
Hari ini, Kimora ingin berkunjung menemui Sinta dan Feby.
Kimora meminta izin kepada Alden, agar mengizinkan nya untuk menemui Sinta dan Feby.
Awal Alden tidak memberikan izin karena merasa itu tidak penting bagi Alden, tapi kimora tetap memohon dan merayunya, sampai akhirnya Alden pun luluh dan mengizinkannya, tapi dengan syarat dirinya yang mengantarkan nya.
Kimora tidak keberadaan ia malah merasa senang, karena suaminya mau mengikuti kemauannya.
Sesampainya di kantor polisi, kimora dan Alden langsung menemui petugas dan mengutarakan apa maksud tujuan mereka datang ke sana.
Petugas segera mengantarkan Kimora untuk menemui Sinta dan Febby ke ruangan khusus.
Tapi Kimora meminta agar Alden tidak ikut dengannya, Kimora meminta Alden tetap menunggu di luar ruangan, Kimora ingin bicara dengan Sinta dan Feby, Kimora ingin tau apa tanggapan dan reaksi Sinta dan Feby ketika tau Kimora lah orang yang menemuinya.
Tapi Alden menolak untuk menunggu di luar, Alden tidak ingin hal yang tidak di inginkan kembali terjadi kepada Kimora, mengingat apa yang telah mereka berdua lakukan kepada Kimora.
"Tenang yang, di sana ada ibu polwan yang akan mendampingiku, jadi mbak Sinta dan mbak Feby tidak akan berani berbuat macam-macam, apalagi menyakiti ku." Kimora berusaha meyakinkan Aldan agar tidak khawatir kepadanya.
"Baiklah,,, tapi jika mereka berbuat macam-macam kepadamu, jangan diam saja lawan mereka siapapun orang yang menyakitimu termasuk aku." Alden tidak ingin Kimora terus-terusan tertindas.
Kimora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Iya .." jawab Kimora singkat.
"Oke…" kemudian sahut Alden terlihat lebih tenang.
Kimora segera masuk ke ruangan khusus untuk menemui para tahanan, dan tidak lama polwan yang tadi menemani Kimora sempat pergi untuk menjemput dan memberi tau Sinta dan Feby yang sedang di ruangan tahanan, kini sudah kembali dengan di ikut oleh Sinta dan Feby.
Kimora yang baru saja duduk di sana, seketika bangun dari tempat duduk nya untuk menyambut kedatangan Sinta dan Feby.
"Kimora…!" seru Sinta dan Feby sedikit terkejut melihat ternyata Kimora lah orang yang datang menemui mereka.
Karena mereka pikir orang yang datang adalah Rangga, karena sejak pertama mereka di sana Rangga yang lebih sering menemui mereka untuk membicarakan kasus yang akan mereka hadapi.
__ADS_1
Kemudian Sinta dan Feby duduk di tempat di depan Kimora namun terhalang sebuah meja yang menyeka jarak antara mereka.
Setelah melihat keduanya duduk, Kimora lalu ikut duduk.
"Ada apa Kimora kamu datang menemui Kami?" Tanya Sinta tanpa basa-basi lagi.
Kimora tersenyum melihat mereka, tapi Kimora tidak menjawab pertanyaan Sinta melainkan malah bertanya kabar mereka.
"Apa kabar Mbak?" Tanya Kimora.
Mereka malah tersenyum sinis mendengar pertanyaan Kimora.
"Ya, sebaik-baik nya orang tinggal di bui tidak akan sebaik hidup bebas Kimora." Jawab Sinta sinis.
"Maaf kan aku, karena aku kalian harus mengalami hal seperti ini, aku sungguh menyesalinya." ucapan Kimora seperti sebuah tamparan bagi mereka.
Terutama Feby, yang memang dari awal sangat menyesali perbuatannya.
Karena kelakuan tidak berakhlaknya ia sampai harus kehilangan segalanya, terutama karirnya yang selama ini ia banggakan bekerja menjadi staf di perusahaan besar, dan juga punya penghasilan besar, karenanya ia yang sebagi tulang punggung keluarganya jadi bisa memenuhi kebutuhan seluruh keluarga.
Itulah mengapa Feby merasa sangat menyesal.
Feby bangkit dari duduknya lalu menghampiri Kimora kemudian bersujud di pangkuan Kimora.
Kimora begitu terkejut dengan perlakuan Feby yang tiba-tiba seperti itu kepadanya.
"Kimora,,, mohon ampuni aku, tolong maafkan aku atas segala tindakan ku kepada mu, aku sungguh sangat menyesalinya, hiks… hiks… hiks!" Ucap Feby sambil terisak penuh penyesalan.
"Mbak Feby! Tidak usah berlebihan seperti ini, duduk lah kita bicarakan ini secara baik-baik." Kimora merasa tidak enak hati dan berusaha untuk membangunkan Feby dari posisi berlutut di pangkuan Kimora.
Kini Feby telah duduk di samping Kimora dengan terus terisak, Karena ia benar-benar menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Kimora mulai berbicara apa maksud tujuannya.
"Sesungguhnya aku memang tidak tega melihat kalian berdua harus berada di tempat ini, tapi mengingat perbuatan kalian berdua aku pun memaklumi tindakan tuan Rangga dan juga tuan Alden yang sangat bijaksana terhadap para karyawannya, karena meskipun bukan aku orang yang kalian perlakuan buruk seperti itu, tuan Rangga dan tuan Alden pasti tetap akan melakukan hal yang sama untuk membela orang yang tertindas, tanpa alasan yang jelas dan tanpa melakukan kesalahan dalam pekerjaan di perlakukan buruk seperti itu." Terang Kimora.
Dan Feby semakin terisak karena apa yang dikatakan Kimora tentang Alden dan Rangga itu benar semua, mereka memang anti kekerasan.
"Hiks… hiks… Kimora aku mengaku salah, siap tidak siap aku memang harus menerima konsekuensinya ( Feby makin pilu) dan perlu kamu ketahui aku memang sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah aku lakukan kepada mu, aku sudah kehilangan segalanya Kimora hiks… hiks…!" Tangis penyesalan Feby.
Kimora merasa tidak tega melihatnya, lalu Kimora memeluknya, "Maafkan aku mbak, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa semua sudah ditangani oleh tuan Rangga atas perintah tuan Alden, dan kalian juga tahu kan perintah tuan Alden adalah hukuman bagi orang yang menerima perintah dari nya, jika sudah seperti maka sudah tidak bisa diganggu gugat lagi." Tegas Kimora.
"Ya aku tau itu… dan aku sudah ikhlas dan pasrah asal kamu mau memaafkan ku." ucap Feby tulus dengan nada suara yang tenang.
Kimora hanya mengangguk mengiyakan ucapan Feby.
Kemudian Kimora pamit untuk pergi, karena Bu polisi pun sudah mengingatkan bawa waktu kunjungan telah habis.
Tapi saat Kimora, berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu tiba-tiba Sinta menghentikan langkahnya.
"Kimora tunggu!" Seru Sinta.
Seketika itu Kimora terhenti lalu berbalik ke arah Sinta.
"Iya…!" sahut Kimora.
Sinta meminta izin kepada Bu polisi untuk menghampiri Kimora dan meminta waktu sebentar lagi, polisi wanita ini pun mengizinkan nya.
Senta segera mendekat ke arah Kimora, dan dengan tiba-tiba memeluk Kimora.
"Maafkan aku Kimora, sesungguhnya dari pertama aku mendengar suaramu aku sungguh menyukaimu, apa lagi ketika berhadapan langsung dengan mu aku sungguh mengagumi mu, tapi bodohnya aku karena ego ku, aku dikuasai rasa cemburu sosial, sehingga membuatku sampai tega untuk menyakitimu." Sinta pun menyesali perbuatannya.
Awalnya Kimora merasa cemas dan takut karena Sinta menghentikannya dan menghampirinya, apalagi ketika tiba-tiba Sinta memeluk nya, kimora begitu tegang, karena masih ada rasa trauma di dalam dirinya.
__ADS_1
Tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sinta tentang permohonan maafnya dan penyesalannya, Kimora merasa lebih tenang dan bisa bernafas lega, "Huh…" gumam Kimora sambil membuang nafas lega.
Kimora juga sudah memaafkan semua perbuatan mereka, dan ia pun merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada mereka, lalu Kimora pun balik meminta maaf kepada keduanya.