PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 28 KETENANGAN BATIN


__ADS_3

“Mas, hari ini pulang jam berapa dari kantor?” tanya Kemala sambil membantu Arya mengenakan jasnya.


“Belum tahu, soalnya hari ini ada meeting, Dan papa hari ini juga sudah kembali ke kantor.” Arya merapikan kemejanya di depan cermin.


“Memangnya kenapa? Kamu Rindu dan tidak bisa jauh dariku, Hm!” Arya berbalik dan meraih pinggang istrinya.


“Emm ... tidak, aku minta izin mau ke rumah sakit, mau lihat kondisi Ibu, kata pak lek sama Bu lek. Ibu sudah ada perkembangan. Kemarin Ibu sudah bisa menggerakkan jarinya.” Kemala tersenyum melihat suaminya sambil membenarkan dasi sang Suami. Walau Kemala sudah mengetahui jika Ibunya bukanlah Ibu kandungnya, ia tetap mengakui sebagai Ibunya, Sedangkan pada Ayahnya, Kemala hanya bisa memasrahkan pada Tuhan. Biarkan saja Tuhan yang membalasnya.


“Iya, nanti diantar sopir ke rumah sakit. Ya sudah, Aku berangkat.”


Kemala meraih tangan Arya dan menyalaminya. Arya memeluk dan mencium pipi, kenig dan terakhir bibir.


“Oh iya, nanti bilang saja sama Narti. Suruh langsung bawa anak-anak pulang. Jangan mampir ke time zone.”


“Iya, Tadi sebelum berangkat, Aku sudah bilang sama Narti. Kalau nanti langsung pulang saja, karena aku tidak bisa menjemput anak-anak.”


Arya tersenyum melihat sang istri begitu tulus mengurus anak-anaknya, walau salah satu anaknya masih belum menerimanya. Kemala selalu berusaha membangun kedekatan dengan si kembar.


“Terima kasih, sudah mau aku repotkan dengan anak-anaku." Arya sekali lagi mencium kening Kemala.


“Mereka juga anakku, Mas.”


Arya tersenyum kemudian ia pun melangkah keluar kamar di ikuti Kemala. Namun saat sampai di teras, Arya melihat mobil sang Mama di depan rumahnya, Utari datang bersama pria muda, terlihat jelas pria bersama Utari lebih muda dari Arya.


“Halo, sayang!” sapa Utari pada Arya saat menghampirinya lalu mencium pipi sang anak. sedangkan Kemala tersenyum melihat kedatangan Mama mertuanya kemudian Kemala mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Utari, akan tetapi Utari mengabaikannya.


Melihat hal itu Arya menarik Kemala di sampingnya dan menggenggam tangannya.


“Mama ada apa datang kemari, aku mau ke kantor?” tanya Arya datar sambil melihat pria muda itu bersandar di kap mobil sang Mama.

__ADS_1


“Mama datang kemari mau melihat cucu Mama dan Mama mau mengajak mereka jalan-jalan, Mama sudah bilang ke istri kamu kalau hari ini Mama mau jemput mereka,” ucap Utari.


“Ma, Mereka sekolah! Mana mungkin mereka jalan-jalan dengan Mama dan Orang itu!” geram Arya.


“Jadi istri kampungan kamu ini tidak memberitahumu kalau Mama mau jemput Zea dan Zidan?”


“Maaf, Ma. Bukan begitu, tapi anak-anak harus sekolah. Mungkin jika pulang sekolah tidak masalah,” saut Kemala yang tidak ingin anak-anak sambungnya itu bolos dan menjaga tidak disiplin dalam bersekolah.


“Halah...! Sekolah masih TK, Kamu itu hanya ibu tiri tidak usah terlalu mengatur anak-anak Arya.”


“Ma, cukup! Benar apa yang dikatakan Kemala, anak-anak sekolah, dan mereka harus disiplin. Aku juga tidak mengizinkan mereka bolos hanya alasan jalan-jalan. Apa lagi sama brondong Mama yang tidak tahu diri itu! Lebih baik Mama pulang, jalan-jalan sendiri saja, nikmati saja dosa Mama sendiri, jangan lagi mengganggu rumah tanggaku!” kesal Arya dan masih tetap menggenggam tangan Kemala.


“Jadi kamu sekarang berani bernada tinggi sama Mama! Dan kau...!” Utari hendak menampar pipi Kemala, Namun Arya mencegahnya dengan tangannya.


“Cukup, Ma!”


Arya mendongakkan wajahnya, mencoba menahan amarahnya. Ingin sekali ia menghajar pria muda yang bersama sang Mama, Tetapi, ia tidak ingin Kemala ketakutan melihat dirinya menghajar seseorang, karena sudah pasti Kemala akan teringat kekerasan pada dirinya.


“Mas, tenang ya. Ayo masuk dulu!” ujar Kemala menarik lembut sang suami masuk kedalam rumah.


Arya duduk di sofa ruang tamu sedangkan Kemala bergegas mengambil air minum untuk sang suami di ruang makan.


“Mas, minum dulu.” Kemala memberikan air minum. Arya menghela nafas lalu mengambil air minum dari tangan sang istri lalu meminum.


“Sabar ya, Mas. Biar bagaimanapun, Mama tetap orang tua kita, Kita harus menghormatinya. Terlepas sikapnya yang saat ini seperti anak muda.


Arya mengangguk lalu tersenyum mengusap lembut Pipi Kemala. Ia begitu senang ada yang menenangkan hati dan batinnya.“Terima kasih, Kamu juga sabar menghadapi Mama.”


“Ya sudah, Aku berangkat ya. Kamu hati-hati nanti ke rumah sakit. Jangan gampang akrab dengan orang lain. Pokonya waspada.”

__ADS_1


“Iya, Mas juga hati-hati.” Kemala menyalami Arya lagi kemudian Arya pun berangkat ke kantor.


Disisi lain, Abi dan Kalina saat ini sedang berdua. sementara Nasya sudah berangkat ke sekolah lebih dulu dan di jemput bus sekolah. Abi duduk di ruang makan sambil melihat Kalina membuat kopi untuknya serta membuatkan sarapan, Abi sarapan dengan menu roti gandum dan selai nanas. Sarapannya tidak begitu berat, sebab ia harus menjaga polo makannya. dan sang istri yang sudah mengatur menunya.


“Mas, ini kopinya. Habiskan rotinya, Nanti siang aku titipkan makan siang di meja satpam ya.” Kalina meletakkan secangkir kopinya di meja di dekat Abi.


“Masuk saja ke ruangan seperti biasa.”


“Tidak, Mas. Aku malu!”


Abi melihat Kalina lalu meraih tangannya “Kenapa harus malu, Kamu kan istriku.”


Kalina tersenyum lalu duduk di pangkuan Abi.“ Aku belum siap dengan semuanya. Tolong pengertiannya. ” Kalina merapikan dasi sang suami lalu mencium keningnya.


“Ok baiklah.” Abi memeluk Kalina.


Bersama Kalina Abi menemukan ketenangan batin kembali, Merasakan manjanya seorang istri terhadap suaminya. Ia merasa dibutuhkan dan dihargai, sebab dahulu Utari melupakan kewajiban sebagai istri, Abi baru mendapatkan lagi dari dalam diri Kalina. Berharap Kalian tidak akan pernah berubah seperti istrinya yang terdahulu.


“Mas, Aku boleh bertanya?” tanya Kalina.


“Boleh? Apa?”


“Mas bisa tinggal di rumah kecil seperti ini, Karena dari dulu kamu sudah terbiasa tinggal di rumah besar?”


“Mau di lubang semut pun aku bisa, asal bersama kamu!” keduanya tertawa kecil.


“Doakan pekerjaanku berjalan lancar, Nanti kita beli rumah baru, hm! Nanti aku juga akan bantu kamu untuk membangun rumah jahit kamu. Tentunya Aku kumpulkan modal dulu. Sebenarnya aku bisa saja meminjam uang sama Arya atau orang tuaku untuk modal usaha lagi, tapi ... lebih baik seperti ini. Kita mulai dari Nol.”


Kalina tersenyum lalu mengangguk, setuju dengan pemikiran sang suami. Ia yakin di tangan sang suami urusan bisnis akan berjalan lancar. Hanya butuh waktu saja melihat Abi membuat gebrakan baru seperti saat muda dulu.

__ADS_1


__ADS_2