Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
55. Menuju Restoran


__ADS_3

Karena merasakan pergerakan dari Alden Kimora pun terbangun dan menyadari sedang di tatap oleh suaminya.


Kimora membuka matanya dan melihat Alden sedang tersenyum sambil terus menatapnya.


Pagi terkeras begitu indah bagi Kimora dan Alden karena mereka sedang di mabuk cinta setelah meneguk manisnya madu cinta.


"Gimana tidur mu sayang? apa tidur mu nyenyak?" tanya Alden ketika melihat Kimora sudah membuat mata dan membalas tatapan dan senyumnya.


Kimora tidak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah bangun?" Kimora malah balik bertanya berbasa - basi.


"Iya aku menunggu mu bangun!" Jawab Alden.


Kimora menautkan alisnya, seakan meminta penjelasan atas ucapan Alden.


Dan Alden pun mengerti dengan mimik muka Kimora yang seperti itu.


"Aku ingin kita mandi bareng!" jawab Alden menjelaskan.


"Apa?" Kimora sepertinya terkejut mendengarnya.


"Kenapa?" Alden malah balik bertanya karena mendengar Kimora memekik.


"Sayang apa kamu ingin ikut mandi sekalian dengan ku?" tanya Alden


"Tidak usah...!" Kimora masih merasa lemas dan masih ingin dalam posisi nya.


"Tapi aku ingin melakukannya bersamamu." Pinta Alden.


Tapi bukannya bangun dari tempat tidurnya, Alden malah memeluk Kimora yang terlihat malas untuk bangun.


Alden malah mengecup kening Kimora, lalu berpindah ke pipi dan bibirnya, Kimora menerima setiap perlakuan Alden dengan pasrah dan menikmatinya.


"Hmmm... jadi ini yang kamu mau." gumam Kimora baru menyadari maksud dari suaminya.


Alden tersenyum mendengarnya, "Iya, aku ingin olahraga dulu sebelum mandi, abis kamu terlalu menggoda bagiku, kamu jadi candu bagiku sekarang." Ucap Alden merayu Kimora.


Jelas Kimora terbuai dengan ucapan Alden dan pasrah dengan apa saja yang Alden lakukan kepada dirinya.


Dan terjadilah adegan semalam, mengawal aktivitas pagi mereka dengan adegan haredang yang mereka ciptakan.


Sampai terjadi pencapaian mereka secara bersamaan.


Setelahnya, Alden menggendong tubuh polos Kimora menuju kamar mandi.


Tanpa aba - aba terlebih dahulu Kimora langsung di pangku oleh Alden sehingga Kimora memekik minta Alden menurunkannya.


"Hey yang,,, apa - apa ini, turunkan aku...!" pekik kimora.


"Jangan jorok ayo mandi dulu... nanti setelah ini kita langsung sarapan aku tau pasti kamu lapar kan?" ucap Alden sambil membopong Kimora.


Setelah di Kamar mandi Alden meletakkan tubuh istrinya di bathub lalu Alden mengguyur tubuh Kimora dengan air shower, kemudian mengeramasinya, dan menyabuninya.


"Yang,,, kenapa harus sampai seperti ini, aku bisa melakukannya sendiri ko!" Kimora merasa malu dan tidak enak hati di perlakukan seperti anak kecil oleh suaminya, sebab Alden memandikan Kimora layaknya seorang ayah sedang memandikan anaknya.


"Udah jangan membantah, aku senang melakukannya." jawab Alden sehingga Kimora tidak dapat berkata-kata lagi.


Tapi saat Alden menyabuninya, Kimora malah sengaja mengusapkan busa sabun di wajah Alden.


"Emh...! nakal ya kamu!" Alden kemudian mengelak agar busa sabun itu tidak mengenai wajahnya.


Tapi Kimora tetap melakukannya, sehingga terjadi candaan di antara mereka.


Mereka berdua malah bermain busa dan air, saling mengusapkan busa ke wajah masing - masing saling mencipratkan dan menyiramkan air.


Sehingga ritual mandi mereka menjadi penuh canda, tawa, dan menghabiskan waktu yang cukup lama.


Sampai terdengar suara, perut keroncong yang berasal dari perut Kimora.


"Kruwek... " tiba-tiba suara itu terdengar.


Seketika itu mereka menghentikan aksi mereka yang sedang bercanda gurau, mereka saling memaku untuk menyadari suara itu berasal dari perut siapa.

__ADS_1


Dan ternyata suara itu berasal dari perut Kimora.


Kimora langsung tertunduk malu, karena ketauan perutnya keroncongan.


Kimora langsung tertunduk malu, karena ketahuan perutnya keroncongan.


tapi Alden malah tersenyum melihat kimora seperti itu, “hey… ada yang keroncongan rupanya ?” Alden malah menggoda kimora.


Kimora semakin tertunduk malu sambil tersenyum, dengan wajah yang makin memerah, membuat alden begitu gemas melihatnya.


“Ya udah ayo sayang selesaikan mandinya kita akan sarapan.” perintah Alden sambil mengguyur tubuh kimora.


Setelah kimora selesai, alden mengelap tubuhnya, lalu   memakaikan jubah mandi.


“Udah sayang! kamu tunggu diluar ya!” perintah Alden lagi.


Sementara dirinya melanjutkan kegiatan mandinya membersihkan dirinya.


Kini Kimora merasa sudah biasa terlihat tubuh polosnya oleh Alden sehingga saat alden memperlakukan nya seperti tadi ia sudah tida terlihat gugup bahkan Kimora malah yang menggoda Alden sampai terjadinya canda tawa di kegiatan mandi bersama mereka.


Setelah selesai alden keluar dari kamar mandi dan melihat kimora sudah berpakaian rapih dan sedang mengulas wajah nya dengan makeup natural, namun mampu membuat kimora makin cantik dan anggun.


Alden pun segera mengenakan pakaiannya yang sempat ia pesan sebelumnya, dari butik ternama nya, Alden segera bersiap untuk sarapan di restoran hotel.


Setelah Alden bersiap ia segera menghampiri kimora yang masih duduk di depan cermin.


“Sayang… apa kaku sudah siap?” tanya alden setelah berada di hadapan kimora.


Kimora memang sudah selesai bermakeup tapi kimora terlihat enggan beranjak dari tempat duduknya.


“Ayo sayang kita turun!” ajak Alden sambil menarik tangan kimora agar beranjak dari duduknya.


Setelah Kimora bangkit dan berdiri berhadapan dengannya, Alden menarik pinggang ramping kimora dan melingkarkan tangannya di sana. 


Kimora membalas perlakuan Alden dengan ikut mengalungkan tangannya di leher Alden. 


Merek saling bertatapan, “Ya tuhan sayang mengapa dirimu begitu menggoda.” ucap Alden hendak mengecup bibir kimora. 


Namun kimora menahannya dengan meletakkan telunjuknya di bibir Alden.


Ya kimora berhasil menghentikan aksi Alden yang ingin kembali mencumbunya.


“Ya oke…!” ucap alden sambil tersenyum.


Kemudian Alden menggandeng tangan kimora untuk segera turun.


Tapi kimora terlihat menahan sesuatu ketika berjalan.


“Kenapa sayang, apa kamu sakit?” tanya alden ketika menyadari ada yang aneh dengan kimora.


“Ya, sebenarnya aku merasa sangat lemas sekali tubuhku terasa nyeri semua dan di bawah sana terasa ada yang mengganjal membuatku tidak nyaman saat berjalan.” keluh kimora.


Alden merasa terkejut mendengarnya dan merasa bersalah mengapa kimora seperti itu, sudah pasti karena ulahnya, pikir Alden.


“Sayang kenapa kamu tidak bilang dari tadi, jika aku tau seperti itu kita tidak usah turun untuk sarapan.” ucap Alden mengkhawatirkan kondisi kimora.


“Tapi tida apa - apa kok aku masih bisa berjalan!” ucap kimora.


“Ya, sudah sini aku gendong kita balik lagi ke kamar.” Alden mengajak Kimora untuk kembali ke kamar hotel karen saat ini mereka sedang berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar sebab restoran terdapat di lantai dasar.


“Tida usah yang… kita sudah hampir sampai di lantai dasar, kalau balik lagi malah membuang waktu, aku sudah lapar sekali.” Kimora enggan kembali.


Alden memahaminya dan mengikuti apa yang kimora mau.


“Apa kita perlu ke dokter sayang?” tanya Alden memastikan.


“Tidak usah mungkin aku hanya perlu istirahat saja.” jawab kimora.


“ Kamu yakin sayang?”


“Ya ….” jawab kimora singkat.


Dan tidak lama pintu lift terbuka, itu artinya mereka sudah sampai di lantai bawah.

__ADS_1


Namun kebetulan sekali mereka berpapasan dengan Rangga yang hendak naik kelantai atas untuk menemui mereka.


“Kalian…!” seru Rangga ketika melihat Alden dan Kimora.


“Kamu Ga…!” seru alden santai.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini~” ucap rangga tapi terhenti karena tidak mendapat respon dari orang yang ia ajak bicara, karena Alden tidak menggubris Rangga dan tetap berjalan menuju tempat restoran.


“Hey… sialan aku malah di kacangin, mentang - mentang pengantin baru!” seru rangga kesal, lalu mengejar Alden dan Kimora yang sudah berada agak jauh darinya.


“Alden tunggu… ada yang ingin saya sampaikan mengenai suatu hal!” seru Rangga lagi.


Mendengar seruan Rangga, Kimora menahan langkahnya untuk menunggu Rangga yang mengejar merek. dan otomatis Alden pun terhenti karen alden berjalan sambil merangkul pundak kimora.


“Tunggu yang! tuan Rangga memanggilmu.” ucap kimora menghentikan langkah Alden.


“Sudah biarkan saja, siapa suruh dia datang mengganggu.” Alden enggan menunggu.


“Kenapa tidak sopan sekali? ada orang yang ingin bicara pada kita malah tida di anggap.” ucapan Kimora terdengar kesal.


“Oke…” kemudian Alden mengiyakan ucapan kimora sambil menghentikan langkahnya.


Dan kemudian Rangga sudah bisa menyusul mereka dan kini sudah berhadapan dengan Alden dan Kimora.


“Sialan kamu,,, belagu banget sih jadi orang.” umpat Rangga kepada Alden, karen Alden tidak menggubrisnya.


“Kenapa sih… apa tidak bisa sehari saja kamu tidak mengganggu ku, aku kan pengantin baru aku sedang bulan madu jadi jangan menggangguku apa pun alasannya.” Alden mengingatkan Rangga.


“Ya aku tau itu~” kembali terhenti karen Alden kembali berjalan.


Lalu Rangga hanya bisa mengikutinya dari belakang.


“Istri ku sudah sangat lapar, jadi kami harus segera sarapan.” Alden berbicara memberitahu Rangga mengapa ia tetap berjalan ketika Rangga mengajaknya bicara.


Rangga tau kenapa Alden bersikap demikian pasti memang karena ada alasannya, dan setelah mendengar ucapan Alden yang baru saja Alden katakan Rangga jadi mengerti apa alasannya mengapa Alden bersikap begitu.


Kini mereka sudah memasuki restoran Alden segera mencari tempat duduk dan mempersilahkan Kimora untuk duduk.


“Silahkan sayang!”


Kemudian Kimora pun langsung duduk, lalu diikuti oleh Alden dan Rangga.


Pelayan segera datang menghampiri mereka dan menyodorkan buku menu kepada mereka.


Alden dan Kimora memilih menu sarapan secara bersamaan. sementara Rangga hanya menatap mereka berdua.


Setelah Alden selesai memilih, Alden menyodorkan buku menu itu kepada Rangga agar Rangga ikut memesan makanan.


Rangga menolak, “tidak usah aku sudah sarapan.” tolak Rangga.


Tapi Alden memaksanya, “Jangan merendahkan image ku, nanti apa kata orang melihat ku dan istri ku makan sedangkan kamu cuma menonton, di pikir orang aku orang pelit nanti, lagian emang enak apa makan dilihatin sama orang?” ucap Alden memaksa agar Rangga mau memesan makan.


"Oke...” akhirnya Rangga mengiyakan ucapan Alden , dan memesan teh dan cemilan.


“Ah sok jual mahal lu…” ucap Alden  


“Eeh kamu yang memaksa ya!” Rangga tidak mau kalah.


Dan seperti biasa pertemuan mereka selalu dihiasi perdebatan yang tidak penting.


“Kalin tuh kayak anak kecil selalu seperti ini, saling menghujat tapi juga saling membutuhkan.” ucap Kimora yang merasa jengah melihat perdebatan mereka.


“Siapa juga yang membutuhkan dia, ada juga dia yang membutuhkan ku.” sangkal Rangga. dan memang seperti itu Alden yang lebih membutuhkan Rangga untuk membantunya menghandle semua pekerjaan di saat Alden merasa keteteran.


“Lu juga butuh duit ku!” Alden tetap tidak mau kalah.


“Terserahlah…” rangga mengalah ingin mengakhiri perdebatan.


  


 


  

__ADS_1


 


__ADS_2