PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)

PESONA SINGLE DADDY (Derita Istri Ketiga 2)
BAB 6 HIDUP HARUS BERJALAN


__ADS_3

Kemala mengkompres pipinya sendiri di pantry dengan air hangat sambil menangis. Kenapa sang Ayah tidak pernah berubah dari ia kecil. Selalu menganiaya sang Ibu dan dirinya.


Tak lama Arya dan Bima menghampiri Kemala di pantry, mereka duduk di kursi dan melihat Kemala.


“Kenapa Ayah kamu sampai menampar pipimu? Kamu berbuat kesalahan?” tanya Arya.


Kemala tersenyum tipis." Sudah biasa dari saya kecil tuan. Ayah saya memang seperti itu. Luka lama belum sembuh sudah di tambah luka baru. Tapi sudah biasa.”


“Itu bukan biasa, ye elah...! Itu tindakan KDRT” geram Bima.


“Tapi saya bisa apa tuan.” Kemala tersenyum lalu bangkit dari duduknya.


Sebagian karyawan melihat ke pantry. Sebab tidak biasanya sang bos mencampuri urusan bawahnya apa lagi sekelas Kemala yang hanya cleaning servis. Andai mereka tahu jika Kemala adalah incaran Bosnya. Mungkin Kemala sudah di benci semua karyawan di bawah Devisinya Arya.


“Kalian liat apa? Kerja!” seru Bima saat melihat beberapa karyawan yang serba ingin tahu itu mengintip di pantry.Semua membubarkan diri dan kembali bekerja di bagian masing-masing.


Arya tidak sengaja melihat lengan Kemala bekas luka memar yang tampak masih terlihat jelas, reflek ia berdiri dan menghampiri Kemala. Arya meraih tangannya.


“Ini luka apa?” tanya Arya. Kenapa malam itu ia tidak memperhatikan tubuh Kemala secara detail.


Kemala reflek menarik tangannya lalu menurunkan gulungan lengan kemejanya untuk menutupi bekas memar di tangannya.


“Tidak apa-apa tuan. Ini hanya Luka kecil. Besok juga sembuh. Maaf saya harus kembali bekerja. Arya mamandangi Kemala keluar dari pantry begitu juga Bima.


“Sudalah. Bukan urusan kita. Ini urusan keluarga mereka,” ujar Bima menepuk pundak Arya lalu keduanya kembali ke ruangan masing-masing.


Arya duduk di kursi kerjanya dan memikirkan gadis yang semalaman sudah memberikan kepuasan. Rupanya hidup gadis tersebut tidaklah mudah.


Arya mengambil gagang telepon dan menghubungi pihak HRD.” Halo Cynthia, tolong antarkan CV office girl Kemala ke ruanganku.”


“Untuk apa, tuan?” tanya Cynthia, tidak biasanyap bosnya itu mengurusi yang bukan bagiannya.


“Tidak perlu banyak tanya!”


“Baik, tuan.” Cynthia menutup sambungan ponselnya lalu mencari berkas CV milik Kemala untuk di berikan pada Arya.


Tak lama Cynthia datang membawa map berisikan CV Kemala.” Maaf tuan, ini berkas yang Anda minta.”


Arya mengambil map tersebut lalu membukanya. Arya membaca ditail CV Kemala dari mulai nama, usia, pendidikan terakhir dan pengalaman kerja.

__ADS_1


Arya menghempaskan map tersebut di meja tepat di depan Cynthia. “ kenapa Kau berikan jabatan rendah di kantor ini. Dia sarjana dan 3 tahun menjadi menegar di swalayan.”


“Maaf, tuan. Tapi hanya itu lowongan yang ada. Dan Kemala tidak keberatan.”


“Baiklah, ini bukan wewenangku. Tapi jika ada lowongan di devisi lain yang sesuai bidangnya. Tolong ajukan saja namanya.”


“Baik, tuan. Lalu bagaimana selanjutnya?”


“Ya sudah, biarkan saja dia bekerja seperti biasanya.”


“Baik, tuan. Permisi!” Cynthia keluar dari ruangan Arya.


Arya kembali mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali melihat keluar jendela, ia melihat beberapa karyawan lalu lalang di depan ruangannya termasuk Kemala yang mondar-mandir mengantarkan minuman bersama rekannya, serta melihat Kemala membersihkan lantai dan kaca.


Waktu terus berjalan, beberapa karyawan staf sudah pulang. Arya pun juga bersiap pulang. Namun sebelum pulang ia mendengar suara tangisan dari pantry. Pelan-pelan ia mengendap menuju pentry dan mengintipnya.


Terlihat Kemala duduk di lantai dan menyembunyikan wajahnya di antar lututnya.


“Ayah, Kenapa Ayah selalu kasar dengan Ibu dan Kemala. Apa Kemala ini bukan anak ayah?” lirih Kemala di sela tangisnya.


Arya menghela nafas panjang mendengar kesedihan Kemala. Sungguh malang gadis tersebut.


“Kamu belum pulang?” tanya Arya tiba-tiba dan pura-pura tidak mengetahui Kemala menangis. Arya masuk pantry dan pura-pura mengambil air minum.


Arya mengulurkan segelas air putih pada Kemala, Kemala sedikit ragu untuk menerimanya.


“Minumlah, aku tahu kamu kecewa dengan Ayahmu. Tapi tetaplah menerima keadaan tanpa membenci kenyataan. Walau itu sepait apapun. Karena pada dasarnya, hidup harus berlanjut.” Arya duduk di kursi lalu menarik kursi satunya.


“Duduk!”


Kemala duduk di samping Arya lalu meminum airnya. Sekilas melihat Arya yang juga sedang minum. Kemala tersenyum dalam hati melihat bosnya itu dari jarak yang begitu dekat dan terlihat tampan.


“Ya sudah, Pulanglah. Jangan sendirian disini. saya juga mau pulang.” Arya bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja tanpa melihat raut wajah Kemala.


“Dia yang nyuruh duduk, sudah duduk ditingalin. Nyebelin!” grutu Kemala lalu bangkit kemudian mencuci gelasnya, setelah itu ia pun pulang.


Arya tersenyum saat mendengar Kemala mengrutu, rupanya Arya tidak langsung pergi begitu saja melainkan bersembunyi di dekat pintu. Rupanya Kemala juga tertarik dengannya, seperti gadis-gadis lain di kantornya. Arya pun segera melangkah saat merasa Kemala hendak keluar dari pantry. Arya menuju lift sambil menghubungi Haris.


“Ris.”

__ADS_1


“Hm!” jawab Haris di sebrang sambungan ponselnya.


“Suruh Kemala datang lagi ke hotel.”


“Heh? Edan! Kok malah ketagihan.”


“Wes ora usah geger! Mengko bagianmu tak tranfer!”


“Asyiap, bos! Jam 11 Barang tak antar.”


“Hm! Aku pulang dulu ke rumah. Mau lihat anak-anak dulu.”


“Ok!” Keduanya pun memutuskan sambungan ponselnya. Arya keluar dari lift dan langsung menuju parkiran.


Sesampainya di rumah, Arya di sambut sang Anak yang sedari tadi menunggu ke pulangannya. Arya tersenyum saat anak-anaknya berlari menghampiri dirinya.


“Papa, pulang? Bawa ayang!”


“Heh! Astaga! Siapa yang ngajarin!” tanya Arya terkejut mendengar celotehan Zea.


“Oma yang bilang, Pa!”


“Oma kamu itu memang benar-benar!” Arya melihat Narti tertawa di halaman rumah.


“Kamu juga malah tertawa,” ucap Arya pada Narti.


“Maaf tuan, saya reflek!” Narti masih tertawa.


“Zea, Zidan! Sini peluk Papa dulu!” Arya memeluk kedua anaknya lalu mencium pipinya mereka.


“Dengar! Nanti malam, Papa ada urusan. Tidur lagi sama Mbak Narti ya.”


Zea dan Zidan kompak memasang wajah kesal. Pasalnya sang Papa lebih sering di luar dan pulang pagi hari. Kapan waktu untuk mereka


“Sebenarnya kami ini, anak Papa, bukan?” tanya Zidan melihat serius wajah sang Papa yang begitu skeptis dengan pertanyaannya.


“Ya ... ya anak Papa dong...!”


“Terus, kenapa kita selalu di tinggal? Kami kan anak Papa, bukan anak Mbak Narti. Mbak Narti terus yang menemani kami bermain, belajar, makan, terus tidur!”

__ADS_1


“Maaf, tuan. Kalau yang itu saya tidak mengajarinya.” Narti menyinggungkan Senyumnya. Ia juga tidak percaya kedua anak yang ia asuh begitu kritis, seperti Almarhum Mamanya.


Arya tersenyum tipis melihat kedua anaknya. Memang akhir-akhir ini, ia begitu sibuk dengan urusannya sendiri. tetapi, ia sudah terlanjur membuat janji dengan Haris. Jika ia batalkan, bagaimana ia bisa tahu lebih tentang Kemala.


__ADS_2