
“Dasar wanita sialan, Kau beraninya membahayakan cucuku dan anakku!” Utari tiba-tiba datang dan mengamuk pada Kemala.
“Uwh!! Sakit, Ma!" Kemala berusaha menahan tangan Utari yang menjambak rambutnya. Tak lama Utari mendorong Kemala, beruntung Abi menangkap tubuh menantunya.
“Mama hentikan! Apa maksud kamu datang kemari mengamuk Kemala?”
“Apa, Kau memanggil diriku Mama! Hai...! Abi kita sudah tidak mempunyai hubungan apa pun.” Utari sekilas melihat Kalina menolong Kemala.
“Ouh ... jadi Kamu kembali lagi dengan wanita muraha itu.” Utari tersenyum sinis melihat Kalina.
Abi memghela nafas panjang berusaha menahan air matanya dan emosinya, Bagaimana ia begitu prihatin dengan sikap Utari saat ini. Bohong jika Abi tidak ada perasaan cinta dihatinya untuk Utari.
“Nyonya Utari yang terhormat. Tolong tinggalkan rumah ini. Jangan membuat keributan.”
“Apa? Kau menyuruhku pergi dari rumah anakku sendiri. Seharusnya dia yang tidak berhak disini. Ini rumah anakku.” Utari menujuk Kalina.
"Lalu apa maumu?” geram Abi.
“Ada apa ini, Kenapa pagi-pagi sudah ribut?” tanya Arya yang baru saja bangun tidur dan masih menggunakan baju tidur. Arya melihat Mamanya yang terlihat emosi melihat Papanya.
“Ada apa lagi, Ma! Kenapa Mama sering sekali mencari keributan. Disini sedang ada tamu. Ada Oma, Opa dan Opa Kemala.”
Utari menatap tajam Kalina dan Kemala, ia merasa semenjak kehadiran mereka Arya tidak lagi menghormatinya. Utari memilih keluar dari rumah Arya. Ia masuk kedalam mobil dengan keadaan emosi, ia melajukan mobilnya melesat entah kemana.
Semuanya hanya memandangi kepergian Utari sambil menghela nafas, Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Semua masuk kedalam rumah kecuali Abi. Abi duduk di kursi teras rumah memikirkan mantan istrinya.
“Utari...,” lirihnya lalu mengusap wajahnya. Dengan cara apa menasehatinya agar menjadi lebih baik lagi.
“Mas...,” panggil Kalina sambil mengusap pundaknya.
“Mbak Utari suatu saat nanti pasti berubah lebih baik, Mas. Kita doakan saja.”
__ADS_1
“Semua ini salahku, Lin. Aku gagal mendidiknya, sebelum mengenalmu, aku sering menasehatinya. Tapi dianggap angin lalu.”
Kalina tersenyum lalu duduk di sampingnya. Kalina meraih jemari Abi dan mengusap lembut pipinya.
“Mas sudah melakukan yang terbaik sebagai suami. Tapi saat ini akulah istrimu. Walau aku tau Mbak Utari adalah Ibu dari anak-anak Mas. Tapi aku salut sama Mbak Utari berhasil mendidik anak-anaknya menjadi orang sukses semua.”
“Bukan Mama. Tapi Papa yang berhasil mendidik kami menjadi seperti saat ini, termasuk menjadikan Mama orang sukses dalam bisnis dan kehidupannya menjadi lebih baik, ” sela Tasya tiba-tiba datang bersama anak dan suaminya.
“Sayang, Kapan datang. Kenapa tidak mengabari Papa?” Abi bangkit lalu menyambut cucunya yang ada di gendongan suami Tasya.
“Kemarin, Pa.” Tasya sekilas berpelukan dengan papanya begitu juga dengan Kalina.
“kehamilan kamu sudah besar, kamu mau lahiran di Surabaya atau di Jakarta?” tanya Abi.
“Di Surabaya saja, Pa. Banyak saudara. Tasya juga ingin dekat dengan Mama sekaligus ingin menasehati Mama. Kupingku sudah tidak tahan mendengar laporan orang-orang suruhan Kak Arya yang mengawasi Mama. Mama sekarang sering ke Singapore dan main di tempat judi kasino disana. Tasya tidak bisa membiarkan ini, Pa.”
“Iya, Sya. Papa juga pusing melihat tingkah Mamamu yang semakin menjadi.”
“Resya mau sama Oma?” ucap Kalina pada anak Tasya yang berumur 2 tahun. Resya pun langsung menghambur ke pelukan Kalina.
“Sepertinya cucu Oma masih ngantuk, ya!” ucap Kalina mencium pipi Resya.
Tasya hanya tersenyum tipis melihat Kalina. Ia senang Kalina menjaga sang Papa di masa tuanya disisi lain ia juga tidak suka dengan Kalina, akan tetapi ia menghormati keputusan Papanya dan menghormati Kalina sebagai istri sang Papa.
Mereka semua masuk kedalam. Sesampainya didalam Tasya menghampiri Wina dan Bram. Mereka saling berpelukan satu sama lain. Sungguh dimata Kemala, pemandangan yang begitu indah dengan rasa kekeluargaan keluarga sang suami. Keluarga hangat yang tidak pernah ia dapatkan dari kecil.
Mereka saling bercengkrama, bercanda satu sama lain. Suasana rumah Arya begitu ramai padahal belum semua berkumpul. Andai Anak cucu dan cicit Wina berkumpul menjadi satu. Mungkin rumah Arya tidak bisa atau muat menampung mereka semua.
Arya tersenyum melihat sang Istri yang kini duduk disampingnya, sedang sarapan bersamanya. Arya melihat Kemala yang sedari tadi mencuri-curi pandang Daniel, Opanya yang sedang bercerita masa lalu bersama, Bram dan Wina. Arya tahu Kemala masih ragu dan tidak percaya jika ia masih mempunyai keluarga kandung.
“Kamu kenapa sayang? Kenapa melihat Opa Daniel seperti itu?” tanya Arya untuk memastikan perasaan Kemala.
__ADS_1
“Tidak, Mas. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat Opa. Aku juga penasaran seperti apa wajah orang tua kandungku dan Oma Bella itu seperti apa. Kata Opa, mataku seperti oma.”
“Yang jelas, Papa Aron dan Mamamu, mereka tampan dan cantik. Makanya kamu juga cantik. Waktu kamu kecil juga cantik dan menggemaskan.”
Kemala melihat Arya sambil mengerutkan dahinya, Memangnya Suaminya itu tahu dirinya sewaktu kecil?
“Mas tahu darimana, aku cantik dan lucu?”
“Dulu waktu aku masih remaja, aku sudah tahu dirimu, kamu juga aku gendong.”
“Bohong!” Kemala tertawa kecil lalu memeluk suaminya. Mereka pun tertawa bersama.
"Itu serius sayang, Kamu lucu seperti Zea.”
“Iya, Aku percaya, Mas. Karena aku tidak tahu masa kecilku saat masih bersama orang tua kandungku. Yang aku ingat saat aku kecil ikut berjualan kue keliling di pasar bersama Ibu. Panas, hujan kami tetap bekerja hanta untuk makan. Bahkan Untuk masuk sekolah TK saja hanyalah angan-anganku. Saat seusia Zea semua sekolah ke Taman Kanak-kanak, sedang aku ... aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Tapi... Ibu selalu mengajariku seperti yang ada di sekolah TK, bernyanyi, menggambar, menulis sambil berjualan, belum lagi ... aku dan Ibu terkena lampiasan amarah Ayah kalau tidak memberikan uang sesuai yang diminta.” Tidak terasa Kemala menangis sengugukkan di sela ceritanya.
Arya memeluk sang istri Lalu mengusap air matanya. Daniel melihat cucunya menangis pun langsung menghampirinya. Bram dan Wina dan semuanya hanya tersenyum melihat Daniel dan Kemala.
"Elena,” panggil Daniel yang memanggil Kemala dengan nama aslinya. Kemala mengusap air matanya lalu melihat Daniel dan tersenyum.
“Iya, Opa!”
“Kenapa, menangis? Apa suamimu berulah?” tanya Daniel melihat wajah Arya. Arya hanya membuang pandangannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hadeuh! salah paham ni aki-aki!” gumam Arya pelan. Kemala tertawa kecil mendengar suaminya menggerutu.
"Bukan, Opa! Kamala ... e ... maksud Elena. Elena bahagia di kelilingi orang-orang baik seperti Mas Arya dan keluarganya.”
“Oh ... Opa pikir, kamu diapa-apain sama si tengil ini.”
“Ya rugilah Opa, kalau gak diapa-apain. Buktinya mau jadi cicit,” saut Tasya di iringi gelak tawa.
__ADS_1