Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
23. Kegaduhan.


__ADS_3

Setelah diusir oleh Alden, Anggi pun keluar dari ruangan itu. Anggi begitu kesal diperlakukan seperti itu ia merasa sangat terhina oleh kelakuan Alden.


Sampai di luar pintu ruangan Alden Anggi berdiri dengan raut wajah yang penuh kebencian dan tiba-tiba Sinta datang menghampirinya lalu ia bertanya.


"Ada apa Nona Anggi sepertinya anda tidak baik-baik saja? "Tanya Sinta memastikan.


Anggi tidak menjawab Dia hanya menatap sinta dengan tatapan tajam.


"Saya tahu apa yang terjadi dengan anda pasti semua gara-gara karyawan baru itu kan." Sinta menebak dan Kimora lah yang Sinta maksud.


Anggi merasa heran mengapa Sinta bisa tahu apa yang terjadi kepadanya, lalu ia pun bertanya kepada Sinta.


"Dari mana kamu tahu? Siapa sebenarnya karyawan baru itu?" Anggi mencari informasi tentang Kimora.


"Saya orang yang mengundang karyawan baru itu langsung atas perintah dari tuan Alden, sepertinya gadis itu punya nilai spesial bagi tuan Alden. " Terang Sinta.


"Tadi pagi aku melihat karyawan baru itu berjalan berdampingan bersama tuan Rangga, itu artinya dia memang bukan karyawan biasa sebab semua karyawan yang telah lama bekerja di sini belum pernah diperlakukan seistimewa gadis itu." Lanjut Sinta seakan sedang menghasut Anggi.


Tentu saja Anggi merasa sangat geram akan hal itu.


"Kurang ajar! Pantas saja Alden begitu membelanya. " sergah Anggi penuh emosi.


Sementara itu di ruangan Alden, perasaan Kimora begitu kacau karena menyaksikan perseteruan antara Alden dan Anggi, sifat Alden terlihat begitu keras dan kejam kepada Anggi karena menyeret Anggi untuk keluar dari ruangannya.


Kimora hanya diam tertunduk karena ia pun merasa sangat takut terkejut dan sebagainya.


Keringat bercucuran padahal ruangan itu full AC. Alden melirik sekilas ke arah Kimora dan melihat Apa yang terjadi pada Kimora.


Alden tahu Kimora merasa ketakutan atas sikapnya kepada Anggi.


Kemudian Alden mencoba untuk menenangkan Kimora.


"Kimora!" Seru Alden, membuat kimora terhenyak.


"Iya tuan.! "Jawab Kimora.


"Kamu tidak usah takut, perempuan tadi memang pantas untuk diperlakukan seperti itu, karena dia tidak tahu diri. Tidak punya sopan santun dan seenaknya. " tegas Alden.


"Jangan pernah dengarkan perintah orang lain kecuali perintah dariku.! " sambung Alden menegaskan kembali.


" Baik tuan." ucap Kimora menjawab.


"Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan mu, dan pelajari ini! lalu serahkan kepada tuan Rangga." Perintah Alden kepada Kimora sambil menyodorkan beberapa berkas.

__ADS_1


Kimora segera mengambil berkas-berkas yang disodorkan oleh Alden.


"Baik tuan, saya permisi dulu." Kimora pamit untuk keluar.


"Ya silahkan! "Sahut Alden.


Tapi ketika Kimora keluar dari ruangan Alden, ternyata di depan pintu ia disambut oleh Sinta dan Anggi.


Kimora begitu terkejut melihat dua wanita yang menatapnya di depan pintu dengan raut muka yang sinis terhadap Kimora.


Awalnya Kimora tidak ingin memperdulikan mereka karena tidak ingin cari masalah dengan mereka. Kimora hendak berlalu dan berucap "permisi "ucap Kimora sambil membungkukkan badan tanda bahwa Kimora menghormati mereka berdua (Anggi, Sinta).


Namun keduanya menghentikan langkah Kimora, "Tunggu sebentar!" ucap Anggi menghentikan Kimora.


Seketika itu langkah Kimora terhenti lalu keduanya menghampiri Kimora yang sudah berlalu agak jauh dari mereka Sinta merangkul Kimora, lalu meminta perhatian dari seluruh karyawan. Bermaksud mengenalkan Kimora kepada seluruh karyawan staf.


"Perhatian semuanya saya ingin memperkenalkan karyawan baru kita sebagai asisten pribadi CEO kita, yaitu Tuhan Alden Diwangkara, sekarang beliau memiliki asisten pribadi yaitu Nona Kimora!" Ucap Shinta kepada seluruh karyawan staf memperkenalkan Kimora.


"Halo semuanya perkenalkan saya Kimora asisten pribadi tuan Alden…!" Kemudian ucap Kimora memperkenalkan diri.


Semua menatap Kimora dengan penuh kagum karena kecantikan Kimora yang begitu terlihat sempurna.


"Halo Kimora…!" Seru seluruh karyawan staf secara bersamaan menyapa kimora.


Lalu Anggi angkat bicara untuk merendahkan Kimora


"Tapi hati-hati dengan karyawan baru ini, dia pintar sekali cari muka dan tebar pesona." Ucap Anggi.


"Dia bermuka dua terlihat polos tapi kenyataannya dia sangat licik, bisa saja dia membuat kalian kehilangan pekerjaan atau kehilangan pasangan kalian karena dia." Anggi menghasut seluruh karyawan.


Kimora begitu terkejut mendengar pernyataan Anggi "Apa maksud anda bicara seperti itu Nona, saya tidak pernah mengusik anda Mengapa anda Sepertinya begitu membenci saya." Tanya kimora kepada Anggi.


"Jangan munafik kamu anak baru…!" Seru Sinta.


"Kenapa Bu!" Sahut kimora tidak mengerti.


"Tadi pagi saya melihat kamu, berduaan dengan tuan Rangga" Sinta menimpali.


"Apa… Tuan Rangga?" Kimora sedikit terkejut mengapa Sinta mempermasalahkan hal itu.


"Saya dan tuan Rangga kebetulan bertemu di lift, tidak ada apa-apa antara saya dengan beliau." Lanjut Kimora menjelaskan.


"Karena dia,(menunjuk kimora) tuan Alden calon tunangan saya berani mengusir saya dari ruangannya, dia yang telah mempengaruhinya." Anggi menuduh kimora tanpa bukti.

__ADS_1


Kimora begitu sakit hati, di hari pertama ia bekerja mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari mereka khususnya Anggi dan Sinta.


Kimora tertunduk lesu ingin melawan tapi dia tidak berdaya.


"Makanya anak baru jangan kegenitan kamu…!" Bisik Sinta di telinga kimora.


Kimora tidak pernah menyangka Sinta akan bersikap seperti itu kepadanya.


Padahal kimora sempat memujinya, sebab kemarin dia begitu sopan, ramah, dan lembut.


Mengapa Sinta yang sekarang begitu menakutkan bagi Kimora, sampai kimora tidak berani untuk menatap wajahnya karena sangat menyeramkan.


Melihat kimora terpuruk dan tertindas Anggi malah makin menjadi, mencaci maki kimora, menuduh kimora yang tidak - tidak.


"Maaf apa yang anda bilang itu semua tidak benar, saya tidak berani melakukan hal apapun, niat saya di sini hanya untuk bekerja." Ucap Kimora memelas.


"Diam kamu… sudah jelas -.jelas Alden mengusir saya karena kamu, dasar bermuka dua!" Pekik Anggi.


Lalu Anggi mengambil segelas air minum di salah satu meja karyawan lalu menyiram pakan nya ke wajah kimora.


"Byyaarrr!" Air menyambar wajah kimora.


Kimora memalingkan wajahnya dengan spontan, sambaran air itu memang tidak terasa sakit di wajah kimora, melainkan hati kimora yang terasa begitu perih.


Kimora terisak menahan rasa sesak di dadanya.


'Ya tuhan kenapa hidup ini tidak semudah yang ku bayangkan…' batin kimora.


Tapi di saat itu, Alden keluar dari ruangannya dan menyaksikan apa yang dilakukan oleh Anggi kepada kimora.


"Hey,,,!" Pekik Alden menghentikan aksi Anggi yang hendak menyerang kembali Kimora.


Alden menarik kasar lengan Anggi dan menjauhkannya dari kimora.


"Apa yang kamu lakukan kepada karyawan saya…?" Ucap Alden tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh Anggi kepada kimora 


"Lihat semuanya… lihat tuan Alden Diwangkara lebih membela karyawan barunya daripada membela calon tunangannya." Anggi berbicara penuh penekanan.


"Hentikan omong kosong mu!" pekik Alden 


"Semua orang di sini tau, saya tidak pernah punya calon tunangan saat ini, apa lagi menganggap mu seperti itu, jadi tolong jangan besar kepada…!" Alden mengingatkan Anggi.


"Saya berhak membela semua karyawan saya karen keselamatan mereka memang sudah jadi tanggung jawab perusahaan, jadi saya bisa melaporkan tidak mu kepada pihak yang berwajib karena telah melakukan tindak kekerasa dan tindakan tidak menyenangkan, membuat kegaduhan dan menghambat pekerjaan para karyawan saya, dan itu sangat merugikan saya kamu paham…" Alden bicara panjang lebar penuh penekanan membalas Anggi, untuk membela Kimora.

__ADS_1


__ADS_2