
Kalına sudah kembali dari rumah sakit, saat ini ia menjemput Nasya di rumah Arya. Sementara Abi pulang ke rumah utamanya. Kalina menjemput Nasya dengan menggunakan taksi karena semua yang di berikan Abi sudah di ambil alih oleh Utari.
“Mama, Nasya rindu Mama!“ ujar Nasya saat melihat Kalina duduk di ruang tamu rumah Arya.
Nasya memeluk Mamanya dengan erat. Kemala yang melihat mereka begitu terharu dan teringat sang Ibu yang saat ini masuh koma di rumah sakit. Kalina melihat Kemala tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Kemala.
“Mala, terima kasih, sudah menjaga Nasya! Sampaikan permintaan maafku pada suamimu. Aku sudah banyak merepotkan kalian.” Kalina mengusap pundak Kemala
“Tidak apa-apa, Bu. Nasya kan adik Mas Arya, otomatis adik saya juga. Nasya anak baik, tidak merepotkan selama disini.”
Kalina tersenyum lalu ia mengeluarkan sebuah Amplop dari tasnya dan beberapa barang berharga pemberian Abi.
“Kemala, saya titip ini. Ini surat pengunduran diriku dari perusahaan. Tolong serahkan pada Arya, dan ini perhiasan dan buku deposito milik Nasya yang diberikan papanya, tolong berikan pada Mbak Utari. dan ini surat rumah yang kemarin ia minta ketinggalan di rumah. Aku dan Nasya tidak berhak atas itu semua, Kami akan kembali ke rumah lama, rumahku sendiri.”
Kemala sejenak terdiam mencerna apa yang disampaikan mertua tirinya yang lemah lembut itu. Apakah Kalina sudah berpisah dengan papa Mertuanya, sehingga semua ia kembalikan.
“Tapi ini, kan hak Nasya, bu.”
“Tidak, Mala. Walau pun ada tapi, Nasya tidak mempunyai kekuatan hukum yang kuat. Aku tidak mau kedepannya menjadi Boomerang untuk Nasya. Aku akan berusaha sendiri untuk membesarkan Nasya. Aku sudah diberikan harta paling berharga dari mas Abi, yaitu Nasya, dia lebih dari apapun. Aku tidak membawa harta apapun dari mas Abi.”
“Ibu berpisah dengan Papa?” tanya Kemala dengan sangat hati-hati. Namun Kemala hanya tersenyum tidak menjawab iya dan tidak menjawab Tidak.
“Kami pulang! Terima kasih atas semuanya.”
Kemala tersenyum lalu menyalami Kalina di susul Nasya bersalaman dengan Kemala.
“Kakak, terima kasih ya, beberapa hari ini sudah di izinkan Nasya tidur disini,” ucap Nasya.
“Iya, kalau ada waktu, Nasya boleh main kemari. Kita main bersama lagi sama Zidan dan Zea.” Kemala sedikit mencubit pipi Nasya dengan gemaslalu keduanya tersenyum.
__ADS_1
“Da ... kakak!” Nasya melambaikan tangan lalu keluar bersama sang Mama.
“Ibu! “ panggil Kemala pada Kalina sebelum Kalina benar-benar keluar dari rumahnya.
“Ya!”
“Ibu mencintai, Papa.”
Kalina tersenyum lalu mengusap rambut sang anak.“ Menurutmu?”
“Cinta?”
Sekali lagi Kalina tersenyum lalu ia melangkah pergi meninggalkan teka teki pada Kemala. Sejatinya Kalina begitu mencintai Abi, tetapi ia sadar apa yang di lakukan adalah salah. Ia mengalah demi kebaikan keluarga Sanjaya dan demi menjaga nama baik suaminya di depan keluarga besar sang suami.
Kemala menutup pintu saat Kalina sudah menaiki taksi, Ia membawa titipan Kalina untuk Arya dan Mama mertuanya. Kemala duduk termenung memikirkan nasib Kalina dan Nasya kedepannya di tambah Kalina tidak bekerja lagi di perusahaan keluarga sang suami dan di usianya yang saat ini adakah perusahaan yang mau menerimanya.
“Semoga ini semua menjadi pelajaran untukku ya Tuhan. Dan semoga Bu Kalina baik-baik saja bersama Nasya,” batin Kemala.
“Kakak, nginap disini?” tanya Wilona pada Arya.”
“Tidak! Nanti Malam juga pulang.”
“Kakakmu itu mana bisa jauh dari istri pilihannya itu, sepertinya sudah terkena pelet!” sambung Utari.
Wilona tertawa bersama Utari, Namun Tasya dan Suaminya serta Abi hanya diam, sementara Tara hanya mendengarkan saja sambil bermain bersama anak dan keponakannya. Tanpa menegur sang istri yang tingkahnya sama seperti sang Mama.
Abi melihat ke arah Utari yang duduk di sampingnya, Ia tidak menyangka kenapa Utari yang dulu berubah, lebih senang merendahkan seseorang. padahal ia juga dari kalangan bawah sama seperti Kemala. Apa yang membuatnya berubah dan perubahan itu sudah lama terjadi sebelum ia kenal dengan Kalina. Apa karena Abi semakin sukses dengan karir dan bisnisnya hingga sang istri dengan seenaknya menggunakan uangnya untuk bersenang-senang dan merendahkan seseorang. Abi seakan tidak percaya dengan perubahan istrinya.
“Permisi tuan, ini waktunya minum obat,” ujar suster yang di pekerjaan Utari untuk menjaga dan mengawasi Abi selama Abi belum sembuh total.
__ADS_1
“Iya, terima kasih.” Abi mengambil obatnya lalu meminumnya. Ingatan Abi beralih pada Kalina yang selama ini mengurusnya saat sedang sakit. Kalina begitu perhatian dari hal kecil.
“Sus, tolong antarkan saya ke kamar,” pinta Abi, Abi hanya ingin mengetes istrinya apakah masih peduli terhadapnya atau tidak. Rupanya Utari hanya melihat sekilas lalu melanjutkan mengobrol dengan Wilona.
“Baik, tuan.” Suster menarik kursi rodanya.
“Biar saya saja, sus!” potong Arya lalu bangkit dan mengantarkan Abi ke kamar. sedangkan Tasya dan suaminya memilih ke kamar tanpa pamit pada sang Mama yang tampak cuek seperti tidak terjadi apapun.
Arya menyelimuti kaki Abi saat Abi sudah duduk bersandar di tempat tidur. Arya kasihan dengan sang Papa, akan tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dan memang ini sudah resiko yang ditanggung Papanya.
“Pa, aku pulang ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Arya atau Kemala. Sementara Papa di urus dulu sama suster. Semoga kedepannya Mama menyadari kesalahannya dan keputusan Papa berpisah dengan Kalina semoga yang terbaik.”
“Tapi, Papa tidak menceraikan Kalina, Arya. Kami hanya berpisah demi kebaikan semua, terutama untuk nama baik keluarga kita.”
“Arya mengerti maksud Papa. Untuk Nasya, Aku tidak akan tinggal diam, aku pasti tangung jawab untuk adik kecilku.”
“Maafkan, Papa. Sudah banyak merepotkanmu. Salam untuk kemala.”
Arya mengangguk lalu ia keluar dari kamar. Arya menuju ruang tengah untuk mengajak anak-anaknya pulang.
“Zidan, Zea! Ayo pulang, Nak. Sudah mau malam. Mama juga sudah menunggu di rumah!”
“Yah, Papa. Tante itu bukan Mama Zea. Zea mau disini!” balas Zea kesal tidak ingin pulang. Sedangkan Zidan antusias untuk segera pulang sampai menari-nari Narti yang sedang membereskan mainannya.
“Zea! Tidak sopan seperti itu. Mama Mala itu istri papa. Kami harus sopan.”
Zea memasang wajah kesal lalu berlari keluar lebih dulu. Arya hanya bisa menghela nafas panjang kemudian bersalaman dengan Utari.
“Arya pulang, Ma.”
__ADS_1
“Hm. Kamu jangan keras sama Zea. Dan benar apa kata Zea, Mala itu bukan Mamanya. Itu kenyataan.”
“Mama itu istri Papa, Jangan lupa Mengurusnya. Di urus wanita lain ngamuk!” Arya kemudian pergi begitu saja, mengabaikan raut wajah sang Mama yang begitu kesal.