
Kemala akhirnya pulang ke apartemen setelah tiga hari di rawat di rumah sakit. Arya juga mendatangkan kedua anaknya Zea dan Zidan tanpa baby sister dan sang Mama. Arya hanya ingin tahu bagaimana reaksi sang anak dan reaksi Kemala terhadap kedua anaknya. Apakah menerima sang anak dengan baik dan begitu sebaliknya.
Kemala masih berbaring di tempat tidur menunggu kedatangan suaminya yang sedang menjemput anak kembarnya di rumah. Kemala juga tidak tahu kenapa sampai saat ini, ia belum di kenalkan pasa sang Mama. Tetapi Kemala menghargai keputusan Arya.
Arya masuk membawa anak-anaknya, dan berjalan pelan menghampiri Kemala yang masih tertidur. Zidan dan Zea perlahan naik di atas tempat tidur di ikuti Arya. Mereka bertiga ikit berbaring dan melihat Kemala.
“Pa, Mama baru cantik ya!” bisik Zidan.
“Cantik Bu Audy,” sambung Zea yang juga berbisik.
“Sssttt, Sudah tidur.” Mereka pun memejamkan mata, walau sesekali melirik ke arah Kemala.
Arya meraih tangan Kemala dan menggenggamnya sambil mengusap rambut Zea, sementara Zidan mencuri-curi memeluk lengan Kemala dan tersenyum melihat wajah Kemala. Sepertinya Zidan lebih antusias memiliki Mama baru, tidak seperti Zea. Kemungkinan Zea sudah terobsesi oleh ibu gurunya Audy.
Tengah malam Kemala terbangun dan terkejut melihat dua anak kecil tidur bersamanya, sedangkan Arya duduk di sofa sambil tangannya lincah menari di atas keyboard. Kemala tersenyum lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kini ia tahu kedua anak tersebut adalah anak suaminya.
“Mas...,” panggil Kemala dengan sebutan ‘Mas’ Arya diam sejenak mencerna panggilan Kemala.
Arya melihat Kemala menghampiri dirinya. Arya sejenak teringat Bella yang dulu juga memanggil dirinya dengan sebutan ‘Mas’. Kemala melihat Arya yang terdiam dan melihatnya santai Ia takut jika Arya tidak menyukai jika di panggil ‘ Mas’ tanpa seizinnya.
“Maaf, tuan!” Kemala menunduk lalu berlari kecil keluar dari kamar.
Arya hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya kemudian menyusul Kemala keluar. Arya melihat Kemala sedang mengambil air minum di dapur. Arya menghampirinya kemudian memeluknya dari belakang. Kemala terkejut sampai ia gemetaran dan salah tingkah.
“Coba panggil aku Mas lagi!” pinta Arya lalu mencium pipi Kemala.
“Em ... maaf kalau tuan tidak berkenan. Saya salah sudah lancang!”
“Kalau aku tidak marah berarti, aku tidak keberatan dan aku menyukainya. Aku senang kamu berinisiatif lebih dulu.”
Arya tersenyum dan memegang tangan Kemala. Ia tahu Kemala sedang gugup, Arya membalikkan tubuh Kemala dan mereka saling berhadapan. Arya memegang dagu Kemala dan tersenyum.
“Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu lagi takut akan Ayahmu itu. Semua sudah Aman.”
“Maksud, tuan?”
__ADS_1
Kemala heran apa yang dimaksud Aman. Apa sang suami menjebloskan Ayahnya ke penjara atau hal lain.
“Tidak usah di pikirkan. Cukup kamu menjadi istri yang baik, hm.” Arya kemudian mencium bibir Kemala. Namun Kemala sedikit mendorongnya.
“Tuan,”
“Kenapa?”
“Boleh minta sesuatu?”
“Apa itu.”
Kemala mendekatkan wajahnya ke telinga Arya dan berbisik.“ Jangan bermain kasar tuan, saya tidak suka dan itu sakit bukan nikmat.”
Kemala tersenyum malu. Arya pun tersenyum lalu mencium kembali bibir Kemala. Arya membopong tubuh Kemala ke kamar satunya yang tidak ada anak-anak. Arya melakukan sesuai permintaan Kemala. Rupanya Kemala hampir sama dengan Bella. Arya baru menyadari tidak semua wanita mampu mengimbangi dirinya, hanya Laura saja istri yang bisa mengimbanginya. kali ini ia tidak mau lagi egois masalah ranjang, ia harus memikirkan lawannya.
“Tuan kenapa tidak memakai pengaman?” tanya Kemala.
“Kau istriku. Tidak apa-apa, kan.” lirih Arya di sela permainannya. Kemala tersenyum lalu memeluk sang suami yang berada di atasnya. Ya ... pada akhirnya Kemala merasakan apa yang orang katakan. Kenikmatan surga dunia.
“Tidurlah, besok kita jalan-jalan dengan anak-anak.” Arya mencium kening Kemala dan mereka tidur sampai pagi.
Pagi harinya Kemala bangun lebih pagi, ia menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak suaminya. Ia harus bisa mencuri hati anak-anak suaminya. Saat Kemala sedang mencuci perkakas sisa memasak. Tiba-tiba Zidan datang menghampirinya. Zidan berdiri di samping Kemala dan terus melihat Kemala.
Zidan mendekat dan menarik Dress kemala.“Mama!” lirihnya membuat Kemala sedikit terkejut kemudian melihat ke arah Zidan.
“Halo sayang, Selamat pagi!” Kemala mencuci tangannya lalu menggendong Zidan dan mencium pipinya.
“Mama cantik!” puji Zidan terus melihat Kemala.
“Oh, iya. Zidan juga tampan seperti Papa.” Kemala mendudukkan Zidan di kursi meja makan.
“Wah ... Mama masak enak! Ini kesukaan Zidan!” Zidan hendak mengambil udang goreng, Namun Kemala mencegahnya.
“Cuci tangan dulu, sayang.” Kemala membantu Zidan mencuci tangannya di wastafel.
__ADS_1
“Nah ... sekarang boleh makan.” Kemala mengambilkan sarapan nasi untuk Zidan dan zindan dengan lahapnya makan masakan Kemala.
“Adek Zea belum bangun?” tanya Kemala.
“Belum, Ma. Zea kalau tidur kayak beruang.” keduanya tertawa kecil.
“Kamu bisa saja. Habiskan sarapannya, ya.”
“Iya, Ma. Terima kasih ya, Ma!”
“Sama-sama, sayang!” Kemala tersenyum dan tidak sengaja melihat Arya di ambang pintu kamar sedang melihatnya.
Arya juga tersenyum kemudian menghampiri keduanya. “Pagi, sayang!” Aryar mencium pucuk rambut Zidan lalu beralih ke pipi Kemala.
“Pagi, pa!”
“Pagi, Mas.” Kemala tersenyum malu lalu mengambilkan kopi yang sudah ia buat untuk Arya. Arya duduk di samping Zidan kemudian menyeruput kopinya.
“Mas, aku bangunkan Zea ya.”
“Jangan, biarkan dia bangun sendiri. Zea itu seperti Mamanya, tidak suka di bangunkan kalau sedang libur sekolah. Biarkan bangun sendiri.”
Kemala mengangguk paham. Rupanya anak kembar juga memiliki sifat yang berbeda. “ Ya sudah, Mas mau sarapan sekarang?” tanya Kemala.
“Nanti saja, Mau minum kopi dulu. Kamu saja dulu. Kamu juga masih minum obat, kan.”
“Iya, nanti saja.”
“Mama,” panggil Zidan.
“Ya, sayang.”
“Boleh Zidan minta suapi?”
“Ouh, tentu saja. Sini Mama suapi.”
__ADS_1
Kemala kemudian menyuapi Zidan dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Arya terharu melihat pemandangan yang sudah lama ia rindukan. Mempunyai keluarga yang utuh dan harmonis tanpa campur tangan siapa pun termasuk sang Mama. Akan tetapi sepertinya kedepannya ia harus bisa meyakinkan sang Mama untuk menerima Kemala sebagai istri dan Mama bagi anak-anaknya.