
Waktu kunjungan.
Kimora bergantian dengan Rangga untuk menemui Alden, awalnya Kimora menemani ibunya di ruang rawat.
Karena di ruang ICU tidak boleh sembarangan orang masuk dan harus sesuai jam besuk baru di perbolehkan untuk masuk.
Di ruangan rawat inap. kondisi Bu Inah sudah lebih baik.
"Kim bagaimana kondisi tuan Alden..." tanya Bu Inah.
Sebab Bu Inah melihat Kimora banyak termenung, dengan tatapan kosong,,, seperti sedang dibebani pikiran.
Ya, kimora sedang memikirkan kondisi suaminya yang belum menunjukkan perubahan, sedangkan mereka sudah tiga hari berada di sana.
Ketika Bu Inah bertanya pun Kimora seperti tidak mendengarnya, karena Kimora tidak meresponnya sama sekali, ia tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kim...! kamu dengar ibu...?" Bu Inah kembali menegur Kimora.
Mungkin saking liarnya pemikiran Kimora sehingga berkali-kali di tegur Ibunya, ia tidak merespon.
Kemudian Bu Inah berusa menyentuh Kimora untuk menyadarkan Kimora dari lamunannya.
"Hey,,, Kim! istighfar nak jangan terlalu dalam melamun seperti itu!" ucap Bu Inah sambil menyentuh tangan kimora agar tersadar dari lamunannya.
Seketika itu Kimora langsung terhenyak menyadari ada yang menyentuh tangannya.
"E-eeh ,,, i-iya Bu!" Kimora sampai gugup karena merasa kaget.
"Ibu sudah bangun Bu?" tanya Kimora, karena setahunya ibunya sedang tertidur maka dari itu Kimora anteng melamun.
"Kenapa nak?" Bu Inah kembali bertanya.
"Aku tidak apa-apa kok Bu...!" Kimora menyangkal berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Jangan berbohong Kim, meskipun kamu berusaha menyembunyikan kesedihan, keresahan hatimu ibu tetap tau apa yang kamu rasakan, kalau kamu tidak sedang baik-baik saja."ucap Bu Inah.
"Jangan di pendam sendiri Kim,,,! ceritakan semuanya kepada ibu,,, supaya ibu bisa membantu memberi nasehat atau solusi untuk menenangkan pikiran mu." pinta Bu Inah.
"Iya Bu,,, aku sedang bingung sekarang, bagaimana kita setelah ini, mau pulang kemana kita Bu? rumah kita sudah rata dengan tanah, sanak saudara kita tidak punya, jangan kan barang berharga pakaian saja kita tidak punya, apalagi uang Bu!" Kimora mencurahkan isi hatinya.
Sesungguhnya Kimora tidak ingin membebani pikiran Ibunya dengan apa yang sedang ia pikirkan.
Tapi ibunya terus saja mendesaknya untuk mengutarakan apa yang sedang Kimora pikirkan.
"Hhhmmm...!" Bu Inah menghela nafas panjang setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Kimora, karena apa yang ada di pikiran Kimora sama halnya seperti yang sedang Bu Inah pikirkan.
'Maafkan ibu Kim... Ibu tidak mampu membahagiakan mu, meskipun ibu sudah berusaha, tapi pada kenyataannya selalu kemalangan yang menimpa kita.' Bu Inah bicara dalam hati menyesali apa yang telah terjadi. yang memang bukan karena salahnya juga.
__ADS_1
"Sudahlah Kim jangan terlalu di pikiran masalah itu, Sekarang kamu harus fokus dengan kesembuhan suami mu." Bu Inah berusaha menghibur Kimora.
Tapi tetap saja Kimora terlihat murung dan bersedih, "Lah Bu,,, aku bisa apa selain berdoa, mereka saja yang banyak uang dan punya kekuasaan, menggunakan alat-alat canggih tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa!" ucapan Kimora terdengar putus asa, dan sudah tidak percaya diri akan adanya kebahagiaan dalam dirinya.
"Aku sudah pasrah Bu... aku lelah sekali... andai saja dalam kejadian kemarin aku mengalami hal yang di alami tuan Alden, mungkin aku sudah ikhlas Bu ...!" ucap Kimora benar-benar putus asa.
Bu Inah histeris ketika mendengar ucapan Kimora saat itu, "Astaghfirullahaladzim Kimora apa yang kamu ucapkan itu tidak baik nak!" ucap Bu Inah karena kaget mendengar ucapan kimora.
Hati Bu Inah begitu sakit mendengar ucapan Kimora, Iya sampai menangis meneteskan air mata.
"Bu Ibu tidak apa-apa, Ibu kenapa menangis?" Kimora merasa panik ketika melihat ibunya terisak.
"Bu maafkan Aku jika kata-kataku melukai hati ibu, aku sungguh tidak bermaksud untuk melakukan itu hanya saja aku merasa lelah dengan hidupku yang selalu dalam kesulitan dan kesusahan!" terang Kimora.
Kamu tidak memikirkan perasaan ibu saat kamu berucap seperti itu, perlu kamu tau dari kamu kecil ibu mati-matian susah payah membesarkanmu, tapi apa dalam pikiranmu kamu tidak memperdulikan ibu sama sekali, kamu berucap seperti itu seakan tidak ada ibu yang mengkhawatirkanmu dan menyayangimu." Bu Inah merasa tersinggung lalu meracau.
"Iya, Bu sungguh maafkan Aku aku tidak ada maksud untuk tidak menganggap ibu aku sangat menyayangi ibu dan takut kehilangan ibu." bujuk Kimura agar ibunya lebih tenang.
mereka malah menangis secara bersamaan, niat hati ingin sama-sama menenangkan perasaan, dan memberi semangat, mereka malah semakin larut dalam kesedihan, dan menangis dalam kepedihan, mengingat keadaan yang sangat menyedihkan.
Sesungguhnya obrolan mereka telah didengar seluruhnya oleh Rangga yang sedari tadi sebenarnya ada di balik pintu, dia pun begitu merasa teriris mendengar obrolan keduanya, anak dan ibu yang sedang dalam kebingungan.
Tapi Rangga sengaja tidak mengganggu mereka karena Rangga ingin tahu apa yang sebenarnya ibu dan anak itu sedang pikirkan, dan setelah mendengar semuanya Rangga benar-benar mengerti akan kesulitan dan kebingungan yang sedang Kimora dan ibu Inah hadapi.
Rangga pun segera pergi meninjau ke rumah Bu Inah pasca kebakaran tanpa konfirmasi lagi dari Bu Inah, Rangga berniat untuk membangun kembali rumah Bu Inah dan lebih layak dari sebelumnya.
Rangga langsung mengatur seluruh keperluan dan persiapan pembangunan secara dadakan, sebab saat itu juga ia menghubungi orang-orangnya untuk segera melaksanakan tujuannya, yaitu membangun kembali rumah Bu Inah yang sudah rata dengan tanah dan menggantinya dengan rumah baru di tempat yang sama tanpa di ketahui oleh Bu Inah atau pun Kimora.
...
Sampai seminggu lebih Bu Inah di rawat di rumah sakit padahal kondisinya sudah membaik, itu sengaja Rangga lakukan karena pengerjaan rumah mereka belum selesai seratus persen.
Dan juga Kimora harus tetap pulang pergi ke rumah saki karena suaminya masih koma.
Rangga juga sengaja tidak mengabari mami Alden karena dia pasti akan melakukan tindakan yang akan merugikan banyak orang di perusahaan, tentunya atas hasutan adiknya Diki.
Rangga membuat kabar seakan Alden sedangkan tugas keluar kota, sehingga tidak ada yang curiga kalau sesungguhnya Alden sedang koma.
Tapi Rangga yakin Alden akan segera sadar dan kembali sehat seperti sebelumnya, Alden hanya butuh waktu untuk beristirahat, setelah selma ini sibuk bekerja dan kadang Alden habiskan waktunya seharian dan tak jarang juga sampai dua puluh empat jam Alden berkutat di kantornya.
Keyakinan Rangga begitu kuat akan kesembuhan alden.
Rangga juga menanggung semua kebutuhan Bu Inah dan Kimora selama di rumah sakit.
padahal Kimora dan Bu Inah merasa tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi mereka memang sangat membutuhkan bantuan untuk menyambung hidup mereka karena mereka kini sudah benar-benar miskin tidak mempunyai apapun.
Saat ini waktunya jam besuk di buka.
__ADS_1
Kimora sudah menunggu di depan ruang ICU, menunggu di persilahkan untuk masuk.
Dan tak lama memang suster membuka pintu dan mempersilahkan Kimora masuk.
"Silahkan nona!" ucap suster mempersilahkan.
"Terimakasih suster." sahut Kimora, lalu bergegas masuk dan memakai pakaian yang di khususkan untuk pengunjung saat ingin memasuki ruangan ICU, setelah itu barulah kimora menghampiri Alden.
"Selamat siang tuan...!" sapa Kimora, seperti yang biasa ia lakukan berbicara seolah Alden bisa meresponnya.
Seperti biasa juga Kimora menggenggam tangan Alden, Kimora menatap wajah Alden yang terlihat tenang masih terlelap.
Kimora tersenyum getir melihat wajah itu.
Kemudian Kimora mulai berbicara, "Tuan anda tahu sudah berapa lama kamu di sini? sudah satu Minggu lebih tuan! apa anda tidak pegel, atau bosen gitu tiduran terus...!" Kimora berbicara sengaja menggoda Alden.
"Aku malah bosan sekali berada di tempat ini, tapi aku juga tidak tau mau kemana! aku ini orang miskin, tempat tinggal aja aku sekarang gak punya, aku punya suami juga tiduran terus kaya gini, padahal aku pengen di ajak jalan-jalan makan eskrim, bermanja-manja, bersandar di pundak mu...!" ucap Kimora bicara sendiri berusaha menepis kesedihan di hatinya.
padahal Alden bisa mendengar dan merasakan kehadiran Kimora.
dalam batinnya Alden selalu menunggu kedatangan Kimora menemuinya ketika jam besuk di buka.
Alden sudah berusaha sekuat batinnya untuk sadar dan merespon Kimora tapi semuanya sangat sulit untuk Alden.
Ketika Kimora bersedih di hadapan Alden, Alden ikut sedih, ketika Kimora bereaksi datar Alden ingin menegurnya, ketika Kimora bercerita yang lucu Alden ikut tertawa dan tersenyum.
Hanya saja Kimora tidak tau akan hal itu.
Seperti saat ini Alden pun mendengar kan semua keluh kesah Kimora.
Dan hati Alden begitu terenyuh mendengar keinginan sederhana Kimora, yang mengatakan dirinya orang miskin, hanya ingin jalan-jalan menikmati eskrim, bermanja-manja dengan suami dan bersandar di pundak suaminya.
Padahal dalam kondisinya yang sedang kesulitan kimora bisa saja menginginkan hal yang lebih dari itu, mengingat suaminya bukan lah orang biasa, lebih tepatnya seorang yang kaya raya.
Dengan begitu Alden benar-benar berusaha untuk sadar dan berjanji akan mewujudkan apa yang Kimora inginkan.
Setelah beberapa saat Kimora berbicara mengutarakan isi hatinya, tiba-tiba Kimora teringat saat-saat Alden menciumnya dan ketika ia membalas ciuman itu.
Kimora teringat ada rasa yang berbeda yang ia rasakan ketika saat-saat itu. dan terlintas di pikirannya ingin mengulangi hal itu.
kimora termenung seakan sedang berpikir.
Lalu Kimora berbisik di telinga Alden.
"Tuan aku merindukan sesuatu, tapi aku malu...!" ucap Kimora polos karena ia pikir ya suaminya memang tidak bisa menderanya.
Jika Kimora tau suaminya bisa mendengarnya, dia tidak akan sanggup untuk mengatakan hal itu karena malu dan sungkan, Sebab sesungguhnya Alden adalah atasannya.
__ADS_1
Di tambah mereka juga belum terlalu dekat atau terlalu akrab.
"Ayo lakukan bodoh, aku ini suamimu, tidak usah merasa malu dan sungkan." batin Alden geregetan melihat tingkah Kimora yang malu-malu, Karen Alden paham apa yang di inginkan Kimora.