
Apa yang Kimora rasakan? ini kali pertama kimora dalam posisi seperti itu dengan seorang pria.
Di dada kimora seperti sedang ada pesta kembang api, begitu ramai penuh debaran tidak karuan.
Dan ternyata apa yang kimora rasakan, Di rasakan juga oleh Alden, darah serasa mendesir, jantung berdebar kencang.
....
Dan hanya ada keheningan di antara keduanya.
Sebagai seorang pria normal hasrat Alden tidak terkontrol ia begitu ingin mencumbu Kimora.
Dari awal kebersamaan mereka memang sudah beberapa kali melakukan ciuman namun kali ini rasanya berbeda debaran jantung, desiran darah penuh gairah.
Ingin sekali Alden mencumbu Kimora kala itu, tapi rasanya tidak mungkin, posisi mereka sedang berada di dapur dan waktu sebentar lagi subuh.
Alden merangkul pinggang ramping Kimora, seperti yang di lakukan Kimora kepadanya kini mereka saling berpelukan, bahkan Alden memper kuat pelukannya.
"Sayang,,,!" gumam Alden
"Iya..." Sahut Kimora.
"Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Alden
"Iya jantung ku berdebar kencang...!" jawab Kimora polos.
Alden tersenyum mendengarnya...
"Kenapa...?" tanya Kimora.
"Aku ada yang menegang... rasanya sakit sekali...!" ucap Alden, dan berhasil membuat Kimora panik.
"Apa yang sakit, sebelah mana... apa aku menyakitimu." Kimora sampai memberondong Alden dengan pertanyaan.
Tapi apa yang di lakukan oleh Alden, dia malah cengengesan.
"Ko kamu gitu sih, aku beneran khawatir sama kamu..." Kimora merajuk dia merasa sedang dijahili.
"Kamu beneran mau tau apa yang membuat ku sakit dan sebelah mana yang sakit." Tanya Alden.
Kimora mengangguk, sebagai jawaban iya.
"Beneran?" Alden bertanya untuk meyakinkan jawaban kimora
"Beneran..." Tegas Kimora.
"Tapi janji jangan kaget ya...?" Alden memberi peringatan, karena Alden yakin Kimora masih polos dan akan terkejut jika Alden memberi tau yang sebenarnya, tentang anunya Alden yang menegang.
Tapi Alden memang harus berterus terang agar Kimora tau dan mengerti apa yang Alden rasakan, agar ada pengertian darinya, dan memang sudah seharusnya seperti itu.
Mendengar peringatan dari Aldan Kimora makin penasaran, mengapa Alden sampai memberi peringatan agar dirinya tidak kaget.
"Kenapa aku harus kaget." tanya Kimora bingung dengan peringatan yang Alden berikan.
Alden pun sebenarnya masih ragu untuk mengatakannya.
Tapi Alden menarik tangan Kimora dan mengarahkan nya ke junior miliknya, yang sudah mengeras.
Tangan Kimora menyentuh sesuatu yang menonjol dan keras, ia memang terkejut di buat nya.
"Apa ini, ko menonjol dan keras, penyakit apa ini... apa ini tumor?" pertanyaan Kimora benar - benar polos.
Alden langsung menutup mulut Kimora dengan telapak tangannya.
"Suut jangan keras - keras nanti didengar orang malu!" Alden bicara dengan berbisik di telinga kimora.
Kini Kimora dalam mode loding mencoba mencerna apa yang di maksud oleh Alden sebenarnya.
"Ini yang membuat ku sakit dan itu karena mu?" Kemudian ucap Alden.
Dan berhasil membuat Kimora makin bingung.
"Karena aku,,," ucap Kimora mengulang apa yang di ucapkan oleh Alden.
"Iya sayang..." jawab Alden Sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kimora.
Lalu mengecup sekilas bibir istrinya,
Kimora hanya bisa diam diperlakukan lembut oleh suaminya.
__ADS_1
karena tidak mendapatkan perlawanan dari Kimora, Alden kembali mengulanginya berkali-kali.
Alden juga mengarahkan kembali tangan Kimora untuk menyentuh anunya, tapi masih terhalang celana yang Alden kenakan.
Semakin lama Alden semakin kuat mengecup bibir Kimora, sampai menghisap dan mel....tanya, membuat Kimora makin terbawa suasana, dan makin terangsang apa lagi kini tangan Alden sudah liar menyentuh bagian luar gunung kembar Kimora, yang terasa elastis.
Saat keduanya sudah terbakar panasnya nafsu yang menggebu.
Tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang, menandakan waktu subuh telah tiba.
Seketika itu Kimora mendorong tubuh Alden untuk menghentikan aksinya.
"Sudah azan tuan!" seru Kimora, dengan wajah yang ia rapikan, bersemu merah, dan nafas yang masih terengah - engah.
"Iya..." Jawab singkat Alden, terdengar nada kekecewaan, tapi Alden mengerti mereka tidak bisa meneruskan aksinya.
Tidak lama Ibu keluar dari kamarnya, menuju kamar mandi.
Namun di arah sana tepatnya di dapur, Terlihat Kimora dan Alden sedang duduk berdua.
Bu Inah pun menegur keduanya.
"Kim...! Nak Al...!" sapa Bu Inah.
"Iya Bu...!" sahut keduanya.
"Kalian tidak tidur?" Kemudian tanya Bu Inah lagi.
"Tidak Bu...! kami tidak ngantuk!" Jawab Alden.
Tapi ibu Inah melihat gelagat Kimora begitu aneh, terlihat Kimora seperti salah tingkah saat ibunya menegur mereka.
"Kim...!" Seru ibunya lagi.
"I- Iya Bu...!" sahut Kimora gugup.
"Kamu kenapa...?" Tanya ibu merasa heran melihat tingkah laku Kimora yang tidak biasanya.
"A- aku, aku kenapa Bu?" Kimora balik bertanya mengapa Ibunya bertanya seperti itu.
"Kamu terlihat tidak baik - baik saja!" ucap ibu.
"A- aku baik - baik aja ko Bu!" Kimora masih gugup.
"Ya, syukurlah kalau begitu ayo bersihkan dirimu, Ambi wudhu kita salat subuh!" ajak ibu Inah kepada putrinya.
"Iya Bu Ayo!" Kimora patuh lalu beranjak dari duduknya.
"Yang... aku tinggal dulu ya!" Kimora pamit.
Alden mengangguk, " Iya..!" jawabnya.
Kemudian Bu Inah pun berbicara kepada Alden jika ingin salat Alden bisa salat di kamar atau bisa ke mushola, karena mushola memang dekat dari rumah Bu Inah.
"Iya Bu, aku salat di rumah aja." jawab Alden.
"Oo baiklah jika begitu, ibu Ambil wudhu dulu ya.' Bu Inah pamit meninggalkan Alden, untuk segera menunaikan ibadahnya.
Ketika itu kimora keluar dari kamar mandi sudah membersihkan diri, dan sudah siap untuk salat.
Kimora berlalu begitu saja tanpa melihat kearah Alden yang menatapnya. karena Kimora merasa malu atas apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Aldan sebelumnya.
"Idih...! sombongnya..." sindir Alden menggoda Kimora merasa di cuekin oleh istrinya.
Mendengar sindiran dari suaminya Kimora berbalik dan tersenyum simpul dengan wajah berona merah Kimora benar - benar merasa malu.
Alden pun begitu gemes melihat istrinya yang malu - malu tapi mau.
...
Kini suasana sudah terang matahari sudah mulai menampakkan diri, namun Kimora dan Alden masih terlelap di kamar yang berada.
Karena setelah salat subuh mereka malah di kuasai rasa kantuk yang luar biasa, dan memilih untuk tidur dari pada di paksakan tetap terjaga akan menggangu kesehatan mereka juga.
Sedangkan Bu Inah dan Rangga sempat terlelap semalam, sehingga ketika bangun merek merasa lebih segar dan siap untuk beraktivitas.
Setelah salat subuh Bu Inah bergegas pergi ke dapur untuk memanaskan air mengisi termos untuk membuat kopi lalu membuat cemilan untuk teman ngopi nanti.
Lalu Rangga menghampiri Bu Inah.
__ADS_1
"Ibu sedang apa?" tanya Rangga.
"Eeh nak Rangga!" Bu Inah sedikit terkejut menyadari kehadiran Rangga di dapur.
"Ibu sedang merebus air nak! untuk membuat kopi." Bu Inah menjawab pertanyaan Rangga.
" Oo..." jawab Rangga singkat.
"Kimora kemana Bu?" Kemudian Rangga bertanya menanyakan keberadaan Kimora.
"Dia tidur nak... sepertinya dia semalam tidak tidur." Bu Inah memberi tau.
"Kalau nak Alden kemana?" Bu Inah balik bertanya.
"Dia juga tidur Bu... sepertinya mereka berdua asik ngobrol jadi tidak tidur semalam." Terang Rangga.
"Dasar pasangan aneh harusnya mereka tidur bersama ini malah terpisah seperti itu." Bu Inah merasa heran.
Rangga hanya tersenyum getir mendengar ucapan Bu Inah, ada rasa tidak rela di hari Rangga.
"Nak Rangga mau minum kopi apa teh biar ibu buatkan!" tawaran Bu Inah.
"Nanti saja Bu!"ucap Rangga menolak.
"Abis ini, ibu mau ke pasar mau beli lauk untuk makan nanti." Bu Inah memberi tau rencananya.
Rangga begitu antusias mendengar Bu Inah ingin pergi ke pasar.
"Apa saya boleh ikut Bu?" Tanya Rangga ingin ikut.
"Buat apa?" Bu Inah merasa heran.
Rangga kan seorang pria yang moderen orang kota pikir Bu Inah.
"Ya saya ingin pergi saja bersama ibu, lagi jenuh nungguin orang - orang yang sedang tidur." Alasan Rangga.
"lbu ke pasar mau naik apa?" Kemudian tanya Rangga penasaran.
"Ibu bisa naik angkot atau numpang mobil pick up yang mau pergi ke sana, atau juga minta Darman dan Ibrahim untuk mengantarkan ibu." Jelas Bu Inah.
"Udah sekarang biar saya yang antar ibu pergi ke pasar ya Bu..!" Rangga tetep memaksa.
"Terus kamu di pasar mau ngapain, di sana bau dan kotor." Bu Inah tetap merasa tidak enak hati.
"Gak pa-pa Bu..!" Rangga kukuh.
"Ya sudah terserah kalau begitu." Bu Inah akhirnya mengalah dan mengizinkan Rangga untuk mengantarkannya.
Kemudian mereka berangkat ke pasar berdua, dengan mengendarai mobil mewah Alden.
Sedangkan Alden dan Kimora masih terlelap tidur.
...
Setelah beberapa menit Bu Inah dan Rangga sampai di parkiran pasar.
Bu Inah turun dari mobil tukang parkir dan orang - orang yang sedang berada disana yang sudah mengenal Bu Inah, merasa terkejut melihat Bu Inah turun dari dalam mobil mewah.
"Waah hebat ya Bu Inah sekarang, rumah nya bagus, bisa naik mobil mewah juga," ucap tukang parkir.
"Ya, Alhamdulillah!" sahut Bu Inah mensyukuri ucap tukang parkir.
"Ya, ialah itu berkahnya punya anak cantik jadi bisa dapet menantu orang kaya." sahut salah satu orang yang berada di sana.
Bu Inah hanya tersenyum menanggapi nya, dan segera berlalu menuju kedalam pasar untuk segera berbelanja.
Dan untuk menghindari oceha - ocehan orang yang lama - lama akan membuat situasi memanas karena ujian - ujung nya mereka cuma bisa memberikan nyinyiran kepada orang - orang yang mereka anggap hidupnya sudah enak.
"Paling juga Kimora jual dari..." mulut netizen
"Atau juga cuma jadi simpanan saja" sahutan mulut netizen.
"Ya, coba aja di pikir masa orang kaya raya, berpendidikan, ganteng pula, mau sama Kimora, yang hanya gadis desa, miskin lagi, kalau bukan cuma mau memanfaatkan kecantikan nya dan kemolekan tubuh Kimora." pandangan warga kepada kimora begitu merendahkan Kimora.
"...."
"...."
Para warga menggunjing kimora karena menikah mendadak dengan orang kaya raya, dan ganteng seantero desa. membuat mereka panas hati melihatnya.
__ADS_1
Belum lagi Bu Inah di buatkan rumah baru dalam waktu yang sangat singkat, dan bisa turun naik mobil mewah, makin saja mereka merasa panas hati.