Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
46. Malam.


__ADS_3

Kimora makin merasa kagum kepada suaminya dalam diam Kimora memperhatikan suaminya.


'Jadi begini cara kerjanya, meskipun terlihat masih sakit, tapi pikiran nya sampai kesitu untuk membantu Darman, dan ide itu dadakan loh! tanpa terencana, tapi sudah tersusun dengan rapi dan dapat di mengerti ' batin kimora mengagumi sosok suaminya.


Begitu juga dengan yang lainnya semua paham dengan apa yang di sampaikan oleh Rangga dan Alden.Terutama para istri pak Hasan.


"Silahkan Darman atau ibu-ibunya, ada yang ingin di sampaikan atau ingin di tanyakan!" kali ini Rangga yang mempersilahkan.


"Silahkan Bu,,,!" Darman malah mempersilahkan Ibu-ibunya terutama istri keduanya.


Tapi istri kedua Pak Hasan malah terlihat malu-malu dan sungkan.


Sebab ia merasa, lebih lega setelah mendengar penjelasan dari Rangga dan Alden, tentang rencana bisnis mereka.


Kemudian Ibu Darman lah yang berbicara, " Sebelum nya saya berterima kasih atas bantuannya,,, saya sungguh mengagumi kemurahan hati tuan-tuan, meskipun sudah dijahati oleh Pak Hasan, tapi anda berdua malah ingin membantu kami sebagai keluarganya." Ucap Ibu Darman.


"Iya, karena kalian tidak ikut terlibat dalam masalah ini, Dan hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu, karena kami pun paham keadaan kalian." Jawab Alden.


Setelah semua pembahasan selesai Ibu-ibu Darman pamit untuk pulang, begitu juga dengan Darman yang ingin mengantarkan keduanya untuk pulang.


Di ikut oleh Ibrahim juga yang ikut pamit untuk pulang, padahal Ibrahim masih ingin berlama-lama di sana berbincang bersama Bu Inah dan kimora kadang sampai larut malam karena keasikan ngobrol seperti yang selalu Ibrahim lakukan dan Darman sedari dulu.


berlama-lama bersantai di teras rumah Bu Inah bersama menikmati malam tak jarang membuat mereka lupa waktu hingga sampai jam dua belas malam.


Tidak jarang Bu Inah pun mengusir Darman dan Ibrahim untuk segera pulang.


Namun kali ini sudah berbeda, Kimora kini sudah berstatus istri orang jadi Ibrahim dan Darman tidak bisa bergaul dengan Kimora seleluasa dulu.


"Kim ... aku pulang dulu ya!" Ibrahim pamit kepada Kimora setelah sebelumnya pamit kepada Bu Inah dan Alden juga Rangga.


"Oo iya,,, terimakasih ya Im atas semuanya." sahut Kimora.


Lalu Kimora mengantar Ibrahim sampai terasa rumah.


Tapi antara Kimora dan Ibrahim terasa sesuai yang canggung tidak seperti biasanya.


Ibrahim menatap Kimora lalu tersenyum, terasa begitu aneh menurut Kimora melihat gelagat Ibrahim.


"Ada apa im...?" Kimora bertanya karena merasa ada yang janggal.


"Tida ada Kim... hanya saja aku tidak pernah menyangka, sekarang kamu sudah jadi istri, dan aku kira salah satu dari ku atau Darman yang akan menjadi suamimu, tapi kenyataannya, tuhan punya rencana lain." ucap Ibrahim terdengar tidak rela.


"Im... kamu lupa perjanjian kita tidak akan ada cinta di antara kita selain persahabatan, jadi memang seharusnya seperti inikan?" Jawab Kimora.


"Iya, Tapi aku dan Darman juga sudah membuat perjanjian, jika kamu memilih salah satu di antara kami, kami akan ikhlas kok...!" Ucap Ibrahim terdengar memaksa.


sehingga Kimora terkekeh mendengar nya, " He,,, he,,, he,,,!"


"Ko kamu malah ketawa kaya gitu? kamu sedang meledek ku ya? tertawa di atas kesengsaraan ku karena patah hati." Tanya Ibrahim dan ucapannya sengaja Ibrahim didramatisir untuk menggoda Kimora agar lebih terhibur.


Sebab sesungguhnya Ibrahim merasa senang melihat kimora tertawa.


"Kamu lucu Im...!" jawab singkat Kimora


"Tuh kan...! kamu jahat ngatain Aku kaya gitu...!" Ibrahim berlaga seakan sedang merajuk.


"Heh,,,! siapa yang ngatain kamu, aku bilang kamu lucu...!" protes Kimora.


"Iya itu, kata lucu...! kan yang lucu itu badut, berarti kamu ngatain aku badut!" Jelas Ibrahim sambil cemberut.


Kimora makin terkekeh mendengarnya, "Ha... ha... ha...!" Kimora tertawa renyah.

__ADS_1


"Eeh berarti kamu banyak pahalanya, karena membuat orang tertawa bahagia itu dapat pahala lo...!" Kimora menimpali.


"Ya terserah deh, yang penting kamu bahagia...!" ketus Ibrahim, Tapi itu hanya pura-pura saja.


Rangga dan Alden ternyata memperhatikan Kimora dengan Ibrahim berbincang bercanda, sampai Kimora tertawa renyah seperti itu, rasanya terlihat aneh.


Sebab selama mereka mengenal Kimora belum pernah melihat kimora tertawa seperti itu malah mereka lebih sering melihat Kimora menangis dari pada tertawa.


Melihat itu Kimora terlihat sangat berbeda. bersama Ibrahim dan Darman Kimora terlihat Santai dan lebih bebas.


Sedangkan dengan Alden dan Rangga, Kimora selalu terlihat canggung dan menjaga jarak.


Ya tentu saja begitu, Dengan Darman dan Ibrahim kimora sudah saling kenal dari kecil, sudah tau segalanya baik buruk, dan kelebihan serta kekurangan masing - masing.


Sedangkan dengan Alden dan Rangga, Kimora belum begitu mengenal di tambah kasta mereka pun berbeda, jadi Kimora belum paham sifat asli mereka masing-masing karena mereka juga adalah atasannya jadi Kimora merasa harus menjaga sikap dan ucapan ketika sedang di hadapan mereka.


Setah cukup lama mereka ( Kimora dan Ibrahim) berbincang, Ibrahim baru menyadari ada dua pasangan mata yang sedang memperhatikannya dengan Kimora, yang tidak lain dan tidak bukan orang itu adalah Rangga dan Alden .


Sehingga Ibrahim merasa tidak enak hati mendapat tatapan mata tajam dari Alden dan Rangga.


Kemudian Ibrahim menyuruh Kimora untuk masuk, " Kim,,, ayo masuk sana, lihat ternyata kita sedang di perhatikan oleh suamimu!" Ibrahim merasa tidak enak hati dan bicara dengan berbisik bahkan ia tidak menggerakkan bibirnya, agar tidak di ketahui Alden yang sedang menatap ke arah mereka.


"Emang iya?" respon kimora.


"Iya Kim,,,!" ucap Ibrahim meyakinkan Kimora.


Kimora ingin menoleh ke arah Alden tapi Ibrahim mencegahnya, "Jangan menoleh Kim,,, pura - pura tidak tau aja...!" karena Alden akan tau kalau mereka menyadari sedang di perhatikan oleh nya.


"Oke,,, sudah sana pulang!" akhirnya Kimora mengusir Ibrahim untuk segera pulang.


"Sombong ya kamu, punya yang baru habis manis sepah di buang." Ibrahim malah menggoda kimora lagi.


"Ya, kalau dah sepah buat apa? ya di buanglah." Kimora menimpali.


"Tapi kamu suka kan...!" Kimora malah menggoda Ibrahim.


"Iya, tapi kamu nya jahat, kaya nenek lampir...!" jawab Ibrahim sambil berlalu pergi meninggalkan Kimora sengaja membuat Kimora kesal.


"Iih kamu curang malah ngatain aku... dasar curut!" pekik Kimora tidak terima.


Ibrahim malah terdengar tertawa, "Ha,,,, ha,,, ha,,,!" Sambil berlalu.


Kimora memasang ekspresi wajah kesal karena Ibrahim berhasil menjahilinya, " Awas ya kamu kalau ketemu nanti~" ancam kimora bicara sendiri.


Kimora lupa kalau ada orang-orang yang sedang memperhatikannya.


ketika Kimora berbalik hendak masuk, barulah Kimora menyadari dua pasangan mata sedang menatap ke arahnya, dengan tatapan tajam. dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Membuat Kimora salah tingkah, dan gugup harus berbuat apa.


Kimora sampai kesulitan menelan Salivanya.


Kemudian dengan ragu Kimora melangkah masuk.


"Tuan...!" dengan tersenyum palsu kimora menyapa Alden dan Rangga.


Rangga membalas senyuman palsu Kimora dengan kembali tersenyum kepada Kimora.


Tapi Alden tetap memasang ekspresi wajah datarnya dan berucap, "Apa...?" membuat Kimora makin panik.


"Y- ya apa?" Sahut Kimora gugup.

__ADS_1


"Sudah aku bilang jangan panggil aku dengan sebutan tuan...!" Alden mengingatkan Kimora.


"Oo... I- itu masalahnya! aku menyapa tuan Rangga ko, iya kan tuan Rangga?" ucap Kimora mencari pembelaan.


"Iya ..." jawab Rangga singkat.


"Oo jadi begini cara kamu memperlakukan suami!" ketus Alden.


'Wah gawat di ngambek ' Kimora bicara dalam hati.


"Maksudnya apa...?" Kimora bertanya pura-pura tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Alden.


"Iya kamu, dengan Ibrahim berbincang seakrab itu, Rangga kamu siap, sedangkan suamimu sendiri kamu cuekin, ini adab seorang istri terhadap suami." terang Alden dengan ketus nya.


'Wah dia cemburu kayanya!' Kimora kembali bicara dalam hati.


Jujur saja Kimora merasa terkejut dengan respon yang di berikan oleh Alden terlalu ketus.


Kimora sampai berkali-kali menelan ludah kasar karena merasa panik.


Tapi ketika melihat ke arah Rangga, Rangga memberikan isyarat untuk Kimora agar bersikap tenang dalam menghadapi emosi Alden.


Kimora berpikir bagaimana cara untuk meredam emosi Alden, dan Kimora pernah beberapa kali melihat cara Rangga meredam emosi Alden yaitu dengan candaan.


Akhirnya Kimora tau cara untuk bersikap.


Kimora menatap Alden, lalu tersenyum.


"Kenapa senyum - senyum kaya gitu?" sergah Alden


"Bikin Aku gak tahan aja pengen~" kemudian gumam Alden.


Kimora malah makin tergoda mendengar gumaman nya.


"Sayang... tapi kamu kan pilihan ku!" sahut Kimora malu - malu mengucapkan nya.


"Jadi...!" Alden meminta Kimora memperjelas ucapannya.


"Ya, jadi aku hanya milikmu...!" jelas Kimora.


Dan kali ini ucap Kimora berhasil menerbitkan sebuah senyuman di wajah tampan Alden.


Membuat Kimora lega melihatnya. Rangga hanya mencibir di belakang Alden.


Karen waktu kini sudah malam sudah waktunya untuk mereka semua beristirahat.


Bu Inah menghampiri mereka dan menyuruhnya mereka semua untuk beristirahat.


"Bu!!!" Seru Kimora.


"Apa..." Sahut ibu dengan nada lembut.


"Aku tidur di mana?" Tanya Kimora berbisik.


"Lah kok kamu nanya nya begitu!" Bu Inah menjawab pertanyaan Kimora dengan nada suara meninggi, sehingga memancing kecurigaan Alden dan Rangga yang mendengarnya.


"Suuut,,, Bu jangan keras- keras!" Kimora memberi kode kepada ibunya untuk memelankan suaranya agar tidak di dengar yang lain.


"Kenapa Kim... Bu ...?" tanya Alden penasaran.


"Eeh nggak ko, gak papa!" Jawab Kimora.

__ADS_1


"Kim... untuk malam ini kamu gak papa tidur bareng ibu aja, biar kamu menja-manjaan sama ibu, soalnya besok kita balik ke kota." Alden memberi kesempatan kepada Kimora untuk bercengkerama bersama ibunya. karena sebentar lagi Kimora akan menjadi milik Alden seutuhnya jika sudah berada di kota.


"Yes... !" gumam kimora bahagia, karena emang itu yang Kimora inginkan.


__ADS_2