PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 17 BEBAN ARYA


__ADS_3

“Apa!? Ayah Kemala melarikan diri? Sial! Bagaimana kalian menjaganya, menjaga satu orang saja tidak becus!” ujar Arya dengan nada marah. Bagaimana bisa menjaga 3 orang saja bisa terlepas.


“Maafkan kami, Bos! Kami akan mencarinya sampai dapat!”


“Kau harus pastikan itu!" tegas Arya lalu memutuskan sambungan ponselnya.


Masalah sang Papa belum selesai, sebab sang Mama benar-benar tak ingin menemui Papanya. Ini sudah ada masalah baru, dan mungkin akan semakin membuat pikirannya bertambah runyam.


“Permisi, tuan!" salam salah satu pegawainya.


“Hm, ada apa?” jawabnya asal.


“Ini berkas kiriman dari Ibu Kalina dan beliau minta maaf sedikit terlambat, karena belum bisa masuk ke kantor sampai suaminya benar-benar sehat.” karyawan tersebut meletakkan mapnya di meja Arya.


“Hm, terima kasih. Kau boleh kembali bekerja!”


Pegawai tersebut keluar dan Arya memeriksa dokumen yang dikirimkan oleh Kalina. Kalina memang wanita yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sesibuk apapun ia pasti menyelesaikan tepat waktu.


“Kabar Papa bagaimana sekarang?” batin Arya yang dua hari belakangan tidak melihat dan tau kondisi sang Papa. Arya memutuskan untuk menghubungi Kalina. Arya meraih ponselnya dan mencari kontak nomor ponsel Kalina


“Kalina,” ujarnya saat sambungan ponselnya terhubung.


“Hem! Ada apa? Kau sudah terima berkasnya?” Jawab Kalina.


“Sudah, batu saja. Bagaimana kabar Papa?”


“Papamu sudah pulang kemarin, tapi maaf. Aku bawa pulang ke rumahku. Karena saat pulang ke rumah Mamamu tidak ada. Papamu meminta pulang ke rumahku. Tapi ... tolong hubungi Mbak Utari, Arya. Beliau berhak tahu kondisi suaminya.”


“Kami semua sudah berusaha menghubungi Mama, tapi Mama tidak ingin di ganggu siapa pun termasuk Papa. Papa sekarang sedang apa?”


Kalina tersenyum melihat sang suami yang duduk di kursi roda sambil memberi makan ikan di kolam bersama sang Putri, Nasya.


“Lagi memberi makan ikan sama Nasya. Kondisinya membaik, tapi aku tahu, pasti Beliau juga menanti Mbak utari.”


“Baiklah, terima kasih sudah merawat papa seminggu ini. Jaga kesehatanmu. Nanti malam jika aku sempat aku kerumah bersama Kemala dan anak-anak.”

__ADS_1


“Iya, terima kasih." Kalina menutup sambungan ponselnya, begitu juga Arya.


Arya menghela nafas panjang. Rasanya berat menjadi anak tertua dan cucu tertua dari keluarga Sanjaya. Banyak aib yang harus ia tutupi demi nama baik keluarga, walau ia tahu kalangan dan rekan bisnisnya sudah banyak yang tau tentang Putra dan Abi mempunyai istri lebih dari satu. Lebih berat lagi ia harus menutupi dari keluarga besar. Walau sebenarnya mempunyai istri lebih dari satu bukanlah aib, akan tetapi kesalahan yang disengaja, sebab tanpa izin istri pertama.


“Zea, Zidan, Kemala, sedang apa kalian. Papa merindukan kalian. Padahal setiap hari bertemu,” batin Arya tersenyum mengingat keluarga kecilnya.


Saat sedang asyik memikirkan keluarganya tiba-tiba Arya di kejutkan dengan kedatangan seseorang. “Halo, Arya sayang. Sudah lama kita tidak bertemu,” ucapnya dengan percaya diri dan langsung menghampiri dan hendak mencium pipi Arya.


“Kau jangan kurang ajar Siska!” geram Arya lalu bangkit dan menghindar dari Siska yang di ketahui mantannya saat sekolah SMA.


“Alah, kita sama-sama sendiri, kan. Hm!” Siska memainkan dasi Arya. Arya dengan kasar menarik dasinya lalu berjalan menuju pintu.


“Ngomong-ngomong, kau semakin mempesona Arya semenjak menjadi Duda.” Siska mengikuti langkah Arya.


“Silahkan keluar, sebelum aku panggil satpam dan aku sudah menikah lagi, jadi jangan coba-coba mendekatiku.” Arya membuka pintu dan mempersilahkan Siska untuk keluar dari ruangannya.


“Aku gak mau keluari! aku datang kemari untuk mengajakmu makan siang.” Siska kemudian duduk di sofa.


“Aku tidak berminat untuk makan siang dengamu. Aku sedang menunggu seseorang. Cepat keluarlah!” ujar Arya sedikit dengan nada tinggi


“Tidak mau!"


“Papa!" teriak Zea berlari menghampiri Arya dan kedua berpelukan. Sementara Kemala dan Zidan jalan santai sambil bergandengan.


“Mas, maaf. Anak-anak memaksa ingin datang kemari."


Arya mencium kening Kemala membuat sebagian staf terbelalak. Namun, Arya dan Kemala tidak peduli.


“Kalian datang di waktu yang tepat!” balas Arya.


“Maksudnya?”


“Ada nenek sihir di dalam!”


“Ha! Nenek sihir, memang ada, pa di dalam?” tanya Zea penasaran membuat gelak tawa Kemala dan Arya. kemudian Zea turun dari gendongan Arya lalu masuk kedalam untuk memastikan apa benar ada nenek sihir.

__ADS_1


Arya merangkul Kemala masuk kedalam ruangannya dan melihat Zea memperhatikan Siska yang duduk bersandar sambil memejamkan mata.


“Iya, Pa. Nenek sihir. Bibirnya merah seperti habis makan ayam hidup," lirih Zea lalu tertawa kecil.


“Siska, Anak dan istriku datang. Tolong keluar!" seru Arya. Siska membuka matanya lalu melihat Arya yang berdiri sambil merangkul Kemala.


Siska melihat Kemala dari atas sampai bawah, Tidak di pungkiri Kemala Lebih cantiy dan muda darinya, wanita yang memang benar-benar idaman Arya. Siska bangkit dari duduknya kemudian mengambil tasnya.


“Ok, kau memang wanita mungil," Ucap Siska lalu menggunakan kacamata modisnya kemudian keluar dari ruangan.


Kemala hanya menahan tawa melihat ekspresi Siska yang sepertinya menahan malu di hadapan Arya.


“Papa, Tante itu siapa?" tanya Zidan.


“Teman Papa dulu sayang.”


"Teman atau mantan!” sela Kemala melihat Arya.


“Tidak usah cemburu. Ayo kita makan, Papa lapar.” Arya merangkul Kemala.


“Anak-anak let's go!” ajak Arya menggendong Zea dan Zidan di tuntun Kemala.


Mereka keluar dari ruangan dan rupanya di luar sudah di hadangan olah putra dan Bima. Putra ingin menanyakan kabar pernikahan Arya dan Kemala, karena sampai saat ini Arya masih menyembunyikan identitas pernikahannya dari keluarga besar.


“Paman, Paman mau istirahat juga?” tanya Arya.


“Ya, Paman juga ingin bicara sesuatu padamu!”


“Ok, Mari!.” Mereka semua menuju lift.


Kemala begitu takut melihat Putra yang ekspresi wajahnya begitu dingin, tatapan matanya seolah mengintimidasi siapa saja yang melihatnua.


“Mama, Zidan haus,” ucap Zidan Tiba-tiba. Kemala sekilas melihat Putra lalu melihat Arya, dengan gugup ia membuka tasnya.


“Iya, sayang. Ini Mama bawa air minumnya.” Kemala membantu Zidan minum.

__ADS_1


“Pelan-pelan,” lirih Kemala.


Putra melihat sekilas Kemala dan menilai Kemala dari atas sampai bawah, dimatanya saat ini Kemala, wanita byang baik, keibuan. Tetapi Kenapa Arya bisa jatuh hati dengan wanita biasa sepertinya. Apa yang istimewa dari Kemala. memang Kemala manis tetapi kurang serasi untuk masalah fisik bersanding di samping Arya. Karena tubuhnya yang mungil seperti anak SMA.


__ADS_2