
Arya membuka matanya dan langsung melihat sang istri sedang menyisir rambut di depan cermin. Arya tersenyum melihat istrinya yang sudah terlihat cantik di pagi hari.
"Istriku mau kemana sepagi ini sudah cantik!” seru Arya memiringkan tubuhnya dan kepalanya ia tumpukan pada lengannya.
“Katanya mau ke rumah paman putra! Itu sudah aku siapkan bajunya, sana mandi!”
“Oh, iya. Hampir saja lupa. Ya sudah Mas mandi dulu.” Arya bangkit dari tempat tidur dan sang istri hanya tertawa kecil melihat suaminya.
Setelah sang suami masuk ke kamar mandi Kemala keluar dari kamar dan menuju dapur, Saat ini mereka tinggal bersama Utari untuk menemani sang Mama. Utari menjadi pendiam membuat Kemala takut jika harus berhadapan dengan Mama suaminya tersebut. Tetapi Utari sedikit perhatian dengannya.
"Pagi, Ma!” sapa Kemala sedikit takut saat di dapur.
“Pagi!” jawab Utari datar sambil mengaduk kopi.
“Ini minum susumu, ini kopi untuk suamimu!” Utari menggeser gelas kecarah Kemala.
“Terima kasih, Ma. Seharusnya mama tidak perlu repot-repot membuatkan susu dan kopi untuk saya dan Mas Arya, biar saya saja.”
“Arya itu anakku dan aku tidak membuatkan susu untukmu tapi untuk anak dalam kandunganmu. Sudah minum, duduk sana. Tidak perlu ikut masak. Nanti kecapean.”
Kemala hanya diam dan melihat dengan takut ke arah mertuanya, Perlahan ia mengambil susu dan kopinya dan membawanya ke meja makan. Ia duduk dan meminum susunya sambil sesekali melihat Mertuanya memasak.
“Mama kok akhir-akhir ini perhatian sama aku ya. Walau masih judes tapi perhatian. Semoga saja Mama sudah berubah suka sama aku,” batinnya tersenyum tipis sambil menikmati susu buatan Utari. Tak lama Arya datang dan sudah rapi.
"Pagi semua! Pagi sayang. Pagi Ma!” Sapa Arya lalu mencium pipi istrinya kemudian menghampiri Utari di dapur dan mencium pucuk rambut sang Mama.
"Mama buat apa?” tanya Arya begitu bahagia melihat Mamanya tidak seperti sebulan lalu.
“Buat sarapan untuk kalian. Roti keju bakar kesukaan kamu, ini untuk istrimu!” Utari memberikan dua piring berisikan roti bakar buatan Utari.
“Terima kasih, Ma.” Arya membawa piring tersebut ke meja makan.
“Sayang, ini sarapan dulu.” Arya memberikan piring berisikan roti bakar untuk Kemala.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas. Mama sudah sarapan.”
"Sepertinya belum.” Arya kemudian menyeruput kopinya laku tersenyum ke arah sang istri yang masih terheran-heran dengan Mama Mertuanya.
“Sudah, makanlah. Bagus, kan Mama sudah mulai sayang sama kamu, Walau masih sedikit judes. Apapun yang terjadi aku akan tetap membela kamu dan mempertahankan kamu selagi kamu bener, dan aku juga tidak bisa meninggalkan Mama begitu saja, terlepas dari semua kesalahannya selama ini.”
“Iya, Mas. Maafkan aku ya, belum bisa mengambil hati Mama. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik dan menjadi seorang anak yang baik untuk seorang Ibu yang hebat seperti Mama. Aku berharap Anak kita nanti seperti kamu, mencintai keluarga.” Kemala tersenyum sambil memegang tangan Arya.
“Aku tidak sesempurna itu sayang.” Arya tersenyum tipis mengingat semua kesalahannya terhadap Laura dan Bella.
“Bagiku Mas sempurna sebagai suamiku dan Ayah untuk anak-anak kita, Zea, Zidan dan ini” Kemala mengusap perutnya.
“Ahem!” terdengar deheman Utari tiba-tiba lalu duduk di kursi di depan Kemala.
"Habiskan sarapanmu. Ini buah buat cemilan nanti dijalan, ini jus alpukatnya. Salam saja sama paman putra kalian, Mama tidak ikut. Mama bukan lagi bagian keluarga Papa kalian,” Utari datar pada Kemala sembari memberikan apa yang tadi ia sebutkan.
"Iya, Ma terima kasih.” Kemala menerima sedikit takut sambil melihat suaminya yang tersenyum padanya.
"Ingat ya, jangan sembarang jajan di luar. Apalagi, seblak , ceker pedas, bakso.”
“Sekali-kali boleh, tapi jangan keseringan.”
Kemala tersenyum, ia bahagia Mertuanya saat ini begitu peduli dengannya. Ia berharap perubahan Utari untuk selamanya.
"Iya, Ma. Terima kasih.” Kemala kemudian memakan rotinya.
Setelah sarapan Kemala dan Arya pamit untuk ke rumah Putra, Sebab Aira akan menikah dengan Aldo. Pada akhirnya Putra merestui hubungan Aira dan Aldo. Butuh satu bulan Aldo meyakinkan Putra bahwa akan terus membahagiakan Aira.
Di perjalanan senyum Kemala terus mengembang sambil melihat kotak makanan berisikan potongan buah dari sang mertua. Rasanya ia tidak ingin memakannya dan ingin terus melihatnya seperti pajangan. Arya tersenyum heran melihat istrinya yang terus tersenyum memandangi kotak makanannya.
"Kamu kenapa, sayang? kalau masih lapar di makan saja buahnya.”
“Nanti saja, Sayang di makan sekarang.”
__ADS_1
“Tante lebay!” saut Zea yang duduk di belakang.
“Panggil Mama Zea!" sambung Arya yang berulang kali menyuruh Zea memanggil Kemala dengan sebutan Mama.
"Iya, iya!! Mama Kemala....!”
"Pintar!”
Kemala mengusap lengan sang suami agar tidak terlalu keras terhadap sang putri. Arya hanya mengangguk mengerti maksud Kemala.
Sesampainya di kediaman istri kedua Putra, Acara sudah di mulai. Arya dan anak istrinya duduk di tempat yang sudah di siapkan. Arya melihat Di meja pengulu ada putra dan penghulu serta kedua mempelai dan dua saksi. Saat putra menjabat tangan Aldo tiba-tiba Aira berdiri. Semua orang terkejut dan melihat ke arah Aira.
"Ada apa, Ra?” tanya Putra.
"Tunggu, Pa!” Aira mengedarkan pandangannya di semua keluarganya, ia hanya mencari sosok Arya. Setelah ketemu sosok Arya, Aira berjalan menghampiri Arya, itu membuat Aldo melongo tanda tanya, apa yang terjadi pada Aira, apa ia tidak siap menjadi istrinya.
"Aira!” panggil Aldo. Tetapi Aira tetap berjalan ke arah Arya. Arya pun bangkit dan heran melihat sang adik yang menghampirinya.
"Ra, kenapa malah kesini. Sebentar lagi di mulai.”
"Kak.” Aira memeluk Arya.
“Ra....”
“Aku mau Kakak yang jadi saksi pernikahanku!”
“Tapi, kan sudah di atur Papa kamu, siapa yang menjadi saksi. Ada Om Abi dan Bapak wali kota.”
"Gak mau! Aku mau Kakak!”
Putra bangkit dan menghampiri sang Anak. “Ra! Kamu mau nikah atau tidak?” tanya Putra di belakang Aira yang masih memeluk Arya.
“Paman, Aira minta Mas Arya jadi saksi pernikahannya,” sambung Kemala.
__ADS_1
Putra menghela nafas panjang lalu melihat Arya. Arya yang melihat tatapan putra pun mengerti kemudian merangkul sang adik menuju penghulu. Abi mengerti keponakan itu ingin Kakaknya yang menjadi saksi pernikahannya pun mundur dan mempersilahkan Arya menggantikannya.
Aldo tersenyum saat melihat Arya kemudian mereka saling tos dengan kepalan tangan. Aldo tersenyum melihat Aira begitu juga Aira. Arya tersenyum melihat mereka berdua yang baru saja mengenal lalu menikah. sejenak Arya melihat Kemala, ia merasa bersalah tidak memberikan kesan indah saat menikahinya. Hanya di KUA tanpa adanya resepsi.