PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAN 31 KEMALA HAMIL


__ADS_3

Arya mondar mandir di depan ruangan oprasi, ia takut terjadi sesuatu pada Kemala. Melihat Kemala dirinya teringat Bella yang dulu kecelakaan. Ia takut kehilangan Kemala sampai ia pun lupa dengan keberadaan Narti, Baby sister anak-anaknya.


Bima yang menemani Arya hanya bisa melihatnya berjalan kesana kemari. Ingin bicara pun takut salah, padahal Bima ingin menanyakan Keberadaan Baby sister Zea dan Zidan, sebab di tempat kejadian tidak terlihat batang hidung Narti.


“Arya, Kau bisa duduk tidak. Aku pusing melihatmu seperti setrikaan.”


“Tutup mata, kan bisa!”


“Iya tutup mata sampai aku tidak bisa melihat keberadaan Narti, pengasuh anak-anakmu.”


Arya melongo mengingat dimana keberadaan Narti dan sopirnya saat menyelamatkan Istri dan anaknya. Ia tidak melihat baby sister buah hatinya itu.


“Iyo, yo. Nang di kae bocah!” Arya segera mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel Narti. Akan tetapi ponsel Narti tidak bisa dihubungi. Arya panik, takut terjadi sesuatu pada orang kepercayaannya untuk mengasuh buah hatinya.


“Ora iso dihubungi!” Arya melihat Bima dengan perasaan khawatir.


“Coba sopir kamu hubungi atau tanya sama Zea dan Zidan.”


Arya kemudian menghubungi Sopirnya dan ternyata sang sopir juga tidak mengetahuinya, sebab saat kejadian sang sopir belum datang menjemput dan justru saat ini sang sopir juga sedang mencari keberadaan Narti dan Anak-anak Bosnya di sebuah Mall, karena biasanya setelah pulang mereka mampir untuk bermain atau hanya sekedar mampir ke restoran Tasya. Arya menyuruh pulang sang sopir sebab Narti tidak ada disana. Arya mengatakan yang sebenarnya dan menyuruh sang sopir untuk menunggu di rumah sambil mencari tahu keberadaan Narti.


“Sopir juga tidak tahu dimana!” ucap Arya lalu melihat kedatangan Abi, Kalina serta Zea dan Zidan.


“Papa, Zea takut!” Zea turun dari gendongan Abi lalu berlari menghambur kepelukkan Arya.


“Tidak perlu takut sayang. Ada Papa.” Arya memeluk Zea dan mengusap punggungnya.


Sea lalu memperhatikan wajah Arya yang terlihat bekas pukulan dan sebagaian memar.


“Papa kok jadi jelek!” lirih Zea sambil terus memperhatikan wajah Papanya.


Bima yang mendengar celotehan Zea pun tertawa terpingkal-pingkal di ikuti Kalina dan Abi yang tertawa kecil.


“Anak kecil memang jujur!” Ujar Bima yang seketika mendapat lirikan tajam Arya.


Arya menghela nafas panjang lalu mengajak Zea duduk kemudian memanggil Zidan dan keduanya ia pangku di masing-masing pahanya.


“Papa mau bertanya sama kalian berdua, Mbak Narti kemana?” tanya Arya melihat anaknya satu persatu.


“Mbak Narti di pukul terus gak bangun, di turunin di dekat jalan tol,” jawab Zea dan di angguki Zidan.

__ADS_1


“Sial!“ batin Arya.


“Tol mana?”


“Jalan tol yang tadi dilewati!”


Arya melihat Bima dengan maksud agar Bima menghubungi polisi untuk mencari keberadaan Narti di tempat yang dimaksud Zea. Bima pun langsung menghubungi pihak kepolisian untuk segera dilakukan pencarian.


“Arya, kata dokter luka memar ditangan Zidan tidak berakibat fatal, hanya benturan biasa,” ucap Kalina lalu mengusap rambut Zidan.


“Syukurlah.” Arya mencium pucuk rambut zea dan Zidan.


“Setekah oprasi, apa Kamu akan memindahkan Kemala di rumah sakit kita?” tanya Abi pada Arya.


“Tidak, Pa. rumah sakit ini juga bagus. Semoga pelurunya tidak mengenai organ vitalnya.”


Abi mengangguk mengerti sambil melihat Zidan dan Zea. “Kalau begitu biar Papa bawa pulang Zea dan Zidan, biar mereka istirahat dirumah.”


“Iya, Pa. Maaf sudah merepotkan.”


“Tidak masalah. Mereka cucu Papa. Ada Kalina yang membantu mengurus mereka dan semoga Narti cepet ketemu!”


“Iya, Pa. Aku juga khawatir takut terjadi sesuatu dengan Narti. Oh iya. Papa dan Kalina boleh mengingap dirumah, ajak sekalian Nasya. Pasti Zea senang bermain dengannya.” Arya mengusap rambut Zea.


“Pa!” panggil Arya. Arya teringat dengan Aron,vAyah kandung kembala Arya berniat mencari tahu saudara Aron yang masih di Jakarta melalui Abi.


“Apa?” Abi menoleh ke belakang.


“Tolong cari tau kerabat Om Aron atau tanyakan Oma tentang opa Daniel. Apa masih ada kerabat dari Oma Bella, Istri opa Daniel.”


“Paati, Nanti papa akan hubungi orang kepercayaan om Daniel.” Abi tersenyum laku meninggalkan rumah sakit.


Setelah Abi dan Kalina pergi, tinggallah Bima dan Arya. Mereka diam dengan pikirannya masing-masing. Hingga mereka di kagetkan suara istri Bima.


“Mas!“ panggil istri Bima yang bernama Dara. Bima melihat kearah sumber suara begitu juga Arya.


“Ya Tuhan, Mas tidak apa-apa, Kan?” Dara memegang pipi Bima diputar ke kanan dan ke kiri.


"Hais... Mas tidak apa-apa, Oh iya mana baju ganti buatku sama buat Arya?”

__ADS_1


Dara duduk di samping sang suami lalu menyerahkan paper bagnya. Ia melihat wajah Arya yang leban dan memar. Ia bergidik ngeri saat melihat baju Arya sebagai penuh darah Kemala.


“Arya, Kamu ganti baju dulu. Ini!” ucap Bima sambil menyerahkan paper bagnya.


Dengan malas Arya mengambilnya lalu menuju toilet pria dan mengganti bajunya. Dara melihat suaminya yang duduk santai sambil memainkan ponselnya.


“Mas, Bagaimana keadaan Kemala?” tanya Dara.


“Maduh di ruang operasi. Pinggangnya terkena peluru!” Jawabnya yang matanya tidak lepas dari layar ponselnya.


“Waduh! Parah dong?”


“Semoga saja tidak.”


“Oh, iya. Mas tadi yang sama Om Abi siapa? Istri barunya?”


"Hm!”


“Masih cantik ya. Muda lagi, kalem, bicara lemah lembut tidak seperti Tante Utari, Bawel!”


“Sssttt! Tidak boleh seperti itu. Setiap wanita mempunyai karakteristik masing-masing, tinggal orangnya saja bisa membawa diri atau tidak! Biar bagaimanapun, Tanta Utari itu Mama Arya. Sudah tidak perlu membicarakan orang. Cukup tahu saja. Walau kita keluarga, kita tidak boleh ikut campur terlalu dalam apalagi masalah pribadi rumah tangganya. Paham!”


“Iya, Mas. Paham. Maaf!”


“Pinter!” Bima merangkul Dara dan tersenyum.


Tak lama Arya keluar dan sudah berganti baju. Arya duduk di kursi tunggu dan matanya terus melihat ruang operasi.


“Ya Tuhan. Semoga tidak terjadi sesuatu pada istriku!” batin Arya.


Terdengar pintu ruang operasi dibuka. Arya pun langsung bangkit di ikuti Bima dan Dara. Arya menghampiri Dokter untuk menanyakan kondisi Kemala.


“Dok, bagaimana işte saya?” tanya Arya cemas.


"Operasinya berjalan lancar, dan bersyukur pelurunya tidak mengenai ginjal dan Janinnya juga tidak apa-apa. Semua sehat!”


"Janin?” tanya Arya yang belum mengetahui jika Kemala tengah mengandung.


“Iya, tuan. Istri Anda hamil 12 Minggu. Memangnya tuan tidak mengetahui jika Istri Anda sedang hamil?”

__ADS_1


Arya menggeleng dan masih tidak percaya jika Kemala hamil.


“Ouh, kalau begitu selamat tuan. Tolong selesai ini, istrinya di jaga dengan baik.” dokter menyalami Arya lalu pergi meninggalkan Arya yang masih bengong.


__ADS_2