PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 46 IT'S OVER


__ADS_3

“Mas ada telpon dari orang rumah Mama,” ucap Kemala memberitahu jika salah satu pembantu Utari mencari Arya.


“Ngomong apa?”


“Gak tau! Katanya mau ngomong sama, Mas. Gak tau ada apa? Ini!” Kemala memberikan gagang telpon pada suaminya.


Arya mengambil gagang telpon dari tangan istrinya lalu menempelkan ke daun telinganya.“Halo!” ucap Arya.


“Tuan, ini bi Atun. Tuan, maaf ganggu malam- malam, em ... Bibi mau kasih tau, kalau Nyonya beberapa hari ini sering ngomong sendiri, nangis, dan tertawa sendiri. Terus sebut-sebut nama tuan Abi. Tidur pun bawa bawa buah tomat dan meluk foto tuan Abi waktu masih muda! Kami harus bagaimana, tuan. Kami bingung.”


“Iya, nanti aku kesana. Bibi cukup awasi Mama dan yang penting tidak bertingkah membahayakan dirinya sendiri.”


“Baik, tuan! Tolong secepatnya tuan.”


“Hm.” Arya kemudian menutup sambungan ponselnya.


Arya semakin pusing memikirkan kondisi Mamanya, belum lagi masalah pekerjaan. Namun ia harus terlihat santai agar sang istri tidak ikut memikirkannya.


“Mama kenapa, Mas?”


“Mama sakit, Kamu di rumah sendiri dulu gak apa-apa, ya. Aku mau ke rumah Mama.”


“Boleh ikut.”


“Jangan dulu ya. Lagian ini kan malam. Kamu istirahat, hm.” Arya mengusap rambut Kemala lalu tersenyum, Arya berusaha menutupi apa yg terjadi pada Mamanya.


"Ya sudah hati-hati. Aku ambilkan jaket dulu.”


Arya tersenyum dan mengangguk kemudian Kemala mengambil jaket untuk sang suami. Kemala membantu Arya mengenakan jaket lalu Arya memeluk dan mencium keningnya. Tak lupa mengusap perut sang istri dan sedikit berbicara pada perut Kemala.


“Ya sudah aku berangkat. Kamu tidur dan istirahat. ”


“Iya, hati-hati ya, Mas. Nanti kabari kondisi mama.”


“Iya.” Arya berangkat mengendarai mobilnya.


Di perjalanan Arya menghubungi Tara, akan tetapi ponselnya tidak aktif lalu ia menghubungi telpon rumah Tara dan yang mengangkat sambungan teleponnya adalah Wilona.

__ADS_1


“Halo, siapa ini malam-malam telpon.“ suara Wilona terdengar menahan kantuk.


“Ini aku, Arya. Tara mana?”


“Ada apa sih, kak. ini kan Malam. Kalau masalah pekerjaan besok saja,” balas Wilona lalu menutupnya sepihak.


“Brengsek! Malah di tutup.” Arya mencoba menghubunginya lagi akan tetapi sepertinya kabel telponnya sengaja di putus.


"Aaaarrrqqq! Laki-bini sama saja.” Arya begitu kesal saat-saat seperti ini pasangan suami istri yang tak lain adiknya dan iparnya itu tidak peduli dengan Sang Mama.


Arya menambah kecepatan mobilnya, ingin rasanya ia menghubungi Tasya, akan tetapi ia tidak enak dengan suaminya. Bagaimana pun ia tahu Tasya harus mendapat izin dari sang suami jika harus pergi dan meninggalkan rumah. Di tambah posisi Tasya ada di Jakarta dan mempunyai anak-anak yang masih kecil. Mau tidak mau ia harus mengurus sang Mama sendiri.


Sesampainya di rumah Mamanya, ia sudah di tunggu beberapa pembantu rumah tangga di depan rumah. Pembantu-pembantu tersebut tampak begitu cemas dan khawatir dengan Utari.


"Selamat malam tuan, Itu Nyonya...."


“Dimana, Mama?”


“Ada di kamar, tadi menangis histeris, lalu tertawa. Kami takut, tuan!”


Arya berlari menuju kamar Utari setelah mendengar penjelasan pembantunya. Arya melihat saat ini sang Mama berbicara sendiri di depan foto Abi yang berukuran besar.


Utari menoleh dan tersenyum melihat sang Anak. “Sayang kamu sudah pulang kuliah. Adik kamu mana, Mama sama papa nunggu kamu pulang!”


Arya memejamkan mata, kenapa sang Mama menjadi seperti ini. Arya menatap mata sang Mama yang berkaca-kaca.“ Ma, Ini Arya. Apa yang Mama lakukan, sadar Ma. Papa tidak akan kembali, dan ini hanyalah foto! Mama harus terima kenyataan kalau Mama dan Papa sudah berpisah. Dan itu kemauan Mama, kan!” Arya menjelaskan semuanya sambil memegang kedua pundak Utari.


"Kamu itu bicara apa.”


“Ma! Cukup! it's over, ok! Sadar Ma!”


Utari menangis sejadi-jadinya, ia meraung mengingat masa lalu dan semua kesalahannya. Arya hanya bisa memeluk Utari. Ia juga tidak mungkin memberitahu kondisi Utari pada sang Papa. Sebab Arya tidak ingin keharmonisan rumah tangganya dengan Kalina terusik.


“Mama sendirian, Arya. Mama hanya ingin seperti dulu! Mama rindu masa-masa dulu!” Utari lunglai ke lantai dan Arya hanya bisa memeluknya.


“Semua salah Mama, Mama sudah menghancurkan semuanya.” Utari terisak-isak di pelukan sang Mama.


“Mama tidak sendirian. Ada Arya, Tara dan Tasya, juga cucu-cucu Mama. Mama ikut Arya ya. Tinggal di rumah Arya. Ada Kemala, Zea dan Zidan. Sebentar lagi cucu Mama juga lahir.”

__ADS_1


Utari menggeleng, ia tidak mau tinggal bersama Arya, karena tidak ingin merepotkannya. “Tidak, Mama tidak mau. Mama disini saja.”


“Tapi, Mama sendiri disini.”


“Tidak apa-apa. Mama memang pantas sendirian.”


“Ma ... jangan seperti ini.”


Arya mencoba menenangkan sang Mama yang terisak di pelukannya. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Mamanya Sendirian tinggal di rumah besar dan hanya di temani beberapa pambantu.


“Ya sudah, Besok Arya ajak istri dan anak-anak tinggal disini, itu juga kalau Mama tidak keberatan. Sekarang mama istirahat. Sekarang Arya akan menginap disini!”


Utari hanya diam dan masih menangis, Arya memapah Mamanya dan membantunya berbaring di tempat tidur.


“Semua yang terjadi sudah terjadi. Yang Mama harus lakukan adalah meminta ampun sama Tuhan. Jalani hidup dengan ikhlas, apa yang sudah hilang di kehidupan kita, tidak pernah bisa kembali lagi. Lepaskan, percayalah ada hikmah di balik ini semua, Ma.”


Lagi-lagi Utari diam dan membelakangi Arya. Arya sekilas mencium pucuk rambut sang Mama lalu keluar dari kamarnya.


“Tuan, bagaimana keadaan Nyonya?” tanya Atun saat Arya keluar dari kamar Utari.


"Mama sudah mulai mau tidur. Oh iya, mulai besok aku dan anak istriku sementara akan tinggal disini sampai kondisi Mama membaik, mungkin Aku akan membawa Mama ke psikiater, biar ahlinya yang menangani kejiwaan Mama.”


“Maksud Nyonya gila?” tanya salah satu pembantunya.


“Hus!” sela Atun.


Arya tersenyum tipis dan memaklumi pertanyaan pembantu Mamanya."Tidak Bibi. Mama hanya syok berat dengan semuanya mungkin Mama menyesal dengan perbuatannya.”


"Apa itu tanda-tanda depresi, tapi masih tingkat ringan, tuan?” tanya Atun.


"Bisa dibilang seperti itu, Bi. Tapi lihat saja nanti, semoga Mama baik-baik saja. Oh, iya. Tolong siapkan kamarku yang dulu. dan juga kamar untuk anak-anakku untuk besok.”


“Baik tuan. Jadi tuan malam ini menginap.”


"Iya, Bi.”


"Kalau begitu tunggu sebentar tuan, saya siapkan kamar, tuan."

__ADS_1


Arya mengangguk lalu kedua pembantu tersebut menyiapkan kamar untuk Arya, sedangkan Arya duduk di ruang tengah sambil menunggu kedua pembantu tersebut selesai menyiapkan kamarnya. Arya mengambil rokoknya di kantong jaketnya dan menghisapnya. Ia sesekali merekok hanya untuk menenangkan pikirannya.


__ADS_2