
Kimora dan Alden kembali ke kantor untuk membahas hasil kesepakatan lebih detail lagi.
Kini Kimora diharuskan duduk di sebelah Alden, mau tidak mau Kimora pun tidak dapat menolaknya.
Hati mereka sama-sama berdebar kencang, ini kali pertama bagi Kimora duduk di mobil mewah bersebelahan dengan pria tampan.
Begitu juga dengan Alden, Iya begitu grogi duduk bersebelahan dengan Kimora padahal bukan pertama kali untuk Alden duduk bersebelahan dengan seorang wanita, namun kali ini Alden merasa begitu canggung ada rasa yang berbeda yang dirasakan oleh Alden.
Di perjalanan mereka hanya saling diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, padahal Alden ingin sekali bertanya tentang kejadian malam itu, tapi Alden ragu untuk bertanya.
Sampai akhirnya mereka sampai di kantor, mereka berdua bergegas masuk untuk kembali bekerja.
Namun di ruangan Alden ternyata sudah ada mami Kartika bersama adik nya yaitu Diki.
Alden sedikit terkejut mendapati dua orang tersebut sedang duduk di ruangannya.
"Alden…!" Seru keduanya ketika melihat Alden masuk.
"Kalian…" Sahut Alden dengan ekspresi wajah datar.
Kimora yang mengekor di belakang Alden langsung membungkuk hormat ke arah nyonya Kartika dan Diki.
Nyonya Kartika menatap Kimora dengan seksama, memperhatikan Kimora dari ujung kaki hingga ujung kepala.
'Dari tampilannya lumayan, tidak terlalu kampungan…' penilaian Nyonya Kartika terhadap Kimora.
Melihat tatapan mata Maminya, Alden sudah merasa curiga, pembahasan apa yang akan disampaikan oleh Maminya.
Dengan demikian Alden harus melindungi Kimora dari serangan Maminya.
"Ada apa kalian kesini?" Tanya Alden tanpa basa basi.
Mami Kartika segera menghampiri putranya lalu memeluk dan menciuminya.
"Mami kangen sekali kepadamu nak!" Karena mereka memang tinggal terpisah.
Semenjak mami Kartika memaksa Alden untuk bertunangan dan menikah dengan Anggi, Alden keluar dari rumah dan memilih tinggal di apartemennya.
"Tidak usah banyak basa basi Mami, katakan ada urusan apa kalian datang menemui ku?" Tegas Alden.
"Nak apa harus selalu ada urusan dan alasan untuk seorang ibu bertemu dengan anaknya!" Jawab mami Kartika masih basa basi.
"Untuk ibu-ibu lain mungkin tidak, tapi untuk mami pasti ada!" Ketus Alden, karena sudah bisa menebak.
"Oke baiklah, mami datang kesini memang ingin membahas apa yang telah kamu lakukan kepada Anggi."
"Sudah aku duga!" Jawab Alden.
__ADS_1
"Alden…! Mami tidak ingin kamu memperlakukan Anggi dengan kasar! dia calon tunanganmu, perlakuan dia dengan baik!" Tegas Mami Kartika.
"Jangan hanya karena karyawan baru kamu bersikap kasar kepada Anggi." Ucap Mami Kartika sambil menatap Kimora dengan tatapan sinis.
"Cukup mam! Jangan jadikan orang lain sebagai kambing hitam dalam masalah ini, dan jangan Mami mudah termakan hasutan orang lain tanpa mami tau kebenarannya!" tegas Alden.
"Mami pikir apa aku harus membela orang yang bersalah, bukan kah sedari kecil mami selalu mengajarkan ku untuk membeli kebenaran dan menanamkan kebaikan dalam diriku, jadi mami ingin aku bertindak tidak adil terhadap karyawan ku dan membela tindak kekerasan."
"Tentunya mama tau apa yang aku lakukan kepada Anggi ada alasan tertentu, bukan hanya karena aku membela karyawan baru semata!" Alden panjang lebar memberi pengertian kepada maminya.
"Oke Alden Mami mengerti dengan alasanmu, tapi mami mohon lunakakan lah hati mu nak, menikahlah dengan Anggi atau setidaknya bertunanganlah dulu dengannya." Mami Kartika memohon.
"Mam! Ada apa dengan mami? mengapa selalu memaksaku untuk menikah dengan Anggi yang jelas-jelas aku tidak menyukainya, pernikahan macam apa nanti yang akan aku jalani dengannya, kami tidak akan bahagia dengan pernikahan yang dipaksakan seperti ini mim!" Alden masih meminta pengertian dari maminya.
"Tapi mami ingin segera melihat mu menikah dan memiliki momongan, mami tidak ingin kamu seperti Rangga jadi bujang lapuk." Alasan mami Kartika.
"Oke jika itu yang Mami mau, aku akan segera menikah tapi bukan dengan Anggi." tegas Alden.
"Oke jika begitu, mami akan kasih waktu kamu tujuh hari untuk membawa calon istri kamu kehadapan mami, jika dalam waktu tujuh hari kamu tidak segera membawa calon istri mu ke hadapan mami maka mau tidak mau kamu harus menikah dengan Anggi." mami Kartika mencoba membuat kesepakatan.
"Oke …!" Alden menyetujuinya.
Tapi Diki yang merasa panik, takut rencananya gagal.
"Jika tidak ada lagi yang ingin mami sampai kan aku harap mami silahkan pergi, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."
"Oke, mami pulang dulu… mami tunggu kepastian dari mu!" Ucap Mami Kartika sambil memeluk dan cipika - cipiki dengan putranya.
"Oke!" Jawab Alden singkat.
Lalu mami Kartika segera pergi, diikut oleh Diki adiknya.
Tapi sebelum Diki keluar, Alden bergumam.
"Jangan bisanya hanya mengadu saja, seperti anak kecil." gumam Alden penuh sindiran, sengaja untuk menyindir om nya yaitu Diki.
Mendengar itu, Diki sadar betul ucapan Alden ditujukan kepadanya.
Kemudian Diki berbalik ke arah Alden.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Oo ada yang tersinggung rupanya!" Jawab Alden dengan nada meledek, karena Alden tau semua biang keroknya adalah Diki.
"Seperti yang kamu ucapkan tadi jangan mencari kambing hitam dalam setiap masalahmu."
"Karena dirimulah sumber masalah dalam hidupku." Tuduh Alden
__ADS_1
"Jangan main-main denganku!" Ancam Diki.
"Ha… ha… ha..!" Alden tertawa mendengarnya.
"Apa kamu tidak salah bicara?" Sambung Alden, merasa lucu mendengar ucapan Diki, karena yang ada Diki lah yang jangan main-main kepada Alden, sebab dengan mudah Alden bisa menendang nya dari perusahaan dan membuatnya jadi gelandangan.
"Kurang ajar kamu Alden!" Ucap Diki sambil berlalu, karena dia memang sadar Alden lebih punya kuasa.
Setelah kejadian itu kebencian Diki kepada Alden makin menggebu.
"Sekarang kamu bisa merasa menang dari ku, tapi tunggu nanti aku akan menghancurkan mu!" gumam Diki sambil mengejar kakaknya yang telah lebih dulu berlalu.
Dan ternyata mami Kartika menunggunya didepan pintu lift.
Mereka segera masuk lift dan memang hanya mereka berdua yang ada di dalam lift.
"Kak kenapa kakak malah membuat kesepakatan seperti itu dengan Alden, jelas Alden akan mencari wanita lain untuk dijadikan istrinya, kakak tau sendiri Alden nanti makin tidak bisa kita kendalikan." protes Dikit kepada kakaknya.
"Tenang Diki! aku tau betul sifat Putraku dia tidak akan main-main dengan pernikahannya, jadi dalam waktu tujuh hari dia tidak akan bisa menemukan wanita yang sesuai untuknya." Keyakinan mami Kartika.
"Jika dia bisa menemukan wanitanya bagaimana Kak?"
"Kita atur siasat lain." Ucap Mami Kartika.
…
Di ruangan Alden.
"Kimora!" Seru Alden.
"Iya tuan!" Jawab Kimora yang masih berdiri di sana.
"Maaf ya, di hari pertama mu bekerja kamu sudah banyak sekali mendapat masalah dan ikut terseret dalam masakan ku…!" Keluh Alden dan meminta maaf kepada Kimora.
" Iya tuan saya mengerti, tidak perlu meminta maaf Karena ini bukan salah anda, mungkin kehadiran saya di sini yang tidak tepat." Jawab Kimora.
"Ya terimakasih Kimora atas pengertiannya!" Sahut Alden.
'Justeru kehadiranmu selalu tetap waktu dalam hidupku, kamu selalu datang tepat waktu menyelamatkan ku Kimora…!' Batin Alden sambil menatap Kimora dengan tatapan penuh kekaguman.
"Tuan! " Seru kimora karena Alden malah termenung.
"Tuan…!" Kimora kembali mengulanginya.
Dan kali ini berhasil menyadarkan Alden dari lamunannya.
"Oo iya, sorry saya tidak fokus."
__ADS_1
Kemudian Alden memberi perintah kepada Kimora untuk mengerjakan beberapa pekerjaan. Lalu Kimora seger melaksanakannya.