Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
21. Rasa Cemburu.


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa mengundangnya kesini, sedangkan kamu bilang kamu tidak tau identitasnya sama sekali…!" Ucap Rangga.


"Ha,,, ha,,, ha,,," Alden tertawa bahagia.


"Inilah yang dinamakan jodoh Angga"



"Jangan berbelit - belit bro…!" Ujar Rangga, makin penasaran.


"Ya aku yakin gadis itu jodohku, karena tuhan mempertemukan kami di saat kami memang saling membutuhkan…!" ucap Alden penuh teka - teki.


"Heey, to the point aja lah, yang kutanyakan kok bisa kamu mengundang dia ke sini bagaimana caranya?" Rangga tak sabaran.


"Kalau masalah jodoh hanya tuhan yang tau, siapa tau dia malah jodohku." Lanjut Rangga mengundang emosi Alden.


"Hey,,, hey,,,jangan sembarangan kalau ngomong, enak saja dia sudah jadi incaran ku dari sejak lama." seru Alden kesal.


"Ya makanya kasih tahu dong gimana caranya dia bisa ada di sini bisa." Rangga mendesak jawaban dari Alden.


Kemudian Alden mulai menceritakan awal mula mengapa Kimora bisa melamar kerja di perusahaan Diwangkara group.


"Jadi begini ceritanya kamu ingat insiden kemarin yang sling molen putus? Saat itu nyawaku hampir melayang dan tiba-tiba ada seorang gadis datang menolongku menyelamatkan nyawaku, dengan mendorong tubuhku menjauh dari posisi molen itu terjatuh, Aku tak habis pikir jika tidak ada gadis itu mungkin nyawaku sudah melayang." Alden menceritakan kejadian kemaren.


Yang memang kebetulan Rangga tidak ikut dalam peninjauan proyek kemarin.


"Gadis itu adalah gadis yang sama yang menolongku dari kejaran bodyguard Mami pada malam itu." Terang Alden.


"Sungguh…?" Rangga kurang yakin.


Maksud Rangga darimana Alden tau kalau gadis itu gadis yang sama.


"Aku yakin sekali, sorot matanya tidak bisa aku lupakan.


"Kamu bilang malam itu kan gelap, bisa saja kamu salah orang." Tegas rangga meyakinkan Alden.


"Aku tidak mungkin salah orang, aku yakin gadis itu adalah gadis yang sama dengan Kimora. "Keyakinan Alden.


"Lalu dia mengingatmu?" Tanya Rangga lagi memastikan.


"Nah itu yang membuat aku bingung dia tidak mengenaliku sama sekali" jawab Aden.


"Berarti gadis itu memang bukan gadis yang sama!" Kesimpulan Rangga.


"Maka dari itu aku sungguh penasaran, aku sengaja kasih posisi asisten pribadi ku, agar aku bisa dengan mudah mencari tau tentang itu." Rencana Alden.


"Semoga gadis itu bukan gadis yang sama…!" Harapan Rangga.

__ADS_1


"Loh,,,! Kok begitu?" Alden heran mendengar pernyataan Rangga.


"Ya! jika mereka berbeda, jadi aku bisa mendekati asisten pribadi mu itu." Rangga malah ikut berharap dekat dengan Kimora.


Alden tersulut emosi mendengar apa yang diucapkan oleh Rangga.


"Apa maksudmu?" Alden bicara penuh emosi.


Rangga tersenyum meledek, "Santai mas bro…! Asisten pribadi mu belum pasti dia milik siapa, dan siapa pun bisa memilikinya, termasuk aku." Tegas Rangga.


"Kamu mau menikung ku…!" Alden benar-benar geram.


" Ya kalau dia memilihku kenapa tidak…!" Rangga malah makin sengaja membuat Alden marah.


"Kamu harus punya pendirian, yang mana yang ingin kamu miliki, perempuan di malam itu, atau perempuan yang menyelamatkan mu, atau juga si Anggi pilihan mami dan Om Diki mu…!" Rangga memberi nasehat.


"Tidak, hati ku yakin gadis di malam itu adalah gadis yang sama, dengan kimora!"  Alden benar-benar yakin.


"Jadi jangan pernah berharap kamu bisa memilikinya." Ancam Alden kepada Rangga.


Rangga hanya tertawa, " Ha… ha… ha…!" Merasa lucu mendengar keponakannya dikuasai rasa cemburu, belum apa-apa Alden sudah dikuasai rasa cemburu dan tidak rela.


….


Sementara Kimora sudah tiba di rumah Bibinya.


Dan kebetulan Bibinya memang sedang di rumah, ia sedang mengerjakan pekerjaan menyetrika pakaian tetangganya yang dititipkan kepadanya untuk di cuci lalu di setrika.


"Waalaikumsalam…!" Sahut Bi Nuri.


Kimora bergegas masuk dan menghampiri bibinya, lalu mengulurkan tangannya untuk menyalami Bibinya.


Bi Nuri segera meraih tangan Kimora untuk menyambut salam dari Kimora.


"Bagaimana kim?" Sergah Bi Nuri penasaran.


Kimora memasang ekspresi wajah lesu, seakan penuh kekecewaan.


Melihat ekspresi wajah Kimora yang seperti itu Bi Nuri langsung berasumsi bahwa kimora mendapat kekecewaan lagi, dan sudah pasti Kimora gagal lagi.


Bi Nuri langsung mengelus pundak Kimora sambil berucap, "Yang sabar ya Kim,,, mungkin belum ada rezeki kamu!" Bi Nuri bermaksud untuk menenangkan, menguatkan hati Kimora.


Kimora langsung menoleh ke arah Bibinya lalu tersenyum lebar.


Membuat Bi Nuri bingung melihat nya, Bi Nuri mengerutkan keningnya memasang ekspresi wajah penuh tanya.


"Kenapa kimora? Kenapa tersenyum, apa ada yang salah dengan ucapan ku?" Bi Nuri bertanya untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Emang menurut Bibi apa, kenapa Bibi bicara seperti itu?" Kimora malah balik bertanya.


"Lah! kok kamu malah balik bertanya…?" Bi Nuri makin bingung.


"Itu wajah mu lesu seakan menggambarkan kekecewaan aku pikir sudah pasti kamu gagal lagi…!"  Terang Bi Nuri.


"Bibi salah…! Aku tuh seperti itu karena aku pengen nge-prank Bibi…!" ujar Kimora.


"Lah! Maksudnya apa?" Bu Nuri makin bingung dengan maksud kimora.


Kimora langsung memeluk Bibinya tanpa aba-aba lagi…!


"Terimakasih Bi! atas support mu, aku berhasil Bi…!" Ucap Kimora sambil memeluk Bibinya.


"Benarkan?" Bin Nuri sedikit ragu.


Kemudian kimora menjelaskan…


"Iya Bi, aku diterima kerja di perusahaan Diwangkara group sebagai asisten pribadi CEO di perusahaan itu Bi…!" Ucap kimora penuh semangat.


"Apa…! Kamu tidak sedang nge-prank Bibi lagi kan….?" Bi Nuri ragu.


"Tidak Bi! Bibi tau gaji ku berapa di sana?" Kimora sengaja ingin membuat Bibinya penasaran.


"Berapa Kim…!" Tanya Bi Nuri antusias.


"Sepuluh juta Bi per bulan…!" Kimora memberi tau.


"Waaah… beneran Kim…!" Seru Bi Nuri heboh.


"Iya Bi, itu juga hanya dalam masa percobaan dalam tiga bulan, setelah itu aku bisa naik gaji lebih dari itu…!" terang kimora.


"Alhamdulillah… Kim… Bibi sangat senang mendengarnya, kamu bisa segera melunasi hutang - hutang kalian dan kamu bisa terlepas dari jeratan si tua Bangka itu." Ucap Bi Nuri penuh emosi.


Tapi ekspresi wajah kimora langsung berubah sendu seketika itu.


"Loh! Kenapa? Kok kamu sedih sih?" Bi Nuri bertanya.


"Masalah belum selesai Bi, kemana cari uang dalam waktu tujuh hari sebanyak itu?" Kimora bingung.


"Pinjaman ke bank atau ke pegadaian  harus punya jaminan Bi, mana mungkin juga aku pinjam ke perusahaan sedangkan aku baru saja diterima kerja di sana, mana mungkin mereka mempercayai ku, mau meminjamkan aku uang sebanyak yang ku butuhkan untuk bayar hutang." Lanjut Kimora.


Bibi Nuri mengerti dengan apa yang di pikiran oleh Kimora.


Bi Nuri menenangkan Kimora dengan berucap, "Tenanglah dulu Kimora, tuhan pasti kasih kita jalan keluarnya." Ucap Bi Nuri sambil mengelus punggung kimora.


"Mang Ali akan bicara pada bos besarnya, dia ingin mengajukan pinjaman untuk membantumu, mudah mudahan dia dapat pinjaman itu." Bi Nuri dan suaminya ingin sekali membantu Kimora.

__ADS_1


Karena Mereka pun tidak tega melihat Kimora dan ibunya hidup dalam tekanan Pak Hasan, apalagi Kimora harus jadi istri ketiga Pak Hasan si tua Bangka itu, mereka sungguh merasa tidak rela.


__ADS_2