
Sedangkan di rumah sakit. Kimora masih bersama Alden.
Kemudian Kimora menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Alden lalu menggenggamnya.
"Tuan andai kamu dengar permintaanku, Aku mohon bawa aku bersamamu… aku sudah lelah hidup dalam penderitaan… aku ingin bahagia bersamamu tuan…!" Kini dunia terasa gelap bagi Kimora tidak ada secercah harapan kebahagiaan untuknya setelah ini, jadi lebih baik ia ikut mati bersama Alden, pikir Kimora.
"Tuan bolehkah aku mencium bibirmu seperti yang pernah kamu lakukan pada malam itu, hiks… hiks… hiks…?" Kimora bicara sendiri seakan bisa mendengarnya.
Kimora masih menangis pilu, sambil menyentuh dan mengusap-usap bibir Alden yang terlihat pucat.
"Kamu curang sekali tuan, belum juga aku sempat membalasnya kamu sudah meninggalkan ku begitu saja… hiks… hiks…!" Kimora semakin pilu dan sesekali kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Alden, Kimora seakan tak sanggup kehilangan Alden.
Kemudian perlahan Kimora mendekatkan bibirnya ke bibir Alden awalnya ia sedikit mengecupnya.
Lalu Kimora memperdalam kecupannya dan malah makin kuat.
Terasa desiran luar biasa di diri Kimora, seakan aliran listrik menyengat seluruh tubuhnya, namun Kimora sulit sekali melepaskan tautan bibirnya malah makin terasa tertarik dan tersedot ke dalam bibir Alden, Kimora sampai kehabisan nafas.
Sekuat tenaga Kimora berusaha melepaskan tautan bibirnya, Kimora sampai terpelanting ke arah belakang saat ini berusaha melepaskan tautan bibirnya.
Kimora terperangah saat tautan bibirnya sudah terlelap, nafasnya sampai tersengal-sengal.
"Hah… hah… (nafas kimora terengah-engah) apa itu tadi kenapa tarikan nya begitu kuat." gumam Kimora saat menyadari apa yang telah barusan ia alami.
Kemudian Kimora kembali mendekati tubuh Alden dan memperhatikan nya dengan seksama.
Tapi tubuh itu tetap anteng tidak ada reaksi sama sekali.
Kimora mulai merasakan keanehan keren kejadian yang baru saja ia alami.
Kimora hendak berlari keluar luar ruangan ingin mengabarkan apa yang telah ia alami.
Namun sesuatu berhasil mencekal lengannya menahan pergerakan Kimora.
Seketika itu Kimora berbalik dan melihat apa penyebabnya, mengapa seperti ada yang menarik tangannya.
Dan alangkah terkejutnya Kimora saat melihat tangan Alden lah yang mencekal lengannya.
"Apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Apa aku berhalusinasi?" Kimora memberondong pertanyaan pada diri nya sendiri, Kimora pun berekspresi sedikit histeris Antara percaya dan tidak percaya, antara senang dan takut.
Tapi kimora jelas melihat tangan Alden mencekal lengannya.
Tangan yang awalnya terasa dingin dan kaku, kini terasa hangat dan penuh kekuatan, tapi kenapa bagian tubuh lain tidak ada respon sama sekali, Terutama matanya mengapa tidak terbuka.
"Tuan Anda kembali…?" gumam Kimora dengan suara bergetar.
Tapi memang tidak ada respon lain selain genggaman, cekalaan tangannya.
Kini Kimora benar-benar yakin dengan apa yang ia lihat dan ia rasakan, menyadari bahwa itu nyata, Kimora berteriak histeris memanggil Rangga dan Ibrahim.
" Tuan Rangga…! Ibrahim…!" Pekik Kimora.
Mendengar teriakan Kimora, Rangga dan Ibrahim segera berhamburan menghampiri Kimora.
"Ada apa Kim…?" Tanya Rangga dan Ibrahim secara bersamaan.
"Lihat tuan Rangga, lihat Im…!" Tunjuk Kimora ke arah tangan Alden yang mencekal lengannya.
Rangga dan Ibrahim seketika itu langsung melihat ke arah yang Kimora tunjuk.
Mereka berdua (Rangga dan Ibrahim) sampai terperangah melihat apa yang mereka saksikan.
"Tuhan apa ini sungguhan!" gumam Rangga, merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kimora tuan Alden kembali…!" Ibrahim begitu antusias.
Kimora mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat sambil tersenyum haru.
Rangga segera mendekati tubuh Alden dan mengecek pernafasannya dan denyut nadi nya, memang terasa tapi sangat lemah, Kimora sendiri tidak merasakannya meskipun ia sudah melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Rangga.
"Im,,, tolong segera panggil dokter Im..!" Perintah Rangga kepada Ibrahim sedikit terkesima.
Ibrahim langsung berlari ke ruangan dokter untuk memanggil dokter yang sedang berjaga.
"Dokter,,, tolong periksa pasien yang bernama tuan Alden!"
"Ada apa dengannya bukan kah kami sudah memeriksanya, dan sudah menanganinya, kalian juga sudah lihat sendiri beliau sudah pergi ke alam baka." Ucap Dokter.
__ADS_1
"Jangan dulu bicara seperti itu Dok! Makanya ayo cepetan periksa…!" Desak Ibrahim.
Kemudian Dokter segera mengikuti permintaan Ibrahim, bergegas ke ruangan di mana Alden berada dan di ikut dua susternya.
Sesampainya di ruang itu, Dokter segera memeriksa denyut nadi dan pernafasan Alden.
Ya, menggunakan alat Dokter bisa merasakan dengan jelas denyut jantung dan nadi Alden .
Dokter segera memasang alat untuk menunjang pernafasan Alden, dan segera memindahkannya ke ruangan ICU, karena Alden memang butuh alat - alat medis yang lebih lengkap untuk menunjang kestabilan kondisinya.
"Ya tuhan, ada sedikit harapan untuk ku,,, semoga suamiku bisa kembali hidup bahagia bersama ku." Doa Kimora sambil menangis haru.
"Selamat ya Kim…!" Ucap Ibrahim merasa kan kebahagiaan. Begitu juga dengan Rangga.
"Terimakasih Im…!" Sahut Kimora.
….
Sedangkan Darman telah melaporkan perbuatan Bapaknya ke pada pihak yang berwajib.
Polisi segera menyelidiki ketempat kejadian, dan menemukan beberapa bukti seperti derigen bensin.
Darman juga melaporkan hilangnya sopir pribadi Alden yang belum di temukan.
Darman curiga, orang-orang bapaknya lah yang telah menyekap sopir pribadi Alden.
Polisi pun segera melaksanakan pencarian orang-orang yang terlibat dalam kasus ini.
Sedangkan Pak Hasan segera di jemput paksa oleh pihak berwajib, karena dialah tersangka utama, dalang dari semua permasalahan.
Sesungguhnya pak Hasan berusaha untuk kabur, namun polisi lebih dulu menemukannya. Sehingga rencana kaburnya bisa di gagalkan oleh polisi.
Pak Hasan memberontak ketika polisi menggiringnya.
Dia begitu membenci Darman, karena Darman lah yang melaporkannya.
"Anak durhaka kamu… !" Pekik pak Hasan ketika di depan Darman.
"Cuih..!" Pak Hasan pun meludahi Darman.
"Aku lebih baik tidak dilahirkan sama sekali, jika harus menanggung malu seperti itu, karena mempunyai Bapak jahat seperti Bapak." Darman masih bisa menjawab celotehan Pak Hasan.
"Jangan panggil aku Bapak lagi, aku tidak sudi di panggil Bapak oleh anak seperti kamu, anak durhaka…!" Pekik Pak Hasan.
Ibu Darman mengelus pundak putranya agar jangan lagi menimpali Bapaknya.
Karena walau bagaimana pun pak Hasan tetap lah Bapaknya.
Darman kemudian tertunduk, mengerti dengan isyarat yang ibu nya berikan.
Setelah itu handphone Darman berbunyi.
Iya langsung melihatnya siapa yang melakukan panggilan telepon kepada nya, dan terlihat namun Ibrahim lah yang melakukan panggilan telepon itu.
Darman segera menerimanya.
"Halo… Im,,,!" Sapa Darman.
"Iya Halo,,, Lo dimana? kok ngilang gitu aja!" Tanya Ibrahim tanpa basa-basi lagi.
"Aku abis membereskan kasus pembakaran rumah Bu Inah, yang didalangi oleh bapak ku sendiri Im!" Jawab Darman.
"Wah GERCEP (gerak cepat) juga ya Lo…!" Sahut Ibrahim.
"Iim gimana kondisi kimora saat ini?" Darman tetap mengkhawatirkan kondisi Kimora.
"Kimora sudah lebih tenang sekarang." Jawab Ibrahim.
"Lalu kapan jenazah tuan Alden akan di bawa ke kota?" Darman kembali bertanya.
"Jenazah…?" gumam Ibrahim.
"Dar,,, lebih baik kamu segera datang ke sini, ada sesuatu yang tidak kamu tau!" Saran dari Ibrahim.
"Apa itu…?" Darman penasaran.
"Udah pokoknya kamu datang aja secepatnya." Ibrahim enggan menjelaskan di telepon.
__ADS_1
"Oke,,, aku akan segera kesana sekarang juga." Darman mengakhiri panggilan teleponnya.
Kemudian Darman pamit kepada ibunya akan pergi ke rumah sakit ingin mendampingi Kimora.
Sesungguhnya Ibu Darman ingin sekali ikut bersama Darman, ia ingin memberikan dukungan kepada Bu Inah dan Kimora.
Tapi keadaan keluarganya sedang kacau balau, istri kedua pak Hasan seratus persen menyalahkan Darman karena telah menjebloskan Pak Hasan kedalam penjara.
Sementara keluarnya memang sangat membutuhkan pak Hasan sebagai kepala keluarga, yang menafkahi keluarganya.
"Bagaimana sekarang nasib ku dan anak-anak ku sementara mereka masih sangat kecil-kecil siapa yang akan memenuhi kebutuhan kami?" Ucap istri kedua pak Hasan, takut hidupnya sengsara, karena tulang punggungnya masuk penjara, otomatis tidak ada yang mencari nafkah untuknya dan anak-anaknya.
"Dah Mak,,, jangan bahas masalah itu sekarang kita pikirkan itu nanti saja." Ucap Darman kepada emaknya ( panggilan Darman kepada istri kedua Pak Hasan).
"Enak dia bisa bilang begitu, lah aku sama anak -anak ku gimana coba kalau sudah kaya begini." Istri kedua Pak Hasan masih saja ngedumel.
Tapi Darman tidak memperhatikannya ia berlaku begitu saja setelah pamit kepada ibunya dan mencium tangannya.
….
Selang beberapa waktu Darman tiba di rumah sakit .
Hatinya merasa ragu untuk masuk dan bertemu dengan kimora, karena rasa bersalahnya, karena perbuatan Bapaknya Kimora harus kehilangan banyak hal.
Kehilangan tempat tinggal, barang - barang berharganya, dan yang paling berat Kimora harus kehilangan suaminya, di malam pengantinnya. Itu penyesalan terdalam bagi Darman.
Sedari dulu Darman selalu berusaha menjaga perasaan Kimora, selalu berusaha membuat Kimora bahagia, bahkan Darman tidak pernah rela jika ada orang yang menyakiti Kimora, tapi kini apa yang terjadi Kimora malah sangat menderita karena ulah Bapaknya sendiri.
Sehingga membuat Darman kehilangan kepercayaan diri, walaupun hanya untuk sekedar menemui Kimora.
Kemudian secara kebetulan Ibrahim melihat Darman sedang mondar mandir di parkiran. Dan Ibrahim menghampirinya.
"Hey cunguk lagi ngapain Lo di sini mondar mandir kaya gosokan!" Ibrahim menyapa.
Tapi Darman tidak menggubrisnya ia tetap terlihat bingung.
"Dah ayok masuk gak usah kebanyakan mikir…!" Ibrahim menarik lengan Darman.
"Tapi tunggu-tunggu Im,,,!" Darman menolak.
"Kenapa, ada apa denganmu?" Ibrahim merasa heran dengan sikap Darman tidak seperti biasanya.
"Aku malu bertemu dengan mereka semua Im, terutama kepada Kimora. Aku tidak tega melihat Kimora seperti itu, aku sungguh merasa sangat bersalah." Darman mengutarakan apa yang mengganjal dalam pikirannya.
"Tapi Dar, Kimora tidak berpikiran seperti itu, dia malah mencari mu sedari tadi, dia sangat mengkhawatirkan mu." Ibrahim mencoba menghibur Darman.
"Jangan mengejekku Im…" Darman terlihat sangat lesu.
"Serius Darman,,, ada yang ingin Kimora ceritakan kepadamu." Ibrahim tetap memaksa Darman untuk masuk dengan menarik lengannya.
Sampai di depan ruang ICU, "ngapain kesini im?" Darman bertanya karena bingung, karena yang ia tahu Bu Inah sudah di ruang rawat, tuan Alden sudah meninggal kalau pun di pindahkan ya ke kamar jenazah, pikir Darman.
"Ya memang disini, tuh Kimora dan tuan Rangga!" Tunjuk Ibrahim ke arah Kimora dan Rangga yang sedang duduk di bangku tunggu.
Kemudian dengan langkah ragu-ragu Darman tetap mendekat ke arah Kimora.
Dan Tiba-tiba, Darman bersimpuh di pangkuan Kimora.
Alangkah terkejutnya kimora menerima perlakuan Darman yang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya.
"Dar,,, ada apa ini?" Kimora bingung.
"Maafkan aku ya Kim,, karena Bapak ku kamu bisa kehilangan segalanya." Ucap Darman.
"Tidak jangan menyalahkan dirimu seperti ini Darman… ini bukan kesalahanmu!" Kimora menenangkan hati Darman.
"Yang terpenting sekarang tuan Alden masih hidup Dar,,, meskipun di bantu dengan alat pernapasan." Kimora memberi tau.
"Apa,,,? jadi tuan Alden tidak meninggal!" Seru Darman merasa lega.
Kimora mengangguk dengan penuh semangat.
"Semoga tuan Alden bisa cepat sadar!" Harapan Kimora.
"Aamiin…!" Sahut Darman dan Ibrahim.
Mereka merasa bahagia melihat kembali senyuman terbit di bibir kimora.
__ADS_1