
Melihat kondisi Maminya Alden begitu panik.
"Om mami beneran sakit?" Kemudian tanya Alden yang awalnya menyangka Diki hanya sedang menggertak nya saja.
"Kamu pikir aku sedang main-main apa?" Sahut Diki kesal sekaligus menegaskan keberadaan ucapannya.
"Oke aku akan segera kesana." Alden mengkhawatirkan kondisi Maminya, lalu segera menutup sambungan teleponnya.
Melihat reaksi suaminya yang begitu tegang ketika menerima sambungan telepon Kimora menjadi penasaran lalu bertanya, "Ada apa yang?"
Alden pun menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Mamanya.
"Ayo kita harus segera kesana sayang untuk memastikan kondisi Mami!" Ajak Alden kepada Kimora.
Kemudian keduanya segera berpamitan kepada BI Nuri dan seluruh keluarganya.
Lalu Kimora dan Alden segera bergegas menuju rumah sakit.
…
Sedangkan di rumah sakit, Nyonya Kartika dan Diki begitu puas dengan permainan mereka akhirnya apa yang mereka rencanakan berjalan sesuai harapan.
"Hebat kak, rencana kakak berhasil sebentar lagi Alden akan datang kemari, jadikan kelemahan nya ini sebagai senjata bagi kita untuk membuat nya tidak berkutik agar ia mengikuti semua yang kita inginkan." ucap Diki dengan nada penuh kemenangan.
"Jangan panggil aku Kartika jika tidak bisa mewujudkan apa yang aku inginkan." Sahut Nyonya Kartika penuh percaya diri.
Selang beberapa waktu setelah cukup lama menunggu akhirnya Alden dan Kimora tiba di rumah sakit.
Mereka berdua langsung masuk, dan menghampiri nyonya Kartika yang sedang berpura-pura sakit dan berbaring di ranjang rumah sakit.
"Mami… kenapa mami bisa seperti ini?" ucap Alden panik.
"Ini semua karena ulahmu!" sergah Diki sengaja menyalahkan Alden agar ia merasa bersalah.
Ya Alden memang merasa bersalah atas kondisi Maminya saat ini.
Mendengar dan mengetahui keberadaan Alden Nyonya Kartika makin menghayati drama yang ia buat.
__ADS_1
Ia berpura-pura tersadar dari tidurnya, "Alden… putra mami, ternyata kamu masih mempedulikan mamimu ini nak!" ucap nya lirik.
"Iya mam,,, maafkan aku karena tidak memperdulikan mami." Alden bicara penuh penyesalan.
Dan itu di jadikan kesempatan oleh Diki untuk menyalahkan Alden seratus persen agar Alden benar-benar merasa bersalah. Dan jika sudah seperti itu Alden akan menuruti semua permintaan maminya untuk menebus rasa bersalahnya.
"Makanya kamu jangan egois Alden, ingat mamimu yang mengandung, melahirkan mu dan membesarkan mu sampai kamu bisa seperti ini karena jasa mamimu." Diki bicara penuh sindiran.
Membuat Kimora merasa bersalah mendengar ucapan Diki, karenanya Alden bisa berseteru dengan Mamanya, padahal memang hubungan antara Alden dan Maminya sudah renggang sejak lama bukan karena Kimora penyebab.
Tapi memang dengan adanya Kimora menjadi istri Alden perseteruan Alden dengan Maminya makin memanas, sehingga Nyonya Kartika mengambil keputusan untuk mencurangi anaknya sendiri untuk melancarkan rencananya.
"Diki… jangan salahkan Alden atas kondisi ku, karena memang aku yang sudah tua dan sakit-sakitan bukan salahnya, dan aku hanya bisa merepotkan kalian." Nyonya Kartika makin membuat Alden merasa bersalah.
"Mami maaf kan aku mam…!"
"Tidak Nak,,, jangan meminta maaf karena kamu tidak salah apapun kepada mami, mami yang banyak salah kepadamu, mami tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mu, mami egois Alden buktinya kamu pergi meninggalkan Mami Hiks…hiks…!" Nyonya Kartika masih memainkan sandiwaranya.
"Mam! aku yang banyak salah aku juga egois pergi dari rumah meninggalkan Mami, maafkan aku Mam…" Alden makin merasa bersalah.
"Apa itu Mami? aku berjanji akan berusaha mewujudkan nya!" Akhirnya Alden masuk dalam perangkap.
"Tapi itu tidak akan mungkin Nak,,, kamu tidak akan bisa mewujudkan keinginan mami…!" ucap Nyonya Kartika dengan nada lirih.
"Sebenarnya apa yang mami inginkan?" Alden mendesak jawaban dari Maminya.
Nyonya Kartika melirik ke arah Kimora, sehingga Kimora tau apa maksud dan tujuannya. Tapi Kimora tersenyum kepadanya untuk menepis rasa gugup di hatinya.
Kemudian Nyonya Kartika mulai berbicara, "Kamu tau nak,,, dari dulu mami hanya ingin melihatmu menikah dengan Anggi, tapi sekarang kamu sudah menikah dengan Kimora, jadi keinginan mami tidak akan pernah terwujud." Nyonya Kartika berbicara dengan nada penuh kesedihan dan kekecewaan.
Membuat Alden merasa sangat bersalah dan tidak tega. Alden hanya menunduk tidak mampu menjawab ucapan Maminya.
Karena Alden memang tidak bisa menikahi Anggi, baik sebelum dan sesudah ia menikah dengan Kimora.
"Percuma kan mami berbicara juga, kamu memang tidak akan bisa mewujudkan keinginan mami, mami tau itu… maafkan mami selalu meminta mu untuk hal yang sama…"
"Maaf kan aku mam, Aku hanya bisa membuat mami kecewa, aku benar-benar minta maaf karena aku tidak bisa mewujudkan keinginan Mami yang satu ini, Mami boleh minta apa pun dari ku asal jangan hal ini."
__ADS_1
"Ya sudahlah lupakan saja nak,,, Mami senang sekali kamu sudah mau datang kesini menemui Mami, itu artinya kamu masih peduli sama Mami." Ucap Nyonya Kartika pura-pura untuk menerima keadaan.
Kemudian Nyonya Kartika melanjutkan sandiwaranya dengan berputar-putar sesak nafas, dan memegangi kepalanya seakan kondisinya makin parah.
Dan sandiwaranya berhasil membuat Alden dan Kimora makin panik.
"Mam… Mami kenapa?" Seru Alden
"Masih saja bertanya, sudah jelas-jelas ini semua karena ulahmu." Sergah Diki menyatui ucapan Alden.
Kemudian Alden segera bergegas memanggil Dokter agar memeriksa kondisi Maminya.
Dokter pun segera datang dan mulai mengecek kondisi Nyonya Kartika.
Setelah memeriksa kondisinya Dokter menyampaikan apa yang terjadi kepada Nyonya Kartika kepada Alden.
Bahwa Nyonya Kartika akan tetap seperti itu jika pikirannya tidak tenang, istilahnya Nyonya Kartika sedang dalam tekanan bisa dikatakan dia dalam kondisi tekanan batin.
"Jadi saya sarankan kepada orang-orang terdekatnya agar sebisa mungkin membuat pikirannya dan suasana hati nya tenang, itu salah satu cara agar kondisinya stabil." Tutur sang Dokter, yang ternyata sudah sekongkol dengan Diki dan Nyonya Kartika, untuk meyakinkan Alden tentang kondisi Maminya.
Semua orang di ruangan itu mendengar apa yang disampaikan oleh Dokter termasuk Kimora dan juga Diki.
Kini alden tidak mampu menjawab atau bereaksi apapun, ia hanya bisa diam dan tertunduk.
Kimora melihat suaminya dalam situasi dilema, di satu sisi ia sangat mengkhawatirkan kondisi Maminya, tapi disisi lain ia tidak bisa menikahi Anggi, bukan hanya karena Alden sudah menikahi Kimora tapi karena Alden tidak pernah menyukai Anggi.
Kimora meraih tangan Alden lalu menggenggamnya untuk memberikan dukungan kepada suaminya.
Alden yang tertunduk langsung melihat ke arah Kimora karena mendapat dukungan dari istrinya, terlihat sebuah senyuman di bibir manis Kimora untuk menenangkan suasananya, dan berhasil membuat hati Alden begitu sejuk melihatnya.
"Terimakasih Sayang…!" gumam Alden berbisik
Kimora makin lebar tersenyum karena Alden memberi reaksi yang sangat baik kepadanya, meskipun dalam keadaan panik dan bingung karena kondisi dan keinginan Maminya yang membuat Alden pusing.
__ADS_1