
Alden masih menatap Rangga dengan tatapan tajam, Ia benar-benar kesal kepadanya.
Tapi Rangga memang ingin mempertahankan cintanya kepada Kimora, Rangga sudah merasa yakin dan siap untuk melakukan pernikahan dan berumah tangga.
Karena ia pun sudah matang dalam usia maupun karirnya, jadi tidak ada niatan di hati Rangga untuk mengalah karena memang selama ini Rangga sering mengalah kepada Alden dalam segala hal.
Tapi untuk kali ini Rangga merasa sangat keberadaan untuk melakukan hal itu, meskipun Alden memintanya.
Karena Alden tidak ingin di tikungan oleh Rangga, Alden segera angkat bicara.
"Kimora aku sungguh menyukaimu dari awal kita bertemu, aku sampai mencari - cara keberadaan mu, berharap bisa bersanding denganmu, dan pada akhirnya tuhan mempertemukan kita kembali dalam insiden itu, yang membawamu lebih dekat denganku… tapi aku juga tidak mau memaksamu, asal kamu bahagia dengan siapapun pilihanmu aku ikut bahagia." Alden mengutarakan isi hatinya.
"Tapi aku juga masih berharap pilihan mu adalah aku!" Sambung Alden.
"Iya Kimora pilihlah, jika kamu ingin memilih tidak perlu merasa tidak enak hati, aku akan menghargai apa keputusan mu, siapapun pilih mu asalkan kalian bahagia." Rangga ikut menimpali.
Kimora hanya diam, ia merasa dilema karena Kimora tidak bisa menentukan siapa pilihan nya, sebab Kimora juga belum begitu mengenal mereka satu sama lain.
Tapi Kimora dituntut harus memilih salah satunya saat itu juga.
Kemudian Kimora teringat akan hal kesepakatan Alden dengan maminya.
Lalu Kimora bertanya, "Maaf tuan Alden jika saya lancang, saya ingin bertanya.?" Karena Alden memang atasannya jadi Kimora memang sangat menghormatinya.
"Silahkan Kimora tanyakan saja!" Alden mempersilahkan.
Kimora mengangguk dan mulai bertanya, "Tau perihal kesepakatan anda dengan mami anda, apa anda sudah ada calon yang ingin anda bawa ke hadapan mami anda…?" Tanya Kimora ingin memastikan.
Alden tersenyum mendengar pertanyaan itu, ternyata Kimora menyimak peristiwa itu.
"Iya Kimora masalah itu, sesungguhnya aku ingin sekali memintamu menjadi wanita yang aku bawa kehadapan mami sebagai calon istriku, tapi aku ragu dan takut dirimu salah paham kepadaku dan malah menjauh dariku, Aku tidak ingin itu terjadi Kimora." Aldan menjelaskan.
Akhirnya Kimora ingin membantu Alden karena Kimora tau kejahatan Anggi dan Diki, sebab Kimora pernah mendengar dan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Tentang kebusukan Anggi dan Diki, tapi Kimora takut untuk memberi tau Alden.
Sedangkan kepada Rangga pun Kimora merasa kasihan sebab Kimora merasakan kenyamanan saat bersamanya, Rangga pun begitu baik dan tulus kepadanya.
Kimora menatap keduanya secara bergantian, dan Kimora harus segera menentukan pilihannya.
Banyak pertimbangan yang Kimora pikirkan dan akhirnya sebab pemikiran itu hati Kimora lebih memilih Alden.
"Tuan Rangga…!" seru Kimora
"Iya,,,!" Sahut Rangga merasakan debaran di hatinya berharap Kimora memilihnya.
"Tuan terima kasih Anda sudah sangat baik kepada saya,,, maaf jika saya mengecewakan Anda!" Ucap Kimora.
Rangga sudah tau arah pembicaraan Kimora.
"Iya Kim,,, saya akan hargai apapun keputusan mu… karena kamu memang harus memilih, dan untuk kami berdua harus siap dipilih atau tidak di pilih…!" Ucap Rangga berusaha untuk berlapang dada.
"Maafkan saya…!" Ucap Kimora lirih.
Rangga tau apa maksudnya, Rangga mengangguk dan tersenyum, karena Rangga tau apa maksudnya.
"Iya tidak apa-apa." Ucap Rangga sambil mengelus pundak Kimora.
Tapi Alden pun belum merasa tenang, karena Kimora bisa saja tidak memilih satu pun di antara mereka.
"Tuan Alden…!" Seru Kimora.
__ADS_1
"Iya…!" Sahut Alden.
"Saya ingin membantu anda, untuk di perkenalkan kepada mami anda sebagai istri anda…" ucap Kimora.
Seketika itu terbitlah sebuah senyuman di bibir manis Alden.
"Benarkah Kimora?" Tanya Alden untuk meyakinkan dirinya.
Kimora mengangguk, sebagai jawaban Iya.
Semua bisa menerimanya termasuk Rangga, pikir Rangga daripada Kimora menikah dengan Bandot tua, lebih baik Kimora menikah dengan Alden walaupun ada rasa sedikit tidak rela di hatinya, tapi perasaan itu bisa ia atasi.
"Baiklah! lebih baik kita segera melakukan ijab qobul mumpung pak penghulu, dan para saksi beserta tamu undangan masih berada di sini." Bu Inah meminta untuk segera di lakukannya pernikahan.
Ya, memang penghulu, para saksi, beserta tamu undangan masih berada di sana, mereka pun ingin tahu dengan siapa akhirnya Kimora menikah.
Dan akhirnya Alden dan Kimora disandingkan duduk berdua di depan penghulu.
Dari pihak Alden Rangga Lah yang menjadi saksinya dan sopir pribadi Alden.
Sedangkan Kimora memakai wali hukum untuk menikahkannya, yang sudah dipersiapkan oleh pak Hasan.
Kini ijab qobul pun dimulai, pak penghulu kembali mengulang acara pernikahan yang tadi dilakukan bersama pak Hasan, namun kali ini dilakukan dengan Alden.
Dan setelah mendapat aba-aba dari Pak penghulu Alden segera mengucapkan ijab Kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Kimora Azalia, binti Zio Zaidan Dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai." Meskipun tanpa persiapan yang matang, dan hanya menghafal beberapa kali, tapi Alden berhasil mengucapkan kalimat tersebut dengan lancar.
"Bagaimana para saksi, sah.?" Tanya Pak penghulu.
"Sah…!" Sahut para saksi serentak.
"Alhamdulillah…" semua mengucap syukur.
Kemudian Kimora mencium tangan Alden dan Alden mencium kening Kimora.
Semua terasa seperti mimpi bagi Alden dan Kimora, tanpa ada niat atau rencana menikah, tanpa persiapan apapun, hanya hitungan menit kini mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Ketika Alden mencium kening Kimora, wajah Kimora memerah seperti kepiting rebus karena menahan rasa malu.
Bu Inah tersenyum bahagia melihatnya,
'Mudah-mudahan ini awal kehidupan yang bahagia untuk mu Kimora, mudah-mudahan pernikahan kalian bisa langgeng, Sakina, mawadah dan warahmah…. aamiin.' dalam batinnya Bu Inah menaruh harapan besar atas pernikahan dadakan itu.
Dan salah satu mata-mata Pak Hasan, segera memberi informasi kepada pak Hasan tentang pernikahan kimora dengan Alden telah selesai di selenggarakan, kini kimora telah sah menjadi istri dari Alden.
Betapa marahnya pak Hasan mendengar informasi tersebut, ia sampai ngamuk di rumahnya membanting semua barang, dan menendang, memukul barang-barang yang menjadi sasarannya.
Para istri dan anak-anaknya sampai ketakutan dan bersembunyi di kamar mereka tidak ada yang berani mendekati pak Hasan.
"Kurang ajar… bedebah kalian semua, beraninya kalian mempermainkan ku, lihat saja nanti akibatnya, Bu Inah awas kau…!" pak Hasan meracau
"Enak sekali kalian menikah di atas penderitaan ku, setelah apa yang aku lakukan, semua aku yang mempersilahkan untuk pernikahan ku sendiri tapi apa… apa… lelaki ingusan itu yang menikahi Kimora!" Pak Hasan benar-benar merasa kecewa dengan semua yang telah terjadi.
"Aaaaah…!" Teriak Pak Hasan frustasi.
Sambil kembali mengacak-acak barang membanting, memukul, dan menendangnya.
"PRANG…!" Suara barang terjatuh.
__ADS_1
"PRAY…!" Suara barang pecah
"DUAK…!" Suara tendangan
"BUAK…! Suara pukulan
Sehingga kegaduhan terdengar jelas di rumah Pak Hasan. Pak Hasan sedang menggila karena gagal menikahi Kimora dan malah orang lain lah yang menikahinya.
…
Kini di rumah Bu Inah sudah sepi penghulu, para saksi dan para undangan telah pergi meninggalkan rumah Bu Inah, setelah menikmati jamuan, yang telah disiapkan oleh Pak Hasan, memang sengaja dipersiapkan untuk menjamu mereka.
Dan kini tinggallah Kimora, Bu Inah, Darman, Ibrahim, Alden dan Rangga.
Mereka berbincang bersama bercerita menceritakan apa saja yang telah mereka (Alden dan Rangga) lalui sebelum tiba di Desa itu.
Tentang pertarungan mereka (Alden dan Rangga) melawan para anak buah Pak Hasan, dan bagaimana cara mereka mendapatkan alamat lengkap Kimora.
"Ya, untung saja kalian datang tepat waktu kalau tidak, sekarang Kimora telah jadi ibu tiri ku, dan tengah berbulan madu dengan bandot tua yang tidak tahu diri itu." Ucap Darman membayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika Alden dan Rangga telat datang.
Meskipun Pak Hasan ayahnya, tapi Darman dan pak Hasan memang tidak pernah akur, sebab siapa Pak Hasan yang sangat keras dan kasar kepada keluarganya.
Belum lagi saat Pak Hasan menyakiti ibunya, dengan menikah lagi bahkan harus hidup satu atap dengan madunya, tak jarang Darman melihat ibunya menangis membuat Darman ikut merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya, dan kadang memukulnya, belum lagi sikap kasar pak Hasan yang sering kali memukul istri dan anak -anaknya jika melakukan sedikit kesalahan.
Itulah mengapa Darman sangat membenci bapaknya itu, dan mengapa Darman tidak rela Kimora jatuh di tangan bapaknya.
"Iiih Darman Jangan bicara seperti itu, aku geli mendengarnya." Protes Kimora tidak sanggup membayangkan dirinya dikeloni pak Hasan.
Alden pun memasang ekspresi wajah tidak suka, membayangkan hal itu.
Karena waktu pun sudah larut malam akhirnya Bu Inah mengakhiri obrolan mereka semua, dan meminta mereka semua untuk beristirahat.
Darman dan Ibrahim pun kembali kerumah mereka.
Lalu Kimora hendak masuk ke kamar ibunya, tapi di tegur oleh Bu Inah.
"Hey,,, nak! Kamu mau kemana malah mau masuk ke kamar ibu,,,?"
"Iya Bu,,, malam ini aku tidur bersama ibu ya…!" Pinta Kimora.
"Loh… kamu kan sekarang sudah punya suami jadi tidur di kamar mu bersama suamimu…" perintah Bu inah.
Lalu Kimora menatap Alden dan Rangga, rasanya Kimora belum siap untuk menjalani kehidupan barunya.
"Lalu tuan Rangga tidur di mana Bu? jika aku tidur dengan tuan Alden. rumah ini kan cuma ada dua kamar?" Kimora sengaja mencari alasan.
'Bagus,,, ternyata Kimora mengkhawatirkanku.' batin Rangga merasa mendapat perhatian dari Kimora.
Alden melihat ekspresi wajah Rangga yang tersenyum penuh kemenangan.
"Iya Bu,,, biar malam ini Kimora tidur bareng ibu… kasihan om saya nasibnya ngenes banget, nanti malah meronda yang sedang bulan madu." Alden malah sengaja mengejek Rangga.
"Sialan kamu…!" gumam Rangga.
Tapi memang sebenarnya Alden tidak enak hati kepada Rangga dan juga tidak ingin memaksa Kimora.
"Oo ya sudah kalau begitu, silahkan masuk ke kamar dan selamat beristirahat." Ucap Bu Inah mempersilahkan.
"Iya Bu Terimakasih…!" Ucap Alden dan Rangga.
__ADS_1
"Selamat malam istri ku…!" Alden kemudian menggoda Kimora.
Kimora tersenyum simpul karena merasa malu.