
Utari sedang berdiri di depan pintu rumah Kalina. Ia ragu ingin mengetuk pintu rumah sederhana tersebut. terdengar di telinga Utari tawa dan canda sang penghuni. Suara Abi yang khas membuat ia memejamkan mata, merindukan tawa itu di dalam rumahnya. Tidak terasa air matanya jatuh, ia tidak sanggup mengangkat tangannya hanya untuk sekedar mengetuk pintu. Ia datang ke rumah Kalina untuk meminta maaf pada Abi dan Kalina. Namun ia bingung harus bicara seperti apa.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan meninggalkan rumah Kalina. Ia tidak berani berhadapan dengan Abi dan Kalina. Utari masuk kedalam mobilnya lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Abi yang mendengar suara mobil pun bergegas keluar dan melihatnya dari jendela. Ia baru sadar jika mobil itu adalah miliknya dahulu.
"Utari,” batinnya sambil memikirkan apakah benar itu Utari kemudian ia keluar untuk memastikan jika mobil tersebut milik Utari. Ia melihat nomor mobilnya dan menghela nafas, rupa benar itu Utari. Kalina dan Nasya pun menyusul Abi, kenapa sang papa tiba-tiba keluar.
“Ada apa, Pa. Kok tiba-tiba keluar?”
"Siapa, Mas?” tanya Kalina.
“Tidak ada, aku pikir tadi ada tukang paket mengantarkan barang kemari.” Abi tersenyum kemudian mengajak semuanya masuk.
"Papa, Kak Tasya sudah lama tidak datang, Nasya rindu.”
"Kak Tasya sekarang report sayang, Kan punya adem bayi. Nanti kalau adek bayinya sudah besar pasti Kakak main kemari, Tapi kalau kamu rindu, besok kita ke Jakarta, ok!” Abi mengusap kepala Nasya dan tersenyum.
"Ok!” Nasya pun meneluk Abi.
Kalina tersenyum dan mengusap kepala sang anak dan melihat sang suami yang sedari dulu begitu sabar, dan selalu mendahulukan keinginan putrinya, Sesibuk apa pun Abi akan selalu menomor satukan Nasya.
Disisi lain Utari saat ini menuju sebuah tempat. Tempat dimana pertama kali dulu ia bertemu Abi, yaitu di pasar. Ia berjalan menelusuri jalan, bayangan akan masa lalu melintas begitu jelas di ingatannya. Walau pasarnya saat ini sudah berubah menjadi modern dan terseusun rapi, tidak membuatnya lupa bagaimana kisah cintanya bersama Abi di mulai.
Utari singgah di tempat dulu ia berjualan sayur dengan Kakak dan almarhum Ibunya. ia tersenyum tipis memegang buah tomat yang dulu pernah ia lemparkan dan tidak sengaja mengenai kepala Abi. Dari sanalah kisah cinta mereka di mulai.
"Maaf, Ibu. Mau beli tomatnyq berapa?” tanya sang penjual yang kini juga pemilik tokonya dahulu.
__ADS_1
"Satu kilo, Bu.“ Utari tersenyum tipis kemudian ia duduk di salah satu kursi.
Utari melihat sekelilingnya, ia juga mengenang masa lalu sebelum mengenal Abi. Masa dimana ia masih sangat muda, hidupnya serba pas-pasan, hidup sederhana apa adanya. Mungkin benar apa yang di katakan anak-anaknya jika dirinya sudah di buatkan oleh harta hingga rela melepaskan Pria yang begitu mencintainya.
"Mungkin ini akhir hidupku, harus terpisah dengan orang-orang yang dulunya mencintaiku. Sendirian di masa tua!" batinnya lalu iai tersenyum tipis dan sedikit meneteskan air mata.
"Bu, ini tomatnya. Sepuluh ribu!” ucap si pedagang, Utari menerimanya dan membayarnya.
Setelah itu ia berjalan menuju parkiran pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan ia menangis menyesali perbuatannya pada mantan suaminya. Sesampainya di rumah, Ia ke garasi melihat motor Abi, motor tersebut menjadi saksi kisah cinta mereka. Pembantu rumah tangganya hanya bisa melihat dari kejauhan dan merasa nelangsa melihat majikan itu. Terlihat jelas Dimata pembantunya Utari begitu menyesal.
Utari menyeka air matanya lalu ia berjalan masuk kedalam rumah lewat pintu belakang dan di sambut pembantunya.
"Selamat siang, nyonya. Mari tomatnya saya bawa,” ucap sang pembantu hendak meminta kantong plastik berisikan tomat satu kilogram.
"Jangan, Ini mau aku bawa ke kamar! Kalian istirahat saja jika sudah selesai pekerjaan.” Utari kemudian melangkah menuju kamarnya. Pembantunya hanya terheran-heran melihatnya membawa sekresek kantong tomat menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, Utari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegang tomat-tomat tersebut.
"Permisi, nyonya. Makan siang sudah siap.” Sang pembantu berdiri di ambang pintu.
“Iya, Bi. Siapkan saja dua piring di meja ya.”
“Hah! Dua, Nyonya? Memangnya pacar nykni mau datang?” tanya pembantunya mengira pacar brondong Utari akan datang seperti biasa.
“Tidak, sudah sana. Tidak perlu banyak bertanya.”
"Maaf, Nyonya. Akan saya siapkan sesuai permintaan Nyonya.”
__ADS_1
pembantu tersebut keluar sambil terheran-heran dengan perintah majikannya. Namun ia tetap menyiapkan apa yang di minta Utari. Utari pun bergegas keluar dan menuju ruang makan.
Utari duduk dan melihat kursi yang dulu di tempati Abi, lalu melihat kursi yang dulu anak-anak mereka tempati. Ia mengingat suasana bahagia dan penuh tawa, kejahilan Abi dan Arya serta si kembar Tasya dan Tara. Utari mulai mengambil makanannya, akan tetapi ia tidak mengambil untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kursi kosong milik Abi.
"Makan ya, pa! Ini kesukaan Papa, kan. Oh iya, anak-anak sudah berumah tangga semua. Jadi kita hanya berdua ya, Pa!” Utari mengoceh seolah Abi ada di sampingnya. Dua pembantunya merasa heran dan kasihan dengan Utari, apa sang majikan sudah mulai gila atau bagaimana.
"Atun, Nyonya gak gila, kan. Apa mulai gila!”
"Hus! Kau ini. Nyonya mungkin sedang meraa bersalah dan menyesal, Mungkin nyonya juga lagi mengenang masa lalu bersama tuan Abi.”
"Lagian, tua-tua selingkuh! Rasain sekarang tua Sendiran.”
"Tidak boleh begitu, Kita liat saja. Nanti kalau Nyonya tambah parah, kita laporan ke tuan Arya. Kasihan!” Atun dan rekannya kemudian melihat tingkah sang majikan lagi. Mereka juga kasihan dan prihatin dengan kondisi Utari saat ini.
Disisi lain Abi dan Kalina juga sedang makan siang, Seperti biasa Kalina menyiapkan semuanya. Tatapan Abi penuh cinta pada Kalina setiap Kalina melayaninya. Sampai membuat Kalina terkadang salah tingkah.
"Hm, Mas memangnya wajahku ini ada apanya? Kenapa melihatku seperti itu.” Kalina duduk di samping Abi setelah mengambilkan makanannya.
"Memangnya tidak boleh melihat istri sendiri?"
"Boleh, tapi aku kan jadi salah tingkah.”
Nasya tertawa kecil melihat kedua orangtuanya. Ia bahagia melihat Abi dan Mamanya selalu bersama.
"Mama seperti anak muda saja, salah tingkah. Bilang saja Mama tidak tahan liat tatapan Papa yang penuh cinta!” ujat Nasya semakin membuat tawa Abi pecah. Dari mana sang anak mendapat kalimat orang dewasa.
"Memangnya kamu tahu tatapan cinta itu seperti apa?
__ADS_1
"Tau! Kak Arya juga begitu, kan dengan kak kemala.”
"Kau ini, sudah makan.”