Pesona Kimora Si Gadis Desa

Pesona Kimora Si Gadis Desa
36. Kejahatan Pak Hasan.


__ADS_3

Saat ini mereka sudah tidur di kamar masing - masing .


Tapi kimora sebelum terlelap teringat saat ijab qobul seperti ada yang janggal menurut Kimora dan membuatnya penasaran.


Kemudian Kimora menanyakan hal itu kepada ibunya.


"Bu..! seru Kimora.


"Hmmm!" sahut Bu Inah.


"Apa ibu sudah tidur...!" tanya Kimora, takut menganggu ibu nya.


"Belum, memangnya ada apa?" jawab Bu Inah, kemudian balik bertanya.


"Tidak ada, yang serius sih Bu!" basa basi Kimora.


"Lalu apa?" sekarang malah Bu Inah yang merasa penasaran.


"Aku ingin bertanya Bu.!" ucap Kimora lagi.


"apa?" tanya Bu Inah.


"Itu Bu, pas ijab qobul tadi kok ibu meminta tuan Alden untuk menyebutkan Kimora Azalia binti Zio Zaidan, kan nama ayah Sabeni, kenapa ko berubah jadi Zio Zaidan?" tanya Kimora tidak habis pikir.


"Oo itu, memang nama asli ayah mu Zio Zaidan..." Jawab Bu Inah dengan santai.


"Masa sih Bu...!" Kimora tidak yakin.


soalnya Kimora juga sempat mendengar ada beberapa warga yang berpikiran seperti Kimora.


"Kok bisa Sabeni berubah jadi Zio Zaidan." setahu mereka ketika itu


"Setahu ku Sabeni itu namanya semenjak dari ia lahir." Salah satu dari mereka menyatui.


"Sudahlah Kim! tidak usah di pikiran lagi, memang pada kenyataannya begitu!" Bu Inah mencoba meyakinkan Kimora.


"Sekarang tidurlah nak ini sudah malam! pasti kamu lelah sekali, setelah apa yang kamu alami hari ini." perintah ibu Inah.


"Iya, Bu aku lelah sekali, Tapi hanya saja aku merasa penasaran tentang itu." ucap Kimora terus saja mendesak.


" Kamu tidak percaya kepada ibu?" tanya Bu Inah merasa di ragukan.


"Ooo tidak , bukan begitu Bu maksud ku." Kimora merasa tidak enak hati.


"Kikim percaya lah kepada ibu mu ini , ibu tidak akan menjerumuskan mu dalam dosa, justru jika ibu tidak ingin membiarkan tuan Alden menyebut kan nama ayahmu Sabeni karena itu ibu akan berdosa, karena pernikahan mu tidak akan sah nak, dan jika kalian melakukan hubungan suami istri kalian sama saja berzina." Bu Inah menerangkan, untuk meyakinkan Kimora.


"Dan Ibu ya akan menanggung dosanya, karena ibu membiarkannya walaupun ibu tau nama asli ayah mu, Ibu tidak mau itu terjadi." sambung Bu Inah


Ya, pada akhirnya Kimora pun mengerti dan percaya, dengan apa yang di nyatakan oleh ibunya.


" Iya Bu, aku percaya kok sama ibu..." kemudian jawab kimora.


"Ya sudah ayo cepat tidur." Bu Inah.


"Baik Bu , maafkan aku ya!"seru Kimora.


"Iya..." sahut Bu Inah, kemudian Bu Inah merangkul pinggang Kimora mereka berbaring dengan posisi saling berhadapan.

__ADS_1


Perlahan mata kimora makin redup dan kemudian terlelap, begitu juga dengan Bu Inah ikut terlelap.


Di kamar Kimora, Alden dan Rangga masih terjaga, mereka masih membahas pernikahan dadakan Anantara Alden dan Kimora.


"Al! aku ragu mami mu akan menerima Kimora sebagai menantunya... kita tau sendiri tipe calon menantunya, ya seperti Anggi gitu!" Rangga menduga-duga.


"Ya, aku sependapat dengan mu!" Alden setuju dengan apa yang di utarakan oleh Rangga.


"Tapi ya nanti kita pikirkan hal ini, yang penting sekarang Kimora sudah terlepas dari jeratan pak Hasan itu," Alden merasa lega.


"Dan yang lebih penting lagi Sekarang Kimora telah menjadi istriku...!" Alden merasa senang dan bangga, karena bisa mendapatkan Kimora.


"Hhmmm, jaga dia dengan baik jangan biarkan siap pun menyakitinya lagi, termasuk mami mu!" Rangga mengingatkan Alden.


"Oo tentu saja...!" Sahut Alden .


Dan setelah cukup lama berbincang berdua, kemudian mereka berdua pun terlelap...


...


Sedangkan pak Hasan dan para anak buahnya ternyata sedang mengatur siasat untuk membalas semua kekecewaan yang pak Hasan rasakan.


Ternyata setelah kejadian itu sifat jahat Pak Hasan makin menjadi.


Pak Hasan ingin melenyapkan nyawa mereka semua terutama Bu Inah, pak Hasan sangat membenci Bu Inah, karena sejak awal Bu Inah lah yang terkesan selalu menghalang-halanginya untuk menikahi Kimora.


Dan kini Pak Hasan mengirim orang-orangnya untuk membakar rumah Bu Inah, di saat orang-orang di dalamnya sedang tertidur lelap.


dan sesuai perintah Pak Hasan anak buahnya sudah menyiramkan bensin ke seluruh rumah Bu Inah.


sopir pribadi Alden merasa curiga ketika melihat orang-orang yang datang lalu menyiramkan sesuatu di seluruh rumah Bu Inah.


Sontak sopir itu segera keluar dan menegur anak buah Pak Hasan, "Hei apa yang kalian lakukan?" tanya sopir pribadi Aldian kepada orang-orang yang menurutnya sangat mencurigakan.


Alangkah terkejutnya anak buah Pak Hasan ketika menyadari ada seseorang yang menangkap basah tindakan kriminal mereka.


Anak buah Pak Pak Hasan saling memandang pemberi isyarat satu sama lain untuk meringkus sopir pribadi Aldian dan akan menyekapnya.


Ya, mereka langsung menghantam tengkuk sopir pribadi Aldin dari belakang sehingga sopir itu terhuyuk tak sadarkan diri.


Kemudian mereka memasukan sopir itu ke dalam mobil milik mereka, dengan mengikat lengannya dan melakban mulutnya dengan maksud untuk menyerapnya.


Setelah membereskan sopir pribadi Alden, anak buah Pak Hasan siap menyalahkan api untuk membakar rumah Bu Inah.


Tapi sebelum itu, salah satu dari anak buah Pak Hasan menghubungi juragannya terlebih dahulu, untuk memberikan laporan bahwa semua sudah beres termasuk menyelesaikan saksi kunci yang melihat perbuatan mereka.


"Oke,,, bagus sekali kerja kalian, segera bakar rumah Bu Inah, aku sudah tidak sabar lagi ingin melihat dan mendengar kabar mereka mati terpanggang api." Ucap pak Hasan penuh ambisi.


Namun ketika itu, Darman putra pak Hasan hendak melintas menuju kamarnya selepas pulang dari rumah Bu Inah, lalu melewati depan ruangan Bapaknya dan mendengar bapaknya sedang berbincang sehingga Darman merasa curiga lalu mengurungkan niatnya, dan memilih untuk menguping.


Dan ketika pak Hasan berbicara Darman mendengar semuanya dengan jelas.


Darman pun sempat merekam pembicaraan itu, lalu mengirimkan rekaman suara itu kepada Ibrahim dan Kimora, agar mereka cepat waspada.


Alangkah terkejutnya Darman ketika mendengar apa yang bapaknya katakan.


Darman segera berbalik arah dan memutuskan kembali ke rumah Bu Inah, untuk menyelamatkan kimora dan yang lainnya.

__ADS_1


Darman segera menyalakan motornya lalu tancap gas menuju rumah Bu Inah.


Kebetulan Ibrahim pun baru saja sampai di rumahnya, jadi dia masih terbangun dan Ibrahim pun tidak kalah terkejutnya, ketika mendengarkan rekaman suara pak Hasan.


Ibrahim pun segera beranjak sama halnya seperti Darman.


sedangkan memang benar seperti dugaan Pak Hasan, Kimora dan yang lainnya sedang tertidur pulas.


sesampai Darman dan Ibrahim betapa terkejutnya mereka melihat keadaan rumah Bu Inah sudah menyala kobaran api di sana.


Tapi orang-orang pak Hasan sudah tidak ada lagi di sana mereka segera kabur setelah menyalakan api dan membumbung tinggi.


Pikir mereka Bu Inah, Kimora dan yang lainnya sudah pasti tidak akan selamat karena rumah sudah Ter kepung api.


Tapi Darman dan Ibrahim segera mencari celah untuk masuk dan menyelamatkan mereka.


Di dalam rumah, Rangga yang lebih dulu merasakan panasnya kobaran api.


Rangga langsung terbangun dan alangkah terkejutnya ia melihat keadaan rumah.


Rangga segera membangunkan Alden yang memang telah tidur lelap setelah apa yang ia alami hari itu membuat Alden begitu lelah dan tertidur pulas.


"Al... Alden ... ayok cepetan bangun rumah ini kebakaran...!" Rangga membangunkan Alden.


Tapi Alden tidak segera bangun karena rasa kantuk menguasai nya.


"Alden cepatan bangun kita dalam bahaya....!" ucap Rangga lagi.


"Hhmm... jangan bercanda lah aku ngantuk banget ini!" Alden malah menyangka Rangga sedang berguyon.


"Alden ini serius tidak ada waktu untuk bercanda... nyawa kita terancam!" Rangga tidak bisa meninggalkan Alden sebelum nyawanya selamat, padahal Rangga pun sangat mengkhawatirkan Kimora dan ibunya.


Rangga juga ingin menyelamatkan kimora dan ibunya.


Karena Rangga terus saja membangunkan Alden semakin lama semakin mendesak, akhirnya Alden terbangun dan membuka matanya.


"Astaga...!" pekik Alden dan terperanjat, menyadari keadaan rumah.


Alden bergegas lari menuju kamar Bu Inah untuk menyelamatkan mereka, di ikut oleh Rangga.


Ya, Kimora dan Bu Inah masih terlelap dan belum menyadari keadaan rumah.


"Kimora...!"


"Bu...! "


Seru Alden dan Rangga membangunkan Kimora dan ibunya.


Kimora dan ibunya langsung terbangun, tapi mereka belum menyadari bahaya.


"Ada apa?" tanya keduanya dalam keadaan setelah sadar.


"Rumah ini kebakaran, ayok cepatan kita harus segera menyelamatkan diri.


setelah mendengar itu, dan sudah menyadari keadaan Bu Inah dan Kimora begitu panik.


"Ya tuhan...!" pekik Bu Inah.

__ADS_1


__ADS_2