PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 24 KITA BERPISAH!


__ADS_3

Abi mengumpulkan anak-anaknya serta menantunya. Ia ingin meminta pendapat sang anak apa saja kesalahan dirinya terhadap Mamanya sehingga Mamanya berubah tidak lagi peduli dengannya sebelum dirinya diam-diam menikahi Kalina. Padahal sedari muda Abi selalu memprioritaskan keluarga, bahkan saat ia masih bujang selalu meminta pendapat pada Mama dan papanya sebelum melakukan apapun. Bahkan ia menjadi garda paling depan di saat keluarganya ada masalah, Masih sangat jelas saat Bianca mati-matian meminta restu pada Bram untuk menikah dengan Reza, bodyguard pribadinya. Abi orang pertama yang membantu sang adik. ini salah satu bukti bahwa Abi begitu mendahulukan keluarganya.


( Readers lama pasti tahu. Yang belum baca kisah Abi muda mampir dulu, bagaimana Abi dan Utari bertemu (“CERITA CINTA” )


Arya yang baru saja datang di buatnya bingung karena ada pengacara yang juga hadir. Arya masih di pusingkan dengan pencarian Ayah mertua yang kabur dan sampai saat ini belum di temukan. Sekarang sang papa menyuruhnya datang.


Abi melihat semuanya sudah berkumpul kecuali Kemala. Itu sudah pasti dan Abi mengerti jika Arya tidak mengajaknya, karena tidak ingin Utari menyakiti hatinya.


“Baiklah, kondisi Papa sudah Sehat. Papa sengaja mengumpulkan kalian, Karena Papa ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Kalian tahu bagaimana Papa selama ini. Papa tidak ingin mencari pembenaran disini, justru Papa ingin bertanya pada kalian. Apa papa selama ini mengabaikan kalian? Apa Papa begitu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk kalian terlebih untuk Mamamu?”


“Tidak! Papa selama ini membagi waktu dengan baik, justru Mama yang lebih sibuk arisan.” Celetuk Wilona yang memang setiap harinya hampir bersama Utari padahal ia termasuk orang baru.


“Papa selalu pulang tempat waktu!” tambah Wilona lagi.


Semua melihat ke arah Wilona, apa benar yang di ucapkannya, sebab seperti membenarkan semua yang terjadi selama ini.


“Baiklah, Bagaimana dengan Mama?”


“Ya, Aku akui Papa begitu menomor satukan keluarga, Tapi Papa tetap saja salah sudah menikah diam-diam dari Mama, apapun alasannya.”


“Bailah Papa memang salah. Papa minta Maaf. Tapi Apa mengabaikan suami bukan kesalahan. Padahal sudah berulang kali kita bicara empat mata. Papa selalu mengingatkan Mama untuk ingat keluarga terutama suami. Tapi Mama selalu mengatakan Bisnis butik dan kue Mama sedang naik, belum lagi teman arisan Mama. Papa hampir tidak percaya jika Mama yang berubah! Mama tidak lagi menyiapkan kopi, lupa makanan apa saja yang sudah papa hindari. Bahkan Mama membeli villa dan villa itu Mama hadiahkan untuk siapa, Mama tidak izin dengan suamimu ini! Mama masih menghargai Papa tidak!“

__ADS_1


“Memanganya Papa juga menghargai Mama dengan cara menikah diam-diam.”


“Yang Papa bicarakan sebelum Papa menikah dengan Kalına, Ma! Tidak ada asap jika tidak ada Api. sekarang yang egois siapa? Mama atau Papa? Walau kalian sudah tua, seharusnya saling perhatian, terlebih Mama. Apa wajar seorang istri mengabaikan semuanya mulai dari hal kecil untuk Suaminya sendiri. pantas saja Suami mencari kenyamanan di luar sana! Jangan egois Ma. Mama arisan di luar sana, Mama pikir Tasya tidak tahu, Ada brondong disana. Walau Mama tidak berbuat apapun! Sedangkan Papa sebelum mempunyai sekertaris Kalina, Papa kerja putar otak di perusahaan!” Sela Tasya yang sudah tidak tahan dengan semua yang di lakukan kedua orang tuanya. Bagaimanapun mereka semua salah.


Abi menunduk, sebagai kepala keluarga dan pemimpin, ia tetap menyalahkan dirinya yang tidak bisa membawa istrinya menjadi lebih baik. Utari juga terdiam seolah membenarkan ucapan Tasya.


“Sekarang apa yang Mama inginkan agar keluarga kita kembali utuh? Aku sudah memanggil Pengacara untuk membuat surat perjanjian, agar Mama berubah begitu juga Papa!”


“Aku mau kita berpisah!”


“What!!” seru semua anaknya yang tidak percaya sang Mama memilih berpisah.


“Maksud Mama apa? Papa kembali sama Mama dan Mama sudah mendapatkan yang Mama inginkan, dari rumah yang Papa berikan pada Kalina dan barang-barang sepele lainnya sudah Kalina serahkan, Sekarang Mama minta berpisah? Pikirkan lagi, Ma!” ujar Arya.


“Arya tidak salah dengar? Aset Mana yang Mama bicarakan! Sisa aset yang sudah dibagi-bagi untuk kami. Ma! Mama sadar tidak, Aset yang Mama maksud, Itu milik papa sebelum menikah dengan Mama. Bahkan butik dan toko kue Mama, Papa yang memberikannya. Bahkan Kakak Mama saja di modali untuk usaha, dan paman bisa melanjutkan kuliahnya lagi! Dan Mama bisa seperti saat ini juga berkat Papa!” balas Arya.


“Lalu mau di ungkit yang sudah diberikan pada Mama dan Pamanmu? Mama dan Pamanmu tidak meminta itu semua!”


“Sudah cukup! Papa tahu sekarang maksud Mama. Tapi tolong pikirkan lagi, Ma! Papa minta Maaf dengan semua yang sudah terjadi. ” pinta Abi meraih tangan Utari , Namun Utari mengibaskan tangan Abi. Ia jijik disentuh oleh suaminya sendiri, sebab tangan itu sudah pernah menyentuh wanita murahan bernama Kalina.


“Keputusan saya sudah bulat, tuan Abi. saya akan segera mengurus perceraian kita!” Utari beranjak dari ruang tengah menuju kamarnya.

__ADS_1


Abi hanya diam melihat anak dan menantunya satu persatu, lalu ia mengusap air matanya yang hampir jatuh di sudut matanya, Abi mengenang masa di saat pertama bertemu Utari di pasar hanya sebuah lemparan tomat membuat dirinya jatuh hati pada gadis polos dan ceria, tapi saat ini ia sudah tidak mengenal lagi Utari yang dulu, penuh kekonyolan dan gelak tawa. Bagaimana pun Abi tetap merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri.


“Pa, Katakan sesuatu. Jangan diam begitu saja,” ujar Arya. Arya salah memperkirakan jika sang Mama akan begitu hancur jika semua terbongkar, tapi nyatanya sang Mama lebih pintar mengelabuhi semuanya. Jika semua aset diambil alih oleh sang Mama otomatis, sang Papa tidak memiliki apapun.


“Sudah, tidak apa-apa. Jika ini keinginan Mamamu dan membuat Mama kalian memaafkan Papa, Papa akan menyerahkan semuanya. Yang penting kalian sudah mendapatkan bagian masing-masing. Harta bisa di cari Arya. Tapi orang tulus jarang ada walau sudah mengenalnya bertahun-tahun. Papa juga tidak menyangka.”


“Huh, selamat! Aku pikir belum di bagi-bagi harta papa dengan anak-anaknya,” Batin Wilona mengira yang di kuasai mama Mertuanya belum di bagi-bagi.


Tasya beranjak dari duduknya, Memang kali ini ia tidak begitu banyak berbicara. Karena ia sedang mengandung, hanya saja Tasya menyayangkan dan kecewa dengan sikap Sang Mama yang begitu egois hanya karena sebuah harta dan lebih parahnya lagi tidak menerima permintaan maaf sang Papa. Ia juga memikirkan nasib adiknya, Nasya. Jika semua sudah di berikan pada Mamanya , bagaimana masa depannya, padahal Nasya juga berhak karena ia lahir setelah adanya pernikahan.


***





KEMALA


__ADS_1


Arya



__ADS_2