
Hari sudah sore, saat Alden terbangun ia mendapati Kimora yang tengah tertidur di sampingnya, dengan posisi duduk dan kepalanya di letakan di bibir ranjang tempat tidur Alden.
Alden tidak membangunkan Kimora, ia malah terenyuh melihat wajah polos Kimora yang sedang terlelap.
'Kasihan sekali diri mu, selalu dalam kesulitan, Dan aku tidak bisa membantu mu Karen keadaan ku, dengan kondisi ku seperti ini aku malah membuat mu makin kesulitan dan aku membebani mu.' Alden bicara dalam batin.
'Tapi kenapa dari awal aku bertemu dengannya, dia begitu menarik perhatian ku, padahal dia hanya seorang gadis desa yang berpenampilan biasa saja, dan dari kalangan bawah, tapi aku malah begitu menyukainya, padahal selama ini banyak sekali wanita yang lebih segalanya dari dirinya, tapi aku samasekali tidak tertarik dengan mereka, apa memang selera ku serendah itu, tapi tidak! justru Kimora lebih istimewa di bandingkan dengan wanita yang selama ini mendekatiku." masih batin Alden.
'Seperti Anggi, Sinta dan Feby, mereka perempuan yang modis, berpendidikan, tapi kelakuan mereka minim.' Alden malah membandingkan Kimora dengan orang - orang yang telah menyakiti Kimora.
Kemudian Alden menyentuh pipi mulus Kimora secara perlahan.
Dan Kimora pun langsung merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh pipinya yaitu tangan Alden.
Kimora langsung membuka Matanya dan melihat Alden sedang menatap sambil mengelus-elus pipinya.
Kimora merasa sangat nyaman dengan sentuhan Alden, rasanya ingin kembali terlelap, tapi itu tidak mungkin karena hari pun sudah sore.
Kimora langsung meraih tangan Alden yang dalam posisi di atas pipinya. Kimora mengarahkan tangan itu tempat di depan wajahnya, kemudian Kimora mencium tangan Alden.
Alden sungguh senang dengan respon Kimora, wajah datar Alden menerbitkan sebuah senyuman manis.
Melihat Alden tersenyum Kimora membalas senyuman itu.
Lalu Kimora mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan mencari jam dinding.
"Jam berapa ini?" gumam Kimora.
"Sayang..!" Seru Alden, yang terus saja memandangi Kimora yang sedang kebingungan, ingin tau waktu saat itu.
"Iya,,,!" sahut Kimora.
"Kamu tidak pegang hp ya sekarang?" tanya Alden .
Kimora menggelengkan kepalanya, "Tidak , kejadian itu sudah membakar semuanya, untung saja kita masih bisa selamat." jawab Kimora.
"Maafkan aku ya, Kondisi ku malah membuat mu makin, terpuruk!" Alden merasa bersalah.
"Tidak tuan, aku bersyukur sekali anda bisa kembali sadar, anda tau saat Dokter menyatakan Anda telah meninggal, aku benar-benar merasa hancur, rasanya aku ingin sekali ikut mati bersama mu, andai bisa aku ingin sekali menggantikan posisi mu, dan biar aku saja yang mati saat itu." Kimora teringat saat - saat itu, dan membuat nya begitu emosi.
"Suuut...!" Alden menaruh telunjuknya di bibir Kimora, untuk menghentikan ocehan Kimora.
"Jangan bicara seperti itu!" sambung Alden. Dan berhasil membuat Kimora diam akhirnya.
"Aku sudah ingatkan jangan panggil aku tuan atau anda, aku suamimu, panggilan aku - kamu, dan sayang, aku tidak mau mendengar lagi kamu memanggilku dengan panggilan tuan, atau Anda!" Alden mengingatkan Kimora.
"Iya,,, baik tu~!" Kimora hampir keceplosan lagi.
Karena Alden langsung mendelitkan matanya memberi isyarat agar Kimora tidak meneruskan ucapannya.
"Sayang... memang semua terasa canggung, dan terdengar sedikit aneh, sebab semua terjadi secara cepat, yang dari awal kita hanya sekedar atasan dan karyawan, dengan waktu perkenalan kurang lebih sepuluh hari, jadi memang wajar merasa canggung dan terdengar aneh, tapi setatus kita sekarang sudah suami - istri maka dari itu kita harus biasakan memanggil sebutan masing - masing dengan sebutan yang lebih intim agar hubungan kita pun tidak terasa canggung." panjang lebar Alden memberi pengertian kepada Kimora.
Ya, Kimora mengerti dengan apa yang di maksud oleh Alden sehingga Kimora mengiyakan semua penyesalan suaminya, dan mencoba untuk melakukannya, "I-Iya, sayang...!" ucap Kimora meskipun memang masih terasa canggung.
Alden sungguh bahagia mendengar kata - kata itu terucap dari bibir manis Kimora.
Kemudian Dokter dan suster datang menghampiri untuk mengecek kondisi Alden.
Dan Dokter pun menyatakan bahwa kondisi Alden sudah setabil, dan bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.
"Ya syukurlah...!" Kimora merasa sangat lega karena kondisi Alden berangsur membaik.
Dokter pun meminta petugas untuk mempersiapkan semuanya karena Alden sudah siap untuk di pindahkan.
Sedangkan Kimora menegur suster yang Kimora pinta tolong untuk menyampaikan pesannya kepada ibunya.
__ADS_1
"Suster,,,!" seru Kimora.
"Iya Nona..." sahut suster.
"Apa pesan saya sudah di sampaikan kepada ibu saya,,,?" tanya kimora ingin memastikan.
"Oo... iya Nona, sudah! kebetulan ibu nona tidak sendirian juga, ada tuan Rangga dan dua orang lelaki lagi di sana, ibu anda juga berpesan beliau baik-baik saja Anda jangan mengkhawatirkannya!" Ucap suster kembali menyampaikan pesan dari ibu kimora.
"Oo... Iya! terimakasih suster!" ucap Kimora.
"Iya sama-sama Nona!" sahut suster.
"Maaf saya permis dulu." Kemudian suster pamit meninggalkan ruangan.
Tentu Alden mendengar percakapan Kimora dan suster tadi, lalu setelah suster pergi, Alden pun menanyakan kabar Bu Inah.
"Sayang...!" seru Alden sambil menggapai tangan Kimora.
"Iya Sayang...!" Kimora mencoba mengimbangi Alden .
Lalu keduanya tersenyum merasa lucu dengan sebutan baru di antara mereka.
"Bagaimana kondisi ibu...?" kemudian Alden bertanya.
"Alhamdulillah kondisi ibu sudah baik, seharusnya ibu sudah di perbolehkan untuk pulang beberapa hari yang lalu, tapi tuan Rangga menahannya, sementara beliau sedang mencari kan rumah sewaan untuk ibu pulang nanti." jelas kimora.
"Aku dan ibu sudah banyak sekali merepotkan kalian berdua (Rangga dan Alden)." Kimora merasa tidak enak hati, telah jadi penyebab dari masalah.
"Sayang kamu istriku, dan ibumu juga ibu ku, jadi sudah seharusnya aku yang bertanggung jawab atas kamu dan ibu!" ucap Alden.
"Tapi pada kenyataannya aku malah merepotkan mu, dan menjadi beban untuk mu!" sambung Alden menyesali keadaannya.
"Tidak tu~, eeh sayang, maksud ku ini bukan kesalahanmu, karena keadaan memang seperti ini." Kimora tidak ingin Alden berkecil hati.
"Oke,,, siapa takut...! aku berjanji akan membahagiakanmu...!" Sahut Alden penuh keyakinan.
"Sungguh...?" Kimora ingin meyakinkan ucapan suaminya.
"Sungguh, asal kamu juga selalu buat aku bahagia, dengan selalu tetap bersama ku,,," ucap Alden ingin Kimora juga berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.
"Aku mau lari kemana tuan, tempat untuk pulang saja aku tidak punya sekarang, buktinya aku masih tetap di sini bersama mu menemanimu." jawab Kimora.
"Intinya aku tidak akan bisa pergi dari mu, karena hidupku sekarang adalah dirimu." Kimora meyakinkan Alden.
"Wah pintar menggombal juga ya kamu rupanya." Alden yang kini menggoda Kimora.
Sehingga kimora terkekeh karena merasa lucu.
...
Tidak lama petugas datang dan membawa Alden keluar dari ruangan ICU, tapi dengan posisi masih di tempat tidur karena kondisi Alden masih lemah.
Kimora mengikuti berjalan di samping Alden, dengan Alden yang terus saja menggenggam tangan Kimora, seakan tidak ingin di pisahkan sama sekali.
Setelah semua selesai tim medis meninggalkan Alden dan Kimora di ruang rawat inap.
"Selamat beristirahat tuan,,, semoga lekas sembuh...!" ucap Dokter sebelum meninggal ruangan.
"Terimakasih Dok...!" jawab Kimora dan Alden.
Kemudian, "Kami permisi dulu tuan." ucap suster pamit.
"Iya silahkan..." Kimora mempersilahkan.
....
__ADS_1
Kini hari sudah benar-benar petang... matahari sudah mulai bersembunyi.
Rangga kembali ke ruang ICU untuk menemui Alden dan Kimora, tapi sesampainya di ruangan itu Rangga tidak menemukan Alden maupun Kimora.
Baru saja Rangga ingin bertanya, suster sudah menegurnya lebih dulu.
"Tuan Rangga, ada yang bisa kami bantu?" tegur suster.
"Oo iya suster,,, tuan Alden kemana ya?" tanya Rangga.
"Tuan Alden sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, karena kondisinya sudah setabil tuan, tinggal pemulihan menurut Dokter." suster memberi tau.
"Oo... iya, Astaga kenapa aku bisa lupa, kalau Alden memang akan di pindahkan." gumam Rangga.
Saking sibuknya Rangga, dia jadi kurang fokus.
Karena setelah menemui Bu Inah Rangga segera pergi untuk mengonterol para pekerja yang mengerjakan pembangunan rumah Bu Inah, sudah sampai mana, apa sudah siap di huni atau belum, sebab Bu Inah sudah harus pulang.
Rangga juga harus mengontrol pekerjaannya di kota menangani semua pekerjaannya dan pekerjaan Alden menerima beberapa laporan, Dan mengecek semua laporan.
Sehingga Rangga menjadi sangat sibuk, dan melupakan Alden, sebab Rangga juga merasa Alden akan aman bersama Kimora.
...
Kemudian Rangga menanyakan di ruangan mana Alden di pindahkan.
"Ya, sesuai permintaan Anda tuan , jika tuan Alden di pindahkan anda minta untuk dipindahkan ke ruangan VIP." Jawab suster.
"Maaf posisinya di sebelah mana ya?" karena Rangga memang tidak tau harus berjalan ke arah mana.
Lalu suster menjelaskan Rangga harus ke arah mana.
Setelah Rangga paham dengan penjelasan suster Rangga segera pergi, tapi sebelum itu Rangga berterima kasih terlebih dahulu kepada suster, "Terimakasih sus!"
"Iya tuan, sama-sama!" Sahut suster.
Rangga segera menuju ruangan yang terlihat di beritahukan oleh suster.
Dan tidak lama Rangga sampai di ruangan tersebut.
Rangga mengetuk pintu terlebih dahulu
"Tok... tok... tok ..!"
"Assalamualaikum...!" Kemudian lanjut Rangga.
Rangga sengaja melakukan hal itu, Rangga takut menangkap basah kejadian yang tidak seharusnya tidak ia lihat, seperti tadi siang.
Ketika Kimora sedang mencumbu suaminya, Kejadian itu membuat Rangga merasa panas hati.
Karena sesungguhnya Rangga berharap kimora menjadi miliknya.
Meskipun sudah berusaha ikhlas melepaskan Kimora menjadi milik Alden , atas pilihan Kimora sendiri, tapi tetap perasaan Rangga terhadap Kimora masih tetap sama.
Sehingga saat melihat Kimora menciumi Alden Rangga benar - benar merasa cemburu.
mendengar ada yang mengetuk pintu dan mengucap salam Kimora segera menjawabnya.
"Waalaikumsalam...!" jawab Kimora.
Tapi saat hendak membukakan pintu Rangga sudah membukanya terlebih dahulu, karena sudah mendengar Kimora menyahuti salamnya.
"Tuan Rangga!" gumam Kimora ketika sudah melihat siapa yang datang.
" Maaf saya baru sempat datang , soalnya saya harus mengurus beberapa urusan terlebih dahulu.!" ucap Rangga tanpa ada yang bertanya.
__ADS_1