Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
37. Kebakaran


__ADS_3

Setelah mendengar itu, dan sudah menyadari keadaan Bu Inah dan Kimora begitu panik.


"Ya tuhan...!" pekik Bu Inah.


...


"Ayok Bu... Kim...! kita segera cari jalan keluar untuk menyelamatkan diri." interuksi dari Alden .


Kemudahan mereka segera menuju ruangan tengah.


"Ya tuhan bagaimana ini...?" Bu Inah makin panik.


"Tenang Bu ... kita pasti selamat!" Rangga menenangkan Bu Inah dan yang lainnya.


Dan di saat itu terdengar suara Darman dan Ibrahim berteriak dari luar rumah.


"Tolong... kebakaran...!!!" Darman dan Ibrahim berusaha untuk minta bantuan dari para warga.


Tapi karena rumah Bu Inah aga Renggang dari pemukiman warga, sehingga menyulitkan mendapatkan bantuan, di tambah mereka pun sama, baru saja terlelap setelah menghadiri acara pernikahan Kimora.


Dan kini Darman dan Ibrahim berusaha keras untuk membuka salah satu pintu keluar atau jendela yang sudah tidak berupa karena kobaran api, untuk membuka jalur.


"Darma...! Ibrahim...!" teriak kimora.


"Kim kalian... sudah bangun...!" tanya Darman ada rasa lega karena yang di dalam sudah memberi respon.


"Dar,,, Im,,, tolong kami, kami terkepung api." teriak Kimora lagi meminta pertolongan.


"Tenang Kim... kami sedang berusaha untuk menyelamatkan kalian, jangan panik kalian pasti selamat." Ibrahim memberi harapan.


Darman dan Ibrahim mengambil Bambu panjang mereka berdua melakukan gerakan mendorong dan menghentak-hentakan bambu itu untuk membuka pintu, tapi memang sulit sekali.


orang yang di dalam rumah sudah kepanasan dan merasa engga karena kepulauan asap.


"Uhuk... uhuk... uhuk...!" mereka sudah terbatuk-batuk merasa sesak dan hampir kehabisan oksigen, terutama Bu Inah, yang kondisinya sudah sangat melemah.


"Bertahan lah Bu ku mohon...!" ucap kimora kepada Ibunya.


"Im,,, Dar,,, tolong lah cepat!" Kimora kembali berteriak karena semakin terdesak melihat keadaan ibunya.


"Kalian tunggu di sini." ucap Alden, ingin beranjak menuju kamar tidur.


"Anda mau kemana tuan semua sudah terbakar." ucap kimora.


"Sebentar Kim..!" Alden tetap beranjak dan mengambil seprai dan selimut.


Alden pun berlari ke arah kamar mandi untuk membasahi Sepri dan selimut itu untuk melindungi mereka.


Tapi tiba-tiba ada bagian rumah yang sudah terbakar api dan masih mengobarkan api tiba-tiba jatuh di hadapan Alden dan menghalangi jalan Alden untuk kembali ke posisi Kimora dan yang lainnya.


Kimora memekik melihat itu, "Aaaa... tuan aku mohon selamat kan dirimu!" Kimora sangat panik dan malah meronta ingin menerobos kobaran api yang menghalau jarak antara dirinya dan Alden, tapi semua melarangnya.


"Jangan Kimora, tetap lah di situ aku akan cari cara untuk keluar dari sini." Alden mencegah Kimora untuk menghampirinya.


Kimora pun di cekal oleh Rangga dan ibunya karena gerak refleks Kimora seakan nekad ingin menerobos kobaran api tanpa memikirkan keselamatannya.


"Kimora jangan nekad...!" Ucap Rangga mencegah.


"Tapi tuan Alden, tuan,,, !" Kimora sangat panik memikirkan keselamatan Alden.


"Tenang Kim,,, Alden pasti selamat." Rangga berusaha untuk menenangkan Kimora.


"Uhuk... uhuk... uhuk!" Bu Inah makin terbatuk.


Darman dan Ibrahim masih berusaha dan Akhirnya Darman dan Ibrahim berhasil membuka pintu utama.


Dan tidak sampai di situ mereka berdua pun berusaha menyingkirkan daun pintu yang sudah terbakar dan masih terdapat kobaran api lalu kini tergeletak di lantai makin sulit menerobos nya meskipun sudah ada jalan.

__ADS_1


Ibrahim dan Darman kembali berusaha menyingkirkan daun pintu itu agar sedikit mm enepi membuka jalan untuk melaui pintu yang sudah terbuka.


Setelah sekuat tenaga mereka berdua berusaha dan akhirnya mereka berdua berhasil membuka jalan.


"Aaah akhirnya...!" gumam mereka berdua (Darman dan Ibrahim) merasa sedikit lega.


"Kimora pintu sudah terbuka." kemudian teriak Darman dan Ibrahim.


" Iya... !" ucap Kimora menimpali para sahabatnya.


"Tuan Rangga,,, kondisi ibu makin parah tolong segera selamat ibuku, segera bawa ibu keluar!" pinta Kimora kepada Rangga.


"Iya Kim,,, aku keluar dulu menyelamatkan Ibumu terlebih dahulu.. nanti aku balik lagi untuk menyelamatkan mu dan Alden." ucap Rangga.


"Iya tuan Rangga." jawab Kimora sudah mulai terisak.


"Alden segera lemparkan selimut yang sudah kamu basahi aku selamatkan Ibu Kimora terlebih dahulu.!" interuksi dari Rangga.


Aldel mengerti dan langsung melemparkan selimut itu.


sedangkan kondisi Alden pun sudah sangat mengkhawatirkan, ia sudah sangat kepanasan dan sudah sangat sesak, nafasnya sudah terengah-engah. karena ia berada di paling dalam rumah dan sudah sangat terkepung api.


Tapi Alden berusaha untuk bertahan.


Setelah itu Rangga langsung memangku Bu Inah, lalu Kimora mengerumuni mereka berdua (Rangga dan Bu Inah) dengan selimut basah yang tadi Alden lemparkan.


Kemudian Rangga segera keluar menerobos api melalui jalan yang sudah di buka oleh Darman dan Ibrahim.


Dan Rangga berhasil menyelamatkan Bu Inah.


Rangga segera meletakkan Bu Inah, di tanah di tempat yang sudah aman, yang penting Bu Inah sudah keluar dari kepungan api, pikir Rangga.


Lalu Rangga kembali masuk ke dalam dengan membawa bambu yang tadi di gunakan oleh Darman dan Ibrahim untuk membuka pintu.


Ibrahim ingin masuk bersama Rangga untuk membantu menyelamatkan Kimora dan Alden, lalu Rangga mengijinkannya dan mereka masuk bersama menerobos kobaran api dengan menggunakan selimut tadi.


mereka berdua berhasil masuk, Rangga minta Ibrahim untuk membawa Kimora keluar dari sana dengan cara seperti yang sudah Rangga lakukan saat membawa Bu Inah keluar tadi.


Dan Ibrahim pun mengikuti perintah Rangga, iya segera membawa Kimora keluar dari sana dan berhasil menyelamatkan Kimora, kini Kimora sudah berada di luar bersama sang ibu.


Kimora memeluk tubuh ibunya yang terkulai lemah.


Kimora menangis melihat keadaan saat ini.


Karena hatinya, perasaannya, masih sangat ketakutan panik karena kekhawatirkan Alden dan juga Rangga yang masih berada di dalam rumah dan masih dalam keadaan terdesak oleh kepungan api yang masih berkobar dan membara.


"Kim tenangkan dirimu Kim..." ucap Darman. berusaha untuk menenangkan Kimora, karena Darman ditugaskan untuk menjaga Kimora dan ibunya.


Sedangkan Ibrahim kembali masuk untuk menyelamatkan Rangga dan Alden.


Sementara itu Rangga berusaha untuk menyelamatkan Alden yang semakin terdesak oleh kobaran api.


Dengan menggunakan sebatang bambu Rangga berusaha memberi jalan untuk Alden agar bisa keluar dari sana.


Setelah Ibrahim kembali ke dalam rumah Ibrahim pun langsung membantu Rangga untuk menyingkirkan kobaran api yang menghalangi dan menghimpit Alden.


setelah beberapa waktu mereka berhasil membuka jalan agar Alden bisa keluar dari kobaran api, tapi kondisi Alden sudah sangat lemah sehingga Rangga segera membantu dan menyelamatkan Alden dengan memapahnya keluar dari sana.


Lalu setelah itu mereka bertiga berusaha keluar dari dalam rumah yang sudah semakin habis terbakar sehingga seakan tidak ada jalan untuk mereka bisa keluar dari sana.


Kimora Darman dan Bu Ina semakin panik melihat keadaan yang semakin terdesak.


"Ya Tuhanku selamatkanlah mereka, aku mohon Ya Tuhan... aku mohon Tuhan!" rintihan Kimora di sela tangisannya.


Keadaan mereka pun begitu mencekam diliputi kepanikan, ketakutan, karena mengkhawatirkan ketiga orang yang masih terjebak di dalam rumah.


Tapi setelah selang beberapa waktu akhirnya mereka bertiga berhasil keluar dari dalam sana.

__ADS_1


Kimora dan Darman beserta Bu Ina begitu lega melihat ketiganya akhirnya mereka bertiga bisa keluar dari sana, meskipun kondisi Alden tidak baik-baik saja, ia terlihat begitu mengenaskan hampir tidak sadarkan diri karena sesak yang ia rasakan.



...Kondisi Alden setelah berhasil keluar dari dalam rumah yang terbakar....


Kimora segera berlari meraih tubuh suaminya.


"Ya Tuhan! tuan..." gumam Kimora makin panik.


Rangga segera memasukkan Alden ke dalam mobilnya untuk membawanya ke rumah sakit terdekat untuk segera memberikan pertolongan kepadanya.


Kimora dan yang lainnya juga ikut bersama mereka.


Untung kunci mobil di biarkan tergantung oleh sopir pribadi Alden, sehingga memudahkan Rangga untuk melarikan alden dan Bu Inah ke rumah sakit karena kondisi mereka berdua lebih parah dari pada Kimora dan Rangga.


Darman dan Ibrahim yang mengarah jalan menuju rumah sakit terdekat.


Sebab Rangga tidak hapal daerah di sana, ini bisa di bilang pertama kalinya Rangga dan Alden menginjakan kaki di daerah tersebut.


Selang beberapa waktu mereka sampai di rumah sakit.


Alden dan Bu Inah segera di larikan ke ruang IGD, untuk segera mendapatkan penanganan.


Kondisi Bu Inah lebih baik setelah mendapat penanganan.


Sedangkan kondisi Alden makin melemah, dan sudah tidak sadarkan diri.


Tapi tim medis masih berusaha untuk menyelamatkan Aldan, berusaha mengembalikan kembali kesadarannya. karena Alden kehilangan detak jantungnya.



...Kondisi Alden ketika mendapat penanganan tim medis ...


Kimora sempat melihat dari celah kaca bagaimana kondisi Alden.


Tubuh Kimora melemas, lututnya gemetar dan sudah tidak bisa menopang lagi tubuhnya.


Seketika itu tubuh kimora tersandar di dinding, lalu tubuh itu terperosot dan kimora terduduk di lantai.


"Tuhan kenapa seperti ini... tolong berikan keajaiban mu Tuhan, selamatkan ibu dan suamiku... aku mohon tuan...!" ucap Kimora sambil terisak pilu.


Darman dan Ibrahim segera meraih tubuh Kimora dan berusaha membangunkannya.


"Sabar Kim..!" ucap kedua sahabatnya.


Tapi Kimora makin terisak, makin menangis pilu.


"Apa salahku Darman, Ibrahim? kenapa hidupku selalu jauh dari kata bahagia, aaaa..." Kimora makin histeris.


Membuat Ibrahim dan Darman makin tidak tega melihatnya.


"Kim... sabar Kim...!" hanya kata itu yang bisa mereka ( Darman dan Ibrahim) ucapkan untuk menenangkan Kimora.


Sedangkan Rangga pun begitu panik mengkhawatirkan kondisi keponakannya.


'Ya tuhan selamatkan lah keponakan ku...' batin Rangga sambil mondar mandir gelisah tidak tenang.


Meskipun Alden dan Rangga sering berselisih, kadang juga sampai bergulat, tapi dalam hati terdalamnya, Rangga begitu menyangi Alden.


Sehingga Alden sepanik itu, tidak kalah panik dari Kimora.


Tapi dalam kondisi seperti itu, Darman lah orang yang paling merasa bersalah atas kejadian yang menimpa mereka semua, karena semua di sebabkan oleh ulah bapaknya sendiri.


Darman menjauh dari sana dan memukul-mukul kan tangan ke dinding sambil menangis, ia sungguh menyesali perbuatan bapaknya.


Karena perbuatan bapaknya nyawa Bu Inah dan Alden jadi taruhannya.

__ADS_1


Tapi memang itu tujuan Pak Hasan, iya ingin melenyapkan nyawa mereka semua, untuk melampiaskan kekecewaannya.


__ADS_2