
Para warga menggunjing kimora karena menikah mendadak dengan orang kaya raya, dan ganteng seantero desa. membuat mereka panas hati melihatnya.
Belum lagi Bu Inah di buatkan rumah baru dalam waktu yang sangat singkat, dan bisa turun, naik mobil mewah, makin saja mereka merasa panas hati.
Masih suasana di pasar, Bu Inah tetap berlalu meskipun tau diri nya dan putrinya di gunjingan kan.
Rangga yang berjalan mengikuti Bu Inah dari belakang, jelas mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Bu... Bu Inah, tunggu!" teriak Rangga yang tertinggal.
Seketika itu Bu Inah menghentikan langkah nya mendengar ada yang memanggilnya.
"Nak Rangga...!" Bu Inah terkejut, melihat Rangga berjalan cepat ke arahnya, saking tergesa nya Bu Inah ia sampai melupakan Rangga.
"Bu...!" seru Rangga lagi.
"Nak Rangga ngapain ngikutin ibu, sebaiknya nak Rangga tunggu saja di parkiran." pinta Bu Inah.
"Tidak Bu aku ingin ikut sama ibu." Rangga memaksa.
"Tapi nak Rangga tempat ini tidak cocok untuk mu." ucap Bu Inah.
"Alah Bu! emang mau ngapain pake gak cocok segala!" sergah Rangga.
sambil berjalan mendahului Bu Inah sambil merampas tas jinjing dari tangan Bu Inah.
"Nak Rangga...!" pekik Bu Inah sambil mengejar Rangga.
Dan akhirnya mereka mulai berbelanja, mulai dari sayuran, bumbu - bumbu, lauk pauk.
Dan Rangga menjadi pusat perhatian para pedagang yang Bu Inah beli dagangannya.
"Siapa Bu...?" tanya salah satu pedagang bertanya kepada Bu Inah dengan maksud menanyakan Rangga.
"Oo ini tamu dari kota?" jawab Bu Inah.
"Pantes wajah nya asing Bu Inah!" ucapnya lagi.
Bu Inah hanya tersenyum menanggapinya.
"Rajin banget Bu mau nganterin ibu ke pasar nemenin belanja lagi, duh menantu idaman banget ini mah Bu...!" sambung pedagang itu, membuat Rangga bangga pada dirinya sendiri karena mendapat pujian
"Iya, tapi tuan ini bukan menantu saya." ucap Bu Inah membuat perasan Rangga kecewa mendengarnya.
"Oo kirain saya ini menantu ibu!" ucapnya lagi menyangka Rangga adalah Alden.
"Bukan, saya om dari menantu Bu Inah, kebetulan menantu ibu sedang kurang sehat, jadi saya yang mengantar ibu dan menemani ibu ke pasar." kali ini Rangga ikut menimpali, untuk menyembunyikan kekecewaan di hati nya.
__ADS_1
Bu Inah kembali tersenyum menanggapinya.
Lalu beranjak dari sana meninggalkan pedagang tersebut setelah membayarnya.
Dan semua belanjaan Rangga lah yang membayarnya.
Padahal Bu Inah sudah menolaknya ingin membayarnya sendiri.
Karena Bu Inah telah menjual cincin satu - satunya yang ia miliki peninggalan suaminya, untuk bekal hidupnya selama beberapa hari ke depan sebelum Bu Inah menjual hasil panen sayurannya di kebun nanti.
"Nak Rangga ibu merasa tidak enak hati jika seperti ini, padahal ibu juga ada sedikit uang jadi masih bisa buat berbelanja." ucap Bu Inah tidak enak hati merasa selalu merepotkan.
'Iya Bu saya tau, tapi gak pa-pa uang ibu sebaiknya ibu simpan saja untuk simpan ibu nanti." ucap Rangga.
Karena hari sudah siang dan semua bahan - bahan yang di butuhkan sudah di beli semua, akhirnya Bu Inah mengajak Rangga untuk pulang.
"Pulang sekarang Bu? tidak ada yang ingin di beli lagi?" tanya Rangga untuk memastikan.
" Sudah cukup nak!" ucap Bu Inah.
"Oke kalau begitu kita pulang." Rangga menyetujui ajakan Bu Inah.
...
Di rumah Bu Inah.
kimora mengerjapkan matanya, lalu membukanya secara perlahan, suasana nampak sepi.
Kimora beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar ia mencari sang Ibu, di dapur dan sekeliling rumah, tapi tidak menemukan nya.
"Kemana perginya ibu ya?" gumam kimora, bertanya sendiri.
"Ko ibu tidak memberi tau ku kalau dia mau pergi." Sambung Kimora lagi.
Kemudian kimora berdiri di depan pintu kamar yang di isi oleh Rangga dan Alden.
ingat memeriksa apa mereka juga ikut pergi besama ibunya atau memang masih tidur.
Tapi Kimora ragu, kimora memegang handle pintu dengan perlahan ingin mengintip untuk memastikan penghuni kamar ada atau tidak, sedangkan kimora melihat mobil mewah mereka juga tidak ada di pekarangan depan rumah.
Tapi saat - saat mendebarkan bagi Kimora menekan perlahan handle pintu itu, tiba - tiba pintu itu ditarik dari dalam kamar.
Sontak membuat Kimora terkejut dibuatnya.
Lalu terbuka lebar lah pintu kamar itu, Sehingga nampak jelas sosok Alden berada tepat di hadapan Kimora.
Kimora begitu gugup telah tertangkap basah akan mengintip.
__ADS_1
"Sayang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Alden bingung melihat gerak gerik Kimora.
"Ma - maaf, sa- saya sedang mencari ibu...!" jawab Kimora gugup.
"Di kamar ini?" Alden merasa jawab Kimora terdengar garing.
"Ma- maksud saya ingin bertanya apa kalian Anda , dan tuan Rangga melihat ibu." Kimora kembali merasa canggung.
Alden selalu tidak suka jika Kimora seperti itu.
Alden merasa gemes melihat dan mendengar tingkah dan ucapan Kimora lalu ia menarik kimora masuk ke dalam kamar, karena mendengar ibu mertua nya tidak ada di rumah, jadi pikir Alden mereka berdua bisa leluasa melakukan hal apapun.
"Tuan Anda mau ngapain." pekik Kimora terkejut karena Alden tiba-tiba menariknya.
"Aku mau kasih hukuman sama kamu, karena selalu melanggar apa yang suami katakan, sudah ku bilang jangan panggil aku tuan ataupun anda, aku tidak suka kamu menyebutku seperti itu." Alden mengingatkan dengan tegas sambil mendorong menyudutkan kimora ke dinding.
Kimora begitu tegang dan ketakutan.
"Maaf tuan~ eeh sayang... aku keceplosan!" alasan Kimora dan memang kimora selalu begitu, karena belum terbiasa.
"Maka dari itu kamu harus di kasih hukuman agar tidak selalu mengulangi nya." Alden makin mendekatkan dirinya ke tubuh Kimora yang sudah terpentok dinding.
"Tuan... anda mau ngapain." Kimora makin panik, dan gugup dan makin melakukan kesalahan dengan terus memanggil Alden dengan sebutan tuan dan Anda.
Mendengar itu Alden makin geram dan makin sengaja menggoda Kimora.
Alden memeluk pinggang ramping Kimora dengan erat, membuat kimora terkejut dan memberontak berusaha melepaskan diri.
"Tuan jangan begini,,, nanti ada tuan Rangga dan ibu aku tidak enak hati, aku malu kalau sampai ketahuan oleh mereka." ucap kimora.
"Aku suamimu... mereka akan mengerti jika mereka melihat." jawab Alden lalu membekap mulut kimora yang terdengar berisi di telinga Alden dengan mulutnya, dengan kecupan dan luma**n lembut.
Dan berhasil membuat Kimora diam, dan menikmati setiap pergerakan yang Alden lakukan atas dirinya.
Kimora sampai memejamkan mata saking menikmatinya, dan memberikan respon yang baik membuat Aldan makin liar beramai lidah dan bibir, serta tangannya sudah bergerak bebas menyentuh bagian sensitif di tubuh Kimora membuat Kimora menggeliat, dan melenguh merasakan sensasi yang seakan membuatnya terbang ke awang-awang.
Nafas mereka bersatu dan bergemuruh tidak beraturan, di kuasa nafsu yang memuncak.
Tapi saat adegan haredang sedang berlangsung tiba - tiba terdengar suara orang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum...!"
Karena Kimora sedang tanggung sehingga membuat Kimora tidak bisa menjawab salam itu.
"Kim... Kimora! apa kamu belum bangun...?" Bu Inah mencari keberadaan Kimora.
Dan memang Bu Inah dan Rangga lah yang datang, baru saja mereka kembali dari pasar.
__ADS_1