
Alden melihat perhatian yang diberikan Rangga kepada Kimora.
Tentu saja Alden tidak suka melihatnya.
…
"Ya Kimora jika kamu merasa tidak enak badan, lebih baik kamu pulang saja dan beristirahatlah." Tapi Alden setuju dengan pendapat Rangga, tidak mau kalah untuk memberi perhatian kepada kimora.
Tentu saja kimora menolak, karena dia merasa tidak enak hati harus pulang di jam kerja, sedangkan ini hari pertama ia masuk kerja.
"Tidak tuan saya tidak apa-apa kok saya siap untuk bekerja!" Tegas kimora.
"Tadi anda bilang ada tugas untuk saya, apa tugasnya tuan?" lalu Kimora bertanya.
"Kamu beneran gak papa?" Alden malah balik bertanya untuk memastikan keadaan kimora.
"Iya tuan, saya baik - baik saja!" Tegas kimora lagi.
"Lihat jadwal ku hari ini setelah makan siang…!" Perintah Alden.
"Baik tuan." Jawab kimora patuh, ia segera melihat jadwal Alden di handphonenya karena kemarin Sinta telah memberitahukan semuanya, kepada kimora dan telah Kimora catat di handphone miliknya.
"Selepas makan siang anda ada pertemuan dengan klien, di cafe kafa Senayan." Kimora memberi tau .
"Oke kita berangkat sekarang…!" Seru Alden penuh semangat.
Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya berniat segera pergi.
Namun kimora dan Rangga hanya saling menatap bingung, bahkan mereka berdua tidak bergeming dari posisi mereka.
Alden yang sudah melangkah kembali menoleh ke arah dua orang di belakangnya.
Lalu Alden menatap Kimora yang masih mamaku.
"Kimora Ayo cepat kita pergi, untuk makan siang terlebih dahulu, agar nanti saat berdiskusi dengan klien kita bisa fokus dengan pembahasannya." Ucap Alden, Agar kimora bergegas dan menerangkan apa alasannya.
"Saya tuan,,, !" Tunjukkan kimora pada dirinya sendiri.
Kimora merasa tidak yakin di hari pertamanya bekerja sudah diajak makan siang oleh bosnya.
Tapi bukannya merasa senang Kimora malah merasa tidak enak hati kepada karyawan yang lain bisa tambah iri saja mereka kepada Kimora jika melihat dan tahu Kimora akan makan siang bersama atasannya.
Terlihat ekspresi wajah Kimora sangat tegang, membuat Alden bingung melihatnya, harusnya Kimora terlihat senang dan bahagia seperti karyawan lain jika diajak makan bersamanya.
'gadis ini memang beda dari yang lain membuatku makin penasaran.' batin Alden.
" Kenapa kamu diam saja kimora?" Tanya Alden kepada Kimora.
__ADS_1
Kemudian Kimora menatap Rangga seakan meminta dukungan.
Karena kimora merasa minder jika harus pergi makan siang dengan bosnya itu.
Belum lagi nanti mulut - mulut netizen, pasti akan menghujatnya.
Tanpa Kimora berkata apapun, dan hanya melihat ekspresi wajah Kimora, Rangga mengerti apa yang di pikiran oleh Kimora.
"Kamu tenang saja kimora, ini memang sudah menjadi tugasmu mengikuti kemana bosmu pergi terkait masalah pekerjaan." ucap Rangga yang seakan tau isi hati kimora.
"Ayo sana pergi temani bosmu, tapi siapkan dulu semuanya untuk persiapan, apa saja yang nanti akan diperlukan saat membahas pekerjaan nanti, atau dalam membahas tentang kerjasama, ingat tugasmu harus mencatat poin - poin penting dalam pembahasan tersebut." Rangga menerangkan apa saja yang harus kimora lakukan.
"Oo jadi aku tidak bisa menolak?" ucapan itu yang malah keluar dari mulut kimora.
Rangga menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa memang kimora tidak bisa untuk menolak.
"Karena ini memang tugasmu." Tegas Rangga.
Dengan ragu kimora mengangguk, kimora paham ini memang tugasnya.
Tapi kimora merasa tidak enak hati kepada karyawan di sana.
"Sebentar tuan saya persiapkan dulu semuanya." Kimora meminta izin. Agar Alden mau menunggunya.
"Oke.." Jawab Alden singkat.
Setelah beberapa menit Kimora telah siap dengan menenteng tas berisi kan berbagai keperluan untuk nanti saat pertemuan.
"Baik tuan semua telah siap."
"Oke, ayo kita pergi!" Seru Alden.
"Tuan Rangga apa anda tidak ikut?" Tanya Kimora karena Rangga masih saja anteng duduk di sofa.
"Tidak, aku ada urusan lain." Jawab Rangga dan memang ada urusan lain yang harus Rangga urus.
"Tapi ini kan hanya makan siang biasa tanpa klien, bertemu klien pun selepas makan siang." gumam Kimora ragu.
Jujur saja Kimora merasa canggung kalau harus makan siang berduaan saja dengan Alden.
Dan mendengar gumaman Kimora, Rangga mengerti apa yang kimora pikirkan dan rasakan.
"Oke kalau kamu memaksa, aku ikut dengan kalian." Kemudian Rangga mengikuti kemauan Kimora meskipun tanpa kimora ucapkan.
Terbitlah seulas senyum di bibir Kimora.
"Hey,,, aku tidak mengajakmu!" Seru Alden lesu.
__ADS_1
"Tapi Kimora ingin aku ikut." Sahut Rangga.
"Ya sudahlah terserah…!" Alden mengalah.
Kemudian mereka bertiga bergegas keluar dari ruangan, berjalan melewati semua karyawan dan semua karyawan pun menyapa dan membungkuk hormat kepada mereka termasuk Sinta.
Kimora merasa sangat minder ketika melihat semua orang membungkuk hormat ke arahnya, meskipun bukan menghormatinya melainkan menghormati dua pria tampan yang sedang berjalan bersamanya.
Semua karyawan pun menatap Kimora dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sebab Kimora berjalan diapit dua pria tampan petinggi perusahaan.
"Gila anak baru itu…"
"Hebat ya dia…?"
(...)
(...)
Semua karyawan bergunjing membicarakan kimora. Terlebih Sinta seperti kebakaran jenggot melihat momen itu.
"Kurang ajar, anak baru itu benar - benar di sengaja, dia pikir dia hebat." gumam sinta,
"Lihat saja nanti, aku akan buat perhitungan dengan nya" lanjut Sinta lagi.
Sinta benar-benar menganggap Kimora saingan beratnya, karena sedari awal Sinta bekerja di sana ia sangat menyukai Alden dan Rangga berharap salah satu diantara mereka bisa menyukainya, namun pada kenyataannya dua pria tampan itu tidak pernah menganggapnya sama sekali. Itulah mengapa Sinta begitu marah, panas hati, kecewa, dan cemburu melihat Kimora anak baru bisa dengan mudah menaklukkan dua petinggi perusahaan yang menjadi idola seluruh karyawan.
Kimora bersama Alden dan juga Rangga langsung masuk ke dalam lift yang dikhususkan untuk petinggi perusahaan khususnya Alden sebagai CEO.
Kimora tidak merasa bangga sama sekali akan hal itu, melainkan ia malah merasa takut setelah ini dia akan dihujat oleh seluruh karyawan karena Kimora tahu semua karyawan pasti akan menggunjingnya karena di hari pertama bekerja Kimora sudah diajak makan siang bersama petinggi perusahaan.
Kimora juga melihat tatapan sinis dari mereka kepadanya sudah tentu kimora berpikiran mereka tidak suka kepada dirinya.
Saat keluar dari lift khusus Kimora dan dua petinggi perusahaan, di saat yang bersamaan juga Diki dan Anggi keluar dari lift yang berbeda.
Tentu saja Diki dan Anggi melihat hal itu.
"Lihatlah! itu karyawan baru yang aku ceritakan padamu." Tunjukkan Anggi ke arah Kimora memberi tau Diki.
"Oo dia rupanya, pantas saja... ternyata dia sangat cantik, terlihat beda dari gadis - gadis pada umumnya." Diki menilai Kimora.
"Apa…?" Pekik Anggi mendengar apa yang diucapkan oleh Diki.
"Kamu memujinya!" Anggi tidak suka mendengar hal itu.
Diki gelagapan karena secara tidak sadar ia memang memuji Kimora di depan Anggi yang jelas-jelas tidak menyukai kimora.
__ADS_1