PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 15 ABI TERKENA SERANGAN JANTUNG


__ADS_3

Pagi-pagi Kemala bangun dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia bingung ingin mengerjakan apa di ruamh sang Suami yang baginya sebesar bak istana. Kemala melihat sang suami masih terlelap hanya bisa tersenyum lalu mengusap pipinya yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


“Terima kasih ya, Mas. Terima kasih!” Kemala sangat bersyukur bertemu dengan Arya, tidak ada lagi rasa ketakutan ketika membuka mata. Rasa takut akan di pukul dan di caci Ayahnya.


Arya sedikit membuka matanya lalu tersenyum dan menarik Kemala kedalam pelukannya. Ia begitu bahagia memiliki istri yang penurut dan apa adanya seperti Bella.


“Sudah bangun?” tanya Arya mencium kening Kemala.


“Iya, tapi bingung mau ngapain. Anak-anak masih libur sekolah.”


Arya tertawa kecil dan mempererat pelukannya.“Tidak perlu bingung, sayang. Kamu ratu di rumah ini. Jadi terserah kamu ingin melakukan apa. Kamu nanti yang mengatur rumah dan semua karyawan yang ada di rumah ini.”


Kemala tersenyum sambil melihat Arya. Rasanya seperti mimpi di pertemukan dengan pria yang lebih dewasa 15 tahun darinya, yang bisa mengayomi dan melindunginya. Walau kesan awal bertemu begitu menggelikan.


Tak lama terdengar deringan ponsel Arya, Arya menoleh ke arah meja Nakas lalu meraih ponselnya. Siapa sekiranya pagi-pagi menghubungi di ponsel kerjanya, padahal ini hari liburnya.


“Meneger Wawan?” tanya Arya dalam hati lalu ia bangkit dan mengangkat ponselnya.


“Ya, halo Wan.”


“Maaf, tuan. Tuan Abi jatuh pingsan di kamar hotel.”


“Apa? kenapa bisa?”


“Tidak tahu, tuan. Tadi sempat menghubungi saya, tapi tiba-tiba. sambungan putus, akhirnya saya datang ke kamar beliau dan mendapati tuan Abi tergeletak di lantai.”


“Ok, Kamu hubungi ambulans, Bawa Papa kerumah Sakit Mila! Saya segerakan kesana!” Arya mematikan ponselnya.


“Sayang, Ayo ikut ke rumah sakit, sekalian menjenguk Ibumu.”


“Papa kenapa, Mas?”


“Papa jatuh pingsan di hotel.” Arya bergegas ke kamar mandi dan Kemala menyiapkan setelan kemeja santai untuk suaminya.


“Mas, aku sudah siapkan bajunya,” ujar Kemala saat Arya keluar dari kamar mandi.


“Terima kasih!” Arya berjalan menuju tempat tidur.

__ADS_1


Kemala melihat Arya mengganti baju, ingin sekali ia mengatakan jika tidak memiliki baju di rumah Arya. Akan terapi ia takut untuk menyampaikannya. Ia hanya memandangi Arya sedang mengenakan kemeja.


“Sayang, cepatlah mandi,” ucap Arya sekilas melihat Kemala.


“Em ... tapi aku tidak bada baju ganti di sini, Mas.”


Arya tersenyum lalu menuju lemari, Arya mengambil paper bag dan sebuah kotak.


“Pakai ini. Ini semua masih baru semua.” Arya menyerah paper bag pada Kemala.


Kemala melihat Arya, dari mana semua ini. Apa ini milik mantan istrinya, Ibu dari si kembar yang bernama Bella yang selama ini ia sebut-sebut saat bercinta. Kemala tidak tahu jika ia adalah istri ketiga Arya. Ia hanya tahu istri kedua Arya.


Kemala tidak berani bertanya dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap. Walau begitu ia masih penasaran seperti apa wajah Istri terdahulunya, karena tidak ada satupun foto istrinya dahulu. Arya memang menyimpan semua kenangan Bella dan Laura agar mudah melupakan semuanya.


“Mas,aku sudah selesai, Begini saja tidak apa?” Arya tersenyum melihat Kemala, terlihat manis, imut, dan cantik.


Arya menghampiri sang istri lalu memeluknya.“Cantik! Tetaplah seperti ini di depanku.”


“Tidak bisa, Mas. Aku juga akan menua nantinya.”


Arya mengusap lembut pipi Kemala. Ia sudah yakin akan bersama Kemala selamanya. Arya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama yaitu mengikuti apa kata Mamanya.


“Ya sudah Ayo berangkat!” Arya merangkul Kemala keluar kamar.


Disisi lain Abi sudah di bawa ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan. Abi terkena serangan jantung dan kondisinya saat ini begitu lemah. Rupanya saat Utari menyuruhnya pergi ia berfikir keras. Ia tidak ingin kehilangan Utari dan Kalina terlebih keduanya juga memberikan anak. Itu semua membuat Abi delema.


Raffi sang ponkan pun sudah berusaha menghubungi Utari tetapi tidak ada jawaban. Kemudian Raffi menghubungi Tara.


“Tara!”


“Ada apa, Fi aku sedang di perjalanan mau ke kampung halaman Mama. Mama mau menenangkan diri.”


“Menenangkan diri?” batin Raffi heran. Apa yang sebenarnya terjadi.


“Tara, Paman maduk rumah sakit, Paman Abi kena serangan jatung. Tolong beritahu Bibi utari.”


Tara seketika menepikan mobilnya, mencerna apa yang di sampaikan Raffi.“ Jangan bercanda kamu, Raff. Papa kemarin baik-baik saja.”

__ADS_1


“Untuk apa aku berbohong. Ini menyangkut Masalah nyawa! Mana Bibi, biar aku bicara?”


Tara melihat Utari di kursi belakang. Utari masih saja menangis menyesali sikapnya selama ini. Andai saja ia mendengar nasehat mertuanya, Wina. mungkin sang suami tidak akan perpaling darinya


“Ma, Telpon dari Raffi. Raffi ingin bicara dengan Mama. Papa terkena serangan jantung dan sekarang di rumah sakit belum sadarkan diri.”


“Papamu sudah tidak butuh Mama.” Utari merebut ponsel Tara lalu mematikan sambungan ponselnya. Utari masih sangat kecewa dengan Abi dan belum siap jika harus melihat wajah sang suami.


“Ma! Kenapa dimatikan,” seru Tara.


“Sama seperti rasa cinta Papa pada Mama, mati! Kau ingin menyusul Papamu? Silahkan! Biar Mama pulang di kampung Mama sendiri.” Utari bersiap turun dari motor mobil, tetapi Wilona mencegahnya.


“Ma, jangan. Kita akan mengantar Mama. Mas, di rumah sakit sudah ada dokter yang menangani Papa. Jadi, biarkan Mama juga menenangkan diri,” sela Wilona. Tara hanya pasrah dan melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu Arya dan Kemala sudah sampai di Rumah Sakit dan langsung ke kamar Abi. Di ruangan Abi tampak Dokter dan suster sedang memantau dan Raffi juga ikut melihat bagaimana dokter spesialis jantung memeriksa sang paman. Sebab ia hanya dokter umum.


“Raffi!” Panggil Arya.


“Kakak, Mana Bibi. Tadi aku sudah menghubungi Bibi, tapi katanya Bibi pergi ke kampung halamannya tidak lama sambung ponselnya putus."


Arya mengeryitkan dahinya. Kenapa sang Mama justru memilih pergi di saat suaminya sedang tidak berdaya. Apa mungkin sang Mama sudah mengetahui perihal hubungan sang Papa dengan kalına.


“Nanti aku coba hubungi Mama. Mungkin jaringan di sana buruk.” Arya masih berpikir positif dan berharap sang Mama belum mengetahui semuanya dan kepergian sang Mama ke kampung halaman hanya untuk berziarah ke makam sang Nenek.


“Sayang, kalau kamu mau ke ruangan Ibu kamu, silahkan. Nanti Mas menyusul.”


“Iya, Terima kasih, Mas.”


“Oh iya, Raffi. Kenalkan, ini Istriku yang baru. Namanya Kemala. Kemala ini Raffi sepupuku.”


Kemala tersenyum lalu mengulurkan tangannya, begitu juga Raffi yang masih tidak percaya jika sang kakak sepupunya itu sudah menikah tanpa mengabari keluarga besar.


“Kemala!”


“Raffi.”


Kemala tersenyum lalu melihat Abi dan berharap mertuanya itu cepat pulih. kemudian Ia menuju ruangan Ibunya yang masih koma.

__ADS_1


__ADS_2