PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 10 BIAR WAKTU YANG MENJAWAB


__ADS_3

Kemala dan Arya bekerja seperti biasanya, Arya diruangannya dan Kemala bekerja mengantarkan minuman dan membersihkan lantai serta jendela dan terkadang toilet. Kemala mengira setelah menjadi istri bosnya, ia akan di pindahkan didevisi lain atau di angkat menjadi salah satu staf. Arya memang sengaja tidak melakukan hal tersebut, biarlah mengalir apa adanya. Karena ia juga tidak ingin sang Mama mengetahui jika ia sudah menikah lagi dan mencampuri urusannya dalam berumah tangga.


“Kamu becus bekerja tidak, hah! Kalau jalan itu pakai mata!” Terdengar suara keributan di depan ruangan Arya, Arya yang sekilas melihat dari kaca jendela besarnya dan hanya terlihat dari dalam. Arya mengerutkan dahinya saat tahu orang yang sedang berbicara itu memarahi sang istri. Arya bangkit dari duduknya lalu keluar ruangan.


“Maaf, Bu. Saya tidak sengaja,” lirih Kemala.


“Ada apa ini?” tanya Arya


“Ini Pak, OB baru kerjanya tidak becus, jalan lihat-lihat. berkas dan jas saya jadi basah,” balas Ela, staf devisi Arya.


Arya menghela nafas panjang melihat sang istri yang menunduk takut mendengar nada tinggi Ela. Kemala juga terlihat begitu cemas dan terus memainkan ujung kemajanya.


“Ya sudah, lain kali hati-hati, kamu prin lagi berkasnya. Kamu lebih lebih teliti lagi.” Arya mengusap pundak sang istri membuat semua iri pada Kemala.


“Baik, tuan,” jawab Kemala pelan. Lalu membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai.


Ela yang kesal dan tidak terima lalu dengan dengan ia menginjak tangan Kemala sambil melangkah kembali ke tempatnya.


“Auh!” pekik Kemala.


“Ela!” geram Arya menggelengkan kepalanya lalu membungkuk membangunkan Kemala kemudian mengeluarkan sapu tangannya untuk membalut jari Kemala yang terkena pecahan kaca.


“Abeng!” panggil Arya pada salah satu stafnya.


“Ya tuan!”


“ Tolong kau panggil OB untuk membersihkan ini”


“Baik tuan. ”


Arya mengangguk dan lalu melihat karyawan yang sedang berdiri di tempatnya masing-masing dengan tatapan tidak suka.


“Semua kembali bekerja,” titih Arya kemudian membawa Kemala kedalam ruangannya.


Arya menutup pintunya,“ Duduklah, aku obati lukamu!”

__ADS_1


Kemala duduk di sofa sambil menahan sakit di tangannya yang terkena pecahan gelas. Luka yang kemarin saat terkena pecahan yangvsama saja belum sembuh. Arya membawa kotak p3k. lalu duduk di di samping Kemala.


“Kerjanya hati-hati.” Arya meraih tangan Kemala dan membuka sapu tangannya. Arya mengobati luka sang istri begitu teliti.


“Aduh, pelan! Tuan!” Pekik Kemala sedikit menarik tangannya.


“Tahan sedikit!” Arya kemudian membalut telapak tangan Kemala dengan perban.


“Kamu itu jangan lemah, Mala. Kamu juga harus bisa sedikit melawan. Aku tahu kamu tidak salah, Ela saja jalannya sambil menerima panggilan. Kamu sudah benar jalan sedikit di pinggir.”


“Iya, saya tahu, tuan. bawahan seperti saya selalu salah walau tidak sepenuhnya salah.”


Arya tersenyum melihat wajah dan menatap mata sayu Kemala. Mata yang penuh menyimpan sejuta misteri tentang jalan hidupnya. Bukan hanya itu saja. Arya begitu menyukai mata sang istri.


“Besok tidak perlu lagi bekerja. Di apartemen saja.”


“Hah! Tapi ... saya bosan dan takut di apartemen sendirian, tuan.”


Arya meraih tangan Kemala laku mencium punggung tangannya. Semenjak Kemala memberikan kepuasan semalam, Perasaan Arya berubah hangat dan ingin selalu di dekat Kemala. Entah itu cinta atau ia takut kehilangan seseorang yang memberikan kepuasan batin padanya di tambah kini lagi sudah sah menjadi istrinya.


Arya teringat ucapan sang Papa jika memilih pasangan, pilihlah yang lebih muda dan masih bisa memberikanmu kepuasan baik di atas tempat tidur maupun perhatian yang lainnya asal dirinya selalu perhatikan dan mencukupi kebutuhan dan keinginan pasangannya. Namun Arya mungkin tidak menyadari tidak semua wanita mau di perlakukan sebagai alat pemuas saja. melainkan Cinta sejati, atau mungkin cinta Arya masih untuk Bella, entahlah. Biar waktu yang menjawab semuanya.


Arya tidak mengetahui jika sebenarnya Kemala mempunyai rasa takut tersendiri jika di rumah sendirian,yaitu takut tiba-tiba ayahnya datang dan meminta uang lalu menghajarnya. Kemala merasa aman jika di sekelilingnya banyak orang.


Kemala menggeleng dan memohon agar jangan meninggalkan dirinya sendiri di apartemen.”Saya takut tuan. Saya ....”


‘cup’ Arya mencium bibir Kemala lalu menuntunnya berbaring di sofa. Awalnya Kemala memberontak akan tetapi sia-sia. Kemala hanya pasarah dan membalasnya. Kemala mengalungkan tangannya di leher Arya, Namun tiba-tiba.


‘Plak’ Abi datang memukul kepala Arya dengan Map.


“Aduh!” Arya bangkit begitu juga Kemala.


“Astaga Papa!” geram Arya sambil merapikan rambutnya begitu juga Kemala. Mereka berdua merapikan baju masing-masing.


“Kapok! La wong dienteni neng ruang rapat malah mesra-mesraan tah!”

__ADS_1


Kemala tersenyum canggung dan malu.“ Permisi, tuan.” Kemala kemudian keluar dari ruangan sang suami.


“Papa, ganggu wae!” Arya kesal kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya.


“Lah, ayo!”


“Iyo....!” Keduanya keluar menuju rapat.


Sementara itu Kemala kembali ke pantry, jantungnya berdebar kencang dan tersenyum dalam hati sambil memegang bibirnya. Ia begitu malu mengingat ciuman yang di lakukan Arya yang spontan dan begitu lembut, tidak seperti saat malam hari di atas ranjang yang begitu kasar.


“Kamu kenapa senyum sendiri, Mala?” tanya rekan kerjanya yang heran melihat Kemala tersenyum sendiri di depan wastafel.


“Tidak ada!” Kemala mengambil gelas di lemari gantung di depannya lalu mengambil air minum.


Kemala duduk di kursi di ikuti rekannya. Kemala bersikap biasa agar rekannya itu tidak curiga. Akan tetapi rekannya itu penasaran dengan Kemala saat berduaan di ruangan Arya.


“Kamu ngapain saja di dalam ruangan tuan Arya?” tanyanya.


“Tidak ada, beliau hanya memberikan obat dan membantu membalut perban,” jawab Kemala santai.


“Tidak terjadi apa-apa, kan?”


Kemala tertawa lalu mendorong bahu rekannya itu” Memangnya terjadi apa? Biasa saja.”


“Siapa tahu kamu di rayu, Beliau kan duda!”


“Tidaklah. Beliau orang baik.” Kemala tersenyum lalu meminum minumannya kembali.


“Oh iya, lalu bagaimana lukamu?” tanya rekannya sambil melihat tangan Kemala.


“ Masih sedikit perih, Tapi tidak apa-apa. Ini luka kecil. Tenang saja. Aku masih bisa bekerja.”


Kemala bangkit lalu ia kembali bekerja bersama rekan-rekannya yang lain. Walau tangannya masih terasa sakit. Mau tidak mau ia harus melakukan pekerjaannya. Saat rapat pikiran Arya melayang memikirkan Kemala di tambah Kemala berjalan melintasi Ruang rapat yang penyekatnyan dengan menggunakan kaca. Arya melihat Kemala tertwa bersama rekannya sambil bekerja. Rupanya jika Kemala tertawa begitu manis. Abi melihat Arya tidak konsentrasi dengan materi meeting pun menedang kakinya.


“Aduh!” pekik Arya melihat ke arah Abi, Namun Abi pura-pura tidak mengetahui.

__ADS_1


“Ada apa Arya?” tanya Putra melihat Arya.


“Tidak ada, Paman. Silahkan di lanjut.” Arya melirik tajam Abi yang menahan tawa.


__ADS_2