
Kedatangan Bu Inah dan Rangga.
membuat Kimora dan Alden yang sedang bersama menjadi panik luar biasa.
Kimora langsung mendorong tubuh suaminya dan bergegas merapikan dirinya, lalu segera keluar dari kamar tanpa mempedulikan Alden yang merasa sangat kecewa atas tindakannya.
"Sial... gagal lagi - gagal lagi!" gumam Alden sambil berdecak kesal
Saat Kimora membuka pintu kamar ternyata Rangga sudah berdiri di depan pintu hendak masuk.
Keduanya ( Kimora dan Rangga) saling terperangah karena terkejut.
"Kimora...!" Kemudian seru Rangga, menyadarkan Kimora yang terlihat syok.
Kimora langsung tertunduk dan begitu gugup, salah tingkah.
Dan berusaha kabur dari situasi seperti itu, "Permisi." hanya kata itu yang terucap dari bibir manis Kimora, sambil melintasi Rangga yang tetap berdiri di depan pintu menghalangi Kimora.
Setelah Kimora berlalu, nampak Alden yang terduduk di bibir ranjang dengan wajah di tekuk dan tertunduk.
Rangga sudah dapat mengerti apa yang sedang terjadi antara Alden dan Kimora.
Sehingga Rangga, tidak perlu lagi bertanya tentang hal yang membuat Alden seperti itu, karena hanya akan membuat suasana hati Alden makin kacau.
"Sudah bangun mas bro...!" Sapa Rangga ketika memasuki kamar.
"Dari tadi...!" jawab Alden.
"Oo ya!" seru Rangga.
"Iya, malah bangun segalanya." gumam Alden terdengar nada kecewa.
Rangga tersenyum tipis mendengarnya, merasa kasian tapi ia merasa puas juga.
"Gak asik banget tau... dari awal sampai saat ini cuma bisa berdekatan doang, kan si anu pegel jadinya." Alden mencurahkan kekesalannya.
Rangga tersenyum mencibir di belakang Alden.
"Eeh kenapa kamu diem aja?" tanya Alden kepada Rangga, karena tidak mendapat tanggapan dari nya.
"Loh...! Emangnya aku harus ngapain?" Rangga malah pura - pura polos padahal dalam hatinya di senang segel Kimora belum terjamah oleh anunya Alden.
"Ya kasih pendapat atau solusi, atau apa kek!" desak Alden.
"Hhhmmm....!" Rangga seakan sedang berpikir.
"Melihat sifat kimora yang masih lugu dan polos, kamu tuh terlalu tergesa - gesa... dia perlu pendekatan dan perlu penyesuaian terlebih dahulu baru dia akan terbiasa dan paham harusnya seperti apa..." penilaian Rangga to the point karena sudah memahami keadaan.
"Sebab bagi orang yang tipenya seperti Kimora melakukan hal itu seperti sebuah aib atau terlalu sensitifnya baginya, sehingga perlu cara untuk melunakkan nya, beda halnya dengan wanita seperti Anggi lebih agresif." pendapat Rangga.
Aldan hanya diam mendengarkan mencerna apa yang di ucapkan oleh Rangga.
"Kan sampai ada lagi nya juga cara menyikapi tipe wanita." Rangga mulai nyeleneh.
Alden mengerutkan kening merasa Rangga sedang bercanda semetara dirinya serius mendengarkan.
"Lagu...!" seru Alden mengulang apa yang di ucapkan oleh Rangga.
__ADS_1
"Iya lagi ikan dalam kolam...! coba deh kamu dengerin lagu itu, menurut ku lagi itu cocok sekali dengan gambaran Kimora." Rangga meyakinkan Alden.
"Apa iya?" Alden masih kurang yakin.
"Coba searching di Google lalu dengarkan dan pahami." perintah Rangga.
Ya, Alden langsung meraih handphonenya dan langsung membuka aplikasi google untuk mencari lagu yang di maksud oleh Rangga.
...
Setelah mengikuti saran dari Rangga mencari dan mendengarkan lagu tersebut Alden setuju dengan pendapat Rangga.
"Iya juga ya, ada caranya untuk mendekati tipe - tipe wanita." ucap Alden.
"Ya iyalah seperti Kimora dan Anggi sifat mereka tuh jauh berbeda, jadi cara berinteraksi dengan mereka juga beda, seperti halnya kamu harus lebih sabar menjinakkan kimora dia itu ibarat jinak - jinak merpati seperti akarab dengan kita mendekati tapi ketika ingin kita tangkap di terbang begitu saja meninggalkan kita." Menurut pandangan Rangga.
"Wah kamu hebat Ga... pintar menilai, tapi sayang ko kamu bisa jadi jomblo sampai sekarang...!" Alden memuji Rangga tapi juga menyangkan setatusnya.
"Sial kamu dah aku kasih pencerahan malah membully ku!" Rangga kesal.
"Eeh jangan sewot seperti itu! emang pada kenyataannya begitu." Alden.
"Aku juga gak tau susah sekali mencari wanita yang cocok untuk ku." Ucap Rangga.
'Giliran ada wanita yang sangat aku suka, wanita itu adalah Kimora dan sudah menjadi istrimu.' kemudian Rangga bicara dalam hati menyayangkan nasibnya sendiri.
"Ya makanya cari cewe ekspektasinya tuh jangan tinggi-tinggi! yang ada lu nanti jadi jomblo seumur hidup."ucap Alden menasehati.
"Eeh lu nyumpahin gw...!" Rangga tersinggung dengan ucapan Alden.
"Dih sensitif banget sih lu...!" kemudian sahut Alden dan beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar menuju dapur untuk menemui mertua dan istrinya yang sedang membuat sarapan.
Rangga berdiri menghadap jendela melihat keluar sana.
'Tuhan apa salah ku mengapa hatiku harus tersakiti seperti ini, sampai kapan aku bisa bertahan hidup menahan luka di hati yang terasa sangat sakti seperti ini.' Rangga meratapi nasibnya.
Namun tidak lama Rangga melihat sosok kimora sedang menyiram tanaman, yang terlihat begitu indah di pandang matanya.
'Ya tuhan ku begitu indahnya ciptaan mu ini, cantik, kalem, berbudi pekerti tinggi, baik, ramah dan sopan, santun.' Rangga begitu mengagumi Kimora.
Sampai tidak sadari Rangga tersenyum sendiri.
Lalu senyumnya itu menghilang seketika ketika pandangannya menangkap sosok Alden bersama kimora di sana.
Rangga memang tidak menyukai pernikahan Alden dengan Kimora, tapi Rangga tidak bisa membenci Alden
Karena Alden tidak merebut Kimora dari nya, bahkan Alden lebih dulu tergila - gila kepada Kimora jauh sebelum Rangga mengenal Kimora.
Alden juga tidak memaksa atas pernikahan itu, pernikahan itu atas pilihan dari Kimora sendiri, hingga Rangga sadar betul tidak ada yang salah di antara mereka jadi tidak harus membenci, dan malah Rangga berusaha untuk mendukung hubungan mereka meskipun sulit baginya.
...
Rangga memilih keluar dari dalam kamar dan menuju teras rumah.
Tidak lama Bu Inah menghampirinya dengan membawakan teh hangat dan cemilannya.
Bu Inah pun memanggil Kimora dan Alden yang sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah.
__ADS_1
Mendengar ibunya memanggil kimora dan Alden menghampirinya.
"Ayo di minum dulu teh hangat nya." perintah ibu kepada semuanya sambil menyuguhkannya.
"Iya Bu Terimakasih...!" Sahut mereka dan mulai mencicipi suguhan Bu Inah.
"Eemmm nikmat nya Bu...!" Seru Alden setelah meneguk teh hangat yang di suguhkan Bu Inah.
"Iya bener nikmat nya Bu, teh hangat dan pisang goreng ini." Rangga ikut menimpali dan mengiyakan ucapan Alden
"Alhamdulillah jika kalian suka...!" jawab Bu Inah.
Lalu Alden memulai pembicaraan yang lebih serius, dengan mengatakan akan membawa Kimora ke kota sebagai istrinya.
"Saya harap ibu mau ikut dengan kami, ibu bisa tinggal di apartemen bersama kami." Ajak Alden kepada Bu Inah.
"Maaf tuan tapi saya lebih nyaman tinggal di sini, sebentar lagi juga saya akan panen, sayang kalau di tinggalkan begitu saja." Bu Inah menolak.
"Untuk Kimora, ibu ikhlas ko di tinggalkan, asal kalian bahagia sehat sejahtera, ibu juga akan baik - baik saja, kalau ada apa - apa ada Darman dan Ibrahim yang biasa membantu ibu." sambung Bu Inah memberi pengertian.
Kimora nampak sedih karena harus terpisah dengan ibunya.
Aldan bisa melihat jelas dari raut wajahnya. Kemudian alden menggenggam tangan Kimora untuk menguatkannya.
"Tenang sayang,,, jika kamu merindukan ibu kita bisa berkunjung kapan saja kesini." kemudian ucap Alden untuk menghibur hati Kimora.
Kimora hanya tersenyum membalas ucapan Alden.
"Ayo sekarang kita bersiap untuk berangkat," interaksi Rangga, sebab Rangga pun memikirkan pekerjaan yang pasti sudah menumpuk menunggu di sana.
Kemudian Kimora, Aldan dan juga Rangga segera beranjak bersikap untuk kembali ke kota Jakarta.
Sebelum itu mereka pergi Alden kembali meyakinkan Bu Inah untuk ikut bersama mereka, tapi Bu Inah tetap menolak dan menitipkan Kimora kepada Alden.
"Nak tolong jaga Kimora, jika dia melakukan kesalahan tegur dia secara baik - baik, Kimora pasti akan mengerti, dan jika kamu sudah tidak menginginkan kehadirannya tolong kembalikan dia secara baik-baik...!" ucap Bu Inah.
"Tapi ibu selalu berharap dan berdoa kalian selalu bahagia hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga sampai kakek, nenek dan ajal menjemput. adapun memang masalah dalam rumah tangga itu wajar akan selalu ada perselisihan salah paham, tapi hadapi dengan tenang selesaikan secara dewasa," lanjut Bu Inah
Karena itu ujian dalam rumah tangga seberapa besar dan kuatnya cinta kalian, intinya saling terbuka untuk saling memahami satu sama lain jangan memendam perasaan yang membuat hati kalian malah terluka dan tersakiti." Bu Inah masih menasehati.
"Bicarakan dengan kepala dingin untuk mencari solusi bersama, jangan ambil keputusan saat sedang di kuasai emosi, dan jangan terlalu mempercayai omongan orang ketiga meskipun dari orang itu orang terdekat kalian, tanya kata hati kalian mana yang baik dan buruk sebelum bertindak." Bu Inah panjang lebar menasehati Alden dan Kimora.
"Iya Bu , sebisa saya akan menjaga dan melindungi Kimora ibu jangan khawatir." jawab Alden.
"Saya juga akan mengingat selalu pesan ibu." sambung Alden.
Lalu mereka semua pamit menyalaminya.
Terutama Kimora mencium dan memeluknya.
Alden pun memberi kan sejumlah uang untuk bekal Bu Inah awalnya Bu Inah menolak, tapi Alden memaksa agar Bu Inah mau menerimanya.
Ibrahim dan Darman pun sudah berada di sana untuk melepas kepergian Kimora di bawa oleh suaminya.
"Hati-hati Kim...!" Ucap Kimora.
"Titip ibu ku ya tolong jaga ibu ku." ucap Kimora kepada Ibrahim dan Darman.
__ADS_1
mereka menganggukan kepalanya sebagai isyarat mengiyakan ucapan Kimora.