
Abi duduk termenung di tertas belakang rumah orang tuanya. Saat ini ia memang berada di rumah Bram. Karena memang ia sudah tidak memiliki rumah. semua rumah yang ada sudah dikuasai Utari termasuk rumah utamanya. Ia tak lagi memikirkan Utari dan statusnya kini sudah sah menjadi duda dari Utari. Beberapa bulan di rumah membuat dirinya bosan, ingin keluar pun ia tidak memiliki uang dan kendaraan, walau kendaraan milik orang tuanya dan anak-anak ada, Abi bukan type yang merepotkan orang-orang sekitarnya.
“Abi!” panggil sang Mama yang sudah ada di samping kursi.
"Ya, Ma!”
“Keluarlah, cari suasana baru. Jangan berlarut dalam kesedihan. Memang tidak mudah melupakan rumah tangga yang sudah berpuluh puluh tahun dibina hancur begitu saja. Buka lembaran baru. Lihatah putri kecilmu, Nasya.”
“Abi malu ma, Abi tidak memiliki uang sepeserpun.”
“Gajimu dari perusahaan?”
Abi tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya, Mamanya tidak mengetahui jika gajinya dari perusahaan sudah ia alihkan semua ke rekening Nasya.
“Sudah, untuk Nasya semua, Ma! Memangnya Abi kesana harus tangan kosong.”
Wina tersenyum lalu memukul lengan sang anak. Wina tahu Abi benar-benar tidak memiliki uang sama sekali, kemudian Wina memberikan dua gepok uang untuk anaknya sebesar 20 juta.
“Pakai uang Mama dulu. Nasya juga Cucu Mama, Kan. Temui Kalina, Dia tulus mencintaimu.”
“Mama yakin Kalina Wanita baik-baik, apa aku harus melanjutkan hubunganku dengan Kalina?”
“Tidak selama yang kedua itu buruk, Dia lebih tulus mencintaimu.” Wina tersenyum dan menarik sang anak. Ia tahu Abi ragu jika harus melanjutkan hubungannya dengan Kalina. Takut Kalina berubah seperti Utari, apalagi saat ini ia bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa.
“Pergilah temui Putri kecilmu, Dia pasti merindukan Papanya.”
“Terima kasih, Ma. Maafkan Abi selalu merepotkan Mama.” Abi memeluk Wina, Sebenarnya Abi malu, sudah berumur akan tetapi malah saat ini merepotkan orang tuanya.
Wina melakukan itu, karena ia juga harus bertanggung jawab dengan putri kecil sang Anak. Dan tidak ingin melihat Abi berlarut-larut dalam kesedihan, Padahal Utati sudah bebas menggandeng Pria yang lebih muda di depan umum.
“Aku pergi ke rumah Kalina, Semoga Kalina juga seperti yang Mama harapkan dan menjadi yang terbaik untuk menemani masa tuaku, Ma. seperti Mama menemani Papa.”
__ADS_1
“Demi putri kecilmu juga sayang. Anak-anakmu yang lain sudah dewasa dan mempunyai kehidupan masing-masing. Kamu tata kembali hidupmu menjadi lebih baik lagi. Kami sekeluarga akan terus mendukung saudara mana yang membutuhkan pertolongan.”
Abi tersenyum kemudian mencium pipi sang Mama. Abi kemudian melangkah bersiap untuk ke rumah Kalina. Saat keluar rumah Wina tersenyum melihat anaknya kembali tersenyum dan fres. Wina memberikan kunci mobilnya agar Abi lebih mudah berpergian.
“Gunakan mobil Papamu! Salam untuk Cucu Oma, Jika ada waktu ajak mereka kemari.”
“Iya, Ma. Terima kasih.” Abi melangkah pergi untuk menuju rumah Kalina.
Diperjalanan Abi tersenyum, ia begitu merindukan Putri kecilnya. Ia juga tidak lupa singgah untuk membelikan boneka dan ikat rambut serta jepit rambut dengan warna kesukaan sang putri. Abi begitu bahagia dengan apa yang akan ia berikan pada putrinya, berharap Nasya nanti tidak merajuk, Karena sudah hampir 4 bulan tidak bertemu dan komunikasi. Tak lupa Abi juga membelikan buah dan makanan kesukaan anaknya dan Kalina. Setelah membelikan semua untuk Nasya dan Kalina ia bergegas masuk kedalam mobil. Saat hendak menginjak gas mobilnya Abi tidak sengaja melihat Utari dan teman sosialitanya sedang berada di sebuah kafe. Mereka tampak sedang bercanda dan senang-senang.
Abi menghela nafas aras panjang lalu tersenyum, Ia senang mantan istrinya bahagia dengan caranya sendiri, kini ia juga bertekad untuk bahagia dengan caranya sendiri.
“Nasya, Papa datang sayang!” gumam Abi lalu menginjak pedal gas mobilnya.
Sesampainya di depan rumah Kalina, Abi mengatur nafasnya, ia melihat depan rumah Kalina dan tersenyum.Mengingat masa pertama kali datang kerumahnya. Abi keluar dari mobil dengan membawa barang bawaannya. Ia masuk halaman rumah Kalina.
Abi berdiri di depan pintu dan melihat kedalam rumah yang tampak sedikit berantakan, ada kain berserak dimana-mana. Semenjak tidak bekerja di perusahaan keluarga Abi, Kalina meneruskan usaha mendiang Ibunya yaitu menjahit baju dan membuat baju pesanan orang-orang dan hasilnya bisa untuk menyambung kebutuhan sehari-hari. Walau Abi sebenarnya memberikan uang melalui Arya, Akan tetapi Kalina tidak pernah mengambilnya. Kalina mempunyai alasan tidak menggunakan uang tersebut, sebab ia tidak ingin suatu saat tiba-tiba Utari menanyakan hal tersebut dan membuat dirinya semakin membenci dirinya sendiri. Kalina belum mengetahui jika Abi dan Utari sudah benar-benar berpisah, selama beberapa bulan ia tidak mengetahui bagaimana kabar lelaki yang masih berstatus Suaminya itu.
Dengan meneruskan usaha sang Ibu, ia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membayar uang sekolah anaknya.
“Ya,sebentar!” suat Kalina dari dapur, ia belum mengetahui jika yang datang adalah Abi.
Abi tersenyum mendengar suara lembut yang dulu ia dengar. Ia merapikan rambutnya dan merapikan kumis bulu-bulu halus di rahangnya.
“Cari sia....” Kalina terkejut dan diam mematung saat melihat Abi berdiri di ambang pintu.
“Mas, Em ... silahkan masuk, Mas. Maaf rumahnya berantakan." Kalina merapikan dan memunguti sisa kain jahitannya.
Abi masuk dan meletakkan barang bawaan di meja ruang tamu. Kemudian Abi menghampiri Kalina. Abi meraih tangan Kalina yang sedang membereskan kain. Abi membalikkan badannya sehingga mereka berhadapan. Kalina tampak gugup dan tidak berani memandang wajah Abi.
Abi meraih dagu Kalina dengan tangannya agar menatapnya. Mata Kalina tampak sudah memerah menahan air mata yang hampir jatuh di pipinya. Tanpa kata Abi langsung memeluknya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Lin. Setelah kejadian kamu keguguran, aku tidak lagi menghubungimu dan anak kita. Maafkan aku. Aku tahu kamu pasti kesulitan mengurus Nasya sendirian.”
Kalina melepaskan pelukan Abi dan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, kami baik-baik saja. Mas datang kemari untuk menemui Nasya atau ingin mengakhiri hubungan kita. Jika iya, Mungkin lebih baik, Mas. Supaya aku tidak merasa selalu di hantui perasaan bersalah pada Mbak Utari. Aku akui, aku memang salah, aku menyesal.” Kalina menunduk lalu membelakangi Abi dan meneteskan air mata penyesalan sudah menjadi orang ketiga di pernikahan Abi dan Utari.
“Aki sudah bercerai dengan Utari. Utari menggugat cerai diriku!”
Kalina mengusap air matanya dan berbalik menghadap Abi, Kalina menatap Abi dengan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi setelah kejadian beberapa bulan lalu.
“Maksud, Mas?”
“Iya, Aku sudah resmi berpisah dan aku justru menyesal, kenapa dari dulu aku tidak bertemu dirimu. Dan justru bertemu Utari lebih dulu.”
“Aku belum lahir kali, Mas!” Kalina mengusap lembut pipi Abi. Mereka tertawa kecil kemudian Abi memeluk Kalina kembali.
“Kita akan menikah resmi dan melanjutkan hidup bersama. Kamu masih mencintaiku, kan?” tanya Abi. Kalina mengangguk sambil menangis haru. ia mengira kedatangan Abi untuk mengakhiri hubungannya akan tetapi ia tidak menyangka Abi ingin menikahi dirinya secara sah.
“Tapi kenapa Mas di gugat cerai?” tanya Kalina.
Abi tersenyum dan mengusap lembut pipi kalina.“ Jadi selama ini yang bermain belakang lebih dulu itu Utari, Utari lebih memilih harta dari pada memperbaiki hubungan dan sekarang dia sudah bahagia dengan brondongnya. Sudah lupakan, Sekarang aku ingin melanjutkan hidup bersamamu, sampai nanti. Kamu mau?”
Kalina mengangguk, karena memang ia begitu mencintai Abi. Walau usia Abi tidak lagi muda, Ia begitu mencintainya. Baginya Abi adalah segalanya didalam hatinya.
“Tapi aku sudah tidak memiliki apapun, aku sudah miskin, bahkan rumah juga sudah tidak punya!”
“Harta bisa dicari, Mas. Kita bisa tinggal disini, di rumah ini. Tapi tidak sebesar rumah kita dulu, dan pekerjaanku saat ini, ya seperti ini. Tapi cukup buat kita hidup bertiga!”
Abi hanya tersenyum melihat Kalina yang sedari dulu apa adanya. Bahkan mungkin ia lupa jika Abi anak orang kaya dan pembisins besar.
“Tidak masalah, Kita mulai dari nol. Oh iya, Mana putri cantik kita?” tanya Abi melihat sekelilingnya.
“Nasya sedang tidur siang. Aku tidak tahu, Nasya pulang sekolah mengeluh pusing, capek dan dia sedikit murung.”
__ADS_1
Abi tersenyum kemudian ia menuju kamar untuk melihat sang anak. Abi kemudian berbaring memeluk sang anak dari belakang sedangkan Kalina tersenyum haru melihat seorang Ayah yang merindukan putrinya.
Kalina kemudian memutuskan untuk membereskan barang-barang bawaan Abi dan membereskan. rumahnya.