Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
45. Rumah Baru.


__ADS_3

Setelah di dalam rumah, Rangga mempersilahkan semuanya untuk duduk,,, Karen rumah baru itu sudah lengkap dengan segala isinya, yang seba baru juga.


Bu Inah, Kimora, dan Alden serta Rangga sudah duduk di posisi mereka masing-masing.


Lalu Rangga bertanya kepada Bu Inah, "Bu apa ibu tau ini rumah siap?"


Bu Inah menggelengkan kepalanya, "Saya tidak tau tuan." jawab Bu Inah.


"Ini rumah ibu dan Kimora, saya sudah membangunnya kembali di atas tanah ibu." Rangga memberi tau.


"Beneran tuan...?" Kimora bertanya untuk meyakinkan dirinya, sebab rasanya mustahil sekali dalam waktu beberapa hari rumah itu bisa di bangun secara permanen dan lumayan bagus dan luas.


"Ini beneran Kim...! rumah ini rumah kalian berdua." Rangga berbicara penuh keyakinan.


Bu Inah sungguh merasa semua seperti mimpi, ia sampai sujud syukur atas apa yang Rangga ucapkan.


'Ini sungguh nyata Kim..!" Seru Bu Inah menangis haru.


Kimora mengangguk mengiyakan seruan Ibunya.


Alden ikut terharu melihat kebahagiaan ibu mertua dan istrinya, namun Alden tersenyum sini ke pada Rangga, karena Alden pikir Rangga sedang cari muka di depan ibu mertua dan istrinya.


Alden merasa Rangga sedang mencari simpatik dari ibu Kimora.


"Bu...! Aku juga suda persiapkan semuanya untuk kita adakan syukuran atas pengisian pertama rumah ini agar selalu di berkahi, selalu di berikan keselamatan, kesehatan, panjang untuk para penghuninya." harapan Rangga.


"Aamiin...!" seru Kimora dan ibu nya secara bersamaan.


"Dan juga sekalian syukuran atas keselamatan kesehatan dan kepulangan ibu dan tuan Alden ya Bu!" Sambung Rangga.


"Iya,,, nak!" sahut Bu Inah mengiyakan.


"Jadi kita sekarang masak - masak nih?" tanya Kimora memastikan.


"Tidak usah Kim,,, sekarang Darman dan Ibrahim sedang mengambil pesanan catering yang sudah saya pesan dari kemarin untuk hari ini." Rangga kembali menerangkan.


"Oo begitu ya!" Kimora tidak menyangka ternyata Rangga sudah mempersiapkan ini semua dengan sedemikian rupa.


"Tuan Rangga, tuan Alden saya sungguh berterima kasih kepada kalian berdua, atas pertolongan kalian ini, yang begitu berarti untuk saya dan anak saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa untuk membalas semua kebaikan kalian berdua." Ucap Bu Inah berterima kasih, sambil meneteskan air mata karena terharu.


"Tidak usah sungkan Bu,,,, ini sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia harus saling menolong." Jawab Rangga.


"Saya suami dari Kimora, ibu Kimora berarti ibu saya, jadi ibu tidak usah merasa tidak enak hati, karena ini memang sudah kewajiban Saya sebagai seorang suami." Alden ikut menimpali.


Alden pun tidak ingin kalah saing,


Alden meminta Rangga untuk mentotal seberapa banyak uang yang Rangga Pakai selama ini untuk Kimora dan Ibunya, karena Alden akan mengganti semuanya.


"Tidak usah Al... aku ikhlas melakukan hal itu Semua!" Rangga tidak ingin Alden menganti seberapa jumlah total semuanya yang telah Rangga keluarkan.


Tapi bukan Alden namanya jika tidak menentang, "Saya suami Kimora, sudah tentu ini tanggung jawab saya, karena itu saya akan tetap menggantinya." Tegas Alden.

__ADS_1


"Ya sudah nanti saya akan memberikan rinciannya." kemudian Jawab Rangga mengalah.


Tidak lama Darman dan Ibrahim datang dengan mengawal mobil box yang membawa banyak nasi kotak untuk acara syukuran.


Ibrahim dan Darman serta petugas dari pihak catering segera menurunkan semua nasi kotak dari dalam mobil.


setelah semua beres, pihak catering segera kembali untuk bekerja, karena suaminya pun sudah Rangga bayar lunas.


Ibrahim segera memanggil pak ustadz atau sesepuh di sana dan memintanya agar beliau memimpin doa.


Para warga, baik yang tua maupun yang muda, wanita dan pria, sudah di infokan agar menghadiri acara syukuran tersebut.


Ya, para warga berbondong-bondong berdatangan memenuhi undangan dari Rangga yang mengatas namakan Kimora dan Bu Inah.


Setelah di rasa semua sudah berkumpul, Rangga melakukan pembukaan terlebih dahulu, dengan mengucap syukur kehadirat sang pencipta, yang mana telah memberikan banyak pelajaran kepada mereka dan mereka telah mengambil hikmah atas semua kejadian, sehingga mereka semua di dalam insiden kebakaran itu bisa selamat dan bisa berkumpul kembali dengan mereka semua.


Rangga juga tidak lupa berterima kasih kepada warga yang berkenan untuk hadir memberikan support dan doa, kepada Kimora dan ibunya.


Lalu setelah itu Rangga langsung mempersilahkan ke intinya yaitu acara doa yang di pimpin oleh pak ustadz atau bisa di sebut juga sesepuh di daerah itu.


Setelah acara doa selesai barulah nasi kotak dan amplop berisi uang di bagikan kepada para warga yang datang.


Semua warga merasa senang dan bahagia.


Acara berjalan dengan lancar dan tertib, dan kini semua sudah beres.


Dalam hati Bu Inah, ia sungguh bahagia bersyukur telah Allah kirimkan orang -orang baik seperti Alden, Rangga, Darman dan Ibrahim untuk melengkapi Kisah hidupnya.


"Aamiin..." ucap mereka serentak.


Dan ternyata ibu Darman pun hadir di acara itu, setelah suasana sudah cukup sepi.


Ibu Darman datang menghampiri Bu Inah, ia menangis memohon maaf atas apa yang telah di lakukan oleh suaminya yaitu pak Hasan.


"Iya, Bu tidak usah merasa bersalah seperti ini, ini bukan salah ibu kok!" ucap Bu Inah.


Ibu Darman pun meminta maaf kepada Alden dan juga Rangga, karena kejadian itu Alden sempat kehilangan nyawanya, untungnya tuhan masih memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkumpul seperti sekarang ini.


Rangga menjelaskan semua yang telah terjadi kepada Alden karena Alden belum tau kebenaran tentang kebakaran tersebut.


"Lalu bagaimana dengan Pak Hasan sekarang?" tanya Alden ketika mendengar pak Hasan lah dalang di balik insiden kebakaran itu.


Rangga kembali menjelaskan, bahwa Pak Hasan yang lebih dulu di amankan pihak berwajib setelah mendapat kan laporan dari Darman putranya sendiri tentang kejahatannya, karena Darman pun memberikan bukti akurat sebuah rekaman percakapan pak Hasan dengan anak buahnya, sehingga pak Hasan tidak bisa mengelak lagi.


Sekarang anak buah Pak Hasan pun sudah berhasil di tangkap dan berada di balik jeruji besi bersama juragan mereka.


Sopir pribadi Alden yang di sekap oleh mereka juga harus mendapatkan penanganan tim medis karena keadaan yang lemah, sebab anak buah Pak Hasan sempat berniat menghabisi nyawanya atas perintah dari pak Hasan.


Sehingga sopir pribadi Alden mendapat penyiksaan dari mereka, untungnya pihak berwajib segera menemukannya dan menyelamatkan nyawanya sehingga bisa tertolong.


Kini sopir pribadi itu, telah berada bersama keluarganya mereka yang merawatnya, tapi Rangga lah yang membiayai semua keperluannya.

__ADS_1


Tentunya akan ada perinciannya dan akan Alden ganti semua yang telah Rangga keluarkan.


...


Istri kedua Pak Hasan pun ternyata ikut bersama ibu Darman, ia pun ikut meminta maaf atas apa yang telah terjadi kepada Kimora dan yang lainnya atas perbuatan suaminya.


Dan seperti yang di ucapkan kepada ibu Darman, kepada istri keduanya pun Bu Inah mengucapkan hal yang sama.


Tapi istri kedua pak Hasan malah makin menangis, memohon memberikan keringanan atas hukum suaminya.


Karena tidak ada yang bertanggung jawab memberi nafkah kepadanya dan keluarganya jika pak Hasan di penjara.


Tapi Alden tetap kukuh ingin menuntut pak Hasan seberat - beratnya, karena perbuatannya sungguh keterlaluan.


"Maaf Bu... Pak Hasan memang harus mendapatkan ganjaran atas semua perbuatannya, untuk kewajiban bertanggung jawab atas kalian, biar Darman yang melakukannya!" ucap Alden.


"Bagaimana caranya? sedangkan Darman sendiri belum punya pekerjaan dan tentunya tidak punya penghasilan, sama saja bohong jika kami harus mengandalkan Darman." ucap istri kedua pak Hasan.


"Darman kamu bisa meneruskan usaha bapakmu! dan saya akan membantu nya lebih dari sebelumnya." ucap Alden.


"Iya tuan." jawab Darman.


"Ga,,, kamu tau apa yang harus kamu lakukan..?" tanya Alden kepada Rangga untuk memastikan bahwa Rangga tau apa yang harus ia lakukan.


"Iya saya mengerti, saya akan mengajarkan cara berbisnis kepada Darman!" Jawab Rangga mengerti apa maksud Alden.


"Cara berbisnis seperti apa?" Tanya ibu Darman takut anaknya malah akan salah jalan.


"Jadi begini Bu!" Rangga mulai menjelaskan.


"Pihak tuan Alden akan menanam saham sebesar jumlah tertentu untuk di jadikan modal usaha, apa saja yang Darman butuh kan untuk menunjang usaha nya, lalu dari pihak tuan Alden pun akan membantu memasarkan produk-produk yang Darman punya yaitu sayuran atau buah - buahan atau hasil bumi lainnya, tidak hanya di pasaran, kami bisa membantu memasarkan nya ke mall-mall atau hotel, restoran, rumah makan dan semacam, dan dari hasil keuntungan pemasangan tersebut akan ada pembagiannya berapa per berapa." Rangga menjelaskan panjang lebar agar mereka semua bisa memahaminya.


"Dan pembagian itu hasil untungnya, hasil bersih dari sisa setelah pengambilan modal dan kebutuhan lainnya terkait apa saja yang di butuhkan dalam usaha ini agar lebih berkembang dan maju." kali ini Alden yang mempertegas agar lebih jelas.


Ya, dan semuanya memang mengerti dengan penjelasan yang Rangga dan Alden berikan.


"Bagaimana Darman, apa kamu setuju?" tanya Rangga memastikan.


"Atau ada pertanyaan, silakan ajukan pertanyaan...!" Sambung Alden.


Mereka semua menyimak setiap penyampaian Rangga dan Alden, mereka ( Alden dan Rangga) memang terlihat sudah menguasai dunia bisnis, tidak hanya di bidang kontraktor saja tapi dalam segala bidang mereka kuasai, setiap ada jalan dan kesempatan Alden dan Rangga selalu mencoba untuk menjalaninya, sehingga usaha Alden makin maju dan berkembang, melebihi kekuasaan almarhum Papinya Alden, yang hampir mengalami kebangkrutan, karena itu lah lalu ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.


Ketika itu lah Alden yang mengambil alih semua kekuasaan, menjalankan bisnis papinya.


Dengan peraturan baru cara kerja baru, Aldan memulai bisnisnya di bantu oleh Rangga yang lebih dulu terjun di bidang itu, di bawah pimpinan papi Alden yaitu kakaknya sendiri.


Setelah kakaknya meninggal ia bekerja di bawah pimpinan keponakannya sendiri yaitu Alden, ia ikut memberi solusi, masukan untuk memecahkan masalah saat Alden mendapat kendala dalam bisnisnya.


Dengan cara pikir Alden yang cerdas, tegas, ia selalu bisa mengambil keputusan untuk ke Untung perusahaan, sehingga usaha nya makin maju dan berkembang.


Kimora makin merasa kagum kepada suaminya dalam diam Kimora memperhatikan suminya.

__ADS_1


'Jadi begini cara kerjanya, meskipun terlihat masih sakit, tapi pikiran nya sampai kesitu untuk membantu Darman, dan ide itu dadakan loh! tanpa terencana, tapi sudah tersusun dengan rapi dan dapat di mengerti ' batin kimora mengagumi sosok suaminya.


__ADS_2