
Kimora memang sudah menjadi istri Alden, sedangkan Nyonya Kartika kukuh tidak ingin menerima Kimora sebagai menantunya.
Dan pada akhirnya Nyonya Kartika pergi dari apartemen Alden dengan rasa penuh kekecewaan.
…
Sedangkan Alden masih berusaha menenangkan kimora.
"Sayang kamu jangan takut ya, aku akan selalu bersama mu!" Ucap Alden
Kimora malah menangis tersedu - sedu, "Hiks… hiks… sebenarnya apa salahku kenapa semua seakan membenci ku?" Ucap Kimora di sela - sela tangisannya.
Alden mengelus punggung kimora dan memeluknya, untuk menenangkannya Alden tau Kimora begitu terpukul dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Tapi Aldan juga tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah terjadi.
"Sayang… aku mengerti perasaanmu tapi aku mohon jangan takut, kita lalui ini bersama, kita buktikan kesungguhan cinta kita buat semua orang mengakui cinta dan pernikahan kita!" Alden membujuk agar kimora lebih tenang.
Kimora tidak menjawab dan masih terisak, tapi Aldan terus berusaha membujuknya.
Setelah Kimora lebih tenang Alden menghubungi Rangga dan meminta Rangga menyiapkan resepsi pernikahannya dengan Kimora dalam waktu dekat.
Rangga mengiyakan ucapan Alden, tanpa bertanya apa pun.
Alden juga menanyakan kondisi Anggi bagaimana saat ini, sebab dalam hatinya ia merasa bersalah tidak sengaja melukainya, lebih tepatnya alden menyesali kejadian itu.
"Wajah nya melepuh dan dan dia terus histeris, sampai dokter memberikan obat penenang kepadanya." Penjelasan dari Rangga.
"Ga…! Lakukan sesuatu agar dia tidak memanfaatkan kejadian ini." Perintah Alden, ia tidak ingin Anggi mencari keuntungan dari apa yang telah terjadi, karena Alden tau betul sifat licik om nya Diki pasti akan menghasut maminya dan Anggi agar menuntut sesuatu dari Alden untuk keuntungan mereka.
"Oke… aku akan urus semuanya, tapi bagaimana dengan keadaan Kimora?" Seperti biasa Rangga selalu patuh dengan setiap perintah Alden, tapi Rangga tetap mengkhawatirkan Kimora.
"Sekarang keadaannya sudah lebih baik…" sahut Alden.
"Ya syukurlah kalau begitu…!" Rangga merasa lega setelah mendengar nya.
Kemudian Alden izin untuk membersihkan diri, karena ia belum sempat melakukannya.
Kimora masih diam dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia mengiyakan ucapan Alden.
__ADS_1
Alden berlalu meninggalkan kimora di ruang tamu.
Saat Alden sedang di kamar mandi, tiba-tiba Ibu Kimora menghubungi Kimora.
Handphone Kimora berdering, lalu ia segera meraih handphonenya dan menerima panggilan telepon dari ibunya.
"Halo…. Assalamualaikum!" Sapa Bu Inah ketika Kimora sudah menerima panggilannya.
Tapi Kimora tidak mampu menjawab sapaan Ibunya, ia malah menangis tersedu dengan menahan tangisnya, seakan ingin mengadukan apa yang baru saja ia alami.
Meskipun Kimora berusaha menahan tangisnya, tapi Bu Inah tau kimora tidak sedang baik - baik saja.
"Kim sayang,,, ada apa denganmu nak?" Tanya Bu Inah khawatir.
"Tenangkan dulu dirimu nak… dan ceritakan apa yang terjadi?" Instruksi dari Bu Inah.
Tapi terdengar Kimora malah makin tersedu.
"Kim… apa suamimu menyakitimu, Alden berbuat sesuatu kepadamu…?" Bu Inah mulai panik, karena mendengar tangis Kimora.
" Hiks,,, hiks,,, tidak Bu! suamiku baik sekali…!" Kimora berusaha menjawab, agar Ibunya tidak salah paham kenapa Alden.
"Lalu kenapa nak?" Bu Inah makin penasaran.
Kemudian Kimora dengan masih terisak ia menceritakan apa yang baru saja ia alami.
Tapi Bu Inah sudah bisa menduganya, orang tua Alden pasti akan kecewa dengan pernikahan mereka, karena pernikahan terjadi tanpa sepengetahuan nya dan tanpa restu mereka, sebagai seorang ibu pasti akan merasa kecewa akan hal itu, sebab merasa tidak dihargai.
Tapi Bu Inah juga tidak menyangka bahwa beliau ( mami Alden) akan bertindak sekasar itu kepada Kimora.
Bu Inah merasakan apa yang Kimora rasakan, darahnya terasa mendidih ketika mendengar cerita Kimora tentang perlakuan mami Alden kepadanya.
Tapi Bu Inah berusaha meredam emosi nya agar Kimora pun merasa lebih tenang.
"Kim sayang… ibu tau apa yang kamu rasakan, tapi ibu juga mengerti dengan kekecewaan ibu mertua mu, tapi ini bukan sepenuhnya salahmu juga, kamu bukan pelakor yang pantas dihujat, jangan merasa terpuruk nak, kamu harus kuat hadapi bersama suamimu, jika dia masih menginginkan mu, dan ada di pihakmu, buktikan ketulusan cinta kalian jangan menyerah Kim…!" Bu Inah memberi semangat, berusaha mengembalikan mental Kimora yang hancur.
Ya, setelah mencurahkan segala apa yang dirasakan oleh nya, Kimora merasa lebih baik, dan merasa telah mendapatkan kekuatan baru. Perasaan nya terasa jauh lebih lega.
Kimora menyeka air matanya dan berhenti menangis.
__ADS_1
"Terimakasih Bu atas saran, nasehat yang ibu berikan, itu jadi mood booster untuk ku." Kemudian ucap Kimora.
"Iya sayang… hidup ini memang penuh ujian untuk membangun mental kita agar lebih kuat, sedih, kecewa, sakit hati itu manusiawi, tapi jangan biarkan dirimu larut dalam perasaan itu, karena itu hanya akan membuatmu terlihat lemah." Bu Inah makin menyulut semangat Kimora.
"Iya Bu…" jawab Kimora penuh semangat.
Setelah moodnya membaik kemudian Kimora dan ibunya berbincang dengan santai diselingi candaan - candaan yang mampu membuat Kimora tersenyum.
Sehingga membuat Alden senang ketika melihatnya, karena saat ini Alden sedang memperhatikan Kimora setelah membersihkan diri Aldan segera keluar dari kamarnya untuk menemui kembali istrinya.
Tapi saat melihat Kimora sedang menerima panggilan Alden memutuskan untuk tidak mengganggunya.
Tidak lama kimora pun menoleh ke arah Alden karena merasakan kehadirannya.
Kimora tersenyum melihat suaminya dan memanggilnya dengan hanya memberi kode dengan gerakan tangan memanggil, meminta suaminya mendekat.
Alden membalas senyuman istrinya lalu mendekat.
Kemudian Alden ikut berbincang, dengan berbasa-basi menanyakan kabar Ibu mertuanya terlebih dahulu.
Suasana antara Alden dan Kimora seketika menjadi hangat dan mencari, sampai akhirnya Bu Inah menyudahi panggilan teleponnya.
Tapi sebelum menutup telponnya, Bu Inah memberi nasehat untuk pernikahan mereka berdua.
Alden begitu senang dengan sikap Bu Inah yang begitu lembut penuh perhatian dan kasih sayang, tidak seperti Maminya angkuh dan arogan.
…
"Gimana sayang kita mau kemana dan mau ngapain abis ini?" Tanya Alden kepada Kimora, setelah panggilan telepon di tutup.
"Yang jelas kita sarapan dulu aku lapar, abis nangis ngabisin energi, ternyata lapar juga ya?" sahut kimora apa adanya.
Tapi Alden merasa lucu mendengarnya, dan malah tertawa, "Ha,,, ha,,, ha,,, kamu lucu sayang!"
Kimora menautkan kedua alisnya mendapat reaksi seperti itu dari suaminya, "Lucu…!" Kimora mengulang ucapan suaminya dengan ekspresi wajah bingung.
"Iya, kamu labil… sebentar nangis, sebentar ketawa, kaya balita yang lagi ngambek terus di godain." Alden merasa gemas melihat tingkah istri cantiknya.
"Iih ko kaya balita sih…!" Protes Kimora dengan nada manjanya.
__ADS_1
"Iya, tapi aku suka…!" Alden makin menggoda Kimora dan berhasil membuat wajah Kimora bersemu merah.
Dengan begitu Kimora melupakan insiden kekerasan yang dilakukan oleh Nyonya Kartika dan Anggi kepadanya, yang sempat membuat mental Kimora hancur.