PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 18 NYAMAN


__ADS_3

Arya dan Kemala serta anak-anak mereka sedang berkunjung ke rumah Kalina untuk menjenguk sang Papa. Tidak ketinggalan Tasya dan sang suami juga ikut menjenguk Abi. Pertama mengetahui Abi mempunyai istri lagi, Tasya begitu syok dan marah, akan tetapi Suami dan Arya menenangkan dan memberikan pengertian pada Tasya. Bahwa ini urusan rumah tangga orang tuanya dan semua sudah terjadi dan Kalina juga sudah memiliki anak serta sebentar lagi juga kan melahirkan sang Adik.


Kemala membawakan buah kesukaan mertuanya yaitu Apel dan pisang. Mereka di sambut Kalina dengan hidangan rumahan. Kemala begitu senang mertua tirinya itu begitu baik dan perhatian.


“Ayo semua masuk!" ajak Kalina saat membuka pintu.


“Terima kasih, Bu!" balas Kemala.


“Opa!” teriak Zea dan Zidan saat melihat Abi juga menyambutnya.


“Cucu-cucu Opa sudah besar!” Abai memeluk kedua cucunya itu dengan penuh kasih sayang.


Tak lama Abi melihat Tasya yang menatapnya penuh amarah. Namun, Tasya hanya bisa memendam semuanya, bukan saatnya mengoceh dan memarahi sang Papa yang kondisinya baru saja pulih. perlahan Tasya tersenyum dan menghampiri sang Papa dan mereka berpelukan seolah Tasya tidak mengetahui semuanya.


“Tasya, Maafkan Papa.”


“Ssssttt, Sebanarnya Tasya ingin sekali marah, tapi, Semua sudah terjadi. Melihat Papa sudah kembali sehat dan diurus istri muda Papa saja Tasya senang, Pa. Senang Papa sehat kembali." Tasya meraih tangan Abi dan menciumnya.


Kalina tersenyum tipis dan menunduk, Biar bagaimana ia juga merasa bersalah sudah hadir di kehidupan Abi dan rumah tangganya. Tasya bangkit lalu menghampi


“Sebenarnya, aku ingin sekali menjambakmu. Tapi kita sama-sama sedang hamil dan semua sudah terjadi. Aku tidak bisa berbuat apapun dalam masalah ini. Aku juga berterima kasih padamu sudah mau menjaga dan merawat Papaku. Karena tidak semua Istri muda mau merawat suaminya yang sedang sakit." Tasya menatap tajam Kalina membuang kalina panas dingin. Tasya juga melihat sang Papa sepertinya nyaman dan tenang diurus Kalina.


“Sudah, ayo semua duduk, lihat anak-anak sudah saling akrab,” ujar Arya melihat kedua anaknya yang begitu asyik bermain bersama Nasya.


Tasya berjalan lebih dulu dan duduk di sofa sambil memperhatikan wajah Nasya. Wajah perpaduan Abi dan Kalina. Ia merasa geli membayangkan diusianya 37 tahun dan sedang hamil anak kedua akan mempunyai adik lagi.


Kalina menuju dapur dan menyuruh asisten rumah tangga untuk memberikan jamuan pada anak-anak suaminya.


“Arya, Bagaimana kabar Mamamu?” tanya Abi. Ia yang sudah beberapa kali menghubungi Utari akan tetapi tidak pernah di angkat bahkan pesannya hanya di baca tanpa ada balasan apapun.


“Mama juga tidak mengangkat panggilan telponku, Pa. Tapi orang kepercayaanku yang mengawasi Mama, Mama masih di kampung.”

__ADS_1


“Mungkin Papa akan menyusul Utari!" ujar Abi. Ia ingin menyusul sang istri jika kondisinya sudah benar-benar pulih.


" Ayo, Silahkan di minum.” seru Kalina saat Minumnya datang.


Semuanya meminum minuman yang di suguhkan asisten rumah tangga Kalina termasum anak-anak Arya. mereka juga begitu senang bermain bersama Tante kecilnya.


Mereka berbicara banyak hal dan hanya membahas hal penting tidak lagi menyinggung Abi, Utari dan Kalina. Biarlah itu urusan orang tua dan hanya mereka Yang bisa menyelesaikan secara dewasa.


Waktu semakin malam, mereka semua pamit, anak-anak Abi sudah lega melihat kondisi sang Papa.


“Pa, Kami pamit. Semoga Papa cepat pulih.” Tasya memeluk Abi sedikit lama, Baginya Abi adalah Papa terbaik untuknya dan tidak di dapat pungkiri.


“Iya, Kalian hati-hati. Kamu nanti lahiran di Surabaya, Kan?” tanya Abi.


“Mungkin, Pa. Tapi lihat nanti saja.” Tasya tersenyum kemudian pandangannya beralih pada Nasya yang berdiri di samping Abi.


“Hai, adik kecil. Jaga Papa ya!” ucap Tasya pada Nasya llau tersenyum dan mencium pipinya.


“Jangan panggil Tante, Kakak saja ya. Aku kakakmu. Anak Papa Abi juga. Namaku Tasya, Siapa namamu?"


“Nasya, Kak.”


“ Ya sudah, Kakak pulang ya.” Tasya mengusap pucuk rambut Nasya lalu naik mobil Arya. Mereka memang datang dalam satu mobil.


Arya melajukan mobilnya dan pulang ke rumah. Di perjalanan, mereka semua diam dan tidak ada yang ada yang bersuara. Mereka dengan pikirannya masing-masing. Zidan tertidur di pangkuan Kemala sedangkan zea bersama Suami Tasya duduk di bangku depan.


“Kak, aku nginep di rumah kakak, ya. Aku malas di rumah utama, ada Willona!” celetuk Tasya tiba-tiba.


“Hm, Boleh kan sayang?" tanya Arya pada Kemala yang meminta izin dahulu dengan sang istri jika Adiknya akan menginap.


“Ya boleh dong, Mas. Mbak Tasya, kan Adiknya Mas Arya. Mbak aku juga."

__ADS_1


Tasya tersenyum lalu mengusap pundak Kemala.” Terima kasih, ya. Kamu baik. Oh Iya kenapa kamu mau sama tua bangka itu?”


“Huss! tua bangka. Memangnya aku sudah setua itu apa?" Arya tidak terima jika sang adik mengatakan dirinya tua bangka, sedangkan suaminya saja lebih tua darinya.


“Terus suami kamu itu, dia levi tua dariku!" protes Arya tidak terima.


“Suamiku spesial kak. ora koyo kue, banyak pacarnya!"


Semua tertawa kecil dan Arya melihat Kemala dari kaca mobil. Kemala juga melihat tatapan Arya dari kaca. Ia tersipu sang suami menatapnya seolah tidak akan melepasnya.


“Oh, iya kk. Kapan pesta pernikahan kalian di adakan?” tanya Tasya.


“Kamu tanya saja dengan Kemala, kapan mau diadakan!” jawab Arya.


Kemala tersenyum ke arah Tasya. Bukannya ia tidak ingin diadakan pesta, akan tetapi ia ada alasan sendiri menolak diadakannya pesta.


“Tidak usah, Mbak. Sudah sah di mata agama dan negara saya sudah bahagia. Pesta hanya menghabiskan uang.”


Tasya tertawa mendengar kalimat Kemala. Apa ia tidak tahu jika uang Suaminya itu tidak akan pernah habis sampai anak cucunya.


“Uang siapa yang habis? Suami kamu itu orang kaya, pembisins hebat."


“Eun... iya sih, Mbak. Tapi saya punya alasan sendiri.”


“Ya sudah begini saja. Berhubung keluarga suami kamu itu anak tertua, cucu tertua dari anak ketiga Oma Wina dan Opa Bram. Kita adakan makam malam saja. Acara keluarga besar saja. Bagaimana, Ya ... keluarga besar berhak tahu dong siapa istri tuan Arya mantan playboy cap ikan teri ini.”


“Kau ini!” geram Arya di iringi tawa semuanya.


“Kalau itu terserah Mas Arya saja, Mbak. Saya ikut saja.”


“Kamu itu istri yang terlalu nurut sama suami!”

__ADS_1


Arya tersenyum melihat Kemala dari balik kaca, Ia sadar wanita seperti Bella lah yang bisa menenangkan dirinya, dan itu ada didalam diri Kemala. Walau ada perbedaan setidaknya bicaranya lemah lembut dan bisa membuat Arya nyaman saat di rumah, terlebih saat pulang bekerja ada yang membuat dirinya tenang dan nyaman.


__ADS_2