yang berkaca-kaca tubuh gemetar dan urat menonjol, Daman masih berusaha menahan emosi nya.
Melihat amarah Darman, tatapan tajamnya seakan menusuk ke jantung, Pak Hasan merasa merinding dibuatnya.
"Hey, a-ada a-apa denganmu?" Tanya pak Hasan gelagapan.
"Jangan pura-pura tidak tau PAK!" pekik Darmawan makin geram.
"Lepaskan!" Pak Hasan berusaha melepaskan cengkraman Darman yang makin kuat.
Melihat itu Ibu Darman mencoba melerai.
"Darman jangan seperti ini kepada Bapakmu Nak!"
"Bapakku,,,? Bahkan aku malu untuk mengakuinya sebagai bapak Bu…!" Pekik Darmawan lagi.
"Ya sebenarnya ada apa nak!" Ibu Darman makin tidak mengerti.
"Ibu! tadi bertanya masalah rumah Bu Inah kebakaran, dia Bu penyebab." Ucap Darman penuh emosi sambil menyentak cengkraman tangannya.
__ADS_1
Sampai Pak Hasan terhuyug, "Kurang ajar berani-beraninya kamu menuduhku." Ucap Pak Hasan, setelah terlepas dari cengkeraman pak Hasan.
"Aku tau semuanya PAK!, Dan aku sempat merekam obrolanmu dengan anak buah mu, karena aku tahu niat jahat mu, Ibu Inah dan Kimora selamat akhirnya."
"APA…! kamu mengacaukan rencanaku!" Secara tidak sadar pak Hasan mengakui perbuatannya di depan anak dan istrinya.
"Dengar Bu! Ibu dengar sendiri kan…dia sudah jadi pembunuh Bu…!" Ucap Darman menyesali perbuatan Bapaknya.
"Apa maksudmu Darman, mengatakan Banyak mu pembunuhan, bukankah kamu bilang Bu Inah dan Kimora selamat!" Ibu Darman minta penjelasan yang lebih detail.
Darman terisak, seakan tidak sanggup untuk mengucapkannya.
"Kenapa Darman, siapa yang meninggal dalam kebakaran itu?" Ibu Darman curiga melihat gerakan gerik putranya yang terlihat begitu rapuh.
"Bu Inah dan Kimora memang selamat Bu, tapi tuan Alden kehilangan nyawanya Bu karena kehabisan oksigen saat dalam kebakaran itu." Terang Darman sambil menangis pilu.
"Apa!" Pekik ibu Darman.
"Ibu tau siapa tuan Alden itu Bu?"
Pak Hasan yang lebih antusias mendengarkannya karena dia lebih penasaran siapa tuan Alden itu.
Pak Hasan berharap tuan Alden itu orang yang menikahi Kimora. Ya memang benar begitu adanya.
"Tuan Alden itu adalah suami Kimora Bu, orang yang tadi malam menikahi Kimora." Darman menjelaskan.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" Gumam ibu Darman, ikut menyesali keadaan.
Tapi beda dengan Pak Hasan ia malah tertawa terbahak-bahak.
"Ha… ha… ha… tuhan masih berpihak padaku! rasakan kamu Bu Inah! Biar dia tau rasa, berani-beraninya dia bermain-main denganku." Pak Hasan seperti tidak punya hati.
Darmawan dan Ibunya langsung mendelikkan matanya ke arah Pak Hasan.
"Dia sungguh sudah gila!" gumam Darman geram.
"Ha.. ha… ha… aku sungguh bahagia Kimora jadi janda… dengan begitu aku lebih mudah mendapatkannya, dan makin leluasa bagi ku mempermainkan perasaan Bu Inah, seperti dia mempermainkan ku." Pak Hasan benar-benar merasa puas.
Tapi Darman sudah tidak bisa menahan emosinya melihat tingkah laku Bapaknya yang biadab.
Tidak ada penyesalan sama sekali dalam dirinya ia malah merasa puas setelah melenyapkan nyawa orang yang tidak bersalah.
Darman langsung menghampiri Bapaknya Dengan emosi yang memuncak dan sudah tidak tertahankan lagi.
Darman langsung mendaratkan tinjuan di wajah Bapaknya.
"BUAK…!"
Pak Hasan langsung tersungkur, tapi pak Hasan tidak tinggal diam mendapat pukul dari putrinya, ia bangkit dan berusaha melawan.
Tapi karena amarah Darman sudah memuncak, jiwanya dipenuhi amarah yang luar biasa, rasa kecewa, sedih, sakit hati dan segala rasa sudah bercampur menguasai diri Darman sehingga ia seperti memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan.
Niat hati pak Hasan ingin melawan, namun pada kenyataannya Ia yang babak belur, berkali-kali mendapatkan pukulan, hantam dan tendangan dari Darman.
Ibu Darman, hanya bisa berteriak histeris melihat kejadian itu. "Aaaa….! Hentikan Darman kendalikan diri mu!" Ucap Ibu Darman berusaha melerai.
Namun emosi Darman sudah tidak tertahankan lagi. Ia menghajar Pak Hasan habis-habisan sampai pak Hasan tidak berdaya hingga meringkuk di lantai.
Istri kedua Pak Hasan dan putra putrinya yang lain menghampiri keributan dan melihat apa yang dilakukan oleh Darman kepada pak Hasan.
Kemudian semua berusaha menarik tubuh Darman agar menjauh dari pak Hasan.
Setelah mereka semua berhasil menjauhkan Darman dari Pak Hasan, ibu Darman memeluk Putranya.
Sambil berucap, " Tenanglah dirimu nak! Ibu tidak ingin kamu malah jadi anak durhaka karena membunuh Bapakmu sendiri!"
Darman melemah setelah mendapat pelukan ibunya dan mendengar ucapan Ibunya.
Darman membalas pelukan ibunya lalu menangis, "Bu aku benci menjadi anaknya!" Darman benar-benar menyesali telah terlahir dari darah daging pak Hasan.
"Iya nak,,, ibu mengerti perasaan mu!" Kemudian ibu Darman menggiring Darman keluar dari kamar itu.
Sedangkan anak-anak yang lain bubar, sementara istri kedua pak Hasan membantu Pak Hasan bangun dan mengobati luka-lukanya akibat dari pukulan dan hantam yang Darman berikan kepadanya.
__ADS_1