
Arya tertidur di sebelah brankar Kemala dengan posisi duduk dan kepalanya ia baringkan disebelah bahu Kemala. Arya terus menggenggam tangan Kemala dan seolah tidak ingin melepasnya. Kemala tersenyum saat sadar dan mendapati sang suami ada disampingnya.
“Mas...,” lirih Kemala. Arya tersentak lalu melihat kemala.
“Sayang, kamu sudah sadar. Mana yang sakit. Mas panggilkan dokter ya, atau mau sesuatu?” Arya panik dan hendak beranjak dari duduknya. Kemala menahannya.
“Tidak, Mas! Aku cuma pengen minum.”
Arya melihat kanan kiri mencari segelas air. akan tetapi tidak ada persediaan. “Sebentar!” Arya bergegas keluar untuk meminta air pada suster sekaligus memberitahu jika sang istri sudah sadar.
Setelah mendapatkan air Arya kembali keruangan Kemala bersama suster dan dokter yang menangani Kemala. Dokter memeriksa Kemala setelah itu keluar. dari ruangannya.
“Ini minumnya.” Arya membantu Kemala untuk minum.
“Sudah, Mas. Terima kasih.”
Arya meletakkan gelasnya di meja Nakas dekat brankar lalu duduk kembali. Arya tersenyum mengusap lembut pipi Kemala.
“Papa sudah mencaritahu keluarga kandungmu dan menghubungi Opa Daniel di London,” ujar Arya memberitahu Kemala jika Abi sudah menghubungi dan mencaritahu keluarga kandung Kemala. Tentunya dari pihak Omanya, Bella.
“Apa mereka percaya Kalau aku ini keluarga mereka, Mas. Aku tidak yakin dan aku tidak berharap banyak. Bagiku saat ini adalah dirimu dan juga Ibu. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ibu, jika tahu Ayah sudah tiada.”
“Pasti mereka percaya. Karena kamu satu satunya keturunan mereka.”
“Jangan menghiburku seperti itu.” Kemala tersenyum tipis. Ia tidak banyak berharap dengan keluarga kandungnya. Saat ini yang ia pikirkan adalah Ibunya. Bagaimana reaksi sang Ibu jika tahu suaminya meninggal karenanya. Pasti Ibunya akan membencinya.
“Sayang, Kenapa kamu tidak memberitahuku jika kamu sedang hamil.” Arya mengalihkan pembicaraan agar Kemala tidak begitu memikirkan Ibunya.
Kemala tersenyum dan meraih tangan sang suami. Sebenarnya ia sengaja tidak memberitahu Arya karena ingin memberikan kejutan di hari genap 2 bulan pernikahan resmi mereka.
“Mau memberikan kejutan buat kamu dihari genap 2 bulan pernikahan resmi kita, Mas. Tapi malah kejadian seperti ini.”
__ADS_1
“Aku begitu bersyukur kehamilan kamu tidak apa-apa. Kamu kuat sayang.”
“Mas yang membuat aku kuat.”
“Terima kasih ya!” Arya memeluk Kemala.
Kemala tersenyum, ia begitu bahagia penderitaan dari Ayahnya telah usai dan sangat bersyukur bisa bertemu dengan Arya, walau sampai saat ini ia masih berusaha mendapatkan simpati dan restu Utari. Ia juga tidak tahu sampai kapan utrai bisa menerimanya sebagai menantu.
Arya di kejutkan deringan ponselnya, lalu ia mengambil ponselnya di saku celananya. Ia melihat layar ponselnya yang ternyata dari sang Papa.
“Ya, pa.”
“E ... Arya, Narti sudah ditemukan. Sekarang masih di kantor polisi. Sepertinya dia masih syok!” terang Abi yang saat ini di kantor polisi untuk mendampingi Narti untuk memberikan keterangan.
“Syukur lah, Pa. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.”
“Ya sudah. Kamu fokus kesehatan istrimu dan jaga kesehatanmu. Mungkin dalam waktu dekat Om Daniel akan langsung ke Indonesia.
“Iya, Pa. Terima kasih sudah banyak membantu.”
“Aku usahakan, Pa. Aku juga serba salah dalam hal ini. Disisi lain Mama tetap lah Mamaku, Tapi disisi lain, Mama sangat keras kepala dan selalu memusuhi Kemala. Aku pusing!
“Yang sabar, Papa hanya bisa berdoa semoga Mamamu cepat sadar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.”
“Iya, Pa.” Arya dan Abi mengakhiri panggilannya.
***
Dua hari sudah Kemala dirawat di Rumah Sakit. Kondisinya sudah mulai membaik. Selama ia di rawat Arya terus menemani dirinya dan sementara tidak ke kantor. Kalina juga setiap saat datang menjenguk hanya untuk membawakan makanan yang diminta Kemala, Karena tahu Kemala sedang ngidam.
Daniel, opa Kemala pun sudah berada di Indonesia dan sudah tidak sabar ingin bertemu cucunya yang hilang 23 tahun lalu. Saat tahu sang cucu di temukan tanpa bertanya benar atau tidak, Daniel langsung memutuskan terbang dari menuju Indonesia. Karena ia yakin dengan cerita Abi.
__ADS_1
Kemala dan Arya bersiap untuk pulang, Kemala duduk di kursi roda sambil melihat layar ponselnya untuk mengabari buleknya, jika ia sudah baik-baik saja. Tiba-tiba Arya berlutut di depannya dan meraih jemarinya. Kemala pun heran dan tertawa kecil melihat suaminya yang sudah berumur itu berlutut dihadapannya.
“Ada apa, Mas.”
“Mau ngomong sama adek bayi dalam perut dulu sebelum pulang.”
Kemala tersenyum lalu membiarkan Arya berbicara seperti anak kecil di dekat perutnya, hingga tanpa sadar ada dua orang yang sedang memperhatikan mereka. Siapa lagi kalau bukan Abi dan Daniel, Opa kandung Kemala.
Kemala terkejut saat melihat Abi dan Daniel, orang yang belum ia kenal sama sekali. Kemala menepuk pundak Arya agar Arya melihat ke arah Papa mertuanya dan Orang yang belum ia kenal.
“Mas,” lirih Kemala, Arya melihat Kemala dan mengikuti pandangan Kemala.
“Papa, Opa Daniel!” ujar Arya lalu bangkit menghampiri Abi dan Daniel.
Daniel begitu terharu melihat kemala dan langsung memeluknya. Tangisnya pecah mengingat masa lalu, Masa dimana sang cucu hilang tanpa jejak.
“Elena cucuku! Kau masuh hidup, Nak! I'm your grandfather,” lirih Daniel.
Kemala masih bingung dan ragu untuk membalas pelukannya. Sejenak Kemala melihat Arya dan Abi, Abi mengangguk menandakan jika Daniel adalah keluarganya, Baru lah Kemala membalas pelukannya Daniel. Kemala menangis dan mengingat kekejaman Ayahnya Suhendra terhadap dirinya. Dari kecil ia tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang Ayah, yang ia dapat hanya siksaan setiap saat.
“Opa!” lirih Kemala.
Daniel melihat wajah Kemala, ia sangat yakin Kemala adalah Belinda Selena Morgan, cucunya yang hilang dulu. Mata Kemala begitu mirip dengan Bella, sang Oma.
“Papa mertumu sudah menceritakan semuanya. Maafkan Opa, sudah menyerah mencarimu. Opa sangat bersyukur kamu menikah dengan Arya, cucu sahabat Opa, Bram dan Wina.”
Kemala hanya mengangguk dan masih menangis. Pertemuan mereka begitu mengharukan. Daniel mengusap air matanya lalu mencium pucuk rambut Kemala.
“Selamat atas kehamilanmu,” ucap Daniel mengusap rambut Kemala. Kemala hanya bisa tersenyum dan memandangi sang suami yang ada di depannya.
“Baiklah. Waktunya kita pulang. Opa bisa melepaskan rindu sepuasnya dengan Kemala di rumah. Opa bisa bercerita banyak hal dengan Kemala!” ujar Arya menghampiri Keduanya.
__ADS_1
“Ok, ayo kita pulang!” ajak Daniel.
Mereka semua pun pulang ke rumah Arya. Daniel begitu bahagia melihat Kemala bisa menjadi bagian keluarga sahabatnya. Akhirnya persahabatannya dengan Bram dan Wina akan semakin erat.