
"Tuan Rangga!" gumam Kimora ketika sudah melihat siapa yang datang.
" Maaf saya baru sempat datang , soalnya saya harus mengurus beberapa urusan terlebih dahulu.!" ucap Rangga tanpa ada yang bertanya.
Alden dan kimora hanya saling memandang.
Tapi Rangga bersikap sok cuek, padahal dengan begitu Alden melihat jelas ada sesuatu yang Rangga sembunyikan, jika sikap Rangga seperti itu Alden tau Rangga tidak baik-baik saja.
"Ga...! kamu bawa apa?" tanya Alden karena Rangga terlihat membawa beberapa paper bag.
"Ooo ya ini, pakaian ganti untuk kimora, ada makanan dan minuman juga Kimora pasti kamu lapar kan?" Rangga begitu perhatian kepada Kimora.
Dan memang seperti itu setiap hari, semenjak kejadian itu.
Rangga lah yang mengurus semua keperluan Kimora dan ibunya, mulai dari Pakaya, makan bahkan minumnya mereka berdua.
Alden merasakan sekali perhatian yang di berikan oleh Rangga lebih dari perhatian biasa.
Terlihat sekali dari ekspresi dan sorot mata Rangga terhadap Kimora terlihat berbeda.
Apa lagi Alden sudah tau bahwa Rangga memang menyukai Kimora, dan Rangga sudah menyatakannya secara terang-terangan baik secara Pribadi bahkan saat Bu inah meminta Alden untuk menikahi kimora, Rangga langsung menawarkan dirinya sendiri ingin menikah Kimora.
untungnya Kimora memilih Alden untuk menjadi suaminya.
Padahal kimora sendiri lebih nyaman jika berkomunikasi dengan Rangga lebih santai dan dewasa, jika dengan Alden Kimora selalu merasa tegang dan canggung.
Di tambah bersama Alden lebih banyak permasalahan.
Lalu mengapa Kimora lebih memilih Alden.
Karena kimora tau sesuatu, Kimora tidak ingin Alden di manfaatkan oleh orang -orang licik seperti Anggi dan Diki.
Ya, walaupun Kimora tidak tau akan melakukan hal apa untuk melindungi atau menyelamatkan Alden.
...
Rangga memberikan paper bag berisi pakaian ganti kepada Kimora.
"Ayo segera bersihkan diri mu, pasti rasanya tidak nyaman!" ucap Rangga penuh pengertian.
Dengan ragu Kimora mengambil paper bag yang di sodorkan Rangga kepadanya, dan Kimora segera menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Dan ternyata di dalam paper bag itu tidak hanya ada pakaian ganti di sana juga terdapat peralatan makeup yang cukup lengkap termasuk lotion untuk kulit tubuh dan juga parfum beserta sisir.
"Ya ampun lengkap sekali ini, dan ini merek ternama semua." gumam Kimora ketika melihat isi paper bag tersebut, ia sedikit tercengang melihat nya.
"Pengertian sekali tuan Rangga, aku memang sangat membutuhkan ini tapi aku malu untuk memintanya." Kimora merasa senang Sambil mempergunakannya, Kimora memang mengenakan makeup itu tapi hanya sekedarnya sangat tipis.
Bahkan hampir tidak terlihat, tapi penampilan Kimora begitu berbeda setelah keluar dari kamar mandi, sampai dua pria yang ada di ruangan itu terpesona melihatnya.
Kimora terlihat lebih segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, tercium bau harum yang menyegarkan dari tubuhnya, yang berasal dari sabun dan minyak wangi yang di bawakan oleh Rangga.
"Sayang... kamu terlihat beda sekali...!" Alden memuji istrinya, sambil tersenyum penuh kagum.
__ADS_1
"Terimakasih...!" sahut kimora.
"Kamu suka?" tanya Rangga kepada Kimora, meminta pendapat Kimora atas pilihannya.
"Iya aku suka sekali tuan, semuanya mereka ternama, padahal sudah sedari dulu aku ingin memakai kosmetik merek tersebut, tapi tidak pernah kesampaian." ucap Kimora antusias.
Rangga begitu puas dengan pilihannya, karena Kimora begitu menyukainya.
"Ya syukur lah kalau kamu suka, bajunya juga begitu pas di tubuh mu!" ucap Rangga menilai
"Iya tuan,,, terimakasih!" ucap Kimora.
Tapi Alden tidak suka melihat itu semua, Alden merasa tidak dihargai sebagai seorang suami, baik oleh Rangga maupun oleh Kimora.
"Sayang...!"seru Alden untuk menghentikan percakapan Kimora dan Rangga.
"Iya sayang...!" sahut Kimora.
"Kamu tidak usah repot-repot pake makeup,,, meski pun natural kamu tetap cantik, dan aku tetap tergila-gila padamu." ucap Alden dengan anda penuh kecemburuan.
"Kamu tidak suka aku berdandan?" tanya Kimora merasa telah melakukan kesalahan.
Lebih tepatnya Kimora merasa kecewa, awalnya Kimora berharap Alden akan menyukai nya, melebihi Rangga, tapi pada kenyataannya Alden malah berucap seperti tidak menyukainya.
padahal sesungguhnya Alden memang sangat menyukainya, hanya saja Alden tidak suka ada orang lain yang memuji kecantikan istrinya.
"Aku bukannya tidak suka, aku sangat menyukainya bahkan kalau aku mampu aku ingin memakan mu saat ini juga, tapi hanya saja aku tidak suka ada pria lain yang memujimu selain aku, sekali pun pria itu teman dekat ku, om ku, bahkan papaku atau juga Kakek ku, Aku tetap tidak suka." ketus Alden penuh sindiran.
Rangga langsung menyadari apa maksudnya dari ucapan Alden.
'Ini tidak seberapa Al, dibandingkan dengan rasa cemburuku saat Kimora menciumi mu, untung saja jantung ku tidak meledak karena nya, Karena aku masih bisa mengendalikan emosi ku.' masih batin Rangga.
Tiap Rangga tetap berusaha bersikap biasa saja, meskipun Rangga tau Alden cemburu kepadanya.
Rangga malah mengambil salah satu paper bag yang ia bawa, dan mengeluarkan isinya.
Yang ternyata beberapa jenis menu makanan dan minuman.
"Kim ayo makan dulu... kamu pasti lapar!" perintah Rangga penuh perhatian.
Tapi Kimora hanya diam karena Kimora juga tau Alden sedang dalam mode cemburu, maka dari itu Kimora tidak ingin menambah kecemburuan Alden makin bertambah.
Sehingga Kimora enggan merespon ajakan Rangga untuk makan.
Tapi Rangga tetap memaksa, Kimora untuk makan.
"Ayo Kimora makan dulu nanti kamu sakit lagi!" Desak Rangga.
Kimora melihat ke arah Alden, lalu berucap, "Iya, tuan nanti saja, nanti juga aku makan!" jawab Kimora serba salah, ingin menolak tidak enak hati, ingin mengiyakan tapi kimora lebih ingin menghargai suaminya.
Sesungguhnya Alden tau Kimora pasti lapar maka dari itu Alden tidak ingin merasa Egois.
Kemudian Alden memanggil kimora untuk mendekatinya.
__ADS_1
"Sayang...!" seru Alden sambil menggapai kan tangannya.
Kimora segera mendekat dan meraih gapaian tangan Alden.
"Iya sayang,,, kenapa?" sahut Kimora.
'Hhmmm... (menghela nafas panjang) sudah memakai panggilan sayang rupanya mereka, pasti Alden yang meminta nya.' batin Rangga tidak suka mendengar nya.
"Sayang makanlah, jangan biarkan perut mu kelaparan nanti kamu sakit lalu bagaimana aku dan ibu nanti." ucapan Alden terdengar sangat lebay menurut Rangga, hingga membuat Rangga sangat muak mendengarnya.
Dan Rangga memilih untuk keluar dari ruangan.
"Ya sudah Kimora, silahkan di makan , aku keluar dulu." pamit Rangga tidak ingin berlama - lama di sana.
Tapi baru saja Rangga membuka pintu hendak keluar, Rangga menghentikan langkah nya karena ia teringat sesuatu.
"Oo Iya,,," gumam Rangga lalu berbalik dan kembali menghampiri Alden dan Kimora.
"Kenapa tuan, ada yang ketinggalan." tanya Kimora merasa heran.
Tapi Rangga malah mengambil dua paper bag lagi yang ia bawa di awal.
Lalu Rangga mengeluarkan, isinya yang ternyata dua kotak handphone keluaran terbaru, dengan mereka dan tipe yang sama.
"Aku tadi beli ini untuk kalian berdua, terserah mau pilih yang mana, satu mereka satu tipe dan satu harga." ucap Rangga datar.
"Untuk saya...!" tunjuk Kimora kepada dirinya sendiri, merasa tidak yakin.
"Iya...!" tegas Rangga.
"Apa ini tidak berlebihan tuan...? karena saya sudah banyak sekali merepotkan masih juga di kasih headphone sebagus ini!" Kimora merasa tidak enak hati, tapi ia memang sangat membutuhkan handphone itu.
"Sayang! aku bisa membelikan mu lebih bagus dari ini!" ketus Alden tidak suka mendengar Kimora seperti berhutang Budi kepada Rangga.
"Lagian ini belinya tetep pake uang perusahaan jadi intinya tetap memakai uangku!" gumam Alden
Rangga sudah merasa suasana semakin panas, sehingga ia memilih tidak menggubris ucapan Alden, dan segera keluar.
"Ya sudah, aku pergi dulu." kemudian Rangga keluar.
Alden masih saja cemberut setelah kepergian Rangga dari ruangan itu, ia seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Kimora jadi bingung harus berbuat apa. 'Tuh kan salah lagi...!' batin kimora.
Sedangkan Rangga di luar ruangan termenung seorang diri.
'Tuhan kenapa seperti ini, aku sulit sekali tertarik kepada wanita, sekalinya aku bisa merasakan persaingan suka, dan yakin ingin memilikinya, kenapa aku harus bersaing dengan Alden keponakan ku sendiri? kenapa aku harus menyukai wanita yang sama dengan alden, dan aku yang harus kalah.' batin Rangga
'Selama ini aku sudah sering sekali mengalah kepada Alden, bahkan aku ingin ia lebih maju dari ku, aku mendukungnya, mengarahkannya, dan aku merasa bangga atas setiap keberhasilannya.' masih batin Rangga.
'Tapi mengapa kali ini aku merasa sangat sakit hati, aku tidak rela Kimora menjadi milik Alden, aku begitu terobsesi kepadanya.' Rangga terus saja membatin, karena memang itu yang iya rasakan.
'Tuhan apa ini salah ku, lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuang perasaan ini, Aku tidak ingin karena perasaan ini hubungan ku dengan Alden akan hancur, dan akan membuat Alden terpuruk.' Rangga berpikir mencari cara untuk melupakan perasaannya.
__ADS_1
Karena Alden yakin jika Rangga tidak di pihak Alden, sudah pasti Alden akan di kuasai oleh Diki dengan bantuan kakaknya yaitu mami Kartika.
'Kimora andai kamu tau betapa besar cinta ku kepada mu, mungkin kah kamu akan setega ini kepada ku, bercumbu bermesraan di depan mata kepala ku sendiri sungguh sakit Kimora, aku sakit melihat nya.' batin Rangga menjerit.