
"Ayo lakukan bodoh, aku ini suamimu, tidak usah merasa malu dan sungkan." batin Alden geregetan melihat tingkah Kimora yang malu-malu, Karen Alden paham apa yang di inginkan Kimora.
....
Alden juga sangat berharap Kimora akan melakukan hal itu.
Entah mengapa Kimora menjadi sangat nekad ingin melakukan hal yang ada di benaknya.
Kimora mengelilingi kan pandangannya untuk melihat situasi.
Kimora melihat ada beberapa suster di sana namun mereka fokus dengan dengan aktivitas mereka.
Kimora mulai menutup tirai atau gorden yang menjadi pembatas di ruangan itu agar tidak ada yang bisa melihat apa yang akan dia lakukan.
Tapi Kimora tidak tau ada seseorang yang memperhatikan dirinya di luar jendela.
Yaitu Rangga, Rangga mengernyitkan keningnya melihat gelagat Kimora yang sangat mencurigakan.
...
Sementara Kimora di ruang ICU.
Setelah melihat keadaan aman Kimora memulainya aksinya, Kimora kembali menggenggam tangan Alden menciumi tangan Alden, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alden, awal Kimora ragu-ragu tapi Kimora berharap Alden bisa merespon tindakannya.
Seperti sebelumnya saat Alden dinyatakan sudah tidak bernyawa, ketika itu Kimora memberikan kiss balasan kepada Alden dan berhasil mengembalikan denyut jantung Alden meskipun sekarang bernapas di bantu alat pernapasan.
Kimora ingin mengulangi hal itu tapi sepertinya tidak bisa maksimal seperti saat itu, sebab sekarang di tubuh Alden banyak terpasang alat terutama di hidung dan mulut Alden
Sehingga Kimora melakukan hal itu hanya sebatas mengecup seluruh bagian wajah Alden.
Tapi usaha Kimora memang sedikit berhasil karena mereka berdua sama-sama merasakan desiran yang berbeda.
Alden pun memberi respon yang cukup baik, tubuhnya menghangat, dan membalas cengkraman tangan Kimora yang menggenggam tangannya.
Kimora Larut dalam situasi, sehingga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Tanpa Kimora sadari, ada seseorang yang datang dan menyingkapkan gorden atau tirai yang menutupi tempat tidur Alden.
"Kimora...!" tiba-tiba terdengar suara yang menyebutkan nama Kimora.
Seketika itu kimora tertegun diam sejenak untuk menyadari apa yang baru saja ia dengar.
Tapi di sudut matanya Kimora menangkap ada bayangan seseorang yang sedang beri tidak jauh dari dirinya.
"DEG"
Jantung Kimora serasa berhenti karena tertangkap basah sedang mencumbu suaminya yang dalam keadaan koma, padahal kimora melakukan hal itu untuk tujuan salah satu usahanya untuk merangsang kesadaran Alden, dan memang terbukti sangat efektif karena Alden memang memberikan respon yang cukup baik.
Kimora segera menoleh ke arah orang yang sedang berdiri menatapnya.
Dan orang itu adalah Rangga, Rangga segera masuk setelah melihat gelagat Kimora.
Rangga ingin memastikan apa yang di lakukan oleh Kimora dengan menutup tirai.
Kimora segera berdiri tegak dari posisi membungkuk.
Kimora terlihat gugup dan salah tingkah, wajahnya memerah bagaikan tomat mateng yang siap untuk di buat jus tomat.
Begitu malunya Kimora kepada Rangga.
'Ya tuhan, entah apa yang ada di pikiran tuan Rangga setelah melihat ini, mungkin dia berpikir aku perempuan gatal.' batin Kimora.
Tapi tangan Alden dan tangan kimora masih bercengkrama.
Sebab setelah kejadian Alden mencekal lengan kimora, lalu Alden di pindahkan ke ruang ICU Alden tidak pernah lagi melakukan hal itu, meskipun Kimora sering menggenggam tangan Alden.
Kimora berusaha menarik tangannya berniat untuk melepaskannya.
Namun tangan Alden ikut terangkat keren Alden menggenggam erat tangan Kimora.
Dan Rangga melihat itu dengan jelas.
__ADS_1
Awalnya Rangga pun terperangah saat melihat apa yang di lakukan oleh kimora.
Rangga tidak pernah menyangka Kimora bisa melakukan hal seperti itu.
sehingga mereka berdua sama-sama tertegun dipresekian detik.
Tapi setelah menyadari Kimora salah tingkah, dan melihat tangan Alden menggenggam tangan Kimora , Rangga baru tersadar ada perubahan pada kondisi Alden.
Rangga begitu gugup karena telah menangkap basah kelakuan Kimora yang sedang mencumbu suaminya.
Tidak seharusnya Rangga mengganggunya dan malah mengejutkannya.
"Uhm...!" Rangga berdehem dan berusaha bersikap biasa saja.
Tapi itu membuat Kimora makin merasa gugup.
"Maaf kimora saya mengejutkan mu!" ucap Rangga tanpa melihat ke arah Kimora.
Sementara Kimora tertunduk malu.
"Iya tuan, saya harap Anda tidak salah paham.!"
"Bukan niat saya untuk..." ucap Kimora terpotong, karena Rangga menyelanya.
"Tindakan mu sepertinya berhasil, lagi Kimora Alden memberi respon, aku lihat dia menggenggam mu!" sergah Rangga memotong kalimat Kimora.
"Iya tuan ini satu keajaiban." Kimora tersenyum.
Rangga segera memanggil suster yang sedang berjaga di ruangan itu, untuk ngecek kondisi Alden.
Lalu suster segera menghampiri, dan mengeceknya.
Setelah itu suster itu meminta satu rekan nya untuk memanggil dokter yang menangani kondisi Alden untuk mengetahui hasil yang lebih detail.
Tidak lama dokter pun datang, dan mengecek keseluruhan Kondisi Alden.
Dan memang seluruh organ vital di tubuh Alden memberikan respon yang baik, pernapasan nya sudah teratur setabil, begitu juga dengan detak jantungnya. hanya saja Alden masih butuh waktu untuk benar-benar tersadar dari tidur panjang nya.
"Tuan jika anda mencintai ku, buktikan tuan... bangunlah bukan mata mu, lihat aku, aku menunggu mu...!" ucap Kimora.
"Kim... Ga...!" suara Alden lirih, menyebut nama Kimora dan Rangga, hampir berbisik.
"Iya,,, tuan!" Jawab Kimora.
"Iya Al..." Jawab Rangga.
"Aku haus sekali...!" gumam Alden.
Kimora langsung mengambilkan air minum, dan memberikan Alden minum dengan menggunakan sedotan.
Perlahan tapi pasti Alden menyedot air minumnya, sampai di rasa cukup.
"Terimakasih..." Udah Alden lagi.
Kimora tersenyum kepada Alden, sepertinya Kimora merasa canggung dengan keadaan, ia terlihat grogi dan salah tingkah.
"Sebaiknya anda istirahat dulu, sebelum nanti anda di pindahkan ke ruang rawat inap." ucap Dokter setelah melepas beberapa alat yang di rasa sudah tidak perlu di gunakan lagi.
Kini Alden hanya memakai alat bantu pernapasan berupa selang yang menempel di hidungnya.
"Jika begitu saya permis dulu." ucap kimora bergegas ingin keluar.
Tapi Alden menahannya dengan mencekal lengannya.
"Tapi tuan anda harus istirahat untuk pemulihan Anda." ucap kimora mengerti dengan maksud Alden yang tidak ingin di tinggalkan oleh Kimora.
"Dokter biarkan istri saya tetap di sini." pinta Alden .
"Oke,,, silahkan tapi mohon jangan menganggu pasien." ucap Dokter.
Kemudian Dokter meninggalkan ruangan, di ikut oleh Rangga, tapi sebelum itu Rangga pamit terlebih dahulu kepada Alden dan juga Kimora.
__ADS_1
"Al,,, Kim,,,,! aku pergi dulu ya,! jika butuh sesuatu telepon saja!" Rangga pamit dan meninggalkan pesan.
"Iya...!" jawab Alden dengan hanya menggerakkan bibirnya, tidak bersuara.
"Baik tuan...!" jawab Kimora sambil menunduk hormat.
Rangga tersenyum kaku, lalu bergegas keluar ruangan.
Sedangkan Kimora duduk di samping Alden.
Tatapan Alden tidak lepas dari Kimora, membuat Kimora risih dan tentunya salah tingkah.
"Maaf tuan jangan menatap ku seperti itu." Ucap Kimora.
"Kenapa...?" tanya Alden.
"Aku malu...!" Jawab kimora dengan wajah memerah tertunduk.
Alden malah merasa gemas sekali melihatnya, lalu tersenyum.
"Kenapa, apa ada yang lucu?" tanya Kimora.
Alden menggelengkan kepala dan mengatakan, "Tidak, kamu cantik sekali aku gemes sekali melihatnya, aku ingin cepat sembuh dan mengajak mu jalan-jalan lalu menikmati es krim, bermanja-manja dengan mu, kemudian kemu bersandar di pundak ku!" ucap Alden menggoda Kimora, mengulang kata - kata yang sempat Kimora ucapkan ketika Alden sedang koma.
Kimora tertegun beberapa saat menyadari apa yang di ucapkan Alden adalah kata-katanya sendiri.
'Apa...? apa dia bisa mendengar saat dia koma...? ya ampun mati aku, malu sekali rasanya diri ku.' ucap kimora dalam batin.
Kimora makin merasa malu, tapi Alden tidak meneruskan untuk menggoda kimora, karena Alden tau Kimora merasa malu, dan tidak nyaman berada di sampingnya.
"Sayang aku tidur ya! tapi kamu jangan tinggalkan aku." kemudian ucap Alden .
mendengar Alden memanggil nya dengan sebutan sayang Kimora merasa berbunga-bunga.
"Iya, aku akan menunggu Anda tuan." kemudian sahut Kimora.
"No,,, no,,, jangan panggil aku seperti itu, aku ingin kamu memanggilku dengan sebutan sayang juga." pinta Alden.
"Tapi tuan...!" Kimora ingin menyangkal.
"Tidak ada penawaran lagi aku ini suamimu, panggil aku sayang, ayo di coba!" Alden tetap mendesak Kimora.
"I-iya,,, sa-sayang..." ucap Kimora ragu-ragu.
Tapi Alden memahaminya, karena Kimora belum terbiasa.
Alden meraih tangan kimora dan menggenggamnya. lalu menariknya dan mencium tangan Kimora.
Kimora benar-benar dalam situasi yang seperti syok tidak menyangka Alden akan membalas semua perlakuannya kepada Alden ketika dia koma.
Kimora sampai tersenyum kaku.
"Aku tidur ya sayang...!" gumam Alden lembut.
"Iya,,, tidurlah...!" sahut Kimora.
lalu Alden memejamkan matanya, dalam hati nya Alden tidak tiada henti bersyukur karena tuhan telah memberi nya kesempatan untuk hidup kembali, dan bisa merasakan kebahagiaan sebahagia ini, kebahagiaan yang selama ini ia impikan, hidup bersama pujaan hatinya,Yang sering ia impi - impikan.
Kini Alden sudah benar - benar terlelap, sedangkan Kimora mengkhawatirkan Ibunya yang ia tinggalkan sendiri, tapi ia juga sudah berjanji kepada Alden bahwa dirinya tidak akan meninggalkan Alden.
Saat itu Kimora meminta tolong suster agar menemui ibunya dan menyatakan apa yang terjadi dengan kondisi tuan Alden, agar Ibunya mengerti, dan tidak mengkhawatirkannya.
Suster segera mengikuti permintaan kimora, dan mendatangi Bu Inah di ruangannya, dan ternyata Bu Inah tidak sendirian, di sana ada Darman Ibrahim dan juga Rangga.
Rangga pun telah mengabari mereka semua tentang keadaan Alden yang sudah sadar dari koma nya.
Rangga juga meminta kepada Darman dan Ibrahim untuk jangan dulu membahas perihal rumah Bu Inah yang sudah Rangga bangun kembali dan hampir selesai seratus persen.
Karena Rangga ingin memberi kejutan untuk Bu Inah dan juga kimora.
Setelah sampai di ruangan Bu Inah, suster segera menyampaikan apa yang Kimora pesan kepada suster tersebut.
__ADS_1
"Iya sus! terimakasih... saya mengerti, sampai kan kembali kepada kimora, jangan khawatirkan ibu, karena ibu banyak yang jagain di sini." ucap Bu Inah dan balik menitipkan pesan, agar kimora tidak mengkhawatirkannya.
"Baik Bu nanti akan saya sampaikan, jika begitu saya permis dulu." pamit suster.