
“Lu juga butuh duit ku!” Alden tetap tidak mau kalah
“Terserahlah…” Rangga mengalah ingin mengakhiri perdebatan.
……
Tidak lama pesanan pun datang dan pelayan segera menyajikannya di meja.
“Silahkan tuan, nona!” pelayan mempersilahkan.
“Ya terimakasih…!” jawab ketiganya.
“Maaf tuan apa ada lagi yang anda butuhkan?” tanya pelayan sebelum pergi.
“Tidak terimakasih…” ucap Alden .
“Baik jika begitu saya permisi dulu tuan!” pelayan undur diri.
"Iya silahkan..." Sahut Alden mempersilahkan.
Kemudian Alden dan Rangga menetap Kimora. yang terlihat pucat.
“Sayang ayo dimakan!” ucap Alden kepada istrinya.
Lalu ketiganya mulai makan pesanan mereka masing - masing .
Tapi tatapan rangga selalu mencuri pandang kepada kimora dalam hatinya Rangga memperhatikan Kimora.
Rangga merasa ada yang aneh dengan kimora. ada yang berbeda.
Sampai akhirnya Rangga bertanya untuk memastikan kondisi Kimora, “Kimi…!” seru rangga tiba - tiba, dan mengejutkan Kimora yang sedang serius menyantap makanannya.
Kimora langsung mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah Rangga.
“Iya tuan…” kemudian jawab Kimora.
Alden pun memicingkan matanya melihat ke arah Ranga, Alden merasa penasaran apa yang akan Rangga katakan kepada Kimora.
Melihat tatapan Alden, Rangga tau Alden tidak suka jika Rangga mengajak istrinya berbicara.
Kimora yang merasa kebingungan karena di antara mereka terlihat sangat canggung.
“Kenapa tuan Rangga?” kemudian Kimora memecah suasana.
“Oo tidak… aku perhatikan kamu kok pucat sekali, apa kamu sakit?” Rangga bertanya.
Kimora terlihat kikuk mendengar pertanyaan Rangga.
Tapi Kimora berusaha terlihat biasa saja dengan menampilkan senyum manis di bibirnya.
__ADS_1
“Aku tidak apa - apa kok tuan.” lalu jawab kimora.
“Aku hanya kurang tidur saja tuan.” sambung Kimora untuk meyakinkan Rangga.
“Oo syukurlah jika kamu baik- baik saja.” Rangga merasa lega.
Alden tetap merasa tidak suka karena Rangga memperhatikan istrinya.
“Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan , sampai kamu harus ada di antara kami?” Alden bertanya terus terang, mengalihkan perhatian Rangga untuk tidak terus memperhatikan Kimora.
“Oo ya … aku ingin mengatakan Mami mu kemarin datang ke kantor untuk mencari mu, menurut laporan dari orang - orang kantor seperti itu, dan dia juga menghubungiku dan mendesak ku menanyakan keberadaan mu.” terang Rangga .
Karena mami Alden tidak tahu dengan nomor hp Alden yang baru. sehingga mami kartika kesulitan untuk menghubungi putranya.
Alden pun teringat tentang kesepakatannya dengan mamanya, tentang calon istri yang akan Alden kenalkan kepada maminya dalam jangka waktu 7 hari, sedangkan saat ini sudah melebihi batas kesepakatan.
“Ya Tentu saja mami uring - uringan mencari keberadaan ku! karena waktu kesepakatan ku dengannya sudah habis.” ucap Alden mengingat perjanjian yang ia buat dengan maminya.
“Lalu bagaimana.” tanya Kimora cemas.
Alden tau Kimora merasa khawatir akan di kenalkan dengan mami nya, karena kimora sudah tau sifat mami Alden seperti apa.
Alden menggenggam tangan Kimora untuk menenangkan nya.
“Kamu tenang ya sayang! kita akan bicarakan ini baik - baik dengan mami, ini sudah kesepakatan kami dia pasti akan mengerti dan menerima pernikahan kita.” kata -kata Alden sedikit membuat kimora lega.
“Lalu kapan kamu akan menemui mamimu dan membawa Kimora sebagai istrimu?” tanya Rangga.
“Yang jelas tidak untuk sekarang, karena kondisi Kimora juga kurang vit, nanti aku tunggu saat yang tepat, aku pasti akan mengatasi semuanya.” Penjelasan Alden.
Dan dimengerti oleh Kimora dan Rangga.
"Yang ... aku ke toilet dulu ya!" Izin Kimora ingin buang air kecil.
"Oo ya silahkan sayang, apa mau aku antar...?" Alden mengkhawatirkan Kimora, Takut terjadi sesuatu kepada istrinya.
"Tidak usah berlebihan begitu, aku masih kuat untuk berjalan, aku tidak apa-apa kok!" Kimora menolak tawaran Alden.
Lalu Kimora bergegas pergi ke toilet.
Tatapan Rangga tidak lepas dari kimora ia memperhatikan Kimora saat berjalan.
Rangga tau perubahan yang terjadi pada Kimora karena apa.
Dan ada rasa sedikit kekecewaan di hati Rangga saat menyadari hal itu.
Rangga tau apa penyebab perubahan pada diri kimora, yaitu Kimora baru saja kehilangan kesuciannya, karena Alden sebagai suaminya pasti sudah melakukan kewajibannya.
Tapi ada rasa lega pula di hatinya, karena yang melakukan nya adalah Alden suami Kimora sendiri, orang yang Kimora pilih dan Rangga tau Alden sangat mencintai Kimora.
__ADS_1
Alden melihat Rangga termenung seperti ada yang Rangga pikiran.
"Heh,,, kenapa kamu seperti itu?" tanya Alden kepada Rangga.
Rangga yang termenung sedikit terhenyak dengan teguran Alden.
"Eeh iya ada lagi yang ingin aku sampaikan!" Rangga mengingat satu hal.
"Apa itu?" tanya Alden.
"Tenang kasus Sinta dan Feby, bagaimana dengan mereka apa kita akan benar - benar memperkarakan mereka?" Rangga meminta pendapat Alden tentang kasus tersebut.
"Menurut mu sebaiknya bagaimana?" Alden malah balik bertanya.
"Ya, hati kecil ku tidak tega kepada mereka, tapi memang tindakan mereka sudah sangat keterlaluan." Rangga menyangkan tindakan Sinta dan Feby yang membully dan hampir melecehkan Kimora, tindakan itu yang membuat Rangga benar - benar merasa kecewa karena Rangga melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Sinta dan Feby melakukan perbuatan tidak terpuji mereka.
Andai saja, Sinta dan Feby hanya memarahi Kimora dengan kata-kata kasar atau dengan umpatan, mungkin Rangga masih bisa memberikan toleransi, dan mungkin hanya menegur dan memecat mereka.
Tidak harus memperkarakannya kejalur hukum.
"Aku hanya ingin memberikan efek jera kepada mereka." Kemudian ucap Rangga, dan itu artinya Rangga tetap ingin memperkarakan mereka, meskipun ada rasa sedikit tidak tega di hatinya.
Namun mereka tetap harus tegas bertindak tegas, membela ke tidak adil yang mereka lakukan. agar tidak ada lagi orang yang melakukan hal seperti itu, kepada siapapun juga, tidak hanya kepada Kimora, melainkan kepada semua karyawan lainnya.
Tapi ketika mereka membahas masalah itu Kimora mendengar saat Kimora sedah kembali dari toilet.
"Maaf tuan Rangga,,," Ucap Kimora menyela pembicaraan Rangga dan Alden.
Kemudian Rangga dan Alden segera menatap ke arah Kimora yang tidak mereka sadar kedatangannya.
"Sudah sayang ..?" Tanya Alden ketika melihat Kimora sudah kembali.
"Sudah." Sahut Kimora, dan kemudian duduk di bangkunya.
"Kenapa Kim...?" Tanya Rangga ingin memastikan hal apa yang ingin Kimora sampaikan, karena sempat menyela pembicaraannya tadi.
"Oo ya,,, tuan apa boleh saya bertemu dengan Nona Sinta dan Nona Feby?" Tanya Kimora, dan meminta izin ingin menemui mereka.
"Untuk apa sayang...?" Alden yang menimpali dan bertanya apa tujuan Kimora ingin menemui mereka.
"Aku hanya ingin menemui mereka saja dan ingin melihat itikad baik dari mereka!" Jawab kimora, sesungguhnya Kimora tidak ingin mempertahankan mereka.
"Itikad baik apa, sudah jelas-jelas mereka sudah melecehkan mu merusak bajumu, coba kalau tidak ada Rangga saat itu apa yang akan mereka lakukan kepada mu,,, mereka bisa melakukan hal yang lebih buruk dari itu." Alden memprediksi kemungkinan yang akan terjadi jika Rangga tidak datang tepat waktu ketika itu.
Alden begitu menyangkan dan sangat kecewa atas tindakan kekerasan yang di lakukan oleh karyawannya itu melebihi kekecewaan yang di rasakan oleh Rangga,
Di tambah mereka melakukan hal itu kepada Kimora gadis yang Alden gila-i ketika itu, dan kini malah sudah menjadi istrinya.
Sehingga Alden lebih berambisi untuk membuat Sinta dan Feby menyesali perbuatan mereka, dan tidak ada rasa tidak tega di hati Alden, seperti Rangga yang masih memiliki rasa tidak tega kepada Sinta dan Feby.
__ADS_1